Sistem Pembayaran Yang Diselenggarakan Oleh Bank Indonesia Dan Industri Sistem Pembayaran Berjalan Dengan Baik
6.5. Perkembangan Data Keuangan Inklusif dan LKD
6.5.1. Indeks Komposit Keuangan Inklusif Indonesia (IKKI)
Salah satu indikator yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk menilai tingkat keuangan inklusif sebuah negara adalah indeks keuangan inklusif. Untuk menghitung indeks keuangan inklusif dimaksud, beberapa metode telah dilakukan oleh beberapa negara maupun organisasi internasional seperti Alliance for
Financial Inclusion (AFI), International Monetary Fund
(IMF), dan ekonom seperti Sarma (2008, 2010, 2012), Crisil, dan Chi-Wins. Bank Indonesia menggunakan metode pengukuran Sarma (2012) sebagai salah satu metode perhitungan indeks keuangan inklusif Indonesia (IKKI), selain menggunakan metode dari AFI. Dalam menghitung indeks komposit keuangan inklusif, Bank Indonesia menggunakan tiga indikator pada dua dimensi Keuangan Inklusif (KI), yaitu (i) dimensi akses yang menggunakan indikator ketersediaan Rangking
2013 2014 2015
Sem I Sem II Sem I Sem II Sem I Sem II
Bank Counterparty
in-out Bank Counterparty in-out Bank Counterparty in-out Bank Counterparty in-out Bank Counterparty in-out Bank Counterparty in-out
1 BUKU 4 293 BUKU 4 290 BUKU 4 288 BUKU 4 290 BUKU 4 284 BUKU 4 272
2 BUKU 4 292 BUKU 4 289 BUKU 4 288 BUKU 4 289 BUKU 4 283 BUKU 4 265
3 BUKU 4 292 BUKU 4 289 BUKU 4 288 BUKU 4 289 BUKU 4 281 BUKU 4 262
4 BUKU 4 292 Syariah 287 BUKU 4 286 Syariah 287 BUKU 4 281 BUKU 4 256
5 BUKU 3 286 BUKU 4 286 BUKU 3 284 BUKU 4 286 BUKU 3 272 BUKU 3 243
6 Syariah 286 BUKU 3 283 BUKU 3 280 BUKU 3 283 BUKU 3 272 BUKU 3 242
7 BUKU 3 283 BUKU 3 280 Syariah 280 BUKU 3 280 BUKU 3 271 BUKU 3 239
8 BUKU 3 282 BUKU 3 280 BUKU 3 279 BUKU 3 280 BUKU 2 269 BUKU 3 239
9 Syariah 282 BUKU 2 276 BUKU 3 278 BUKU 2 276 BUKU 3 266 BUKU 3 236
Sumber : Bank Indonesia, diolah.
layanan bank (Banking Services-BS) yaitu kantor bank, ATM (ii) dimensi penggunaan menggunakan indikator rekening bank (Banking Penetration/BP), serta (iii) nilai simpanan dan kredit (Usage of Banking
System-BU). Pada semester II 2015, perhitungan IKKI
ditambahkan dengan jumlah rekening uang elektronik di Indonesia pada indikator BP. Pada semester II 2015, perhitungan IKI ditambahkan dengan jumlah agen Layanan Keuangan Digital (LKD) pada BS dan jumlah rekening uang elektronik di Indonesia pada indikator BP.
Metode Sarma (2012) memiliki nilai indeks keuangan inklusif dengan rentang antara 0 dan 1, dimana semakin tinggi nilai indeks keuangan inklusif, maka tingkat keuangan inklusif di negara tersebut semakin
baik (complete financial inclusion). Sebaliknya, nilai indeks mendekati nol menggambarkan kondisi tingkat keuangan inklusif yang buruk (complete financial
exclusion).
Faktor yang mempengaruhi tingkat keuangan inklusif Indonesia dengan negara lain tentu berbeda, salah satu yang membedakan adalah kondisi geografis, kondisi awareness masyarakat dan ketersediaan infrastruktur di wilayah. Hasil perhitungan dengan metode Sarma (2012) didapatkan IKKI pada Desember 2015 di level medium, 0,358 atau 35,8% (Grafik 6.5). Hal ini menunjukkan bahwa akses dan penggunaan masyarakat Indonesia terhadap layanan keuangan secara historical cenderung meningkat, meskipun masih tergolong medium.
Grafik 6.5. Indeks Komposit Keuangan Inklusif Indonesia
Sebagai anggota dari AFI, Indonesia juga perlu untuk mengetahui tingkat keuangan inklusif berdasarkan
Core Set AFI. Metode Core Set AFI relatif lebih
sederhana dengan mempertimbangkan keterbatasan cakupan database yang dimiliki oleh masing-masing negara anggota. Dimensi Indikator KI yang digunakan hanya dua jenis yaitu dimensi akses dan dimensi penggunaan. AFI menentukan besaran rasio dari
masing-masing dimensi dan menggunakan data terakhir pada tahun 2015 sehingga menghasilkan Indeks Keuangan Inklusif bagi Indonesia pada angka 0,36 atau 36%. Seperti halnya metode Sarma (2012),
Core Set AFI juga menentukan rentang nilai dari indeks
keuangan inklusif antara 0 sampai dengan 1, dimana angka yang mendekati 1 menunjukkan hampir semua penduduk di suatu negara terinklusi dalam sistem
Des-11 0,380 0,360 0,340 0,320 0,300 0,280 0,260 0,240 0,220
Jan-12 Feb-12 Mar
-12
Apr
-12
Mei-12 Jun-12 Jul-12 Agt-12 Sep-12 Okt-12 Nov-12 Des-12 Jan-13 Feb-13 Mar
-13
Apr
-13
Mei-13 Jun-13 Jul-13 Agt-13 Sep-13 Okt-13 Nov-13 Des-13 Jan-14 Feb-14 Mar
-14
Apr
-14
Mei-14 Jun-14 Jul-14 Agt-14 Sep-14 Okt-14 Nov-14 Des-14 Jan-15 Feb-15 Mar
-15
Apr
-15
Mei-15 Jun-15 Jul-15 Agt-15 Sep-15 Okt-15 Nov-15 Des-15
0,200
Des 15 : 0,358
Feb 15 : 0,313
6.5.2. Perkembangan Layanan Keuangan Digital (LKD)
Selama 2015, LKD menunjukkan perkembangan yang positif, diindikasikan dari bertambahnya bank penyelenggara LKD dan agen LKD, serta meningkatnya transaksi uang elektronik pada agen LKD.
i. Penyelenggara LKD.
Hingga saat ini penyelenggara LKD terus bertambah menjadi 5 (lima) bank penyelenggara. Dari kelima penyelenggara tersebut, 4 (empat) di antaranya dapat menggunakan agen LKD individu dan berbadan hukum (BRI, Bank Mandiri, BCA, dan
BNI), dan 1 bank lainnya hanya menggunakan agen berbadan hukum (CIMB Niaga). Pertambahan jumlah penyelenggara tersebut memberikan kontribusi peningkatan jumlah agen LKD di Indonesia. Hal ini juga disebabkan karena bank masih melihat potensi pengembangan pasar yang masih besar. Dari perkembangan cakupan wilayah,
Sumber : Bank Indonesia, Desember 2015, diolah
Gambar 6.1. Penyelenggara Agen LKD di Indonesia
BRI memiliki ketersebaran agen LKD paling luas di 438 Kabupaten/Kota, diikuti oleh Bank Mandiri dengan ketersebaran agen LKD di 315 Kabupaten/ Kota. Agen LKD dari CIMB Niaga tersebar pada 3 (tiga) Kabupaten/Kota, sedangkan BCA terkonsentrasi di Kota Jakarta.
ii. Agen LKD
Selama semester II 2015 jumlah agen mengalami kenaikan yang cukup pesat dibandingkan pada Juni 2015 yang sebanyak 37.008 agen, menjadi 69.548 agen LKD pada Desember 2015. Dari jumlah agen
pada periode Desember 2015 tersebut, sebanyak 60.270 agen adalah individu dan 9.279 agen merupakan badan hukum. Agen individu yang digunakan antara lain berupa toko kelontong, warung, penjual pulsa, dan Payment Point Online
Bank (PPOB). Sementara agen badan hukum yang
digunakan antara lain berupa retailer dan koperasi. 11 14 Agen LKD di 3 Kab/Kota 388 Agen LKD di 38 Kab/Kota 54.635 Agen LKD di 438 Kab/Kota 14.896 Agen LKD di 315 Kab/Kota 3 Agen LKD di 1 Kab/Kota
iii. Transaksi pada Agen LKD
Pada semester II-2015 jenis transaksi yang paling banyak dilakukan oleh nasabah pada agen LKD adalah transaksi penarikan tunai (cash out) sebesar 40%, setor tunai (top up) sebesar 31% dan jenis transaksi transfer dari uang elektronik ke rekening tabungan (Person to Account) sebesar 14%. Kesadaran masyarakat untuk menggunakan layanan agen LKD pada transaksi lainnya perlu untuk ditingkatkan dengan peningkatan sosialisasi dan edukasi mengenai layanan keuangan yang dapat dilakukan pada agen LKD oleh masyarakat.
Sumber : Bank Indonesia, Desember 2015, diolah
Grafik 6.6 Perkembangan Agen LKD
Tabel 6.3 Perkembangan Agen LKD Individu dan Agen LKD Badan Hukum
Sumber : Bank Indonesia, Desember 2015, diolah
Grafik 6.7. Persentase Jenis Transaksi Uang Elektronik pada Agen LKD Periode Semester-II 2015
Sumber : Bank Indonesia, Desember 2015, diolah Januari 80.000 70.000 60.000 50.000 40.000 30.000 20.000 10.000 -Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 21.973 23.169 26.952 30.278 33.672 37.008 38.302 40.373 43.525 46.797 59.413 69.548 Jml Agen Angka Penuh Agen LKD Transfer Government to Person 0% Top Up 31% Cash Out 40% Payment 4% Transfer Person 5% Transfer Person to Account 14% Initial 6% Periode 2015 Agen Individu Agen Badan Hukum
Januari 21.273 701 Februari 22.435 735 Maret 26.137 816 April 29.401 878 Mei 32.735 938 Juni 36.039 970 Juli 37.802 977 Agustus 39.798 1.052 September 42.435 1.091 Oktober 45.660 1.138 November 50.320 9.094 Desember 60.270 9.279
Grafik 6.8. Perkembangan Nilai Transaksi Uang Elektronik
pada Agen LKD (Milyar Rp) Grafik 6.9. Perkembangan Jumlah Pemegang Uang Elektronik pada Agen LKD
Sumber : Bank Indonesia, Desember 2015, diolah Sumber : Bank Indonesia, Desember 2015, diolah
Jumlah nilai transaksi uang elektronik di agen LKD pada bulan Desember 2015 mencapai Rp5,38 Milyar dengan jumlah nilai transaksi terbesar berada di Kab. Lampung Selatan, Kab. Jember, Kota Jakarta Utara, dan Kota Makassar. Pada bulan Januari, April dan Mei nilai transaksi uang elektronik cukup tinggi karena pada bulan tersebut dilaksanakan penyaluran bantuan dari pemerintah. Jumlah pemegang uang elektronik milik masyarakat pada agen LKD selama 2015 senantiasa mengalami peningkatan sebagaimana ditunjukkan dalam Grafik 5. Pada bulan Desember 2015, pemegang uang elektronik mencapai 1.145.486, meningkat dari 1.033.684 pada Juni 2015.
iv. Informasi Tambahan
Dalam rangka pengembangan LKD di Indonesia, Bank Indonesia juga telah melakukan beberapa pilot
project LKD untuk komunitas pondok pesantren,
bekerjasama dengan perusahaan telekomunikasi di Indonesia. Beberapa pondok pesantren yang menjadi tempat untuk melaksanakan pilot project adalah Ponpes Daarut Tauhiid di Bandung, Ponpes
putri Al-Mawaddah di Jawa Timur, dan Ponpes As-Salam di Solo. Dalam pilot project tersebut, Bank Indonesia menggunakan skema perluasan layanan keuangan dengan calon penyelenggara perusahaan
telekomunikasi seperti PT Telekomunikasi
Indonesia, PT XL Axiata dan PT Indosat Ooredoo. Dari hasil monitoring awal pelaksanaan pilot project diperoleh gambaran sebagai berikut:
a. Bisnis model transaksi komunitas pesantren adalah untuk penyaluran uang santunan sembako dan uang makan dari ponpes kepada santri yang bekerja untuk ponpes (santri karya), dan dibelanjakan di koperasi swalayan dan kantin ponpes.
b. Animo santri karya menggunakan uang elektronik cukup tinggi, mengingat sebelumnya santri karya menerima uang sembako dalam bentuk voucher yang kurang fleksibel dan memerlukan pecahan kecil untuk pengembalian.
c. Biaya transaksi dan biaya sms yang cukup murah (relatif tanpa biaya pulsa, biaya sms ditanggung oleh pihak telco) menjadi kelebihan produk uang elektronik telco dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat berpendapatan rendah.
Desember November Oktober September Agustus Juli Juni Mei April Maret Februari Januari 1.145.486 1.130.315 1.104.893 1.078.408 1.040.319 1.040.319 1.033.684 1.029.980 1.028.647 1.027.555 1.026.633 1.025.452 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 705,02 79,79 1,60 1.091,32 108,19 2,91 4,26 1,85 2,46 2,76 3,58 5,38
v. Pelaksanaan Monitoring
Sebagai tindak lanjut, dari seluruh program yang dilakukan Bank Indonesia untuk meningkatkan layanan keuangan kepada masyarakat, dan juga untuk dapat merumuskan strategi atas hambatan dan tingkat awareness masyarakat terhadap implementasi LKD, Bank Indonesia melakukan survei kepada agen LKD dan masyarakat berdomisili di sekitar lokasi agen LKD di kota Jakarta dan kota Semarang dengan cara face to face interview,
indepth interview, dan focus group discussion (FGD).
Dari hasil survei program LKD diketahui bahwa: a. Masih terbatasnya informasi mengenai LKD
dan penggunaan uang elektronik melalui agen, sehingga diperlukan sosialisasi mengenai LKD untuk meningkatkan awareness masyarakat. b. Masyarakat masih belum sepenuhnya percaya
dengan uang elektronik, karena tidak terdapat bukti secara fisik (seperti buku tabungan) dan lebih nyaman dengan bukti transaksi yang tercetak.
c. Masyarakat merasa khawatir apabila telepon genggam sebagai media transaksi hilang, maka uang elektronik yang tersimpan juga akan hilang. d. Terdapat biaya berupa biaya pulsa short
message service (SMS) yang premium dan
mahal untuk masyarakat low income, khususnya untuk layanan keuangan pada agen LKD dengan penyelenggara Bank.
e. Jumlah agen yang terbatas, sehingga kesulitan untuk melakukan pencairan dana.
f. Perlunya kemudahan dalam mengoperasikan media yang digunakan untuk transaksi baik pada masyarakat pengguna dan pada agen LKD, termasuk layanan jaringan yang cepat.