• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : PENENTUAN STANDAR KATEGORI MALA IN SE DAN

A. Perkembangan Ketentuan Perbuatan Melawan Hukum

Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan terhadap Undang-Undang Nomor :

40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas, hanya terdapat 2(dua) pasal yang menyinggung tentang ”perbuatan melawan hukum”, yaitu sebagai berikut :

1. Pasal 3 ayat (2) huruf c dan d, menentukan bahwa ketentuan sebagaimana

dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku apabila :

a. Pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam ”perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh Perseroan; atau

b. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung ”secara melawan hukum” menggunakan kekayaan Perseroan, yang mengakibatkan kekayaan Perseroan menjadi tidak cukup untuk melunasi utang Perseroan.

Ayat (1) pasal 3 UUPT tersebut menentukan bahwa Pemegang saham Perseroan tidak bertanggung jawab secara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama Perseroan dan tidak bertanggung jawab atas kerugian Perseroan melebihi saham yang dimiliki.

Dalam penjelasan Pasal 3 ayat (1) itu dijelaskan bahwa ketentuan dalam ayat ini mempertegas ciri Perseroan bahwa pemegang saham hanya bertanggung jawab

sebesar setoran atas seluruh saham yang dimilikinya dan tidak meliputi kekayaan pribadinya.

2. Pasal 138 ayat (1) huruf a dan b UUPT menentukan bahwa pemeriksaan terhadap

Perseroan dapat dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data atau keterangan dalam hal mendapatkan dugaan bahwa :

1. Perseroan melakukan ”perbuatan melawan hukum” yang merugikan

pemegang saham atau pihak ketiga ; atau

2. Anggota Direksi atau Dewan Komisaris melakukan ”perbuatan melawan

hukum” yang merugikan Perseroan atau pemegang saham atau pihak ketiga. Dalam hukum positip yang berlaku di Indonesia ditentukan bahwa tiap-tiap perbuatan melanggar hukum yang menimbulkan kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang karena salahnya menimbulkan kerugian tersebut untuk mengganti kerugian. Dengan kata lain, apabila seseorang yang melakukan ”perbuatan melawan hukum”, maka diwajibkan untuk memberikan ganti kerugian. Dan orang yang mengalami kerugian tersebut dilindungi haknya oleh Undang-Undang untuk menuntut ganti rugi. Hal ini diatur dalam Pasal 1365 KUHPerdata.

Dalam Kitab Undang-undng hukum Perdata tidak ditemukan tentang pengertian mengenai apa yang dimaksud dengan ”perbuatan melawan hukum” tersebut.

Tetapi bila dicermati secara seksama, maka Pasal 1365 KUHPerdata memberikan pedoman tentang unsur-unsur atau kriteria apa saja agar sesuatu perbuatan itu dapat dikwalifikasikan sebagai perbuatan ”melawan hukum”.

perbuatan ”melawan hukum” itu adalah sebagai berikut :

a. Harus ada yang melakukan perbuatan;

b. Perbuatan tersebut harus”melawan hukum”;

c. Perbuatan itu harus menimbulkan kerugian pada orang lain;; d. Perbuatan itu karena kesalahan yang dapat dicelakan kepadanya;

e. Adanya hubngan sebab akibat (kausalitas) antara perbuatan ”melawan hukum”

dengan akibat yang ditimbulkan. .

Wirjono Prodjodikoro memakai istilah perbuatan ”melanggar hukum” untuk menyatakan perbuatan ”melawan hukum”. Istilah perbuatan melanggar hukum pada umumnya adalah sangat luas artinya, yaitu kalau perkataan ”hukum”dipakai dalam arti yang seluas-luasnya dan hal perbuatan hukum dipandang dari segala sudut.102 Sebelum tahun 1919, yang dimaksud dengan perbuatan ”melawan hukum” adalah :

a. Melanggar kewajiban hukum sipelaku ; atau

b. Melanggar hak subjektif orang lain yang telah diatur oleh Undang-Undang. Tetapi setelah tahun 1919 pengertian ”melawan hukum” meluas tidak hanya melanggar peraturan perundang-undangan, akan tetapi juga melingkupi peraturan tidak tertulis, yaitu bertentangan dengan kesusilaan dan bertentangan dengan kepatutan, ketelitian dan ketidak hati-hatian.

Seseorang dapat dimintakan pertanggungjawaban perbuatan ”melawan hukum” atas dasar kesalahannya secara pribadi dan juga atas kesalahan atau kelalaian orang

102

Wirjono Prodjodikoro, Perbuatan Melanggar Hukum Dipandang Dari Sudut Hukum

lain yang berada di bawah pengawasannya. Hal ini dapat terlihat dalam ketentuan pasal 1367 KUHPerdata (BW

Dahulu, pengadilan menafsirkan ”melawan hukum” sebagai hanya pelanggaran

dari pasal-pasal hukum tertulis semata-mata (pelanggaran perundang-undangan yang berlaku), tetapi sejak tahun 1919 terjadi perkembangan di negeri Belanda, dengan mengartikan perkataan ”melawan hukum” bukan hanya untuk pelanggaran perundang-undangan tertulis semata-mata, melainkan juga melingkupi atas setiap pelanggaran terhadap ”kesusilaan ” atau kepantasan dalam pergaulan hidup masyarakat.103

Sejak tahun 1919 tersebut, di negeri Belanda, dan demikian juga di Indonesia, perbuatan melawan hukum telah diartikan secara luas, yakni mencakup salah satu dari perbuatan sebagai berikut :104

1. Perbuatan yang bertentangan dengan hak orang lain;

2. Perbuatan yang bertentangan dengan kewajiban hukumnya sendiri;

3. Perbuatan yang bertentangan dengan kesusilaan;

4. Perbuatan yang bertentangan dengan kehati-hatian atau keharusan dalam

pergaulan masyarakat yang baik.

Perluasan pengertian melawan hukum tersebut di atas diawali oleh adanya Putusan Pengadilan Negeri Belanda (putusan Hoge Raad tanggal 31 Januari 1919 , termuat dalam majalah ”Nederlandsche Juridprudentie” 1919-101), istilah

103

Munir Fuady, Perbuatan Melawan Hukum, Pendekatan Kontemporer, (Bandung : PT.Citra Aditya Bakti, 2005), hal. 5-6

104

”onrechtmatige daad” ditafsirkan secara luas, sehingga meliputi juga suatu

perbuatan, yang bertentangan dengan kesusilaan atau dengan yang dianggap pantas dalam pergaulan hidup masyarakat.

Perkembangan penafsiran pengertian perbuatan melawan hukum terbagi dalam tiga fase, sebagai berikut :

a. Masa antara tahun 1838 ssampai tahun 1883;

b. Masa antara tahun 1883 sampai 1919.

c. Masa sesudah tahun 1919.

Masa antara 1838 sampai tahun 1883 membawa perubahan besar terhadap pengertian perbuatan ”melawan hukum” (onrechtmatige daad), yang diartikan pada waktu itu sebagau wetmatigedaad (perbuatan melanggar undang-undang, yang berarti bahwa suatu perbuatan baru dianggap melanggar hukum, apabila perbuatan tersebut bertentangan dengan undang-undang. Pengertian yang sempit ini sangat dipengaruhi oleh aliran legisme dalam filsafat hukum.105

Setelah tahun 1883 sampai sebelum 1919, pengertian perbuatan ”melawan hukum”diperluas hingga meliputi pelanggaran terhadap hak subjektif orang lain. Dengan kata lain, perbuatan ”melawan hukum” adalah berbuat atau tidak berbuat yang bertentangan dengan kewajiban hukum sipelaku atau melanggar hak subjektif orang lain.

Apa-apa yang telah diuraikan di atas yang menyangkut perbuatan ”melawan hukum”, itu semua dalam lingkup hukum keperdataan. Berhubungan thesis ini pada

105

pokoknya pembahasannya terfokus pada lingkup kriminalisasi sebagaimana yang daitur dalam Pasal 155 UUPT, maka berikut ini penulis mengemukakan bagaimana ajaran sifat ”melawan hukum” dalam hukum pidana.

Ajaran sifat melawan hukum memiliki kedudukan yang sangat penting dalam hukum pidana. Pada umumnya ajaran ini menyangkut ajaran sifat melawan hukum formil dan sifat melawan hukum materil.

Sebagaimana diketahui bahwa hukum pidana dikenal sebagai ultimum remidium atau sebagai upaya terakhir apabila usaha-usaha lain tidak dapat dilakukan lagi, hal ini disebabkan karena sifat pidana yang menimbulkan nestapa/penderitaan

Untuk menjatuhkan pidana, harus terpenuhi usnur-unsur tindak pidana yang terdapat dalam suatu pasal yang didakwakan oleh Penuntut Umum. Salah satu unsur dalam suatu pasal tindak pidana adalah sifat ”melawan hukum”, baik secara eksplisit maupun yang secara implisit yang ada dalam suatu pasal tindak pidana.

Ajaran sifat ”melawan hukum” ini terus mengalami perkembangan, dan sesuai dengan sub judul tulisan ini yaitu perkembangan ketentuan perbuatan melawan hukum, maka tulisan berikut ini memfokuskan pembahasan pada sub judul tersebut. Seperti yang telah diuraikan di atas, bahwa perbuatan melawan hukum dalam hukum perdata mengalami perluasan pengertian sejak tahun 1919, yang ditandai adanya putusan Hoge Raad 30 Januari 1919, yang kemudian menjadi acuan dalam pembicaraan asas-asas hukum perdata. Sedangkan dalam konteks hukum pidana baru dimulai pada tahun 1933, dengan arrest HR 20 Februari 1933. Veearts arrest.

bidang hukum perdata, maka terjadi suatu keadaan yang tidak menguntungkan terutama terhadap perbuatan-perbuatan yang menurut pergaulan masyarakat tidak tertulis sebagai perbuatan yang patut. Padahal dengan adanya asas Legalitas menjadikan arti sifat melawan hukum dalam hukum pidana menjadi dipersempit. Asas Legalitas mengandung asas perlindungan yang secara historis merupakan reaksi terhadap kesewenang-wenangan penguasa di zaman Ancient Rezime, serta jawaban atas kebutuhan fungsional terhadap kepastian hukum yang menjadi keharusan dalam suatu negara Liberal pada waktu itu.

Roeslan Saleh mengatakan bahwa : Pembentuk Undang-Undang sendiri dalam merumuskan perbuatan pidana tidak selalu menyebutkan ”melawan hukum” dalam rumusannya. Dalam perundang-undangan pada umumnya lebih banyak rumusan delik yang tidak memuat unsur ”melawan hukum” dari pada memuatnya. Tetapi walaupun tidak disebutkan dalam tiap-tiap rumusan delik, namun kita dapat berteguh pendapat bahwa ”melawan hukum” selalu menjadi unsur delik.106

Selanjutnya Roeslan Saleh mengatakan bahwa pembentuk Undang-undang rupanya juga berpendapat demikian. Hal ini ternyata dari penjelasan undang-undang yang menyebutkan bahwa ”pada beberapa rumusan dengan nyata disebutkan perkataan melawan hukum, oleh karena tanpa ditambahkannya perkataan itu mungkin timbul bahaya, yaitu bahwa mereka yang menggunakan haknya akan termasuk ke dalam ketentuan undang-undang pidana.

106

Roeslan Saleh, Sifat Melawan Hukum Perbuatan Pidana, (Jakarta : Aksara Baru, 1978), hal.3

Hazewinkel Suringa menyatakan bahwa : unsur ”melawan hukum”hanya merupakan unsur mutlak suatu delik, jika undang-undang menyebutkan dengan tegas sebagai usnur delik bersangkutan. Dalam hal undang-undang tidak menyebutkan dengan jelas sebagai unsur delik, melawan hukum hanya suatu tanda suatu delik.107 Ada beberpa konsekuensi bila ”melawan hukum” adalah usnur mutlak setiap delik, yaitu sebagai berikut :

Pertama, jka unsur melawan hukum tidak disebutkan dalam rumusan delik, maka unsur itu secara diam-diam dianggap ada di dalam delik tersebut, kecuali dapat dibuktikan sebaliknya oleh terdakwa.

Kedua, jika hakim ragu-ragu dalam menentukan apakah unsur melawan hukum ada atau tidak, maka dia tidak boleh menetapkan adanya perbuatan pidana dan oleh karenanya tidak boleh dijatuhkan pidana.108.

Perkembangan pengertian sifat ”melawan hukum menjadi buah bibir para ahli hukum di Indonesia ketika adanya putusan Mahkamah Konstitusi yang menyatakan bahwa penjelasan Passl 2 ayat (1) Undang-Undang Pemberantas Tindak Pidana Korupsi tidak mengikay secara hukum.

Pasal 2 ayat (1) UUTPK menentukan bahwa yang dimaksud melawan hukum mencakup perbuatan melawan hukum dalam arti formil maupun materiel, yakni meski perbuatan itu tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan, namun jika perbuatan itu dianggap tercela karena tidak sesuai rasa keadilan atau norma

107

Ibid, hal. 4-5

108

kehidupan sosial dalam masyarakat, maka perbuatan itu dapat dipidana.

Dalam hukum pidana istilah ”sifat melawan hukum” memiliki 4(empat) makna, yaitu :

Pertama, ”sifat melawan hukum” diartikan syarat umum dapat dipidananya suatu perbuatan sebagaimana definisi perbuatan pidana yakni kelakuan manusia yang termasuk dalam rumusan delik, bersifat melawan hukum dan dapat dicela.

Kedua, kata ”melawan hukum” dicantumkan dalam rumusan delik. Dengan demikian, sifat melawan hukum merupakan syarat tertulis untuk dapat dipidananya suatu perbuatan.

Ketiga, ”sifat melawan hukum” mengandung arti semua unsur dari rumusan delik telah dipenuhi.

Keempat, ”sifat melawan hukum” materiel mengandung 2 (dua) pandangan. Pandangan yang pertama, dari sudut perbuatannya mengandung arti melanggar atau membahayakan kepentingan hukum yang hendak dilindungi oleh pembuat Undang-Undang dalam rumusan delik. Dan kedua, dari sudut sumber hukumnya, ”sifat melawan hukum” mengandung pertentangan dengan asas kepatutan, keadilan, dan hukum yang hidup di masyarakat .

Berhubungan thesis ini menyinggung tentang perseroan Terbatas, yang dikategorikan sebagai korporasi atau sebagai badan usaha yuang berbentuk badan hukum, maka perlu dikemukan dalam praktek peradilan menerima bahwa badan hukum (recht persoon) dapat melakukan perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad), oleh karena itu pula dapat dimintakan pertanggungjawaban

mengacu kepada Pasal 1365 KUHPerdata.

Dalam berbuat, tindakan badan hukum dilakukan oleh orang-orangnya atau organnya. Tetapi tidak semua tindakan orang dari badan hukum tersebut merupakan tindakan badan hukum, tetapi bergantung pada bentuk hubungan antara orang tersebut dengan badan hukum itu.109

Secara singkat, pertanggungjawaban tersebut dapat dirinci sebagai berikut :

(1) Untuk perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh organ badan hukum,

pertanggungjawabannya didasarkan pada Pasal 1365 KUHPerdata.

(2) Untuk perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh seorang wakil dari

badan hukum yang mempunyai hubungan kerja dengan badan hukum itu, dapat dipertanggungjawabkan berdasar pasal 1367 JUHPerdata.

(3) Untuk perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh organ yang

mempunyai hubungan kerja dengan badan hukum, untuk pertanggungjawabnya dapat dipilih pasal 1365 atau pasal 1367 KUHPerdata.110

Timbul persoalan sampai sejauh manakah badan hukum dapat

dipertanggungjawabkan atas perbuatan organnya. Untuk menjawab persoalan tersebut, harus dipergunakan asas perbuatan organ dianggap sebagai perbuatan badan hukum, apabila perbuatan itu dilakukan dalam lingkungan wewenang formalnya, Ini berarti organ bertindak dalam rangka melaksanakan tugasnya.

109

Rachmat Setiawan, Pokok-pokok Hukum Perikatan, (Bandung : Bina Cipta, 1977), hal.86

110

Harus diteliti apakah organ mempunyai wenang untuk melakukan perbuatan tertentu. Ini tergantung pada undang-undang, anggaran dasar atau peraturan yang berlaku. Sekalipun organ bertindak bertentangan dengan instruksi atau bertentangan dengan anggaran dasar, berarti bahwa organ bertindak di luar lingkungan wewenang formalnya, badan hukum tetap dapat dipertanggungjawabkan, jika :

a. Tindakan menguntungan badan hukum ;

b. Kemudian disetujui oleh organ yang lebih tinggi kedudukannya.

Hoge Raad berpendapat bahwa tidak hanya badan hukum yang bertanggung

jawab untuk perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh organnya, akan tetapi juga organ secara pribadi dapat dipertanggungjawabkan.111

Dokumen terkait