ANAK USIA 7-11 TAHUN
erkembangan kognitif mengacu pada perubahan-perubahan bagaimana anak mengingat apa yang mereka lihat dan apa yang mereka dengar, berpikir tentang maslah yang dihadapi, kemampuan memprediksi apa yang akan terjadi, membandingkan apa yang dibaca, memahami persamaan dan perbedaan antara objek dan gagasan dan mampu menemukan solusi terhadap permasalahan yang dihadapinya (Vialle et.all.: 2000).
Perkembangan kognitif dimulai dari manusia memiliki kemahiran dan bagaimana menyesuaikan diri dengan lingkungannya melalui pendekatan situasi yang mengubah pola hubungan struktur kognitif sampai mengasimilasi aspek tertentu dan mengembangkan ke dalam suatu pola yang telah ada dalam dirinya.
Di samping itu juga mengakomodsi pola-pola yang lain dengan memperhatikan beberapa faktor situasi yang unik, semuanya dikendalikan oleh prinsip keseimbangan. Urutan perolehan pola adalah universal tetapi kecepatan pola itu berkembang dan bentuknya tergantung pada perbedaan
12 | Maria Ulfa
individu yaitu dalam kematangan, pengalaman lingkungan, transisi sosial, dan faktor keseimbangan.
Ciri khas manusia ialah kemampuan untuk berpikir. Manusia berpikir menggunakan kemampuan kognisinya. Perkembangan kognitif seseorang dipengaruhi oleh sebuah proses, yakni proses belajar. Proses belajar dalah proses yang terjadi di dalam otak. Peran struktur dan fungsi otak sebagai dasar teori belajar berguna untuk program pendidikan dan dapat meningkatkan kemampuan anak. Jadi terdapat hubungan antara fungsi otak dengan bagaimana manusia belajar (Sidiarto: 2007).
Otak adalah salah satu organ terpenting dari manusia. Otak adalah pusat dari sistem saraf yang berfungsi mengatur gerakkan, perilaku, emosi, ingatan, dan motorik. Menurut David A. Sousa berdasarkan fungsinya otak dibagi menjadi tiga bagian, yakni batang otak (brain stem), simtem lembik, dan otak besar (cerebrum) (Sousa: 2012).
Otak mempunyai peranan yang sangat penting untuk kemampuan dan perkembangan kognitif seseorang. Dari ketiga bagian otak yang telah disebutkan di atas, semua bagian otak saling berkesinambungan dalam pemprosesan kognitif seseorang. Hal ini menjadi salah satu karakteristik yang menarik dari otak manusia. Kemampuan otak manusia mampu mengintegrasikan aktivitas-aktivitas yang terlihat berbeda dan tidak saling berhubungan, yang sedang berlangsung dalam area-area tertentu pada otak, menjadi satu aktivitas yang bersatu secara utuh.
Disartria - Gangguan Berbicara| 13
Hal senada diungkapkan oleh Field (2004), yakni:
“The brain has a number of language related functions. It controls the cognitive processing involved in producing or understanding language; the motor activities involved in articulation; and involuntary activities such as breathing which need to be coordinated with speech. The human brain consist of two hemispheres linked by complex web of nerve connections, the corpus callosum. Generalizing somewhat, the left hemisphere in most individuals is associated with analytic processing and sumbolisation, while the right is associated with perceptual and spatial representation. The left hemisphere is particulary implicated in language processing, though the right contributes as well. The vast network of connections between the two ensures that any operation can draw upon both.”
Area-area tertentu otak mempunyai tugas-tugas tertentu dan diistilahkan sebagai spesialisasi otak. Namun jika kaitannya dengan aktivitas tertutama terbatas hanya pada satu hemisfer, maka diistilahkan lateralisasi (Sousa: 2012). Tidak satu orang pun mengetahui mengapa otak terlateralisasi. Namun, yang dapat kita ketahui adalah apakah yang dilateralisasi dalam otak. Sudah disebutkan di atas, bahwa otak besar dibagi menjadi dua yakni, hemisfer kanan
14 | Maria Ulfa
dan hemisfer kiri yang disatukan dengan corpus callosum.
Kedua hemisfer tersebut dipisahkan dan mempunyai fungsi yang berbeda. Berikut ini akan peneliti tuliskan mengenai perbedaan kedua fungsi hemisfer tersebut melalui tabel. Dan perbedaan kedua hemisfer tersebut adalah sebagi berikut:
Tabel 1 Fungsi-Fungsi Hemisfer Kiri dan Hemisfer
Kanan Fungsi Hemisfer Kiri
C o r p u s C a l l o s u m Fungsi Hemisfer Kanan Berhubungan dengan bagian kanan tubuh.
Berhubungan dengan bagian kiri tubuh. Memproses input
dengan cara seksuensial (berurutan)
dan analitikal.
Memproses input dengan cara yang cenderung
holistik dan abstrak. Pengenalan waktu
(sensitif terhadap waktu).
Pengenalan ruang (sensitif terhadap ruang). Menghasilkan bahasa
lisan.
Menginterpretasikan bahasa melalui sikap tubuh, mimik wajah, emosi, dan bahasa
Disartria - Gangguan Berbicara| 15 Mengerjakan operasi-operasi aritmatika. Mengerjakan operasi-operasi matematika. Terspesilisasi dalam
mengenali kata dan angka/bilangan (dalam
bentuk kata).
Terspesilisasi dalam mengenali wajah, tempat, objek, dan
musik. Aktif dalam
mengkonstruksi memori-memori palsu.
Lebih terpercaya dalam mengingat. Mencari penjelasan
mengapa setiap peristiwa terjadi.
Menempatkan berbagai peristiwa dalam pola
spasial/ruang. Baik dalam membangkitkan perhatian untuk menghadapi stimulus luar.
Baik dalam pemprosesan internal.
Sumber: David A. Sousa, Bagaimana Otak Belajar (Jakarta: PT Indeks, 2012), h. 204.
Kemampuan kognitif seseorang merupakan bentuk keseimbangan kemampuan otak seseorang (Azwar: 2013). Masih berkaitan dengan kemampuan berpikir dengan otak, Piaget dalam Singer and Revenson (1996)mengungkapkan:
16 | Maria Ulfa
“The mental structures necessary for intellectual development are genetically determined. These mental structures, which include the nervous system and sensory organs, setlimits for intellectual functioning at specific ages. As these structures become more developes through maturation, the child can use them more effectively to deal with envioerment. A young child has fewer and less developed mental structures and less experience than the teen ager or adult. Cognitive development is comulative understanding a new experience grows out of what was learned during previous one”
Berdasarkan pemaparan di atas diketahui bahwa anak mempunyai fungsi kognitif pada batasan usia tertentu. Hal ini disebut dengan pola perkembangan kognitif. Pola perkembangan kognitif menurut Piaget dibagi menjadi empat tahap. Keempat tahap tersebut adalah:
a) Sensory motor stage: ages brith though two b) Preoperational stage: ages to through seven
c) Stage of concrete operations: ages seven through eleven
d) Stage of formal operation: ages eleven trough sixteen. (Singer and Revenson: 1996)
Disartria - Gangguan Berbicara| 17
Untuk lebih jelasnya tahap perkembangan kognitif, perkiraan umur, dan kemampuan setiap tahap perkembangan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 2 Tahap Perkembangan Kognitif Jean Piaget Tahap Perkiraan Sifat-sifat dari
Kepandaian
Sensorimotor 0-2 tahun
Pembentukan konsep ketepatan objek, yaitu objek
yang terus ada sebelum kesan. Secara bertahap objek dan tingkah laku refleksi kepada aktivitas
yang bertujuan. Praoperasional 2-7 tahun
Perkembangan bahasa dan kemampuan berpikir, serta pemecahan masalah melalui
penggunaan simbol timbul. Pola pemikiran masih egois, membuatnya sulit menerima
pendapat orang lain. Operasional
Konkret 7-11 tahun
Kemampuan berpikir meningkat menjadi logis yang disebabkan oleh hasil
berpikir yang berlawanan, pelestarian, klasifikasi,
18 | Maria Ulfa
pengurutan, negosiasi, pengenalan, dan
kompensasi.
Mereka dapat memecahkan masalah konkret secara
logis.
Memperhatikan secara intensif dengan
alasan-alasan moral yang membangun.
Operasinal Formal
11 tahun ke atas
Cara berpikirnya hipotetsis, sedikit simbol memungkinkan pengguanaan verbal lebih
komplek.
Berpikirnya menjadi ilmiah, kemampuan
menggeneralisasi dan lebih logis memecahkan masalah,
konsep terhadap identitas dan masalah sosial.
Sumber: Good L. Thomas dan Brophy E. Jere, Educatinal Psychology (New York: Longman, 1990), h. 58.
Berdasarkan tabel di atas, maka teori kognitif Piaget mengungkapkan kalau pemikiran anak-anak usia SD disebut pemikiran operasional konkret (concrete operational thought).
Disartria - Gangguan Berbicara| 19
Menurut Piaget, operasi adalah hubungan-hubungan lagis di antara konsep-konsep atau skema-skema. Sedangkan operasi konkret adalah aktivitas mental yang difokuskan pada objek-objek dan peristiwa-peristiwa nyata atau konkret dapat diukur.
Menurut Santrock tahap operasional konkret adalah tahap perkembangan kognitif Piaget yang ketiga, berlangsung dari usia 7-11 tahun. Pemikiran operasional konkret melibatkan penggunaan konsep operasi. Pemikiran yang logis menggantikan pemikiran intuitif, tetapi hanya dalam situasi yang konkret. Terdapat keterampilan mengklasifikasikan, tetapi persoalan yang abstrak tetap tidak terselesaikan (Santrock: 2011).
Seorang anak pada umunya memasuki jenjang pendidikan SD pada usia 6 tahun, di mana diperkirakan sudah siap menerima pelajaran dan dapat mengalami kemajuan belajar secara teratur dalam tugas sekolah. Walaupun demikian ada sisa yang apada usia tersebut belum mampu mengikuti pelajaran yang diberikan secara teratur, kadang-kadang ketidakmampuan siswa yang keluar dalam bentuk tidak bisa mengerjakan tugas sekolah dianggap oleh guru sebagai suatu kemalsan. Semestinya hal tersebut harus dipandang sebagai perbedaan dalam hal menguasai materi pelajaran.
Semestinya hal tersebut harus dipandang sebagai perbedaan yang bisa saja terjadi pada anak usia SD, karena memang ada perbedaan dalam hal menguasai suatu materi.
20 | Maria Ulfa
Menurut teori kognitif Piaget dalam Syarifudin, et.al., pemikiran anak-anak usia Sekolah Dasar disebut pemikiran operasional konkret (concrete operational thought). Tingkat operasional konkret (7-11 tahun). Pada fase ini anak berada pada usia SD. Antara 7-8 tahun, sistem kognitif yang terpadu dalam mengorganisasikan dunia sekitar anak mulai berkembang. Proses berpikir tidak lagi bersifat statis atau sesaat. Bahasa sudah digunakan secara sadar sebagai alat pengembang pikiran.
Walau demikian pada tingkat ini anak lebih memfungsikan objek-objek yang dilihatnya, dan anak dapat memanipulasikannya. Pada usia-usia selanjutnya terutama pada kelas tinggi SD, anak mulai mengenal dunia melalui pola pikir yang lebih sistematis, mulai menggunakan proses berpikir logis. Pada kelas 1 SD suasana TK tidak dapat dibedakan dan pengaruh suasana TK pada anak masih tetap ada. Demikian pula pada kelas 1 SLTP suasana dan pengaruh SD pada anak masih ada. Hal ini terjadi karena proses perkembangan berlangsung berkelanjutan (Syarifudin, et.all.: 2006).
Seiring dengan masuknya anak ke SD, maka kemampuan kognitifnya mengalami perkembangan yang pesat. Karena dengan masuk sekolah, berarti dunia dan minat anak bertambah luas dan dengan meluasnya minat maka bertambah pula pengertian tentang manusia dan objek-objek yang sebelumnya kurang berrti bagi anak. Dalam keadaan normal, pikiran anak usia sekolah berkembang secara
Disartria - Gangguan Berbicara| 21
berangsur-angsur. Kalau pada masa sebelumnya daya pikir anak masih bersifat imajinatif dan egosentris, maka pada usia SD ini daya pikir anak berkembang ke arah berpikir konkret, rasional dan objektif. Daya ingatnya sangat kuat, sehingga anak benar-benar berada dalam suatu stadium belajar.
Desmita (2006) mengungkapkan, pada masa ini anak sudah mengembangkan pikiran logis. Ia mulai mampu memahami operasi dalam sejumlah konsep, seperti 5 x 6 = 30; 30 : 6 = 5. Dalam upaya memahami alam sekitarnya mereka tidak lagi terlalu mengandalkan informasi yang bersumber dari panca indera, karena ia mulai mempunyai kemmapuan untuk membedakan apa yang tampak oleh mata dengan kenyataan yang sesungguhnya dan antara yang bersifat sementara dengan yang bersifat menetap. Misalnya mereka akan tahu baha air dalam gelas besar pendek dipindahkan kedalam gelas kecil tinggi, jumlahnya akan tetap sama karena tidak satu tetes pun yang tumpah.
Hal di atas terjadi karena anak-anak usia operasional kongkret tidak lagi mengandalkan persepsi penglihatannya, melainkan sudah mampu menggunakan logikanya. Mereka dapat mengukur, meninmbang, dan menghitung jumlahnya, sehingga perbedaan yang nyata tidak “membodohkan” mereka.
Menurut Mulyani dan Saodih, seperti halnya perbedaan pada perkembangan fisik anak, pada tahap operasi konkret ini, anak-anak dapat berpikir logis tentang suatu hal. Ataupun demikian, kadar dan cara anak untuk berpikir logis terhadap
22 | Maria Ulfa
sesuatu akan ada perbedaan. Perbedaan yang ada tersebut disebabkan juga oleh berbagai faktor. Seorang guru mengajar di kelas I SD dengan hanya ceramah (verbalisme) dalam menerangkan konsep pertambahan pada matematika, tidak akan membuat sisa berkembang secara maksimal. Lain halnya dengan guru tersebut menggguanakan berbagai benda konkret sebagai media untuk menyampaikan materi, akan membuat anak tersebut lebih cepat mengerti (Sumantri dan Syaodih: 2007).
Terlepas dari berbagai keterbatasan anak, menurut Desmita, pada masa akhir usia SD (10-12 tahun), anak-anak terlihat semakin mahir mengggunakan logikanya. Hal ini diantaranya terlihat dari kemahiran dalam masalah hitung-menghitung yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (Sumantri dan Syaodih, 2007: 106). Pada masa anak usia SD setelah mampu mengkonversi angka, maka anak bisa mengkonversikan dimensi-dimensi lain, seperti isi dan panjang. Hal ini karena kemampuan anak melakukan operasi-operasi mental dan kognitif ini memungkinkan mengadakan hubungan yang lebih luas dengan dunianya.
Operasi yang terjadi pada diri anak usia SD ini memungkinkannya pula untuk mengetahui suatu perbuatan tanpa ia sendiri bertindak secara nyata. Hanya saja, apa yang dipikirkan oleh anak masih terbatas pada hal-hal yang hubungannnya dengan sesuatu yang konkret, suatu realitas secara fisik, benda-benda yang benar-benar nayata. Sebaliknya, benda-benda atau peristiwa-peristiwayang tidak
Disartria - Gangguan Berbicara| 23
ada hubungannnya secara jelas dab konkret dengan realitas, masih dipikirkan oleh anak.
Berdasarkan pemaparan mengenai perkembangan kognitif anak usia 7-11 tahun (usia SD) di atas, maka peneliti menyimpulkan bahwa perkembangan kognitif anak usia 7-11 tahun adalah pemikiran anak usia ini ialah operasional konkret. Pada masa operasional konkret, kemampuan kognitif yang terpadu dalam mengorganisasikan dunia sekitar anak mulai berkembang. Proses berpikir anak tidak lagi bersifat statis atau sesaat. Pada masa ini anak sudah mengembangkan pikiran logis. Ia mulai mampu memahami operasi sejumlah konsep.
Pada saat ini, anak telah mampu berkomunikasi dengan baik dan mampu mengungkapkan apa yang mereka lakukan, yang akan mereka lakukan, keberhasilan yang mungkin mereka capai, serta kendala-kendala yang mungkin mereka temui. Pada masa akhir usia sekolah atau praremaja, anak-anak terlihat semakin mahir menggunakan logikanya. Anak usia akhir juga mulai bisa diberi pengertian untuk menghemat dan menabungkan sebagian uang jajannya guna keperluan jangka panjang (seperti untuk membeli sepeda baru, komputer, dan sebagainya). Pada masa akhir usia sekolah, perkembangan kognitif anak juga ditandai dengan terjadinya transformasi dalam kemampuan kognitif mereka.
Disartria - Gangguan Berbicara| 25