• Tidak ada hasil yang ditemukan

G. Tinjauan Pustaka

1. Perkembangan Delimitasi Maritim

Selama berabad-abad dari masa penemuan rute pelayaran utama antar benua sampai pada masa perang dunia kedua, perkembangan lautan hanya terkonsentrasi untuk menjamin komunikasi maritim dan keamanan negara pantai. Perkembangan

ini diadopsi menjadi hukum kebiasaan yang muncul selama masa abad ke-17 melalui prinsip laut bebas dan pengakuan kedaulatan negara-negara pantai terhadap wilayah laut yang berdampingan dengan pantainya, serta menjadi subjek untuk menghormati hak lintas damai bagi pihak ketiga.37

Sejarah kepemilikan hak atas laut diawali pernyataan yang dibuat oleh Paus Alexander VI dalam Inter Caetera (1492) yang membuat garis perbatasan imajiner dari utara ke selatan 100 mil sebelah barat Pulau Azores dan Pulau Cave Verde dan menyatakan bahwa wilayah laut dan teritori tersebut masuk kedalam kedaulatan Spanyol. Kenyataan itu tidak dapat diterima oleh Portugal yang akhirnya melakukan negosiasi dengan Spanyol yang akhirnya menghasilkan perjanjian Tordesillas (1493) di mana dalam perjanjian itu Portugis mengklaim rute ke India dan wilayah Atlantik Selatan, sedangkan Spanyol mengklaim wilayah laut Pasifik dan Teluk Meksiko. Dari fakta di atas tampak bahwa peraturan atas laut masih belum memiliki kepastian hukum di mana Portugis masih dapat meminta pengaturan ulang mengenai batas teritorial kepada Paus Alexander VI.38

Tindakan Spayol dan Portugis membuat perjanjian Tordesillas ini mendapat protes dari negara-negara Eropa Utara yang memiliki kepentingan perdagangan melalui laut bebas. Hugo Grotius mengarang buku berjudul Mare Liberum (1609) yang mengusung prinsip kebebasan di laut bebas. Untuk membantah pendapat Grotius maka sarjana dari Inggris, Welwood dalam bukunya Abridgement of all Sea Laws (1613) dan Selden yang mengarang buku Mare Clausum (1635) mendukung

37 Dupuy & Vignes (eds), 1991, A Handbook on the New law of the Sea, Kluwer:

Netherlands, hlm. 3

38 J. O’Brien, 2001, International Law, Routledge-Cavendish: New York, hlm. 391.

klaim Inggris atas kontrol pelayaran di Laut Utara. Melalui “perang buku” ini O’Brien menarik kesimpulan bahwa yang akhirnya bertahan adalah pendapat grotius dengan alasan prinsip laut bebas saling menguntungkan dan untuk memfasilitasi perdagangan, selain itu juga karena suatu negara tidak dapat secara efektif memiliki kedaulatan atas laut bebas kecuali mempunyai angkatan laut yang memadai untuk mengawasi wilayah tersebut.39 Sejalan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan ekonomi terhadap sumber daya laut, maka prinsip yang ternyata diterima oleh masyarakat internasional adalah mare clausum dengan pengesahan UNCLOS 1982 yang memberikan negara pantai kewenangan hak berdaulat sampai batas 200 n.m..

Terdapat perbedaan pola penguasaan antara daratan dan lautan, di darat telah diakui mengenai usaha-usaha negara dalam rangka untuk memperluas/ekspansi wilayah daratannya. Kebalikan dengan hukum laut, perkembangan usaha penguasaan lautan tidak diakui melalui tesis Grotius tentang Mare liberum yang mengukuhkan bahwa lautan tidak dapat dimiliki atau dikuasai oleh satu atau lebih negara di dunia dan larangan klaim kedaulatan teritorial di laut bebas. Alasan bahwa laut tidak dapat dikuasai disimpulkan oleh Oxman melalui alasan rasional yaitu “the interests of states in unrestricted access to the rest of the world outweighed their interests in restricting the access of others at sea.”40

Di awal sejarah hukum laut, beberapa eksploitasi sumber kekayaan laut khususnya perikanan telah dilakukan, namun baru dalam skala kecil dan hanya

39 Ibid, hlm. 392.

40 Bernard H.Oxman, “The Territorial Temptation: A Siren Song At Sea,” American Journal of International Law, Oktober, 2006, hlm. 830.

dilakukan oleh beberapa negara saja, tanpa mempertimbangkan ancaman terhadap cadangan sumber daya laut yang ada. Kemajuan besar dalam industri perikanan dan peningkatan teknologi untuk eksplorasi dan eksploitasi sumber alam di dasar laut dan di lapisan tanah di bawahnya akhirnya mengubah pandangan klasik terhadap lingkungan laut dan hukum yang telah dihasilkan dari pandangan klasik itu.

Pada masa lampau negara-negara di dunia jarang membatasi perbatasan lautnya dengan negara lain. Situasi ini kemudian berubah, perkembangan sumber kekayaan laut telah memimpin negara untuk menentukan batas-batas maritim mereka secara lebih akurat. Dorongan utama dibalik pergerakan untuk menetapkan batas maritim itu karena perkembangan teknologi yang menemukan hidrokarbon dan sumber kekayaan alam mineral yang tinggi nilainya di dasar laut dan lapisan tanahnya. Eksploitasi komersial dari sumber daya alam ini sering memerlukan area yang telah ditentukan dan di alokasikan bagi masing-masing perusahaan minyak yang mendapatkan ijin eksploitasi dari negara pantai. Hal ini menyebabkan negara pantai memiliki dorongan kuat untuk mengklaim zona baru di luar yurisdiksi maritim laut teritorial tradisional dan untuk menegaskan perbatasan antar negara serta memaksimalkan wilayah di mana mereka memiliki kewenangan eksklusif untuk mengeksploitasi dan mengelola sumber kekayaan alamnya. Sebagai akibatnya dorongan untuk membuat perbatasan wilayah laut antar negara tetangga semakin meningkat.41

41 Jonathan I. Charney, & Lewis M. Alexander (eds), 1993, International Maritime Boundaries, Volume I, Martinus Nijhoff Publishers: Netherlands, hlm. xxiii.

Untuk perkembangan hukum laut pada masa lalu lebih bersandar pada prinsip kebiasaan yang sederhana dan sudah di kenal secara umum. Hukum laut pada masa itu merupakan salah satu hukum yang stabil dalam hukum internasional.

Hal ini karena teknik untuk memanfaatkan lingkungan laut dan untuk mengeksploitasi sumber daya alam tidak mengalami kemajuan yang berarti dan karena negara yang menikmati manfaat utama lautan hanya beberapa negara saja.

Negara tersebut biasa disebut “maritime powers,” yang memiliki pantai dan juga armada kapal yang besar. Saat ini, perubahan yang radikal dalam hukum laut merupakan akibat dari pesatnya perkembangan yang terjadi dalam teknologi kelautan serta keragaman dan diversifikasi pelaku dalam kelautan.42

Konsep maritim manusia telah berevolusi dari mulanya "living by the sea"

dan "inshore sailing" ke konsep lautan sebagai saluran yang penting untuk transportasi dan sebagai ruang penting bagi eksistensi manusia dan pembangunan.

43 Dengan bergesernya kepentingan tersebut membuat arus lalu lintas di laut semakin tinggi.

Pengaruh kekuatan di laut dapat mempengaruhi besarnya suatu bangsa. Hal ini didukung oleh argumen Mahan yang berpendapat bahwa secara politik kekuatan di laut telah memberikan pengaruh yang menentukan pada pembangunan dan kesejahteraan bangsa sepanjang sejarah.44 Dalam bidang politik-ekonomi, asumsi dasarnya adalah bahwa ketika kereta api telah menjadi transportasi utama bagi

42 Dupuy & Vignes (eds), op.cit, hlm. xlvi.

43Hwai-Pong Jinn et all, 2001, World Maritime Military Geography, National Defense University: Beijing, hlm. 2

44 Mahan, “the influence of sea power upon History,” David Jablonsky (ed), 1999, Books of Strategy: Book 4, Stackpole Books: Mechanicsburg, hlm. 48

perekonomian internal negara, kapal laut akan tetap lebih mudah, lebih murah, dan dengan menjadi modus transportasi utama untuk perdagangan eksternal. Faktor pertama dalam argumen Mahan adalah bahwa akuisisi koloni dan produksi bersamaan dengan pengiriman yang menjadikan ekonomi maritim penting untuk kemakmuran suatu negara dan berfungsi sebagai faktor pendorong dalam kebijakan suatu bangsa yang berdekatan dengan laut. Faktor kedua adalah bahwa sejarah menunjukkan perlunya supremasi angkatan laut dalam melindungi kepentingan nasional terkait dengan ekonomi maritim, alasan utama pentingnya supremasi laut itu dalam kancah perang antara kekuatan-kekuatan besar. Akhirnya, faktor ketiga terdiri dari enam "kondisi pokok" atau unsur-unsur yang mempengaruhi kemampuan suatu negara untuk mengembangkan kekuatan laut: posisi geografis, konformasi fisik (meliputi iklim dan sumber daya alam), luas wilayah, jumlah penduduk, karakter nasional, dan karakter pemerintah.45

Pada abad ke-20 keadaan mulai berubah, hal ini sejalan dengan adanya kolonialisasi yang secara tidak langsung menjadikan lautan dunia sebagai bagian dari subjek kekuasaan kolonial. Kolonialisasi menyebabkan meningkatnya jumlah negara pantai independen yang menginginkan kontrol atas laut lebih luas yang berbatasan langsung dengan negaranya. Setelah perang dunia ke-I masyarakat internasional mulai berusaha untuk membentuk hukum laut melalui Liga Bangsa-Bangsa dengan meminta Committee of Experts untuk membuat rancangan kodifikasi hukum laut, namun draft kerja komite tersebut masih belum menghasilkan konvensi. Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi

45 Ibid.

menyebabkan spekulasi perusahaan-perusahaan swasta dalam melakukan pengeboran di laut bebas serta berupaya melakukan eksplorasi kekayaan tambangnya.46

Pada tahun 1945 dibentuk Perserikatan Bangsa-Bangsa yang kemudian membentuk International Law Commission (ILC) pada tahun 1947 yang aktif dalam melakukan usaha kodifikasi hukum laut internasional. Salah satu momen penting yang terjadi dalam hukum laut yaitu adanya Deklarasi Truman pada September 1945 yang intinya menyatakan dua hal; pertama, hal yang berkaitan dengan sumber kekayaan alam yang ada di bawah permukaan laut dan di dalam tanah di daerah landas kontinen; kedua, hal yang berkaitan dengan penangkapan ikan di wilayah laut bebas yang ada di atas landas kontinen tersebut. Bahaya dari perbuatan hukum sepihak (unilateral law making) yang dilakukan oleh Amerika Serikat yaitu selain melanggar zona maritim tradisional yang telah diakui sebagai hukum kebiasaan internasional namun juga memicu negara lain untuk bereaksi serupa. Dari tahun 1945 sampai dengan tahun 1955, beberapa negara Amerika latin secara unilateral mendeklarasikan zona maritim dengan jarak yang berbeda-beda.

Negara-negara tersebut mengklaim jarak perairan teritorial dan tanah dibawahnya sampai batas 200 n.m.47

a. Konsep Delimitasi

Untuk memperjelas pemaparan dalam penelitian ini maka beberapa poin penting yang berkaitan dengan terminologi dan konsep yang digunakan dalam

46 O’Brien, op.cit, hlm. 393.

47 Ibid.

pembahasan diulas terlebih dahulu. Sebagaimana diketahui bahwa istilah-istilah dalam proses delimitasi maritim banyak menggunakan istilah asing atau istilah teknis sehingga perlu dijelaskan lebih terperinci.

Ada beberapa kata yang mewakili untuk menggambarkan arti ‘perbatasan,’

dalam hal ini kata-kata tersebut biasa diadopsi dari bahasa inggris. Sebagai contoh dalam bahasa inggris terdapat kata “frontier” dan “boundary.” Pada awalnya, para ahli hukum internasional tidak membuat perbedaan jelas definisi dari kedua kata itu dalam penggunaannya untuk mewakili kata “perbatasan.” Sampai pada masa akhir perang dunia ke-1, kedua kata di atas sering digunakan secara bergantian. Setelah era 1920-an baru menjadi suatu kebiasaan untuk membedakan antara garis natural untuk boundary dan karakter zona untuk frontier. Saat ini, didalam penggunaan bahasa Inggris secara normal, istilah “boundary” hampir selalu mengacu pada

‘garis’ (a line), sedangkan penggunaan kata “frontier” untuk mengacu pada tipe zona perbatasan.48

Selain itu istilah “boundary” juga harus dibedakan dengan istilah “a maritime limit,” boundaries adalah garis yang memisahkan lingkup yurisdiksi dari negara-negara yang berdampingan. “limits” adalah garis yang memisahkan lingkup yurisdiksi suatu negara dari area maritim yang bukan merupakan subjek dari otoritas suatu negara (laut bebas). Maritime boundaries selalu memiliki karakter bilateral (berkaitan dengan dua negara atau lebih yang saling berdampingan),

48 Douglas M. Johnston, 1988, The Theory and History of Ocean Boundary-Making, McGill-Queen’s University Press: Canada, hlm. 3

sedangkan maritime limits adalah perbuatan unilateral yang dilakukan oleh satu negara (tidak memerlukan perjanjian atau perundingan dengan negara lain).49

Istilah delimitasi dalam proses penyelesaian perbatasan maritim harus dipergunakan dengan hati-hati agar tidak terjadi kesalahan dalam penggunaannya.

Penarikan baselines atau closing lines/penutup mulut teluk dan tempat lainnya oleh suatu negara pantai secara unilateral yang tidak berbatasan secara langsung dan tidak tumpang tindih dengan negara lain disebut “delineation.”

Definisi delimitasi adalah suatu proses dalam penentuan pembagian garis antar pemerintahan dari negara yang bertetangga melalui deskripsi verbal untuk menunjukkan lokasi perbatasan yang dibuat, yang terkadang disertai dengan peta-peta atau denah gambar. Definisi verbal ini dimuat di dalam perjanjian, persetujuan, ataupun berasal dari keputusan pengadilan.50

Definisi dari delimitasi maritim sendiri adalah: ”the process that consists of

“establishing lines separating from each other the maritime areas in which coastal states exercise jurisdiction.”51 Delimitasi perbatasan di dalam perjanjian haruslah komplit, akurat dan tepat.52 Kemajuan dari beberapa metode dalam menentukan perbatasan menjelaskan bahwa, “sebuah dokumen tunggal dapat menggunakan beberapa metode delimitasi untuk bagian garis batas yang berbeda,”53 yaitu:

49 Antunes, op.cit., hlm. 6

50 Ron Adler, “Geographical Information and International Land Boundaries,” Volume 3 Number 4 International Boundaries Research Unit, hlm. 10

51 Lucius Caflisch, “Maritime Boundaries, Delimitation” R. Bernhardt (ed.), Encyclopedia of Public International Law, Instalment 11, 1989, Elsevier Science Publishers: Netherlands, hlm.

212

52 Adler, op.cit., hlm. 5

53 Ibid.

1. Complete Definition, yang merupakan upaya untuk menjelaskan garis perbatasan secara menyeluruh dan demarkasi hanyalah merupakan bagian dari rutinitas survey.

2. Complete Definition, with power to deviate, yang menjabarkan garis batas selengkap mungkin dari data yang didapat di lapangan, namun juga memasukkan klausul yang memberikan wewenang kepada demarkator untuk membuat perubahan atau membuat rekomendasi, yang bertujuan untuk memfasilitasi penetapan garis batas yang sesuai dengan situasi pandangan di lapangan.

3. Definition by turning point, definisi adalah yang paling umum dan metode yang paling logis karena setiap garis dapat didefinisikan oleh bagian, yang bervariasi dalam panjang, dalam rangka untuk mengekspresikan bentuk garis. Merupakan praktek yang telah diterima dalam survei untuk membuat kurva/lengkungan dengan membuat urutan garis yang mendekati kurva yang diinginkan.

intervisibilitas antara titik balik tidak lagi menjadi keharusan teknis, tetapi tetap menjadi fitur yang paling diinginkan dari sudut pandang administrasi perbatasan.

Boundary-making bukanlah merupakan suatu proses yang mudah dan singkat, menurut DeLapradelle hal ini melibatkan tiga tahap perkembangan:54

1. Persiapan (Preparation), termasuk didalamnya rencana politik dan rencana teknik untuk mengantisipasi pengerjaan delimitasi.

54 Adler, op.cit., hlm. 2

2. Keputusan (Decision), yang merupakan kerangka dasar yang sesungguhnya dalam merumuskan perjanjian, yang disebut delimitasi.

3. Pelaksanaan (the Execution), atas perjanjian yang telah disetujui dan telah diterima oleh para pihak, pelaksanaan ini yang disebut dengan demarkasi.

Tahun 1940, Jones memaparkan bahwa proses pembuatan perbatasan memiliki empat tahapan, yaitu: alokasi (Allocation), delimitasi (delimitation), demarkasi (demarcation) dan administrasi (administration). Alokasi berkaitan dengan keputusan politik dalam pembagian wilayah; delimitasi berkaitan dengan seleksi lokasi perbatasan yang spesifik; demarkasi berhubungan dengan membuat tapal batas/tanda perbatasan di daratan; sedangkan administrasi berkaitan dengan ketentuan untuk mengawasi dan memelihara perbatasan yang telah ditentukan.

Alokasi dan delimitasi berkaitan dengan penggambaran garis batas di atas peta.

Idealnya peta yang digunakan adalah peta terbaik yang tersedia dan berada pada skala besar sampai medium. Demarkasi membutuhkan tim survey bersama dan didukung oleh peta terbaik yang disertai tanda-tanda dan keterangan, untuk dilanjutkan pada perbatasan daratan dan menandainya dengan tanda patok atau monumen perbatasan, sedangkan untuk wilayah hutan dengan membersihkan area antara monumen atau patok perbatasan.55

55 Victor Prescott & Gillian D. Triggs, 2008, International Frontiers and Boundaries: Law, Politics and Geography, Martinus Nijhoff Publishers: Leiden-Boston, hlm. 60

Penekanan konsep perbatasan ini diadopsi murni dari sisi politik.

Sebagaimana yang dijelaskan Jones, “the most unreal of boundary classifications is the too-familiar one of natural and artificial”. Makna politik hukum dari fitur alami (natural feature) timbul dari keputusan negara.56 Perbatasan secara umum adalah perbuatan manusia dan bernuansa politik. Terlebih lagi di lautan, perbatasan merupakan fenomena politik karena di lautan susah untuk mendapatkan karakteristik fitur alami yang dapat dipergunakan sebagai tanda perbatasan. Hakim Bedjaoui secara tegas menyatakan:

The idea of ‘natural boundaries’ formed by mountains, waterways or various accidents of nature, has never been able to commend itself to states for purposes of their land frontiers, although these limits are visible to the naked eye. Legal science is unlikely to accept for maritime spaces what it reject for land spaces and to confer legal standing on those ‘natural boundaries’ constituted by an important and significat geological feature when that boundary is not even visible to the naked eye. Having always shunned land relief despite the fact that it is visible, man cannot but shun still more underwater relief which is out of his sight.57

Istilah fitur alami (natural feature) sering muncul dalam proses delimitasi, yaitu fitur pemandangan yang diciptakan oleh proses alam seperti sungai, gunung, bukit.58 Definisi fitur alami ini masih dipandang dalam arti yang luas. Jika diterapkan dalam proses delimitasi maka dapat menimbulkan kesulitan dalam mengaplikasikan dan mempertahankannya. Sebagai contoh, fitur sungai jika dijadikan salah satu metode delimitasi maka akan sulit untuk mendefinisikan sepanjang mana sungai tersebut dapat dijadikan batas delimitasi.

56 Antunes, op.cit., hlm.8

57 Guinea-Bissau/Senegal Arbitration, Disenting Opinion dalam buku Antunes, op.cit., hlm. 9

58Sumber dari: www.newberry.org/k12maps/glossary/index.html, diakses tanggal 14 November 2011

Definisi “Zona” adalah wilayah di mana perbatasan yang akan didemarkasi tidak dilakukan sesuai dengan metode yang diinginkan karena peluang perjanjian itu untuk dapat disepakati sangat rendah, terkecuali jika kedua negara yang melakukan perundingan mempunyai hubungan yang dekat dan bersahabat.59

b. Kerangka Hukum Perbatasan Maritim

Ketika melihat bumi dari angkasa, maka tampak satu fakta yang jelas bahwa lautan merupakan fitur dominan yang menutupi bumi. Sekitar 70 persen planet ini ditutupi oleh perairan dan sebagian besar bumi ditutupi oleh air beku di Kutub Utara dan Antartika. Hal ini menunjukkan fungsi penting lautan di mana sekitar 80 persen populasi dunia tinggal di dekat pantai dan 90 persen perdagangan internasional mempergunakan transportasi laut. Selain itu, sekitar 65 persen dari cadangan minyak dunia dan 35 persen dari cadangan gas dunia terletak di lautan.60

Pada jaman dahulu keperluan akan lautan tidak seperti saat ini, yang hanya dipergunakan sebagai sarana transportasi, navigasi dan perikanan. Pesatnya perrkembangan teknologi menyebabkan pengembangan potensi sumber daya alam di lautan semakin bertambah dan memberikan hasil yang menjanjikan. Terlebih dengan ditemukan cara untuk mengeksploitasi sumber gas dan minyak bumi dari dasar lautan.

Banyaknya kegunaan lautan bagi dunia menyebabkan hukum internasional mau tidak mau mengikuti perkembangan tersebut dengan mengeluarkan seperangkat peraturan yang mengatur zona lautan serta memberikan hak dan

59 Johnston, op.cit,, hlm. 6

60 http://www.acus.org/?q=new_atlanticist/maritime-disputes-and-international-law, diakses tanggal 12 Oktober 2014

kewajiban tertentu kepada negara pantai untuk mengelola wilayah lautan yang ada disekitarnya.

Beberapa sarjana seperti McDougal dan Burke memandang fungsi hukum laut, secara historis sebagai: “...that of protecting and balancing the common interests, inclusive and exclusive, of all peoples in the use and enjoyment of the oceans, while rejecting all egocentric assertions of special interests in con-travention of general community interests.” Menurut kedua penulis ini, sejarah memperlihatkan bahwa pada suatu saat beberapa negara mulai melakukan klaim atas sebagian besar dari laut untuk digunakan secara eksklusif oleh mereka.61

Kapoor menyatakan bahwa terdapat tiga alasan utama yang membawa peningkatan terhadap ketertarikan internasional terhadap perkembangan hukum laut setelah perang dunia kedua: pertama, lajunya perkembangan teknologi kelautan; kedua, munculnya negara-negara baru dari masa pemerintahan kolonial dan ketiga karena meningkatnya kebutuhan terhadap sumber kekayaan laut.62

Pengaturan mengenai masalah kelautan semakin disadari pentingnya dalam hukum internasional. Mengingat hampir setiap negara khususnya bagi negara pantai telah menerbitkan ketentuan yang bersifat sepihak yaitu dengan menekankan segi kepentingan negara yang bersangkutan. Menghadapi masalah itu maka perlu suatu peraturan hukum laut yang manfaatnya dapat dirasakan antara lain:63

1. Menghilangkan penafsiran dari masing-masing negara tentang masalah kelautan.

61 Etty R. Agoes, 1991, Konvensi Hukum Laut 1982 dan Masalah Pengaturan Hak Lintas Kapal Asing, Abardin: Bandung, hlm. 22

62 R. Kapoor, 2009, Development of international principles. Ocean management, Global Media: Jaipur, hlm. 177

63 Joko Subagyo, 2002, Hukum Laut Indonesia, Rineka Cipta: Jakarta, hlm. 58

2. Menghilangkan bentuk-bentuk peraturan yang semata-mata untuk kepentingan negara tertentu.

3. Timbulnya keseragaman dalam peraturan masalah kelautan dengan pedoman pada hukum internasional yang berlaku umum.

4. Bagi negara pemakai fasilitas lautan dapat berpegang pada pedoman hukum internasional yang ada.

5. Timbul hak-hak dan kewajiban-kewajiban baru.

Untuk mengimbangi kepentingan negara terhadap lautan maka perlu aturan internasional yang dapat menjamin keadilan dalam penggunaan laut oleh masing-masing negara. Terdapat tiga kerangka hukum internasional yang menjadi sumber hukum tertulis dalam hukum laut internasional yaitu: UNCLOS 1958, UNCLOS 1960 dan UNCLOS 1982. Berikut ini dipaparkan mengenai sejarah pembentukan UNCLOS yang menjadi acuan bagi negara-negara dalam penyelesaian perbatasan maritim.

1) UNCLOS 1958

Kerangka hukum laut internasional yang pertama adalah UNCLOS 1958.

Pelopor dari konferensi ini adalah International Law Commission (ILC) yang mendapatkan mandat dari PBB untuk menyelesaikan kodifikasi hukum laut internasional. Setelah berkali-kali bersidang dimulai pada tahun 1949, maka dalam tahun 1955 ILC telah dapat merumuskan suatu “provisional draft” mengenai berbagai aspek hukum laut yang kemudian disampaikan kepada negara-negara anggota PBB. Setelah menerima komentar-komentar dari anggota PBB tersebut, maka ILC kemudian merumuskan “final draft” yang dijadikan dasar pembicaraan dalam konferensi hukum laut yang pertama di bawah PBB yang diadakan di Jenewa dari tanggal 24 Pebruari sampai tanggal 27 April 1958.

Dokumen terkait