LETAK DAN LOKASI PENELITIAN
2.2 Perkembangan dan Sejarah PTPN II Kebun Klumpang
Perkebunan pertama kali muncul akibat dari perubahan politik kolonial pada pertengahan abad ke-19, dengan munculnya Undang-Undang Pokok Agrarian (UUPA) pada tahun 1870 yang secara resmi merupakan masa berakhirnya tanam paksa di pulau Jawa yang mengakibatkan transisi liberalisme yang tak terkendali, orientasi yang menunjukkan kebijaksanaan baru atas sumber- sumber alam di Nusantara, dan kemudian menarik minat kaum kapitalis Eropa. Selanjutnya perkebunan di pulau Jawa berangsur-angsur meluas, akan tetapi karena semakin bertambahnya jumlah penduduk, sumber-sumber tanah semakin sulit diperoleh, mengakibatkan pembukaan lahan baru perkebunan dialihkan
Lahan perkebunan di pulau Sumatera yang pertama kali dibuka adalah daerah Sumatera bagian timur yaitu perkebunan tembakau yang dibuka oleh seorang pengusaha Belanda Jacobus Nienhuys, yang menuai kesuksesan di perkebunan Pulau Sumatera tersebut. Keberhasilan Jacobus mengundang kehadiran pengusaha swasta asing lainnya yang disertai dengan mengalirnya modal besar ke Sumatera Timur. Tidak ada daerah lain di Indonesia, yang perkebunannya berkembang begitu luas, begitu subur dan begitu menguntungkan. Pertumbuhan perkebunan yang sangat pesat ini terus merambat ke daerah-daerah lain yang berada di pulau Sumatera salah satunya Sumatera Utara yang merupakan areal perkebunan yang dapat memberi investasi bagi orang Belanda atau para kapitalis Eropa.
Perkebunan yang berada di Sumatera terus bertambah dan beraneka ragam salah satunya adalah PTPN II yang memiliki kantor di jalan Tembakau Deli. Perkebunan ini pada awalnya dikelola dan didirikan oleh orang Belanda dengan jenis tanaman tembakau. Setelah diambil alih oleh pemerintah nama perkebunan ini adalah PPN (1960). Seiring dengan waktu yang terus berputar serta semakin berkurangnya penghasilan tanaman tembakau, pihak-pihak perkebunan mengganti jenis tanaman menjadi coklat pada tahun 1977, dan pada tahun 1985-1989 nama perkebunan berubah menjadi PPN BARU. Tahun 1990 nama perkebunan ini menjadi PTP IX, dan akhirnya pada tahun 2000 areal perkebunan Mariendal I berubah menjadi PTP N II sampai sekarang nama tersebut masih di pakai oleh pihak perkebunan.
Areal lahan PTPN II sangat luas dan terbagi menjadi beberapa dareah seperti: Marindal, Selambo, Cemara Asri, di Langkat, Batang Kuis, Seintis dan bahkan masih banyak lagi areal HGU PTPN II di Sumatera Utara. Areal lahan perkebunan PTPN II khususnya Marendal I memiliki luas 1710 hektar, sehingga memerlukan banyak tenaga kerja, dimana para pekerja banyak didatangkan dari pulau Jawa dan lain sebagainnya. Para pekerja difasilitasi rumah pondok dan gaji yang bisa dikatakan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Berawal pada tahun 1863 seorang turunan Arab bernama Said Abdullah bin Umar Bilsagih telah mengajak rekan-rekan dagang bangsa Belanda untuk menanam tembakau di Tanah Deli. Pedagang tembakau yang pertama sekali tertarik untuk menanam tembakau di Deli adalah Firma J.F van Leeuwen, dan mengirim pegawainya antara lain Tuan Jacobus Nienhuys untuk datang ke Deli dengan kapal “Josephine” milik Firma van Leeuwen Mains & Co. Tujuan utama pada waktu itu adalah untuk menyelidiki kemungkinan serta prospektif lainnya mengenai penanaman tembakau di Deli, sebagai tindak lanjut informasi yang disampaikan oleh Tuan Abdullah.
Usaha penanaman tembakau ini pada awalnya gagal dan mengalami kerugian cukup besar. Kemudian tim expedisi membuat laporan awal yang menyatakan bahwa “Deli adalah dataran rendah yang berawa-rawa yang sebagian ditutupi hutan-hutan primer yang tidak dapat dijelajahi oleh manusia dan orang- orang pribumi yang tinggal di tepi-tepi sungai membiarkan hutan-hutannya didiami oleh monyet, badak, harimau, buaya dan binatang buas lainnya serta
menarik diri dari usaha penanaman tembakau di Deli. Hampir semua anggota expedisi pulang kembali ke Jawa, tetapi J. Nienhuys merasa yakin usahanya akan berhasil, ia meneruskan usahanya dan meminta bantuan biaya dari Tuan P van Den Arend.
Setelah nasionalisasi semua perusahaan perkebunan Belanda di Indonesia pada tahun 1957, maka perkebunan – perkebunan tembakau yang ada di Sumatera Utara (eks Keresidenan Sumatera Timur) dilebur ke dalam PTPN-IX (Perseroan Terbatas Perkebunan Negara IX). Sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Agraria RI No. 24/HGU/1965 tanggal 10 Juni 1965, PTPN-IX mempunyai areal Hak Guna Usaha (HGU) seluas 59.000 ha yang membentang dari Sei Wampu di Kabupaten Langkat sampai Sei Ular di Kabupaten Deli Serdang.
Pada saat perkebunan tembakau dinasionalisasi tahun 1957, tinggal dua perusahaan perkebunan tembakau yang masih bertahan, yakni Deli Maatschappij dengan 16 kebun (estate) dan Senembah Maatschappij dengan 6 kebun tembakau, laporan resmi mengindikasikan bahwa 170 perkebunan besar dan kecil yang ada di tahun 1889 menjadi hanya tinggal 22 di tahun 1959.
Hingga tahun 1971, semua kebun yang disebutkan di atas masih menanam tembakau. Hanya saja untuk memperkecil risiko pengelolaan monokultur dan lebih memeratakan pendapatan sepanjang tahun, mulailah dilakukan diversifikasi tanaman. Maka, sejak tahun 1982 di bekas lahan tembakau yang sengaja dihutankan 5-6 tahun, mulai ditanami tebu secara bergantian. Di sejumlah tempat, tembakau sudah digantikan coklat dan kelapa sawit secara permanen.
Diversifikasi ini kemudian mendapat legitimasi dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1996, yang menetapkan PTPN II Tanjung Morawa mengelola budidaya tembakau, kelapa sawit, kakao, karet dan tebu. Peraturan Pemerintah tersebut juga sekaligus menetapkan PTPN-IX dilebur menjadi PTPN-II. Pada masa penanaman tahun berikutnya, hanya ada 12 kebun yang masih melakukan penanaman tembakau
Perusahaan Perseroan PT Perkebunan II bergerak dibidang usaha Pertanian dan Perkebunan didirikan dengan Akte Notaris GHS Loemban Tobing, SH No. 12 tanggal 5 April 1976 yang diperbaiki dengan Akte Notaris No. 54 tanggal 21 Desember 1976 dan pengesahan Menteri Kehakiman dengan Surat Keputusan No. Y.A. 5/43/8 tanggal 28 Januari 1977 dan telah diumumkan dalam Lembaran Negara No. 52 tahun 1978 yang telah didaftarkan kepada Pengadilan Negeri Tingkat I Medan tanggal 19 Pebruari 1977 No. 10/1977/PT. Perseroan Terbatas ini bernama Perusahaan Perseroan (Perseroan) PT Perkebunan II disingkat “PT Perkebunan II" merupakan perubahan bentuk dan gabungan dari PN Perkebunan II dengan PN Perkebunan Sawit Seberang.
Pendirian perusahaan ini dilakukan dalam rangka pelaksanaan ketentuan- ketentuan dalam Undang-Undang No. 9 tahun 1969, Peraturan Pemerintah No. 2 tahun 1969 tentang Perusahaan Perseroan dan Peraturan Pemerintah No. 28 tahun 1975.
Pada tahun 1984 menurut Keputusan Rapat Umum Luar Biasa Pemegang Saham, Akte Pendirian tersebut diatas telah dirubah dan diterangkan dalam Akte Notaris Imas Fatimah Nomor 94 tanggal 13 Agustus 1984 yang kemudian diperbaiki dengan Akte Nomor 26 tanggal 8 Maret 1985 dengan persetujuan Menteri Kehakiman Nomor C2-5013-HT.0104 tahun 1985 tanggal 14 Agustus 1985. Sesuai dengan Keputusan Rapat Umum Luar Biasa Pemegang Saham tanggal 20 Desember 1990 Akte tersebut mengalami perubahan kembali dengan Akte Notaris Imas Fatimah Nomor 2 tanggal 1 April 1991 dengan persetujuan Menteri Kehakiman Nomor C2-4939-HT.01.04TH-91 tanggal 20 September 1991.
Pada tanggal 11 Maret 1996 kembali diadakan reorganisasi berdasarkan nilai kerja dimana PT Perkebunan II dan PT Perkebunan IX yang didirikan dengan Akte Notaris GHS. Loemban Tobing, SH Nomor 6 tanggal 1 April 1974 dan sesuai dengan Akte Notaris Ahmad Bajumi, SH Nomor 100 tanggal 18 September 1983 dilebur dan digabungkan menjadi satu dengan nama PT Perkebunan Nusantara II yang dibentuk dengan Akte Notaris Harun Kamil, SH Nomor 35 tertanggal 11 Maret 1996. Akte pendirian ini kemudian disyahkan oleh Menteri Kehakiman RI.
Gambar. 2
Peta Lokasi Kebun di Sumatera Utara
(sumber : www.ptpn2.com/ diakses pada 13 November 2010)
PT Perkebunan Nusantara II (Persero), disingkat PTPN II, dibentuk berdasarkan PP No. 7 Tahun 1996, tanggal 14 Pebruari 1996. Perusahaan yang berstatus sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini merupakan penggabungan kebun-kebun di Wilayah Sumatera Utara dari eks PTP II dan PTP IX. Selain itu dikembangkan juga tanaman kelapa sawit di wilayah Irian Jaya yaitu di Kabupaten Manokwari dan Jayapura.
2.2.1 Komoditi Utama
PTPN II mengusahakan komoditi kelapa sawit, karet, kakao, gula dan tembakau dengan areal konsesi seluas 103.860 hektar. Budidaya kelapa sawit
PTPN II juga mengelola areal Plasma milik petani seluas 25.250 ha untuk tanaman kelapa sawit. Disamping itu PTPN II juga mengelola tanaman musiman yaitu tanaman tebu dan tembakau. Tanaman tebu lahan kering ditanam pada areal seluas 16.046 ha, terdiri dari tebu sendiri (TS) 14.474 ha dan tebu rakyat (TR) 1.572 ha, sedangkan tanaman tembakau ditanam pada areal seluas 2.443 ha.
2.2.2 Visi Perusahaan
Turut melaksanakan dan menopang kebijaksanaan serta program pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional umumnya. Khusus di sub sektor perkebunan dalam arti seluas-luasnya dengan tujuan memupuk keuntungan berdasarkan prinsip-prinsip perusahaan yang sehat.
2.2.3 Misi Perusahaan
Profitisasi melalui pendayagunaan, pengelolaan perusahaan di bidang perkebunan, dengan mengusahakan lima budidaya komoditi unggulan yakni kelapa sawit, karet, kakao, tembakau dan tebu secara efisien, ekonomis sehingga dapat mencapai produk yang memenuhi standard kualitas yang dibutuhkan oleh konsumen, serta melakukan diversifikasi usaha yang dapat mendukung kinerja perusahaan.
Pengelolaan produksi yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi yang berwawasan lingkungan, memiliki daya saing yang kuat, serta meningkatkan kemitraan dengan petani untuk memenuhi pasar dalam dan luar negeri guna kelangsungan usaha dalam mendukung pertanian perkebunan.
2.2.4 Sasaran Perusahaan
Mempertahankan dan meningkatkan sumbangan di bidang perkebunan melalui upaya peningkatan produksi sekaligus mendukung upaya peningkatan ekspor non migas. Memperluas lapangan kerja dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat pada umumnya. Memelihara sumber daya alam lingkungan, air dan menjaga kesuburan tanah.
Strategi Perusahaan dalam rangka peningkatan kinerja perusahaan serta mengantisipasi era globalisasi tahun 2000 dan ketidak-pastian perekonomian pada tahun-tahun mendatang, perusahaan telah menetapkan berbagai strategi yakni sebagai berikut ;
Optimalisasi pemanfaatan lahan dengan mengembangkan 5 budidaya unggulan yakni kelapa sawit, karet, kakao, tebu dan tembakau dengan peningkatan produksi dan produktivitas. Peningkatan kualitas produksi yang mempunyai potensi pasar, serta pengawasan harga pokok produksi yang dapat memberikan profit margin yang lebih baik.
Meningkatkan keperdulian terhadap kesejahteraan karyawan dalam rangka untuk meningkatkan kegairahan kerja serta produktivitas kerja.
Berupaya ke arah industri hilir yang dalam pelaksanaannya bekerjasama dengan pihak ketiga (kemitraan) atau berdiri sendiri. Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan terhadap sumber daya
PTPN II memiliki 21 unit usaha kebun, sebagai berikut:
Tg. Garbus Melati Kwala Bingel Klambir Lima Pd. Brahrang – Beklun Bandar Klippa Sawit Seberang
Mariendal Gohor Lama/Tj.Beringin Klumpang
Tanjung Jati Saentis Sawit Hulu
Limau Mungkur Basilam Bulu Cina
Maryke/ B. Lawang Sampali PrafiTandem
Pagar Merbau Kwala Sawit ArsoTandem Hilir
Sumber : data penelitian diolah penulis
2.2.5 Unit-unit Kegiatan/Usaha
Selain unit usaha kebun PTPN II juga memiliki sejumlah 8 unit pabrik pengolahan, adalah :
Fresh Fruit Branches (FFB) Pabrik CPO
Pabrik RSS Pabrik SIR
Pabrik Centrifuge Lateks Pabrik Kakao
Pabrik Gula