GAMBARAN UMUM
4.1 Perkembangan Jahe Indonesia
4.2.1 Perkembangan Ekspor Jahe Dunia
Pada ekspor jahe, pada semua negara menggunakan kode HS untuk menyamakan jenis dari komoditi tersebut agar memudahkan dalam proses impor dan ekspor di semua negara seperti pengurusan biaya pajak dan lain sebagainya.
Untuk komoditi jahe, kode HS dipisahkan berdasarkan bentuk dari jahe tersebut, seperti dalam bentuk segar atau utuh, jahe tidak dihancurkan atau tidak ditumbuk, dan jahe dihancurkan atau ditumbuk. Negara pengekspor tertinggi di dunia untuk jahe dalam bentuk segar adalah negara Cina sebagai negara nomor satu di dunia dalam ekspor jahe (The Food and Agriculture Organization, 2016). Gambar 19 menunjukkan nilai ekspor jahe dunia.
Gambar 19. Nilai Ekspor Jahe Dunia
Sumber : UN Comtrade, 2018
Perkembangan ekspor jahe Dunia selama sepuluh tahun terakhir berfluktuasi baik nilai maupun volumenya. Nilai ekspor jahe dunia tertinggi berada pada tahun 2014 dengan nilai ekspor sebesar 812.766.748 US$, dan nilai terendah ekspor jahe dunia berada pada tahun 2009 sebesar 373.145.904 US$. Terdapat
0 100000000 200000000 300000000 400000000 500000000 600000000 700000000 800000000 900000000
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
(US$)
83 urutan untuk negara pengekspor jahe di dunia, berdasarkan data ICO tahun 2016, negara yang menempati posisi pertama dalam ekspor jahe yaitu negara Cina.
Kemudian untuk urutan selanjutnya ditempati oleh negara Belanda, selanjutnya negara India, Thailand, Peru, Nigeria, Indonesia. Urutan tersebut merupakan urutan untuk posisi ekspor jahe segar.
Faktor eksternal yang diduga berpengaruh perdagangan jahe di pasar internasional, antara lain: (1) Adanya daya saing dengan negara-negara lain di dunia, (2) perbedaan harga pasar dalam negeri dan harga terhadappasar internasional. Jika harga jahe di pasar internasional lebih tinggi daripada harga pasar domestik, maka produsen akan lebih memilih untuk memasarkannya ke pasar Internasional sehingga akan meningkatkan pertumbuhan ekspor. (3) adanya permintaan dari luar negeri. Semakin tinggi permintaan dari luar negeri terhadap komoditi yang dihasilkan oleh suatu negara, maka semakin tinggi pula pertumbuhan ekspor negara tersebut, (4) Nilai tukar mata uang. Apabila suatu negara mengalami depresiasi nilai tukar, maka akan meningkatkan pertumbuhan ekspor di negara tersebut. Hal itu terjadi karena depresiasi nilai tukar menyebabkan harga-harga komoditas domestik terlihat lebih murah di mata internasional sehingga permintaan luar negeri untuk komoditas tersebut akan meningkat (Sharma, 2004:9).
84 4.2.2 Perkembangan Ekspor Jahe Cina
Berdasarkan data yang diperoleh dari UN Comtrade (2018:3), ekspor jahe Cina dengan kode (HS 091010) mengalami nilai ekspor yang tinggi dan berfluktuaif. Grafik ekspor jahe Cina dapat dilihat pada Gambar 20.
Gambar 20. Nilai Ekspor Jahe Cina
Sumber : UN Comtrade, 2018
Ekspor jahe Cina menglami peningkatan pada tahun 2012-2014 dengan nilai tertinggi mencapai 548.990.701 USD pada tahun 2014 dan mengalamipenurunan pada tahun 2015-2016 hingga mencapai 369.456.328 USD pada tahun 2016 dan naik kembali pada tahun 2017 sebesar 4,2 %. Meskipun demikian, selama periode 2008-2017, Cina tetap menguasai pasar ekspor jahe dunia, karena Cina juga merupakan negara produsen terbesar kedua setelah India serta Cina selalu dapat memenuhi kebutuhan domestik dan dapat mempertahankan kualitas jahenya (Kementerian Perdagangan, 2017:1).
0 100000000 200000000 300000000 400000000 500000000 600000000
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
(US$)
85 4.2.3 Perkembangan Ekspor Jahe Belanda
Berdasarkan data yang diperoleh dari UN Comtrade (2018:3), ekspor jahe Belanda dengan kode (HS 091010) mengalami pertumbuhan nilai ekspor yang signifikan dan berfluktuaif. Grafik ekspor jahe Belanda dapat dilihat pada Gambar 21.
Gambar 21. Nilai Ekspor Jahe Belanda
Sumber : UN Comtrade, 2018
Pertumbuhan ekspor jahe Belanda terjadi secara perlahan namun cenderung selalu menglami peningkatan. Peningkatan terjadi pada tahun 2008-2014 dengan nilai tertinggi mencapai 101.30.005 USD pada tahun 2014 dan mengalamipenurunan pada tahun 2015 hingga mencapai67.632.015 USD dan naik kembali pada tahun 2016 sebesar 1,2 %. Meskipun Belanda tidak memproduksi jahe dalam jumlah banyak, namun selama periode 2008-2017, Belanda tetap menjadi pengeskpor jahe terbesar kedua setelah Cina. Hal ini dikarenakan Belanda banyak mengimpor jahe dari negara lain khususnya kawasan Asia Tenggara (Kementerian Perdagangan, 2017:1).
0 20000000 40000000 60000000 80000000 100000000 120000000
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
(US$)
86 4.2.4 Perkembangan Ekspor Jahe India
Berdasarkan data yang diperoleh dari UN Comtrade (2018:3), ekspor jahe India dengan kode (HS 091010) mengalami pertumbuhan nilai ekspor yang berfluktuaif. Grafik ekspor jahe Belanda dapat dilihat pada Gambar 22.
Gambar 22. Nilai Ekspor Jahe India
Sumber : UN Comtrade, 2018
Pertumbuhan ekspor jahe India mengalami fluktuasi selama tahun 2008-2017. Peningkatan terjadi pada tahun 2008-2011 dengan nilai tertinggi mencapai 55.246.230 USD pada tahun 2011 dan mengalamipenurunan pada tahun 2012-2013 hingga mencapai27.007.565 USD dan naik kembali pada tahun 2014 sebesar 40,1 %. Meskipun demikian, selama periode 2008-2017, India tetap menjadi negara pengekspor jahe terbesar setelah Cina dan Belanda, karena India juga merupakan negara produsen terbesar pertama. India tidak bisa menjadi negara pengeskpor terbesar pertama dikarenakan India tidak selalu dapat memenuhi kebutuhan domestik dan tidak dapat mempertahankan kualitas jahenya. Oleh karena itu selain memproduksi jahe, India juga pengimpor jahe dari negara lain. (Kementerian Perdagangan, 2017:1).
0 10000000 20000000 30000000 40000000 50000000 60000000
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
(US$)
87 4.2.5 Permintaan Jahe Dunia
Sebagai ilustrasi, peningkatan produksi jahe Indonesia sejalan dengan pertumbuhan permintaan komoditas jahe didunia. Selama2011-2015 ekspor jahe dunia tumbuh 8,6% per tahun. Pada tahun 2015 permintaan ekspor jahe dunia mencapai USD 756 juta. Indonesia sebagai eksportir ke-7 dunia untuk komoditas ini mengalami pertumbuhan ekspor rata-rata 146% per tahun pada periode yang sama. Indonesia adalah negara yang mengalami pertumbuhan ekspor terbesar untuk komoditas jahe di dunia. Peningkatan kontribusi Indonesia sebagai penghasil jahe dunia tidak hanya dari segi nilai perdagangan tapi juga pangsa pasarnya. Tahun 2011, Indonesia memberikan 0,18% pasokan jahe dunia dan pada tahun 2015 menjadi 2,4%. Hal ini menjadi peluang bagi petani jahe untuk meningkatkan produksi guna memenuhi permintaan dunia yang sedang tumbuh. Dapat dilihat pada Gambar 23 menunjukan permintaan jahe dunia dari tahun 2011-2015.
Gambar 23. Permintaan Jahe Dunia
Sumber : Badan Pengkajian dan Perkembangan Perdagangan (2016)
1.2 1.4
14.9
49.1
18.2
0 10 20 30 40 50 60
2011 2012 2013 2014 2015
(US$)
88 4.2.6 Harga Jahe Dunia
Jahe di dunia dapat dibedakan berdasarkan bentuk dari jahe tersebut, yaitu jahe segar, dan jahe yang dihancurkan. Dapat dilihat pada Gambar 24 menunjukkan harga jahe dunia dari tahun 2013 sampai 2017.
Gambar 24. Harga Jahe Dunia (2013-2017)
Sumber : BPS Perdagangan Luar Negri (2017)
Harga jahe di pasar internasional jauh lebih tinggi dibandingkan harga jahe domestik. Harga jahe dunia mengalami peningkatan. Membaiknya harga jahe tersebut mengacu pada perkiraan produksi jahe di India, Cina,dll dan termasuk Indonesia yang merupakan negara eksportir jahe terbesar yang tidak mengalami lonjakan besar di tengah terus meningkatnya permintaan di pasar dunia. Pada harga jahe internasional, terdapat tren meningkat pada 5 tahun terakhir. Presentase tren kenaikan harga jahe internasional sebanyak 5-10 %.
20084
22530
26149
26884 27567
0 5000 10000 15000 20000 25000 30000
2013 2014 2015 2016 2017
US $
89 Dampak dari volume produksi jahe di India, Cina terhadap harga jahe di dunia adalah fluktuasi volume jahe di pasar internasional yang juga menentukan harga jahe di dunia karena sampai saat ini, karena belum ada negara yang memiliki total volume produksi jahe sebanyak negara India dan Cina.
90 BAB V