Sistem tata air di rawa pasang surut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan air selama penyiapan lahan dan pertumbuhan tanaman serta untuk memperbaiki sifat fisika-kimia tanah. Adapun hal pokok yang diperhatikan dalam penataan tata air di lahan pasang surut adalah (1) memanfaatkan air pasang untuk memenuhi
kebutuhan tanaman, (2) mencegah masuk kembalinya air yang mengandung bahan berbahaya ke lahan, (3) mencuci zat-zat beracun, (4) mencegah oksidasi pirit pada tanah sulfat masam dan (5) menekan terjadinya mineralisasi bahan gambut.
Ada beberapa sistem tata air yang sudah dikembangkan seperti yang dikemukakan oleh Driessen dan Ismangun (1972) yaitu (1) sistem drainase terkontrol (Controlled Drainage System), (2) sistem rawa pasang surut (Tidal
Swamp System), (3) sistem polder (System Polder), (4) Sistem garpu (Grafted
Gambar33Petahidrologitahun1969.
Pada awal pembukaan lahan pasang surut di delta Berbak seluas 1000 hektar dengan membuat saluran seperti pada Peta 7 . Dimana parit-parit digali secara tegak lurus terhadap arah aliran sungai. Seringkali penggalian parit dimulai pada anak sungai, contohnya pada parit sungai Dua dan parit sungai Rengas didekat kompleks Proyek Pelita.
Pada bagian dalam dari belokan sungai, parit yang dibuat secara tegak lurus dan cukup panjang dapat bertemu ataupun bersilang satu dengan lainya seperti halnya dengan parit-parit 15, 17, dan 18 yang terletak di seberang perkampungan Rantau Rassau.
Tiga buah parit pada Proyek Transmigrasi secara khusus telah digali serong terhadap aliran sungai dengan sebuah parit penghubung yang tegak lurus terhadap ketiga parit utama. Saluran primer atau parit utama direncanakan berbentuk trapezoidal sepanjang 3.250 m dengan ukuran penampang se-dalam 3 m, lebar dasar 6 m dan lebar bagian atas 9 m. Disamping sebagai saluran pengairan dan drainase, parit utama dimaksudkan pula agar dipergunakan untuk lalu lintas air (Gambar 33).
Saluran sekunder direncanakan oleh Departemen Pekerjaan Umum berbentuk trapezoidal sepanjang 24.000 m dengan ukuran dalam 1,5 m, lebar dasar 1,5 m dan lebar bagian atas 4 m (Gambar 34) (IPB, 1969).
9m 3m 6m
Gambar 33 Penampang saluran primer. 4m cm 1,5 m 1,5 m
Adapun keadaan saluran dan air tanah pada proyek pelita seperti terlihat pada Tabel 19, jarak terjauh adalah saluran sekunder 5 yaitu 3.250 m dari sungai Batang Berbak. pada jarak tersebut masih terjangkau oleh air pasang dimana pH air tanah 5.5.
Tabel 19 Keadaan air tanah di Kompleks Proyek Pelita Sumber : Institut Pertanian Bogor 1969
Keadaan hidrologi menunjukkan bahwa dalam musim penghujan diperkirakan dalam waktu 2 atau 3 bulan tanah di kompleks Proyek Pelita tergenang air setinggi 10 sampai 50 cm selama beberapa jam setiap harinya sesuai dengan keadaan mikro-relief setempat sedangkan musim kemarau, keadaan muka air tanah diperkirakan berkisar antara 25 sampai 50 cm atau lebih tergantung pada letak ketinggian tanah (Institut Pertanian Bogor 1969).
Saluran air yang dibuat oleh masyarakat Bugis dan masyarakat setempat adalah dengan pola tegak lurus terhadap sungai Batang Berbak dan sungai Pamusiran dengan ukuran relatif kecil dan dangkal. Panjang saluran berkisar 2-3 km. kondisi saluran tersebut masih berfungsi sampai sekarang. Petani masih tetap menanam padi dan kelapa dan masih berproduksi.
Pada tahun 1973 pemerintah mulai melakukan reklamasi ke daerah lebih jauh ke darat yang dimulai dari desa Rantau Rasau I, Rantau Rasau II, Bangun Karya, Harapan Makmur, Rantau Jaya dan Bandar Jaya dengan membuat saluran yang besar yaitu saluran utama yang sekarang dikenal dengan SK 16. Pada tahap ini saluran primer dibangun memotong sungai-sungai kecil yang berada di daerah tersebut dan dibagi ke saluran sekunder (Gambar 35).
Lokasi Pengamatan Jarak Dari Sungai (m) Kedalaman Muka Air Tanah (cm) pH Lap. Jenis Tanah Setempat
Saluran Primer 400 50 6,0 Gley Humus
Saluran Primer 1.000 30 5,5 Bergambut
Saluran Sekunder 1 1.250 25 5,5 Bergambut
Saluran Sekunder 2 1.750 25 5,0 Gambut
Saluran Sekunder 3 2.250 25 5,0 Gambut
Saluran Sekunder 4 2.750 40 5,5 Bergambut Saluran Sekunder 5 3.250 35 5,5 Bergambut
Gambar35Petahidrologitahun1973.
Perkembangan hidrologi daerah penelitian berkembang dengan adanya reklamasi tahun 1973 dalam skala yang lebih luas dimana pemerintah membangun 8 buah saluran primer. Daerah rawa Rantau Rasau dibangun 5 saluran primer dan daerah rawa Rantau Makmur sebanyak 3 saluran primer. Saluran primer FC 0 menghubungkan dengan sungai Batang Berbak, saluran primer FC 1 mulai dari sungai Batanghari sampai ke SK 28, FC 2 mulai dari sungai pamusiran dalam sampai ke SK 28. SK 16 diperlebar menjadi saluran primer yang menghubungkan sungai Batang Berbak sampai ke FC 3 dan sungai Raya (Pamusiran Dalam). Saluran primer memiliki dimensi lebar 9 m dengan kedalaman 1,5 m sedangkan saluran sekunder dibuat dengan lebar 2 m kedalaman 1 m. Khusus untuk saluran Primer Puding – Nipah panjang dibuat dengan lebar 12 m.
Pada awal tahun 1980-an dilakukan pendalaman dan pelebaran saluran primer dari lebar 9 m menjadi 12 m dan saluran sekunder dari 2 menjadi 5 m dengan kedalaman 2 m. sehingga menimbulkan air semakin cepat keluar dari lahan sementara air pasang tidak mampu mencapai daerah belakang seperti desa Bangun Karya, Rantau Jaya, Rantau Rasau I dan Harapan Makmur.
Setelah kemarau panjang tahun 1997 sebagian besar lahan petani tidak bisa ditanami padi karena munculnya air asam dari hasil oksidasi pirit. oksidari pirit ini muncul sebagai akibat over draine.
Pembangunan saluran terutama saluran primer tidak mempertimbangkan kondisi sungai alam di daerah tersebut. Saluran yang memotong sungai dan tanpa dilengkapi dengan pintu pengatur air menyebabkan air dengan cepat keluar sehingga terjadi over draine. Hal ini menyebabkan cepatnya mineralisasi material organik (bahan gambut) sehingga gambut sekarang hanya terdapat pada daerah sekitar bekas sungai. Pada pengamatan tahun 2008 hampir semua daerah aliran sungai alam yang ada di bagian tengah lokasi tidak ada lagi dan tanah gambut hanya tinggal mengikuti bekas sungai alam tersebut. Kondisi hidrologi tahun 2008 dapat dilihat pada Gambar 36.
Gambar36Petahidrologitahun2008.
Pada kenyataanya secara umum elevasi lahan di antara dua sungai memperlihatkan bahwa semakin jauh dari sungai semakin tebal gambutnya membentuk kubah gambut. Pembangunan saluran yang memotong kubah gambut tanpa dilengkapi dengan pintu air mengakibatkan air secara gravitasi keluar dari lahan ke saluran dan langsung ke sungai.
Pembangunan pintu air baik primer maupun sekunder dimulai pada tahun 80-an. Sampai tahun 1995 pintu air yang sudah dibangun seperti terlihat pada Peta 10. Pintu primer dibangun pada pertemuan ujung saluran dengan sungai sementara pintu sekunder dibangun pada pertemuan saluran sekunder dengan saluran primer. Sampai tahun 1995 pintu sekunder yang dibangun pada wilayah Rantau Rasau (daerah rawa Rantau Rasau) sementara untuk Rantau Makmur (daerah rawa Rantau Makmur) dibangun setelah tahun 1995 (Peta 11).
Kenyataan di lapang sekarang sebagian besar pintu-pintu air tidak berfungsi dengan baik. Air tidak terkontrol pada musim hujan disebabkan terhambatnya aliran air akibat pintu air yang tidak berfungsi, dampaknya sebagian wilayah mengalami kebanjiran. Tampak jelas di sini konsep pembangunan saluran yang memotong sungai dan tidak segera dilengkapi dengan pintu air menyebabkan degradasi lahan di delta Berbak, sehingga terjadi pengalihan fungsi lahan dari lahan sawah menjadi perkebunan dan kebun campuran. Terhadap gambut di delta Berbak, sebagian besar gambut hanya tinggal di daerah bekas sungai bahkan ada yang mencapai kedalaman 2-4 m. keberadaan gambut tebal pada daerah ini menunjukkan bahwa daerah tersebut berada pada daerah cekungan bukan pada daerah dome gambut. Secara visual dapat digambarkan seperti mangkok yang tidak terbalik. Fenomena ini memberikan pedoman dalam melakukan inventarisasi lahan gambut yang sudah direklamasi.
Berdasarkan kenyataan di delta Berbak selama 35 tahun dari awal reklamasi menunjukkan bahwa sistem tata air merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pengembangan pertanian di lahan rawa pasang surut, terutama dalam kaitannya dengan optimalisasi pemanfaatan dan pelestarian sumberdaya lahannya. Setelah menjalani waktu selama 35 tahun mulai reklamasi tahun 1973, lahan pasang surut Delta Berbak mulai menunjukkan perubahan-perubahan lebih baik. Sebagian lahan yang relatif tinggi digunakan oleh masyarakat untuk tanaman
Gambar38Petakondisipintuairtahun1995.
Gambar38Petakondisipintuairtahun2008.
perkebunan seperti karet, kelapa sawit dan kebun campuran. Adapun daerah yang yang relatif rendah digunakan masyarakat untuk tanaman padi sawah. Bila dilakukan pengelolaan air yang lebih baik sangat memungkinkan mengembalikan sebagian areal di daerah tersebut menjadi sawah kembali. Hal ini terlihat dari peningkatan luas sawah pada tahun 2008.
VI I . KESI MPULAN
7.1. Kesimpulan
1. Perubahan penggunaan lahan daerah pasang surut Batang Berbak-Pamusiran Laut, Jambi ditentukan oleh perubahan karakteristik tanah dan hidrologi serta ketertarikan petani terhadap komoditi karet dan kelapa sawit yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Lahan untuk padi sawah masih dominan terutama pada lahan yang elevasinya relatif lebih rendah dan air tersedia sedangkan tanaman perkebunan kelapa, kebun campuran, karet dan kelapa sawit lebih dominan pada daerah topografinya relatif tinggi
2. Setelah 35 tahun reklamasi lahan pasang surut menyebabkan terjadinya penurunan terhadap daya dukung fisik lahan untuk pertanian dan penurunan tingkat kesuburan tanah.
3. Produktivitas tanah pada lahan pasang surut pada sepuluh tahun awal pembukaan meningkat dan menurun pada sepuluh tahun kedua namun meningkat kembali setelah tiga puluh lima tahun reklamasi sejalan dengan perubahan karakteristik tanah serta ketersediaan dan kualitas.
7.2. Saran
1. Untuk tujuan pengelolaan lahan pasang surut yang mengandung potensial sulfat masam perlu dilakukan zonasi penggunaan lahan dan pengaturan tata air dengan mempertimbangkan jangkauan air pasang dan memperhatikan kedalaman bahan sulfidik.
2. Untuk tujuan pengembangan daerah pasang surut masa yang akan datang sangat diperlukan adanya penelitian lebih lanjut tentang hidrologi terutama kaitanya tinggi muka air sungai, saluran, lahan dan jangkauan pasang, sirkulasi air serta penyebaran dan kedalaman bahan sulfidik yang merupakan data dasar untuk pengelolaan air.