III. METODE PENELITIAN
4.2. Perekonomian
4.2.2. Perkembangan Ekonomi Sektoral
Tabel 4.4. Distribusi PDRB Kabupaten Tangerang atas Dasar Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha Tahun 2003-2007 (Persen)
Lapangan Usaha 2003 2004 2005 2006 2007
Pertanian 9,57 9,18 9,14 8,46 8,73
Pertambangan & Penggalian 0,08 0,08 0,08 0,08 0,08 Industri Pengolahan 53,54 52,10 50,19 49,63 48,23 Listrik, Gas & Air Bersih 8,78 8,87 8,85 7,96 8,30
Konstruksi 1,71 1,79 1,78 1,79 1,95
Perdagangan, Hotel & Restoran 11,98 12,27 12,51 13,32 13,61 Pengangkutan & Komunikasi 7,63 8,83 9,73 10,65 10,51 Keuangan, Persewaan & Jasa
Perusahaan
2,46 2,52 3,08 3,31 3,47
Jasa-Jasa 4,24 4,34 4,64 4,80 5,13
PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber: BPS Kabupaten Tangerang, 2007.
Meningkatnya laju pertumbuhan atas dasar harga konstan dan melambatnya laju pertumbuhan atas dasar harga berlaku selama lima tahun memberi gambaran bahwa kenaikan tingkat produksi barang dan jasa di tingkat produsen tidak diikuti oleh kenaikan harga barang yang berarti. Inflasi pada tahun 2006 mencapai 7,46 persen sedangkan pada tahun 2007 turun secara signifikan menjadi sebesar 3,08 persen.
4.2.2. Perkembangan Ekonomi Sektoral
Struktur ekonomi di Kabupaten Tangerang selama lima tahun terakhir ini, didominasi oleh kelompok sektor sekunder dan tersier, namun utamanya adalah didominasi kelompok sektor sekunder. Pada tahun 2007, pembentukan PDRB tetap didominasi oleh sektor industri pengolahan yaitu sebesar 48,23 persen
42
hampir setengah nilai PDRB Kabupaten Tangerang. Kemudian diikuti oleh sektor perdagangan,hotel dan rsetoran yang mempunyai peranan sebesar 13,61 persen. Sektor pengangkutan dan komunikasi menduduki peringkat ketiga dalam memberikan kontribusinya terhadap PDRB Kabupaten Tangerang yakni menyumbang 10,51 persen.
Secara lengkap tinjauan PDRB Kabupaten Tangerang selama kurun waktu 2003 hingga 2007 adalah sebagai berikut:
4.2.2.1. Sektor Pertanian
Peranan sektor pertanian terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Tangerang selama lima tahun terakhir ini menunjukkan trend menurun. Namun pada tahun 2007, sektor tersebut tumbuh lebih cepat jika dibandingkan dengan tahun 2006. Kontribusinya sebesar 8,73 persen, berarti juga meningkat dibandingkan dengan tahun 2006 yang mencapai 8,46 persen.
Pada tahun 2007 kontribusi semua sub sektor pertanian mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2006, kecuali sub sektor tanaman perkebunan yang kontribusinya turun jadi sebesar 0,07 persen. Kontribusi terbesar tetap pada sub sektor tanaman bahan makanan yaitu sebesar 5,14 persen meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar 4,94 persen. Pertumbuhan sektor pertanian tahun 2007 sebesar 7,24 persen lebih cepat jika dibandingkan pada tahun 2006 yang sebesar 0,08 persen. Sub sektor tanaman perkebunan mengalami pertumbuhan negatif sampai dengan minus 2,19 persen. Sub sektor lainnya mengalami pertumbuhan yang positif, bahkan sub sektor perikanan justru
43
mengalami percepatan pertumbuhan yang cukup signifikan yaitu sebesar 13,76 persen dibanding tahun 2006 yang sebesar 7,98 persen.
4.2.2.2. Sektor Pertambangan dan Penggalian
Kegiatan ekonomi pada sektor pertambangan dan penggalian yang terdapat di Kabupaten Tangerang hanya di sub sektor penggalian saja. Dalam lima tahun terakhir, sektor tersebut mengalami peningkatan yang cukup berarti dari tahun ke tahun. Pada tahun 2003 sektor ini mencapai pertumbuhan 9,58 persen. Kemudian melambat sampai 2,81 persen pada tahun 2004.
Peningkatan pertumbuhan yang sangat signifikan terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar 13,49 persen jika dibandingkan dengan tahun 2006 sektor ini mengalami pertumbuhan 4,01 persen. Pertumbuhan sub sektor penggalian sejalan dengan pertumbuhan sektor banguan dengan banyaknya pembangunan bidang properti. Distribusi sektor pertambangan dan penggalian dari tahun 2003 sampai dengan 2007 tetap 0,08 persen terhadap total PDRB.
4.2.2.3. Sektor Industri Pengolahan
Saat ini sektor industri pengolahan memiliki peran sekitar 48,23 persen terhadap total nilai tambah bruto sembilan lapangan usaha atau hampir setengah nilai PDRB Kabupaten Tangerang. Tapi menurun jika dibandingkan dengan tahun 2006 yang kontribusinya mencapai 49,63 persen. Hal tersebut diakibatkan banyaknya industri yang tutup di tahun 2006 kemudian bertambah di tahun 2007 dan beberapa diantaranya telah membuka lagi usahanya namun belum memulai
44
produksinya. Dengan pertumbuhan mencapai 4,25 persen, melambat jika dibandingkan dengan tahun 2006 yang tumbuh sebesar 6,02 persen. Melambatnya pertumbuhan sektor industri juga sejalan dengan melambatnya sub sektor listrik.
4.2.2.4. Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih
Sub sektor gas yang semula ada dalam PDRB Kota Tangerang pada tahun 2007 dimasukkan ke PDRB Kabupaten Tangerang, karena pada kenyataannya Perusahaan Gas Negara Distribusi Banten secara regional berada di wilayah Kabupaten Tangerang. Penyesuaian tersebut juga diberlakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini menyebabkan berubahnya level nilai tambah bruto pada sektor listrik, gas dan air bersih pada PDRB Kabupaten Tangerang. Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa sektor ini sangat dipengaruhi oleh sektor-sektor lainnya yang menggunakan sektor tersebut sebagai inputnya, di antaranya adalah sektor industri pengolahn yang sangat bergantung pada listrik sebagai sumber utama energi penggerak mesin-mesin produksinya. Sehingga apabila kita perhatikan pola pertumbuhannya memiliki pola yang mendekati pola pertumbuhan sektor industri pengolahan.
Tahun 2006 sektor listrik, gas dan air bersih mengalami pertumbuhan melambat sampai 0,21 persen jauh melambat dibandingkan dengan tahun 2005. Namun pada tahun 2007 mengalami percepatan pertumbuhan yang besar sampai 14,99 persen. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan sub sektor gas tahun 2007 yang sangat signifikan, yaitu 81,15 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya sebesar 5,32 persen. Yang menjadi penggerak sektor
45
tersebut adalah sub sektor listrik, juga mengalami pertumbuhan sampai angka negatif yaitu minus 3,47. Hal tersebut diakibatkan oleh rusaknya pembangkit listrik di wilayah Propinsi Banten yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya yang masih belum normal kembali pasokan daya listrik diseluruh wilayah Propinsi Banten termasuk wilayah Kabupaten Tangerang. Dimana Kontribusinya terhadap total PDRB pada tahun 2007 yang mencapai 5,41 persen juga berkurang jika dibandingkan dengan tahun 2006. Sedangkan sub sektor air bersih memberikan kontribusi hanya 0,07 persen terhadap nilai tambah bruto. Sub sektor air bersih pada tahun 2007 mengalami pertumbuhan 15,37 persen jauh lebih cepat jika dibandingkan pada tahun 2006 yang mencapai pertumbuhan negatif yaitu minus 0,48 persen. Percepatan pertumbuhan sektor listrik, gas dan air bersih sangat dipengaruhi oleh dua sub sektor yaitu sub sektor gas dan sub sektor air bersih yang pertumbuhannya sangat cepat.
4.2.2.5. Sektor Bangunan/Kontruksi
Pada tahun 2007, sektor bangunan/kontruksi memberikan kontribusi terhadap total PDRB sebesar 1,95 persen dan pertumbuhannya mencapai 16,71 persen, meningkat dibandingkan pada tahun 2006 dengan peranan sektor ini sebesar 1,79 persen dimana pertumbuhannya mencapai 8,07 persen. Pertumbuhan yang lebih cepat dari tahun sebelumnya diakibatkan karena pada tahun 2007 makin marakya pembangunan di wilayah Kabupaten Tangerang khususnya di bidang poperty baik perumahan-perumahan maupun perkantoran dan pergudangan di wilayah Kabupaten Tangerang.
46
4.2.2.6. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran
Saat ini sektor perdagangan, hotel dan restoran merupakan sektor kedua terbesar setelah sektor industri pengolahan dengan peranan terhadap PDRB mencapai 13,61 persen. Peningkatan tersebut akibat dari bermunculnya pusat-pusat perbelanjaan baru pada tahun 2006 dan yang sampai dengan tahun 2007 masih marak di wilayah Kabupaten Tangerang. Sejak tahun 2003 sampai 2007, sektor tersebut sebagai sektor kedua yang mendominasi PDRB Kabupaten Tangerang dan mempunyai peranan penting di Kabupaten Tangerang. Pada tahun 2007, sektor tersebut tumbuh sebesar 13,48 persen. Perkembangan usaha perdagangan dan restoran masih meningkat meski tidak semarak seperti pada tahun 2007.
Sub sektor Perdagangan Besar dan Eceran merupakan motor utama pada sektor tersebut, dimana kontribusi nilai tambah bruto nya terhadap PDRB mencapai 8,29 persen di tahun 2006 dengan pertumbuhan sebesar 11,89 persen dengan peranan sebesar 5,31 persen terhadap total PDRB. Sedangkan sub sektor hotel hanya memiliki peran sebesar 0,01 persen.
4.2.2.7. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi
Sektor pengangkutan dan komunikasi pada tahun 2007 mengalami pertumbuhan sebesar 6,75 persen melambat jika dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 12,14 persen. Yang menjadi motor penggerak pertumbuhan sektor tersebut tahun 2007 adalah sub sektor komunikasi yang
47
tumbuh sebesar 17,28 persen juga melambat dari tahun sebelumnya yang tumbuh 27,17 persen.
Peranan sektor ini terhadap PDRB sedikit menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu dari 10,65 persen di tahun 2006 menjadi sebesar 10,51 persen pada tahun 2007. Sub sektor Angkutan Jalan Raya menumbang paling besar peranannya dalam sektor tersebut yaitu sekitar 8,74 persen.
Peranan sub sektor komunikasi terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun, yaitu dari 1,17 persen tahun 2003, 1,25 persen pada tahun 2004, 1,40 tahun 2005, 1,62 persen di tahun 2006, dan 1,77 persen pada tahun 2007. Peningkatan ini masih disebabkan semakin maraknya pemakaian telepon seluler (PONSEL) dan meski Satuan Sambungan Telepon (SST) oleh Telkom yang terpasang agak sedikit berkurang.
4.2.2.8. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan
Sektor keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan pada tahun 2007 mengalami pertumbuhan terbesar yaitu 11,11 persen. Pertumbuhan tersebut lebih lambat jika dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh 14,61 persen. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sub sektor lembaga keuangan lainnya yang tumbuh 10,58 persen, subsektor ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut dapat dipahami karena banyaknya lembaga keuangan yang melayani kredit kepemilikan kendaraan bermotor. Sub sektor lembaga sewa gudang menduduki peringkat kedua pertumbuhan yaitu sebesar 12,25 persen. Sub sektor sewa bangunan bahkan mempunyai kontribusi terbesar dalam sektor
48
keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar 3,03 persen meningkat dari tahun 2006 yang sebesar 2,87 persen. Peningkatan tersebut sejalan dengan peningkatan pada sektor bangunan yang banyak membangun property seperti ruko atau gudang yang disewakan. Sub sektor peringkat ketiga pertumbuhan pada sektor keuangan, adalah bank yang pertumbuhannya sekitar 6,11 persen, lebih lambat dibandingkan tahun lalu yang tumbuh sekitar 68,90 persen.
Dari keempat sub sektor tersebut, yang peranannya paling besar terhadap PDRB Kabupaten Tangerang adalah sub sektor Sewa Bangunan yang mencapai 3,03 persen. Sedangkan secara keseluruhan, sektor tersebut memberikan kontribusi sebesar 3,47 persen.
4.2.2.9. Sektor Jasa-jasa
Sektor jasa-jasa pada tahun 2007 mengalami pertumbuhan sebesar 13,23 persen. Sub sektor sosial kemasyarakatan mengalami pertumbuhan yang tertinggi dibandingkan empat sub sektor lainnya pada sektor tersebut, yaitu tumbuh sebesar 15,74 persen. Disusul oleh sub sektor perorangan dan rumah tangga sebesar 13,53 persen, sub sektor pemerintahan 12,47 persen dan terakhir sub sektor hiburan dan rekreasi tumbuh sebesar 4,46 persen. Pertumbuhan yang lebih cepat akibat banyaknya penambahan di jasa sosial kemasyarakatan seperti dibukanya rumah sakit swasta, klinik swasta, sekolah-sekolah swasta, kursus-kursus, lembaga-lembaga pelatihan dan perguruan tinggi yang membuka cabangnya di daerah-daerah termasuk di wilayah Kabupaten Tangerang.
49
Peranan sektor tersebut terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Tangerang tahun 2007 adalah sebesar 5,13 persen, lebih besar dibandingkan tahun 2006 yang mencapai 4,80 persen. Kontribusi terbesar pada sub sektor jasa perorangan dan rumah tangga yaitu sebesar 2,48 persen.