• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Kawasan Minapolitan Bontonompo Kedepan

Dalam dokumen V. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 44-48)

Diagram Batang Keberlanjutan

5.4. Perkembangan Kawasan Minapolitan Bontonompo Kedepan

Kabupaten Luwu Timur dan Kabupaten Gowa merupakan dua kabupaten yang ditetapkan sebagai Kawasan Minapolitan di Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan SK KP No. 2122/DPB/PL.III/SK.D2/VI/09 yang dikeluarkan bersamaan dengan penunjukkan 39 kabupaten lainnya pada 32 provinsi guna mendukung keberhasilan pelaksanaan revitalisasi perikanan dengan visi menjadikan Indonesia sebagai penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar pada tahun 2015 dan memiliki misi untuk mensejahterakan masyarakat kelautan dan perikanan. Adapun strategi yang harus dilakukan yaitu memperkuat kelembagaan dan sumber daya manusaia secara terintegrasi, mengelola sumberdaya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan, meningkatkan produktivitas dan daya saing berbasis pengetahuan, serta memperluas akses pasar domestik dan internasional.

Syarat-syarat yang digunakan sebagai dasar penunjukkan suatu wilayah untuk dijadikan Kawasan Minapolitan ialah:

1. Komitmen daerah: seusai dengan rencana strategi dan tata ruang, ditetapkan oleh Bupati/Walikota, memiliki alokasi APBD yang seimbang. 2. Komoditas unggulan: seperti Udang, Ikan Patin, Ikan Lele, Ikan Tuna,

dan Rumput Laut.

3. Letak Geografis: lokasi strategis dan secara alami cocok untuk usaha perikanan.

4. Sistem mata rantai produksi hulu dan hilir: keberadaan sentra produksi yang aktif berproduksi seperti lahan budidaya dan pelabuhan perikanan. 5. Fasilitas pendukung: keberadaan sarana dan prasarana seperti jalan,

pengairan, listrik dan lainnya.

6. Kelayakan lingkungan: kondisi lingkungan baik dan tidak merusak. Kabupaten Gowa telah memenuhi beberapa persyaratan yang berlaku diantaranya komitmen daerah dengan adanya surat keputusan yang dikeluarkan oleh Bupati Gowa tentang pembentukan kelompok kerja pengembangan Kawasan Minapolitan dan tentang penetapan lokasi pengembangan kawasan minapolitan, komoditas unggulan dengan adanya Udang Windu sebagai komoditas unggulan, letak geografis yang didukung dengan kesesuaian kondisi agroklimat, tingkat erosi dan tingkat kemiringan yang kecil, sistem mata rantai produksi hulu dan hilir dengan pusat produksi berada di Kabupaten Gowa dengan pelabuhan perikanannya dan fasilitas pendukung seperti sarana dan

prasarana jalan yang memadai serta adanya jaringan listrik, telekomunikasi, air bersih, irigasi dan sebagainya, akan tetapi tetap membutuhkan perhatian dan penyesuaian di beberapa bagian yang terlihat dalam hasil analisis terhadap atribut-atribut yang dilakukan berdasarkan aspek perkembangan dan dimensi berkelanjutan kawasan terutama dimensi ekonomi, dimensi sosial dan budaya, dimensi infrastruktur dan dimensi ekologi.

Sektor pertanian merupakan sektor terbesar penyumbang produk domestik regional bruto (PDRB) Kabupaten Gowa. Dilihat dari konstribusinya selama dua tahun terakhir (2006-2007) yaitu sebesar 50,85% atau turun sedikit sekali dibandingkan dengan Tahun 2006 yang sebesar 51,48% yang kemudian disusul oleh sektor perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan.

Jenis perikanan yang terdapat di Kabupaten Gowa pada umumnya adalah budidaya darat sedangkan perikanan laut hanya sebagian kecil saja karena lantar hanya berlokasi di Selat Makassar. Luas areal budidaya perikanan darat tambak/kolam/sawah pada Tahun 2007 tercatat seluas 648,40 Ha dibanding Tahun 2006 mengalami penurunan sekitar 7,13%. Produksi perikanan pada Tahun 2007 tercatat sebesar 762,19 ton dibanding Tahun 2006 yang berarti mengalami penurunan sebesar 0,93%.

Produksi perikanan dalam kurun waktu 2006 sampai 2007 mengalami penurunan. Pada tahun 2006 produksi ikan mencapai 769,33 ton dan terus menurun hingga pada tahun 2007 menjadi 762,19 ton (Gowa dalam Angka, 2008). Dalam rangka mengelola sumberdaya ikan dan meningkatkan produksi perikanan, pemerintah daerah membuat suatu program yang dikenal dengan minapolitan. Minapolitan merupakan konsep pembangunan kelautan dan perikanan berbasis wilayah dengan pendekatan dan sistem manajemen kawasan dengan prinsip-prinsip, integrasi, efisiensi, kualitas, dan akselerasi (KKP, 2010).

Kebijakan pemerintah daerah dalam mencanangkan program minapolitan direspon baik oleh para petani ikan akan tetapi bagi kebanyakan orang kurang disetujui disebabkan karena kegiatan budidaya ikan bukan merupakan kegiatan yang dilakukan secara turun temurun melainkan pertanian dan perkebunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah Kabupaten Gowa kurang potensial untuk pengembangan sektor perikanan akan tetapi dapat dipadu dengan sektor lainnya menjadi program minapolitan terpadu atau tetap berbasis perikanan tetapi menggunakan teknologi terpadu, ramah lingkungan dan dapat menyesuaikan dengan kondisi agroklimat di lokasi pengembangan.

Berdasarakan wilayah prioritas pengembangan, Gowa bersama dengan Takalar, Maros, Pangkep dan Makassar merupakan kawasan dengan prioritas pengembangan sebagai daerah industri, agroindustri dan pelayanan jasa (perdagangan, hotel, pariwisata). Berdasarkan potensi kawasan andalan Sulawesi Selatan merupakan kawasan dengan peruntukan sebagai pintu gerbang utama Kawasan Timur Indonesia (KTI), pusat pelayanan jasa KTI, Pelabuhan Laut Soekarno-Hatta dan Bandar Udara Hasanuddin-Mandai dan pusat pelabuhan di Kota Makassar, sedangkan produktivitas komoditi perikanan laut sebesar 80.188,2 ton dan perikanan tambak sebesar 23.594,3 ton dimana produktivitas tambak masih tergolong rendah (1,17 ton/ha) dan rendahnya kapistas pasar dan harga masih menjadi permasalahan. Dalam wilayah administrasi Provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Gowa bersama dengan Kabupaten Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba dan Selayar merupakan kawasan tertinggal maka dari itu, dengan adanya program pengembangan Kawasan Minapolitan Bontonompo dan Percepatan Pembangunan Perkotaan Mamminasata diharapkan dapat memajukan daerah tersebut.

Potensi Kabupaten Gowa yang sesungguhnya adalah sektor pertanian. Pekerjaan utama penduduk kabupaten yang pada tahun 2000 lalu berpendapatan perkapita Rp 2,09 juta ini adalah bercocok tanam, dengan subsektor pertanian tanaman pangan sebagai andalan. Sektor pertanian memberi kontribusi sebesar 45% atau senilai Rp 515,2 milyar. Lahan persawahan yang tidak sampai 20% (3,640 hektar) dari total lahan kabupaten, mampu memberikan hasil yang memadai. Dari berbagai produksi tanaman pertanian seperti padi dan palawija, tanaman hortikultura menjadi primadona. Kecamatan-kecamatan yang berada di dataran tinggi seperti Parangloe, Bungaya, dan terutama Tinggimoncong merupakan sentra penghasil sayur-mayur. Sayuran yang paling banyak dibudidayakan adalah kentang, kubis, sawi, bawang daun, dan buncis. Per tahunnya hasil panen sayur-sayuran melebihi 5.000 ton. Sayuran dari Kabupaten Gowa mampu memenuhi pasar Kota Makassar dan sekitarnya, bahkan sampai ke Pulau Kalimantan dan Maluku melalui Pelabuhan Pare-pare dan Pelabuhan Mamuju. Selain bertani sayur yang memiliki masa tanam pendek, petani Gowa juga banyak yang bertani tanaman umur panjang. Salah satunya adalah tanaman markisa (Fassifora sp).

Usaha budidaya ikan yang dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Gowa terdiri atas pembenihan, pembesaran dan minapadi. Berdasarkan data Gowa dalam angka (2008) jumlah rumah tangga yang bergerak di bidang perikanan mencapai 1.860 RT yang jumlahnya menurun semenjak tahun 2006 sebanyak 2.287 RT. Jenis ikan yang dibudidayakan umumnya lebih dari satu macam seperti mas, nila, bandeng, udang, kepiting, lele dan lain sebagainya. Bila dilihat dari penurunan produksi perikanan dan jumlah rumah tangga perikanan, maka sektor perikanan di Kabupaten Gowa kurang begitu potensial untuk dikembangkan sebagai komoditas unggulan dalam mendukung perekonomian daerah, hal ini diperkuat dengan kontribusinya terhadap PDRB yang hanya sebesar 0,27%.

Analisis keberlanjutan pengembangan Kawasan Minapolitan di Kabupaten Gowa menggunakan pendekatan rapfish. Dari hasil analisis dapat dikatakan bahwa secara umum kondisi keberlanjutan pengembangan Kawasan Minapolitan di Kabupaten Gowa dalam katageri belum berkelanjutan. Dalam upaya mengembangkan Kawasan Minapolitan ke arah yang lebih baik, maka kebijakan dasar yang ditempuh dalam upaya pengembangan sektor-sektor perikanan adalah berdasarkan pemanfaatan dan pengendalian produksi perikanan di Kawasan Minapolitan sehingga tercipta keterpaduan antara kebutuhan dan produksi ikan. Keterpaduan tersebut dapat diwujudkan dengan penggunaan sumberdaya yang tidak berlebihan dengan tetap memperhatikan kelestarian sumberdaya alam dan daya dukung lingkungan. Dalam mencapai keterpaduan tersebut ada 3 (tiga) hal yang perlu diperhatikan, yaitu: 1) keseimbangan produksi ikan dengan pelestarian lingkungan alam; 2) dalam proses produksi tetap memperhatikan aspek permintaan pasar dan kebutuhan lokal maupun regional; dan 3) dalam pengelolaan dan pengembangan produksi ikan tetap memperhatikan nilai-nilai budaya, sosial dan ekonomi masyarakat setempat.

Strategi dalam pengembangan Kawasan Minapolitan harus disusun dengan pertimbangan, antara lain: 1) rasional, bahwa rencana bertolak dari suatu pemikiran yang logis atau nalar sehingga rencana ini disusun berdasarkan suatu ketentuan dan estimasi yang cermat atas kenyataan yang ada; 2) optimasi, semua rencana yang disusun memperhatikan potensi dan kondisi karakteristik untuk dapat diaktualkan secara optimal dalam rangka mendukung pengembangan budidaya perikanan; dan 3) kebijaksanaan, rencana yang disusun harus mampu memberikan arahan-arahan bagi tindakan pembangunan

dan memiliki kapasitas mengikat seluruh warga dan Pemerintah Daerah. Dengan demikian strategi yang digariskan merentang pada strategi jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Strategi jangka pendek dan menengah, mengarah pada pemenuhan pelayanan penduduk yang sangat mendesak, yang perlu ditanggulangi secara cepat dan tepat sehingga akan menunjang terpenuhinya sasaran rencana jangka panjang yang digariskan. Sedangkan untuk strategi jangka panjang meliputi usaha pemenuhan tuntutan para petani ikan atas pelayanan sosio ekonomi serta kualitas lingkungan yang memadai sekaligus dalam rangka penunjang pemasaran dan peningkatan kualitas produk yang dihasilkan oleh para petani ikan.

5.5. Pembentukan Skenario Keberlanjutan Pengembangan Kawasan

Dalam dokumen V. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 44-48)

Dokumen terkait