BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Konfigurasi Perkembangan Industri Perbankan d
4.1.3 Perkembangan Karakteristik dan Indikator Kinerja
Industri perbankan secara keseluruhan masih mendominasi sistem keuangan di Indonesia. Dominasi tersebut terlihat dari penguasaan aset industri perbankan yang jauh melebihi lembaga-lembaga keuangan lainnya dalam tatanan sistem keuangan yaitu mencapai 78,5 persen, yang mengindikasikan bahwa industri perbankan memiliki peran yang cukup vital dalam perekonomian nasional. Tidak dapat dipungkiri bahwa pertumbuhan ekonomi dan pergerakan roda perekonomian suatu negara secara keseluruhan ditopang oleh fungsi bank sebagai lembaga perantara keuangan khususnya dalam memfasilitasi penyaluran kredit. Pada tatanan perekonomian makro bank merupakan alat dalam menetapkan kebijakan moneter, dan merupakan sumber pembiayaan utama pada level perekonomian mikro (Siringoringo, 2012).
Gambar 4.1 Penguasaan aset perbankan terhadap total aset lembaga keuangan tahun 2013 (Sumber: Kajian Stabilitas Sistem Keuangan, 2014)
Dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi keuangan, Apostolik et al (dalam Siringoringo, 2012) mendiskripsikan kegiatan inti bank menjadi tiga yaitu menghimpun dana dari masyarakat berupa giro, tabungan dan deposito berjangka (deposit collection); memberikan jasa keuangan dalam lalu lintas pembayaran (payment services); dan menyalurkan dana ke masyarakat dalam bentuk kredit (loan underwriting). Kemampuan perbankan dalam mengorganisasi dana yang terbentuk dan menyalurkannya kepada pihak yang membutuhkan aliran dana dapat dijadikan sebagai tolak ukur kinerja bank di suatu negara. Ditinjau dari sisi kepemilikan
78,5% 1,2% 2,6% 10,1% 6,7% 0,1% 0,5% 0,1% 0,1% Perbankan BPR Dana Pensiun Asuransi Lembaga Pembiayaan Perusahaan Penjaminan Pegadaian Modal Ventura Manajemen Investasi
aset, total aset perbankan Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya dimana terjadi peningkatan sebesar 16,23 persen dari 4.262,6 triliun rupiah tahun 2012 menjadi 4.954,5 triliun rupiah tahun 2013, atau jika dibandingkan dengan total aset pada tahun 2001 yang hanya sebesar 1.099,7 triliun rupiah maka telah terjadi peningkatan lebih dari 350 persen selama periode 2001-2013.
Gambar 4.2 Perkembangan total aset perbankan (Sumber: Statistik Perbankan Indonesia, diolah)
Dari sisi penghimpun dana, jumlah dan komposisi simpanan masyarakat dalam sistem perbankan akan berdampak pada kestabilan industri perbankan. Penarikan dana masyarakat secara besar-besaran dalam waktu singkat akan berdampak negatif pada likuiditas bank. Hal ini dapat menimbulkan masalah solvabilitas apabila tidak mendapat penanganan secara cepat dan tepat karena bank terpaksa harus memberikan insentif yang sangat tinggi dan terkadang nilainya diatas kemampuan bank untuk mencegah penarikan yang semakin besar oleh masyarakat. Struktur bunga yang tinggi dan tidak sebanding dengan pendapatan bank akan mengurangi rentabilitas bank dan pada akhirnya mendatangkan kerugian yang besar sebagaimana yang terjadi pada krisis keuangan tahun 1997 (Gopalan dan Rajan, 2009).
Dilihat dari komposisinya, dana pihak ketiga yang dihimpun oleh bank masih didominasi oleh deposito dengan pangsa sebesar 43,78 persen pada tahun 2013, sementara giro dan tabungan masing-masing memiliki pangsa sebesar 23,11 persen dan 33,10 persen (lihat Gambar 4.3). Terjadi pertumbuhan DPK sebesar Rp 2.869,1 triliun
0,00% 5,00% 10,00% 15,00% 20,00% 25,00% 0 500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 3.500 4.000 4.500 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 T ril iu n ru p iah
(361,2 persen) selama periode 2001 hingga 2013 dimana peningkatan deposito menunjukkan peningkatan dengan nominal tertinggi namun dengan persentase terendah dibandingkan dengan kedua komponen DPK lainnya. Peningkatan deposito tersebut mengindikasikan bahwa terjadi perubahan minat masyarakat dari penanaman jangka pendek ke penanaman jangan panjang yang dipicu oleh tingginya suku bunga deposito yang ditawarkan oleh beberapa bank.
Gambar 4.3 Perkembangan performa perbankan dalam menghimpun DPK (Sumber: Laporan Perekonomian Indonesia, diolah)
Meskipun dana pihak ketiga yang dihimpun sangat besar, namun jika tidak diimbangi dengan tambahan modal maka akan memyebabkan terbatasnya penyaluran kredit yang dilakukan oleh bank (Siringoringo, 2012). Disisi lain, pertumbuhan ekonomi suatu negara sangat tergantung pada pembiayaan yang disalurkan oleh bank sebagai sumber pendanaan utama melalui kredit. Rasio penyaluran kredit oleh perbankan dan sektor keuangan secara umum terhadap PDB menunjukkan tren perkembangan yang berbeda. Jika rasio kredit sektor keuangan cenderung menurun, sebaliknya rasio kredit bank menunjukkan peningkatan selama periode pengamatan (lihat Gambar 4.4).
Besarnya rasio kredit sektor keuangan tahun 2001 adalah 54,47 persen dari total PDB, terus menurun hingga tahun 2010 mencapai 36,39 persen, dan kembali meningkat perlahan menjadi 45,64 persen tahun 2013. Di sisi lain, rasio kredit bank terhadap PDB adalah 18,16 persen tahun 2001 meningkat menjadi 34,02 persen pada
0 500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 3.500 4.000 4.500 2001 2004 2011 2012 2013 T ril iu n Ru p iah
tahun 2013. Peningkatan rasio kredit bank terhadap PDB menunjukkan bahwa peran perbankan dalam pembangunan nasional semakin meningkat. Namum, rasio tersebut masih relatif rendah dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia dan Thailand yang telah berada diatas 100 persen. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh tingkat suku bunga kredit dan biaya dana (cost of fund) perbankan di Indonesia masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara lain.
Gambar 4.4 Rasio penyaluran kredit perbankan dan sektor keuangan terhadap GDP (Sumber: World Bank, 2015)
Indikator lain yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja perbankan dalam menghimpun dana dan menyalurkan kredit adalah rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (LDR) dan kredit macet (NPL) (lihat Gambar 4.5). Rivai, et al (2012) memaparkan bahwa rasio LDR mengukur perbandingan jumlah kredit yang diberikan bank dengan dana yang diterima bank, yang menggambarkan kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana oleh deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Secara umum perkembangan kinerja perbankan Indonesia berdasarkan rasio LDR mengalami peningkatan selama periode 2001-2013 yaitu dari 43,52 persen menjadi 89,70 persen. Jika mengacu pada batas LDR yang disyaratkan oleh Bank Indonesia yaitu 110 persen, maka performa perbankan Indonesia dari sisi likuiditas selama 2003-2013 masih dalam kriteria baik (sehat). Sebaliknya, indikator yang menggambarkan rasio kredit yang bermasalah
2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 P erse n tas e (% )
terhadap total kredit yaitu Non-Performing Loan (NPL) menunjukkan tren menurun secara berkelanjutan dari 6,78 persen tahun 2003 menjadi 1,77 persen tahun 2013.
Gambar 4.5 Perkembangan rasio NPL dan LDR Bank Umum Konvensional (Sumber: Statistik Perbankan Indonesia, 2014 diolah)
Meningkatnya fungsi intermediasi perbankan yang tercermin dari peningkatan DPK yang dihimpun dan kredit yang disalurkan serta perbaikan kinerja perbankan sebagaimana yang ditunjukkan oleh indikator-indikator kinerjanya dianggap sebagai dampak dari berbagai kebijakan deregulasi sejak tahun 1983. Deregulasi tersebut diyakini pula berhasil menurunkan tingkat konsentrasi sehingga meningkatkan efisisensi industri perbankan di Indonesia (Lubis, 2012).