• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DESKRIPSI WILAYAH

4.6 Perkembangan Harga Aktual Beras

Adapun perkembangan harga aktual beras di tingkat petani dari tahun 2007-2011 dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5. Perkembangan Harga Beras di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2007-2011 Bulan 2007 2008 2009 2010 2011 Januari 5.118 5.553 5.931 6.360 8.314 Februari 5.475 5.583 6.008 6.379 8.174 Maret 5.245 5.593 6.014 6.427 8.143 April 5.323 5.493 6.027 6.108 7.320 Mei 5.266 5.743 6.116 6.070 7.925 Juni 5.041 6.056 6.046 6.167 6.976 Juli 5.015 5.922 5.925 6.377 7.206 Agustus 5.300 5.919 6.055 6.127 7.832 September 5.500 5.719 6.034 6.431 7.955 Oktober 5.100 5.870 5.964 6.615 7.802 Nopember 5.200 5.819 5.840 7.146 7.818 Desember 5.250 5.905 5.897 7.565 8.010 Sumber : Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara, 2012

Keterangan :

____ = berlaku Inpres No. 3 Tahun 2007 ____ = berlaku Inpres No. 1 Tahun 2008 ____ = berlaku Inpres No. 8 Tahun 2008 ____ = berlaku Inpres No. 7 Tahun 2009 ____ = berlaku Inpres No. 8 Tahun 2011

Dari tabel 5 dapat dilihat bahwa harga beras setiap tahunnya mengalami kenaikan. Rata-rata harga beras ketika berlakunya Inpres No. 3 Tahun 2007 (April 2007-Maret 2008) yaitu Rp 5.310,33/Kg. Harga beras terendah yaitu pada Juli 2007 sebesar Rp 5.015/Kg dan tertinggi pada bulan Maret 2008 sebesar Rp 5.593/Kg. Kemudian pada April 2008 diterbitkan Inpres No. 1 Tahun 2008 berlaku sampai dengan November 2008, rata-rata harga beras adalah Rp 5.817,63/Kg. Harga beras terendah yaitu pada bulan April 2008 sebesar Rp 5.493/Kg dan tertinggi pada bulan Juni 2008 sebesar Rp 6.056/Kg. Pada Bulan

Desember diterbitkan Inpres No. 8 Tahun 2008 berlaku sampai dengan Desember 2009. Rata-rata harga beras yaitu Rp 5.981,69/Kg, harga beras terendah yaitu pada bulan November 2009 sebesar Rp 5.840/Kg dan tertinggi pada bulan Mei 2009 sebesar Rp 6.116/Kg. Pada awal Januari tahun 2010, pemerintah menerbitkan Inpres No. 7 Tahun 2009 berlaku sampai dengan Maret 2011. Rata-rata harga beras pada periode ini adalah Rp 6.826,87/Kg. Harga beras terendah yaitu pada bulan Mei 2010 sebesar rp 6.070/Kg dan tertinggi pada bulan Januari 2011 sebesar Rp 8.314/Kg. Pada April 2011, pemerintah menerbitkan Inpres No. 8 Tahun 2008. Rata-rata harga beras pada periode ini adalah Rp 7.649,33/Kg dan harga terendah yaitu pada bulan Juni 2011 sebesar Rp 6.976/Kg dan tertinggi pada bulan Desember 2011 sebesar Rp 8.010/Kg.

Gambar 5. Grafik Perkembangan Harga Beras di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2007 – 2011.

Dari grafik terlihat perkembangan harga beras di Provinsi Sumatera Utara tahun 2007-2011 pada gambar 5 dapat dilihat harga aktual beras setiap bulannya di atas HPP yang ditetapkan oleh pemerintah. Kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) beras diikuti juga oleh kenaikan harga beras di tingkat petani.

0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 9000 A p r-07 Ju l-07 Oct -07 Ja n -08 A p r-08 Ju l-08 Oct -08 Ja n -09 A p r-09 Ju l-09 Oct -09 Ja n -10 A p r-10 Ju l-10 Oct -10 Ja n -11 A p r-11 Ju l-11 Oct -11 Harga Beras HPP

ditingkat petani yaitu 32,76% (Inpres No. 3 Tahun 2007), 35,29% (Inpres No. 1 Tahun 2008), 30,04% (Inpres No. 8 Tahun 2008), 34,92% (Inpres No. 7 Tahun 2009), dan 51,17% pada saat berlakunya Inpres No. 8 Tahun 2011.

4.7 Konsumsi Beras

Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan konsumsi beras penduduk Sumatera Utara dari tahun 2007-2011.

Tabel 6. Jumlah Konsumsi Beras untuk Sumatera Utara Tahun 2007-2011

Tahun Konsumsi Beras

(Kg/Kap/Thn) 2007 144,926 2008 142,187 2009 139,5 2010 136,85 2011 134,80

Sumber : Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara, 2012

Dari Tabel 6, terlihat bahwa jumlah konsumsi beras penduduk Sumatera Utara yang terbesar yaitu tampak pada tahun 2007 sebanyak 144,926 Kg/Kap/Thn, sedangkan untuk jumlah konsumsi terkecil sebanyak 134,80 Kg/Kap/Thn pada tahun 2011.

Pada tabel juga terlihat terjadi penurunan konsumsi beras penduduk Sumatera Utara setiap tahun. Total konsumsi beras penduduk Sumatera Utara dari tahun 2007-2011 adalah sebesar 698,263 Kg/Kap dengan rata-rata jumlah konsumsi yaitu 139,65 Kg/Kap/Thn. Tetapi jumlah ini masih lebih tinggi dari target Badan Ketahanan Pangan Sumatera Utara yaitu sebesar 100,5 Kg/Kap/Thn. Jumlah konsumsi beras penduduk Sumatera Utara masih tergolong tinggi jika dibandingkan dengan negara lain konsumsi berasnya berkisar antara 60-80 Kg/Kap/Thn.

Gambar 6. Grafik Perkembangan Konsumsi Beras di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2007 – 2011.

Persentase penurunan beras dari tahun 2007-2010 sekitar 1,89% dan pada tahun 2011 persentase penurunannya sekitar 1,498%. Target penurunan konsumsi beras yang ditetapkan pemerintah adalah 1,5%. Penurunan konsumsi beras ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu salah satunya Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dan faktor lainnya adalah program pemerintah untuk diversifikasi pangan, dan program pemerintah lainnya. Jika konsumsi beras dapat diturunkan maka ketahanan pangan akan terwujud dibarengi dengan peningkatan produktivitas, dan program pemerintah juga terlaksana dengan baik.

128 130 132 134 136 138 140 142 144 146 2007 2008 2009 2010 2011

Konsumsi Beras (Kg/Kap/Thn)

Konsumsi Beras (Kg/Kap/Thn)

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Analisis Perbedaan Antara HPP GKP dan HPP Beras dengan Harga Aktual GKP dan Beras

Uji yang dilakukan dalam menganalisis data/variabel bagaimana perkembangan harga aktual GKP dan beras setelah penetapan HPP dari tahun 2007 sampai dengan 2011 adalah dengan menggunakan program SPSS 17. Dalam hal ini uji beda rata-rata yang dilakukan adalah dengan metode One Sample T Test. Uji ini dilakukan karena data harga yang digunakan adalah bersifat kuantitatif dan berdistribusi normal yang dibandingkan dengan penetapan HPP oleh Pemerintah (bersifat konstanta). Dari tabel 7 dan 8 dapat dilihat bahwa semua variabel yaitu harga aktual GKP dan harga aktual beras merupakan data time series dan kuantitatif yang dibandingkan dengan harga HPP yang ditetapkan oleh pemerintah.

Dari hasil analisis uji beda rata-rata yang dilakukan antara HPP GKP dan beras yang ditetapkan oleh pemerintah dari berbagai Inpres yang telah dikeluarkan dengan harga aktual GKP dan beras di Provinsi Sumatera Utara terlihat bahwa nilai signifikan 0,000 ≤ 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak yang berarti rata-rata harga aktual GKP dan beras lebih besar dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP) GKP dan beras yang ditetapkan oleh pemerintah dari berbagai Inpres yang dikeluarkan di Sumatera Utara. Hasil uji beda tersebut dapat dilihat pada Tabel 7 dan 8.

Tabel 7. Uji Beda Rata-rata Satu Sampel (GKP)

No. Instruksi Presiden HPP GKP Harga Aktual Uji beda rata-rata satu sampel

(Inpres) (Rp/Kg) (Rp/Kg) N t hitung Sig

1. No. 3 Tahun 2007 2000 2324,5 12 8,982 0,000 2. No. 1 Tahun 2008 2200 2570,75 8 17,575 0,000 3. No. 8 Tahun 2008 2400 2585,92 13 7,213 0,000 4. No. 7 Tahun 2009 2640 3020,07 15 7,462 0,000 5. No. 8 Tahun 2011 2640 3237,56 9 11,687 0,000 Sumber : Lampiran 1

Uji beda rata-rata yang dilakukan antara HPP GKP yang ditetapkan oleh pemerintah dari berbagai Inpres yang telah dikeluarkan dengan harga aktual GKP yang terdiri dari :

a. HPP berdasarkan Inpres No. 3 Tahun 2007

Hasil uji beda rata-rata berdasarkan Inpres No. 3 Tahun 2007, HPP GKP

yang ditetapkan sebesar Rp 2.000/Kg dengan harga aktual GKP diperoleh: t hitung = 8,982 dan sig. 0,00 maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak.

b. HPP berdasarkan Inpres No. 1 Tahun 2008

Hasil uji beda rata-rata berdasarkan Inpres No. 1 Tahun 2008, HPP GKP

yang ditetapkan sebesar Rp 2.200/Kg dengan harga aktual GKP diperoleh: t hitung = 17,575 dan sig. 0,00 maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak.

c. HPP berdasarkan Inpres No. 8 Tahun 2008

Hasil uji beda rata-rata berdasarkan Inpres No. 8 Tahun 2008, HPP GKP

yang ditetapkan sebesar Rp 2.400/Kg dengan harga aktual GKP diperoleh: t hitung = 7,213 dan sig. 0,00 maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak.

d. HPP berdasarkan Inpres No. 7 Tahun 2009

Hasil uji beda rata-rata berdasarkan Inpres No. 7 Tahun 2009, HPP GKP

e. HPP berdasarkan Inpres No. 8 Tahun 2011

Hasil uji beda rata-rata berdasarkan Inpres No. 8 Tahun 2011, HPP GKP

yang ditetapkan sebesar Rp 2.640/Kg dengan harga aktual GKP diperoleh: t hitung = 11,687 dan sig. 0,00 maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak.

Tabel 8. Uji Beda Rata-rata Satu Sampel (Beras)

No. Instruksi Presiden HPP Beras Harga Aktual Uji beda rata-rata satu sampel

(Inpres) (Rp/Kg) (Rp/Kg) N t hitung Sig

1. No. 3 Tahun 2007 4000 5310,33 12 21,932 0,000 2. No. 1 Tahun 2008 4300 5817,63 8 25,305 0,000 3. No. 8 Tahun 2008 4600 5981,69 13 63,741 0,000 4. No. 7 Tahun 2009 5060 6826,87 15 8,350 0,000 5. No. 8 Tahun 2011 5060 7649,33 9 20,551 0,000 Sumber : Lampiran 2

Uji beda rata-rata yang dilakukan antara HPP beras yang ditetapkan oleh pemerintah dari berbagai Inpres yang telah dikeluarkan dengan harga aktual beras yang terdiri dari :

a. HPP berdasarkan Inpres No. 3 Tahun 2007

Hasil uji beda rata-rata berdasarkan Inpres No. 3 Tahun 2007, HPP beras

yang ditetapkan sebesar Rp 4.000/Kg dengan harga aktual beras diperoleh: t hitung = 21,932 dan sig. 0,00 maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak.

b. HPP berdasarkan Inpres No. 1 Tahun 2008

Hasil uji beda rata-rata berdasarkan Inpres No. 1 Tahun 2008, HPP beras

yang ditetapkan sebesar Rp 4.300/Kg dengan harga aktual beras diperoleh: t hitung = 25,305 dan sig. 0,00 maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak.

c. HPP berdasarkan Inpres No. 8 Tahun 2008

Hasil uji beda rata-rata berdasarkan Inpres No. 8 Tahun 2008, HPP beras yang ditetapkan sebesar Rp 4.600/Kg dengan harga aktual beras diperoleh: t hitung = 63.741 dan sig. 0,00 maka dapat disimpulkan bahwa H ditolak.

d. HPP berdasarkan Inpres No. 7 Tahun 2009

Hasil uji beda rata-rata berdasarkan Inpres No. 7 Tahun 2009, HPP beras

yang ditetapkan sebesar Rp 5.060/Kg dengan harga aktual beras diperoleh: t hitung = 8,350 dan sig. 0,00 maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak.

e. HPP berdasarkan Inpres No. 8 Tahun 2011

Hasil uji beda rata-rata berdasarkan Inpres No. 8 Tahun 2011, HPP beras yang ditetapkan sebesar Rp 5.060/Kg dengan harga aktual beras diperoleh: t hitung = 20,551 dan sig. 0,00 maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak.

Tabel 9. Persentase Perbedaan HPP dengan Harga Aktual GKP dan Beras di Provinsi Sumatera Utara

Inpres GKP Beras HPP (Rp/Kg) Aktual (Rp/Kg) % HPP (Rp/Kg) Aktual (Rp/Kg) % No. 3 Tahun 2007 2.000 2.324,5 16,225 4.000 5.310,33 32,76 No. 1 Tahun 2008 2.200 2.570,75 16,852 4.300 5.817,63 35,29 No. 8 tahun 2008 2.400 2.585,92 7,75 4.600 5.981,69 30,04 No. 7 Tahun 2009 2.640 3.020,07 14,396 5.060 6.826,87 34,92 No. 8 Tahun 2011 2.640 3237,56 22,63 5.060 7.649,33 51,17

Sumber: Data sekunder diolah

Dari data yang diperoleh rata-rata harga aktual GKP di Provinsi Sumatera Utara selama berlakunya Inpres No. 3 Tahun 2007 (pada periode April 2007 sampai dengan Maret 2008) adalah sebesar Rp 2.324,5/Kg lebih tinggi 16,225% dari HPP. Selama periode tersebut harga aktual GKP terendah sebesar Rp 2.050/Kg (2,5% lebih tinggi dari HPP) dan tertinggi Rp2.490/Kg (24,5% lebih tinggi dari HPP). Dan harga rata-rata aktual beras sebesar Rp 5.310/Kg lebih tinggi 32,76% dari HPP. Harga aktual beras terendah sebesar Rp 5.015/Kg (25,375% lebih tinggi dari HPP) dan tertinggi Rp 5.593/Kg (39,825% lebih tinggi dari HPP).

Pada bulan April 2008 pemerintah melakukan penyesuaian HPP GKP dan beras menjadi Rp 2.200/Kg untuk GKP dan Rp 4.300/Kg untuk beras melalui Inpres No. 1 tahun 2008. Selama periode April 2008 sampai dengan November 2008 rata-rata harga GKP sebesar Rp. Rp 2.570,75/Kg lebih tinggi 16,852% dari HPP. Selama periode tersebut harga aktual GKP terendah sebesar Rp 2.470/Kg (12,27% lebih tinggi dari HPP) dan tertinggi Rp 2.659/Kg (20,86% lebih tinggi dari HPP). Harga beras sebesar Rp 5.817,63 lebih tinggi 35,29% dari HPP. Harga aktual beras terendah sebesar Rp 5.493/Kg (27,74% lebih tinggi dari HPP) dan tertinggi Rp 6.056/Kg (40,84% lebih tinggi dari HPP).

Selanjutnya diterbitkan Inpres No. 8 tahun 2008 yang mengatur tentang penetapan HPP GKP sebesar Rp 2.400/Kg dan beras sebesar Rp 4.600/Kg. Selama periode Desember 2008 sampai dengan Desember 2009 rata-rata harga GKP sebesar Rp 2.585,92 lebih tinggi 7,75% dari HPP. Selama periode tersebut harga aktual GKP terendah sebesar Rp 2.483/Kg (3,46% lebih tinggi dari HPP) dan tertinggi Rp 2.804/Kg (16,83% lebih tinggi dari HPP). Harga rata-rata aktual beras sebesar Rp 5.981,69/Kg lebih tinggi 30,04 % dari HPP. Harga aktual beras terendah sebesar Rp 5.840/Kg (26,96% lebih tinggi dari HPP) dan tertinggi Rp 6.116/Kg (32,96% lebih tinggi dari HPP).

Pada tahun 2010, pemerintah melalui Inpres No. 7 tahun 2009 menetapkan HPP GKP sebesar Rp 2.640/Kg dan untuk beras Rp 5.060/Kg. Selama periode Januari 2010 sampai dengan Maret 2011 harga rata-rata aktual GKP di Provinsi Sumatera Utara sebesar Rp 3.020,07/Kg, lebih tinggi 14,396% dari HPP. Selama periode tersebut harga aktual GKP terendah sebesar Rp 2.750/Kg (4,17% lebih tinggi dari HPP) dan tertinggi sebesar Rp 3.388/Kg (28,33% lebih tinggi dari

HPP). Sementara harga rata-rata aktual beras sebesar Rp 6.826,87/Kg lebih tinggi 34,92% dari HPP. Harga aktual beras terendah sebesar Rp 6.070/Kg (19,96% lebih tinggi dari HPP) dan tertinggi sebesar Rp 8.314/Kg (64,31% lebih tinggi dari HPP).

Seiring dengan terjadinya kenaikan sarana dan prasarana produksi untuk usahatani padi pemerintah selalu berupaya untuk melakukan penyesuaian harga pembelian GKP di tingkat petani. Hal tersebut direspon dengan ditetapkannya HPP yang baru melalui Inpres No. 8 tahun 2011 dimana HPP GKP sebesar Rp 2.640/Kg dan untuk HPP beras sebesar Rp 5.060/Kg yang berlaku pada bulan April 2011 sampai dengan Desember 2011. Selama periode tersebut harga rata-rata aktual GKP di Provinsi Sumatera Utara sebesar Rp 3.237,56/Kg, lebih tinggi 22,63% dari HPP. Selama periode tersebut harga aktual GKP terendah sebesar Rp 2.913/Kg (10,34% lebih tinggi dari HPP) dan tertinggi sebesar Rp 3.375/Kg (27,84% lebih tinggi dari HPP). Sementara harga rata-rata aktual beras sebesar Rp 7.649,33/Kg lebih tinggi 51,17% dari HPP. Harga aktual beras terendah sebesar Rp 6.976/Kg (37,87% lebih tinggi dari HPP) dan tertinggi sebesar Rp 8.010/Kg (58,3% lebih tinggi dari HPP).

Dari data yang diperoleh dapat dijelaskan bahwa harga aktual GKP dan beras di Provinsi Sumatera Utara selama kurun waktu lima tahun yaitu tahun 2007 sampai dengan 2011 selalu di atas HPP yang ditetapkan oleh pemerintah. HPP GKP dan beras sebagai instrumen yang dikeluarkan pemerintah memberikan dampak positif bagi petani di Provinsi Sumatera Utara.

5.2 Hasil Analisis Dampak Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Beras Terhadap Harga Jual Beras di Tingkat Petani

Dari data harga jual beras di tingkat petani Sumatera Utara yang telah disajikan, maka dapat diperoleh model regresi harga jual beras tersebut. Dari hasil regresi tersebut diperoleh hasil sebagai berikut :

• Uji F

Proses pengujian X1 terhadap Y1 : Hipotesis yang diajukan adalah : H0 : X1 dan Y1 tidak linier. H1 : X1 dan Y1 linier. Kriteria pengujian adalah:

H0 : ditolak jika nilai signifikansi ≤ 0,05 atau F hit > Ftabel

H0 : diterima jika nilai signifikansi > 0,05 atau Fhit < Ftabel

Dari hasil analisis regresi linier sederhana yang dilakukan antara Harga Pembelian Pemerintah (HPP) beras yang ditetapkan oleh pemerintah dari berbagai Inpres yang telah dikeluarkan dengan harga jual beras di tingkat petani terlihat bahwa nilai signifikansi 0,023 ≤ 0,05 maka dapat ditarik kesimpulan bahwa H0 ditolak yang berarti bahwa Harga Pembelian Pemerintah (HPP) beras mempunyai hubungan yang linier dengan harga jual beras di tingkat petani.

• Uji t

Proses pengujian X1 terhadap Y1 : Hipotesis yang diajukan adalah :

H0 : b1 = 0 yaitu koefisien regresi tidak signifikan. H1 : b1≠ 0 yaitu koefisien regresi signifikan.

Kriteria pengujian adalah:

H0 : ditolak jika nilai signifikansi ≤ 0,05 atau t hit > ttabel

H0 : diterima jika nilai signifikansi > 0,05 atau thit < ttabel

Dari hasil analisis regresi linier sederhana yang dilakukan antara Harga Pembelian Pemerintah (HPP) beras yang ditetapkan oleh pemerintah dari berbagai Inpres yang telah dikeluarkan dengan harga jual beras di tingkat petani terlihat bahwa nilai signifikansi 0,023 ≤ 0,05 maka dapat ditarik kesimpulan bahwa H0 ditolak yang berarti bahwa Harga Pembelian Pemerintah (HPP) beras secara nyata mempengaruhi harga jual beras di tingkat petani setiap Rp 1/Kg.

Y1 = -2126,142 + 1,834X2

Dimana:

Y1 = Harga Jual Beras (Rp/Kg)

X1 = Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Beras (Rp/Kg)

Nilai -2126,142 adalah titik potong garis regresi tersebut dengan sumbu tegak Y. Nilai 1,834 merupakan koefisien regresi variabel X1 yang menunjukkan bahwa setiap adanya kenaikan HPP beras Rp 1/Kg maka harga jual beras setiap Rp 1/Kg mengalami kenaikan sebesar 1,834.

• R Square

Nilai R2 (R Square) sebesar 0,861 artinya determinasi tersebut menunjukkan bahwa 86,1 % variasi Harga Pembelian Pemerintah (HPP) beras mempengaruhi variasi harga jual beras di tingkat petani. Sedangkan sisanya 13,9 % dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak terdapat di dalam model. Hasil analisis regresi sederhana tersebut dapat dilihat pada Lampiran 3.

5.3 Hasil Analisis Dampak Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Beras Terhadap Konsumsi Beras

Dari data konsumsi beras penduduk Sumatera Utara yang telah disajikan, maka dapat diperoleh model regresi konsumsi beras tersebut. Dari hasil regresi tersebut diperoleh hasil sebagai berikut :

• Uji F

Proses pengujian X1 terhadap Y2 : Hipotesis yang diajukan adalah : H0 : X1 dan Y2 tidak linier. H1 : X1 dan Y2 linier. Kriteria pengujian adalah:

H0 : ditolak jika nilai signifikansi ≤ 0,05 atau F hit > Ftabel

H0 : diterima jika nilai signifikansi > 0,05 atau Fhit < Ftabel

Dari hasil analisis regresi linier sederhana yang dilakukan antara Harga Pembelian Pemerintah (HPP) beras yang ditetapkan oleh pemerintah dari berbagai Inpres yang telah dikeluarkan dengan konsumsi beras terlihat bahwa nilai signifikansi 0,003 ≤ 0,05 maka dapat ditarik kesimpulan bahwa H 0 ditolak yang berarti bahwa Harga Pembelian Pemerintah (HPP) beras mempunyai hubungan yang linier dengan konsumsi beras.

• Uji t

Proses pengujian X1 terhadap Y2 : Hipotesis yang diajukan adalah :

H0 : b1 = 0 yaitu koefisien regresi tidak signifikan. H1 : b1≠ 0 yaitu koefisien regresi signifikan.

Kriteria pengujian adalah:

H0 : ditolak jika nilai signifikansi ≤ 0,05 atau t hit > ttabel

H0 : diterima jika nilai signifikansi > 0,05 atau thit < ttabel

Dari hasil analisis regresi linier sederhana yang dilakukan antara Harga Pembelian Pemerintah (HPP) beras yang ditetapkan oleh pemerintah dari berbagai Inpres yang telah dikeluarkan dengan harga konsumsi beras terlihat bahwa nilai signifikansi 0,003 ≤ 0,05 maka dapat ditarik kesimpulan bahwa H0

ditolak yang berarti bahwa Harga Pembelian Pemerintah (HPP) beras secara nyata mempengaruhi konsumsi beras setiap 1/Kg/Kap/Thn.

Y2 = 178,914 – 0,009X1

Dimana:

Y2 = Konsumsi Beras (Kg/Kap/Thn)

X1 = Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Beras (Rp/Kg)

Nilai 178,914 adalah titik potong garis regresi tersebut dengan sumbu tegak Y. Nilai –0,009 merupakan koefisien regresi variabel X1 yang menunjukkan bahwa setiap adanya kenaikan HPP beras Rp 1/Kg maka konsumsi beras setiap 1 Kg/Kap/Thn mengalami penurunan sebesar 0,009.

• R Square

Nilai R2 (R Square) sebesar 0,967 artinya determinasi tersebut menunjukkan bahwa 96,7 % variasi Harga Pembelian Pemerintah (HPP) beras mempengaruhi variasi konsumsi beras. Sedangkan sisanya 3,3 % dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak terdapat di dalam model. Hasil analisis regresi sederhana tersebut dapat dilihat pada Lampiran 4.

5.4 Kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Beras agar dapat Menguntungkan Produsen dan Konsumen

Pemerintah Indonesia mempunyai komitmen yang tinggi dalam mewujudkan ketahanan pangan bagi rakyatnya. Komitmen yang tinggi tersebut telah diwujudkan dalam bentuk kebijakan-kebijakan dan program-program peningkatan produksi pangan, khususnya beras. Besarnya perhatian pemerintah terhadap ekonomi perberasan ini didasari oleh pertimbangan bahwa beras merupakan bahan pangan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia, serta bahwa usahatani padi merupakan sumber pendapatan dan sumber lapangan pekerjaan bagi sebagian masyarakat pedesaan (Suryana et al, 2001).

Persoalan beras menjadi topik penting karena beras merupakan kebutuhan paling hakiki yang menentukan kualitas sumber daya manusia dan stabilitas sosial politik sebagai prasyarat untuk melaksanakan pembangunan. Karena itu, pemerintah sangat berkepentingan terhadap masalah perberasan. Mengingat pentingnya peran beras seperti yang disebutkan di atas dibutuhkanlah basis produksi lokal yang tangguh. Dalam artian, mampu memenuhi kebutuhan beras dalam negeri. Namun di saat basis produksi lokal tidak mampu memenuhi kebutuhan beras dalam negeri dibutuhkan serangkaian kebijakan dari pemerintah untuk menstabilkan pasar, termmasuk di antaranya melalui kebijakan harga beras.

Komoditas pangan merupakan salah satu komoditas strategis berhubungan dengan bobotnya yang cukup besar dalam komposisi pengeluaran rumah tangga. Lebih khusus lagi, beras merupakan salah satu komoditas yang sejak sebelum perang sudah dilakukan campur tangan sistematis dari pemerintah. Sejak tahun 1969 pendekatan untuk mengendalikan sistem pemasaran ang terkendali mulai ditangani oleh pemerintah antara lain dengan menetapkan harga dasar. Penetapan

harga dasar tidak berdiri sendiri karena menimbulkan beberapa konsekuensi lanjutan bagi pemerintah, yaitu pembelian gabah/beras di kala harga pasar di bawah atau sama dengan harga dasar. Bersamaan dengan itu kebijaksanaan untuk melindungi kepentingan konsumen harus dilakukan. Campur tangan pemerintah dalam rantai tata niaga dilakukan karena adanya ketidaksempurnaan pasar yang merugikan produsen atau konsumen. Namun demikian, campur tangan pemerintah harus dilakukan secara hati-hati agar tidak sampai berakibat ketidakstabilan atau kerugian bagi para pelaku pasar (Amang dan Sawit, 1999).

Di Indonesia ada dua kemungkinan pola musiman yaitu musim paceklik (minus supply) dan musim panen raya (over supply). Pada musim paceklik pangan (beras), harga bahan pangan menjadi meningkat tajam, dan hal ini akan memberatkan kepentingan konsumen. Sementara pada musim panen raya, harga produk pangan (beras) akan turun drastis, dan hal ini memberatkan kepentingan produsen/petani. Karena semua itu tercipta dalam mekanisme pasar secara otomatis. Khusus di Indonesia, dalam mengaplikasikan kebijakan yang memadukan dua kondisi yang bertolak belakang tersebut. Di salah satu sisi, ketika kondisi pangan (beras) minus supply konsumen akan tetap terlindungi dengan kemampuan daya beli riel yang tetap, dan pada saat musim panen raya produsen akan terlindungi dengan tingkat harga yang tetap dan konsisten. Akhirnya dilepas kebijakan harga dasar gabah di setiap tahunnya melalui SK Presiden Republik Indonesia. Secara ideal, kebijakan ini sangat bermanfaat bagi ekonomi makro dan kepentingan ekonomi politik di Indonesia, sebagai negara berkembang yang mementingkan terciptanya stabilitas pangan dalam perjalanan pembangunannya.

Harga merupakan salah satu faktor yang sulit dikendalikan. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah, tetapi sampai saat ini tetap saja harga merupakan masalah, malah lebih berkembang lagi menjadi masalah nomor satu bagi petani. Dalam penelitian ini lebih difokuskan pada hal yang berhubungan dengan kebijakan HPP beras yang ditetapkan pemerintah untuk mencapai ketahanan pangan. Pasal 48 UU No.7/1966 tentang Pangan disebutkan bahwa: “Untuk mencegah atau menanggulangi gejolak harga pangan tertentu yang dapat merugikan ketahanan pangan, pemerintah mengambil tindakan yang diperlukan dalam rangka pengendalian harga pangan tersebut.” Diperjelas lagi dalam pasal 12 PP No. 68/2002 tentang Ketahanan Pangan disebutkan seperti berikut: “Pengendalian harga pangan tertentu yang bersifat pokok di tingkat masyarakat diselenggarakan untuk menghindari gejolak harga pangan yang mengakibatkan keresahan masyarakat.” Diperjelas pula bahwa yang dimaksud dengan gejolak harga pangan tertentu yang bersifat pokok di tingkat pasar mencapai lebih dari 25% dari harga normal (Sawit, 2010).

Kebijaksanaan mengenai harga merupakan wewenang pemerintah yang diturunkan dalam bentuk peraturan dan keputusan pejabat berwenang, seperti surat keputusan menteri atau pejabat yang diberi wewenang untuk itu. Kebijaksanaan diambil dengan tujuan untuk melindungi petani dan menstabilkan perekonomian. Dasar penetapan harga adalah hubungan antara input dengan output dalam proses produksi suatu komoditas. Harga-harga komoditas yang ditetapkan biasanya menyangkut barang-barang pokok atau kebutuhan utama masyarakat, pemerintah masih memberi kebijaksanaan berbentuk subsidi. Kebijakan ini ditempuh untuk membantu masarakat yang tidak mampu. Di dalam

teori ekonomi makro disebut bahwa peran pemerintah adalah sebagai stabilitator harga di dalam suatu ekonomi. Apabila terjadi kelebihan permintaan di pasar

Dokumen terkait