BAB III. KERAGAAN KELAPA SAWIT NASIONAL
3.3. PERKEMBANGAN KONSUMSI MINYAK SAWIT DI INDONESIA
-200,000 400,000 600,000 800,000 1,000,000 1,200,000 1,400,000 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 (Rp/Ton)
Gambar 3.9. Perkembangan Harga Kelapa Sawit di Tingkat Produsen di Indonesia, 2000–2012
3.3. PERKEMBANGAN KONSUMSI MINYAK SAWIT DI INDONESIA
Konsumsi minyak sawit/crude palm oil (CPO) di Indonesia diperoleh dari konsumsi minyak goreng sawit (kg/kapita/tahun) yang berasal dari SUSENAS dikalikan dengan jumlah penduduk/kapita sehingga dihasilkan konsumsi nasional minyak goreng sawit (kg). Konversi nasional ini kemudian dikonversikan menggunakan data tabel input output yang terdapat pada Neraca Bahan Makanan (NBM) sebesar 68,28%. Secara umum konsumsi CPO di Indonesia menunjukkan kecenderungan meningkat (Gambar 3.10). Pada tahun 2002 konsumsi minyak sawit hanya sebesar 786,92 juta kg, dan meningkat cukup tajam menjadi 1,51 milyar kg pada tahun 2013 dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 6,36% per tahun. Kenaikan konsumsi minyak sawit tertinggi terjadi pada tahun 2013 sebesar 14,91% yang menyebabkan konsumsi minyak sawit pada tahun tersebut naik menjadi 1,56 milyar kg. Kenaikan tersebut terutama disebabkan oleh kenaikan produksi CPO dalam negeri. Perkembangan konsumsi minyak sawit di Indonesia selengkapnya disajikan pada Lampiran 9.
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 19 0 400,000 800,000 1,200,000 1,600,000 2,000,000 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 (000 Kg)
Gambar 3.10. Perkembangan Konsumsi Minyak Sawit Indonesia, 2002-2013
3.4. PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR KELAPA SAWIT DI INDONESIA
3.4.1. Perkembangan Volume Ekspor Kelapa Sawit Indonesia
Ekspor- impor kelapa sawit Indonesia dilakukan dalam wujud minyak sawit, minyak sawit lainnya, minyak inti sawit dan minyak inti lainnya. Perkembangan volume ekspor kelapa sawit pada tahun 1980–2013 cenderung terus meningkat (Gambar 3.11) dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 23,52% per tahun. Jika pada tahun 1980 volume ekspor kelapa sawit Indonesia hanya sebesar 502,90 ribu ton dengan nilai ekspor sebesar US$ 254,74 juta, maka tahun 2013 volume ekspor meningkat menjadi 25,79 juta ton senilai US$ 17,67 milyar. Secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 10.
20 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 0 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 1980 1982 1984 1986 1988 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 2013 (000 Ton)
Gambar 3.11. Perkembangan Volume Ekspor Kelapa Sawit Indonesia, 1980–2013
3.4.2. Perkembangan Volume Impor Kelapa Sawit Indonesia
Sementara itu volume impor kelapa sawit sangat kecil dibandingkan volume ekspornya, namun demikian terjadi peningkatan volume impor kelapa sawit ke Indonesia sebesar 26.978,38% per tahun. Besarnya laju pertumbuhan volume impor kelapa sawit disebabkan oleh peningkatan impor yang sangat signifikan pada tahun 1981 dan 1984. Volume impor tertinggi sebesar 412,45 ribu ton terjadi pada tahun 1989 (Gambar 3.12). Setelah periode tersebut volume impor cenderung menurun. Untuk tahun 2013 volume impor kelapa sawit ke Indonesia tercatat sebesar 65,88 ribu ton dengan nilai impor mencapai US$ 47,47 juta.
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 21 0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 1980 1982 1984 1986 1988 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 2013 (000 Ton)
Gambar 3.12. Perkembangan Volume Impor Kelapa Sawit Indonesia, 1980–2013
3.4.3. Neraca Perdagangan Kelapa Sawit Indonesia
Jika ditinjau dari nilainya, perkembangan nilai ekspor dan nilai impor kelapa sawit menunjukkan perkembangan yang sejalan dengan perkembangan volume ekspor maupun volume impornya.
Berdasarkan nilai ekspor dan nilai impornya diperoleh neraca perdagangan kelapa sawit Indonesia. Untuk periode tahun 1980-2013 neraca perdagangan kelapa sawit Indonesia berada pada posisi surplus. Surplus terjadi terus-menerus selama periode tersebut dan cenderung semakin meningkat dari tahun ke tahun (Gambar 3.13). Pada tahun 1980 surplus neraca perdagangan kelapa sawit sebesar US$ 254,74 juta dan pada tahun 2013 diprediksi akan mencapai US$ 17,62 milyar. Perkembangan ekspor, impor dan neraca perdagangan kelapa sawit Indonesia tahun 1980-2013 secara rinci disajikan pada Lampiran 10.
22 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 0 2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 12,000 14,000 16,000 18,000 20,000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 (Juta US$)
Nilai Ekspor Nilai Impor Neraca
Gambar 3.13. Perkembangan Nilai Ekspor, Nilai Impor dan Neraca Perdagangan Kelapa Sawit Indonesia, 2001–2013
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 23
BAB IV. KERAGAAN KELAPA SAWIT ASEAN DAN DUNIA
4.1. PERKEMBANGAN LUAS TANAMAN MENGHASILKAN, PRODUKSI
DAN PRODUKTIVITAS KELAPA SAWIT ASEAN DAN DUNIA
4.1.1. Perkembangan Luas Tanaman Menghasilkan Kelapa Sawit Asean
Berdasarkan data yang bersumber dari FAO, secara umum perkembangan luas tanaman menghasilkan kelapa sawit asean selama periode tahun 1980–2012 cenderung meningkat (Gambar 4.1). Tahun 1980 total luas tanaman menghasilkan kelapa sawit asean hanya sebesar 998,72 ribu ha. Dengan rata-rata laju pertumbuhan sebesar 7,99% per tahun maka pada tahun 2012 total luas tanaman menghasilkan kelapa sawit mencapai 11,56 ribu ha. Data luas tanaman menghasilkan kelapa sawit dunia dapat dilihat pada Lampiran 11.
1,000 3,000 5,000 7,000 9,000 11,000 13,000 1980 1982 1984 1986 1988 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 (000 Ha)
Gambar 4.1. Perkembangan Luas Tanaman Menghasilkan Kelapa Sawit Asean, 1980–2012
24 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
Berdasarkan data rata-rata luas tanaman menghasilkan kelapa sawit tahun 2008-2012 yang bersumber dari FAO, Indonesia menempati urutan pertama sebagai negara dengan luas tanaman menghasilkan kelapa sawit terbesar di asean dengan rata-rata kontribusi sebesar 54,75% dari total luas tanaman menghasilkan kelapa sawit asean. Posisi kedua dan ketiga ditempati oleh Malaysia dan Thailand dengan kontribusi luas masing-masing sebesar 39,50% dan 5,32% (Gambar 4.2). Ketiga negara tersebut memberikan kontribusi kumulatif sebesar 99,57% terhadap total luas tanaman menghasilkan kelapa sawit asean.
Selain ketiga negara tersebut di atas, masih ada negara Philipina yang juga mempunyai lahan kelapa sawit dengan luas tanaman menghasilkan yang cukup besar. Philipina di urutan keempat memberikan kontribusi sebesar 0,43% terhadap luas tanaman menghasilkan kelapa sawit asean. Data Negara dengan Luas Tanaman Menghasilkan Kelapa Sawit Terbesar di Asean, rata-rata 2008-2012 dapat dilihat pada Lampiran 12.
54.75% 39.50%
0.43% 5.32%
Indonesia Malaysia Philipina Thailand
Gambar 4.2. Beberapa Negara dengan Luas Tanaman Menghasilkan Kelapa Sawit Terbesar di Asean, Rata-rata 2008-2012
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 25
4.1.2. Perkembangan Produksi Kelapa Sawit Asean
Perkembangan produksi kelapa sawit dalam wujud crude palm oil (CPO) sepanjang tahun 1980–2012 menunjukkan pola yang hampir sama dengan perkembangan luas tanaman menghasilkan. Dalam kurun waktu tiga puluh tahun telah terjadi peningkatan produksi kelapa sawit asean dengan rata-rata peningkatan sebesar 8,64% per tahun (Gambar 4.3). Jika pada tahun 1980 produksi kelapa sawit asean hanya sebesar 3,32 juta ton, maka pada akhir tahun 2012 produksi kelapa sawit asean tercatat sebesar 44,15 juta ton. Data produksi kelapa sawit dunia dapat dilihat pada Lampiran 11.
0 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 35,000 40,000 45,000 50,000 1980 1982 1984 1986 1988 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 (000 Ton)
Gambar 4.3. Perkembangan Produksi Minyak Sawit Asean, 1980–2012 Produksi kelapa sawit asean dikuasai oleh dua negara, yaitu Indonesia dan Malaysia. Berdasarkan data FAO, selama tahun 2009-2012 Indonesia berada di posisi pertama sebagai negara penghasil kelapa sawit terbesar di asean dengan rata-rata kontribusi produksi sebesar 50,99% dari total produksi kelapa sawit asean, sedangkan Malaysia berada di peringkat kedua dengan kontribusi mencapai 45,10% (Gambar 4.4). Dengan demikian secara kumulatif 96,09% produksi kelapa sawit asean berasal dari kedua negara tersebut. Data Negara
26 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
dengan Produksi Kelapa Sawit Terbesar di Asean, rata-rata 2008-2012 dapat dilihat pada Lampiran 13.
50.99% 45.10%
3.68% 0.23%
Indonesia Malaysia Thailand Philipina
Gambar 4.4. Beberapa Negara dengan Produksi Minyak Sawit Terbesar Asean, Rata-rata 2008-2012
4.1.3. Perkembangan Produktivitas Kelapa Sawit Asean
Jika ditinjau dari sisi produktivitasnya, tingkat produktivitas kelapa sawit dalam wujud tandan buah segar (TBS) relatif berfluktuatif. (Gambar 4.5). Pada tahun 1980-2012 laju pertumbuhan produktivitas kelapa sawit mencapai 0,67% per tahun (Lampiran 11). Rata-rata tingkat produktivitas tertinggi dicapai pada tahun 2006 sebesar 4,20 ton/ha.
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 27 3.00 3.20 3.40 3.60 3.80 4.00 4.20 4.40 1980 1982 1984 1986 1988 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 (Ton/Ha)
Gambar 4.5. Perkembangan Produktivitas Kelapa Sawit Asean, 1980-2012
4.1.4. PERKEMBANGAN LUAS TANAMAN MENGHASILKAN KELAPA SAWIT DUNIA
Perkembangan luas tanaman menghasilkan kelapa sawit dunia selama periode 1980-2012 cenderung meningkat (Gambar 4.6). Berdasarkan data dari FAO, tahun 1980 total luas tanaman menghasilkan kelapa sawit dunia hanya sebesar 4,28 juta ha. Dengan rata-rata laju pertumbuhan sebesar 4,48% per tahun maka pada tahun 2012 total luas tanaman menghasilkan kelapa sawit telah mencapai 17,24 juta ha. Data luas tanaman menghasilkan kelapa sawit dunia dapat dilihat pada Lampiran 14.
28 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 0 2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 12,000 14,000 16,000 18,000 20,000 1980 1982 1984 1986 1988 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 (000 Ha)
Gambar 4.6. Perkembangan Luas Tanaman Menghasilkan Kelapa Sawit Dunia, 1980–2012
Menurut FAO, kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis yang panas dengan temperatur harian selama 24 jam > 200C dan periode pertumbuhan
270 hari per tahun (Pahan, 2006). Kondisi tersebut terdapat di daerah-daerah Afrika, Amerika Tengah, Amerika Selatan, Asia Tenggara dan Pasifik Selatan. Indonesia, Malaysia dan Thailand merupakan negara di Asia Tenggara yang telah memanfaatkan keunggulan kondisi geografisnya untuk memperluas areal penanaman kelapa sawit, sedangkan di Afrika terdapat Nigeria dan Ghana yang juga merupakan negara penghasil kelapa sawit dunia.
4.1.5. Sentra Luas Tanaman Menghasilkan Kelapa Sawit Dunia
Berdasarkan data rata-rata luas tanaman menghasilkan kelapa sawit tahun 2008-2012 yang bersumber dari FAO, Indonesia menempati urutan pertama sebagai negara dengan luas tanaman menghasilkan kelapa sawit terbesar di dunia dengan rata-rata kontribusi sebesar 35,69% dari total luas tanaman menghasilkan kelapa sawit dunia. Posisi kedua dan ketiga ditempati oleh Malaysia dan Nigeria dengan kontribusi luas masing-masing sebesar 25,75% dan 19,98% (Gambar 4.7).
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 29
Ketiga negara tersebut memberikan kontribusi kumulatif sebesar 81,42% terhadap total luas tanaman menghasilkan kelapa sawit dunia.
Selain ketiga negara tersebut di atas, masih ada negara Thailand, Ghana dan Guinea yang juga mempunyai lahan kelapa sawit dengan luas tanaman menghasilkan yang cukup besar. Thailand di urutan keempat memberikan kontribusi sebesar 3,47% terhadap luas tanaman menghasilkan kelapa sawit dunia, diikuti oleh Ghana (2,19%) dan Guinea (1,93%). Sedangkan kontribusi dari negara-negara lainnya kurang dari 2%. Data Negara dengan Luas Tanaman Menghasilkan Kelapa Sawit Terbesar di Dunia, Rata-rata 2008-2012 disajikan pada Lampiran 15. 35.69% 25.75% 19.98% 3.47% 2.19% 1.93% 10.99%
Indonesia Malaysia Nigeria Thailand Ghana Guinea Lainnya
Gambar 4.7. Beberapa Negara dengan Luas Tanaman Menghasilkan Kelapa Sawit Terbesar di Dunia, Rata-rata 2008-2012
4.1.6. Perkembangan Produksi Kelapa Sawit Dunia
Perkembangan produksi kelapa sawit dunia dalam wujud CPO sepanjang tahun 1980–2012 menunjukkan pola yang hampir sama dengan perkembangan luas tanaman menghasilkan. Dalam kurun waktu tiga puluh tahun telah terjadi
30 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
peningkatan produksi CPO dunia dengan rata-rata peningkatan sebesar 7,01% per tahun (Gambar 4.8). Jika pada tahun 1980 produksi CPO dunia hanya sebesar 29,86 juta ton, maka pada akhir tahun 2012 produksi CPO dunia tercatat sebesar 249,53 juta ton. Data Perkembangan Produksi Minyak Sawit Dunia, 1980-2012 disajikan pada Lampiran 14.
0 50,000 100,000 150,000 200,000 250,000 300,000 1980 1982 1984 1986 1988 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 (000 Ton)
Gambar 4.8. Perkembangan Produksi Minyak Sawit Dunia, 1980–2012
4.1.7. Sentra Produksi Kelapa Sawit Dunia
Produksi kelapa sawit dunia dalam wujud produksi Crude Palm Oil (CPO). Produksi CPO dunia dikuasai oleh dua negara, yaitu Indonesia dan Malaysia. Berdasarkan data FAO, selama tahun 2008-2012 Indonesia berada di posisi pertama sebagai negara penghasil CPO terbesar di dunia dengan rata-rata kontribusi produksi sebesar 44,46% dari total produksi CPO dunia, sedangkan Malaysia berada di peringkat kedua dengan kontribusi mencapai 39,32% (Gambar 4.9). Dengan demikian secara kumulatif 83,78% produksi CPO dunia berasal dari kedua negara tersebut. Data Negara dengan Produksi Kelapa Sawit Terbesar Dunia, Rata-rata 2008-2012 dapat dilihat pada Lampiran 16.
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 31 44.46% 39.32% 3.21% 2.36% 1.86% 1.11% 7.69%
Indonesia Malaysia Thailand
Nigeria Colombia Papua New Guinea
Lainnya
Gambar 4.9. Beberapa Negara dengan Produksi Kelapa Sawit Terbesar Dunia, Rata-rata 2008-2012
Negara-negara produsen CPO terbesar lainnya adalah Thailand dengan kontribusi sebesar 3,21% terhadap total produksi CPO dunia, diikuti oleh Nigeria (2,36%), Kolombia (1,86%), dan Papua Nugini (1,11%). Beberapa Negara produsen CPO terbesar di dunia secara rinci disajikan pada Lampiran 16.
4.1.8. Perkembangan Produktivitas Kelapa Sawit Dunia
Jika ditinjau dari sisi produktivitasnya, tingkat produktivitas kelapa sawit dalam wujud CPO juga memiliki kecenderungan meningkat setiap tahunnya (Gambar 4.10). Pada tahun 1980-2012 laju pertumbuhan produktivitas kelapa sawit mencapai 2,42% per tahun (Lampiran 14). Rata-rata tingkat produktivitas tertinggi dicapai pada tahun 1982 sebesar 12,22 ton/ha.
32 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00 1980 1982 1984 1986 1988 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 (Ton/Ha)
Gambar 4.10. Perkembangan Produktivitas Kelapa Sawit Dunia, 1980-2012 Secara umum tingkat produktivitas kelapa sawit dunia belum maksimal. Beberapa negara mempunyai tingkat produktivitas yang jauh lebih tinggi dari produktivitas dunia. Dari data rata-rata produktivitas kelapa sawit dalam wujud tandan buah segar (TBS) tahun 2008-2012, Guatemala berada di peringkat pertama dengan tingkat produktivitas mencapai 26,23 ton/ha, diikuti oleh Nicaragua (21,78 ton/ha) dan Malaysia (21,77 ton/ha). Colombia, Cameroon, Thailand dan Costa Rica berada di peringkat berikutnya dengan produktivitas kelapa sawit masing-masing sebesar 20,69 ton/ha, 19,03 ton/ha, 17,12 ton/ha dan 17,01 ton/ha. Indonesia yang merupakan negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia mempunyai tingkat produktivitas rata-rata sebesar 16,87 ton/ha dan menempati urutan kedelapan (Gambar 4.11).
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 33 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 26.23 21.78 21.77 20.69 19.03 17.12 17.01 16.87 (Ton/Ha)
Gambar 4.11. Beberapa Negara dengan Produktivitas Kelapa Sawit Tertinggi di Dunia, Rata-rata 2008-2012
4.2. PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR KELAPA SAWIT ASEAN DAN
DUNIA
4.2.1. Perkembangan Volume Ekspor Kelapa Sawit Asean
Perkembangan volume ekspor kelapa sawit asean dalam bentuk crude palm oil (CPO) menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun, hal ini berdasarkan data yang bersumber dari FAO. Tahun 1980 total ekspor kelapa sawit hanya sebesar 3,30 juta ton. Dengan rata-rata laju pertumbuhan sebesar 8,34% per tahun maka pada tahun 2011 menghasilkan kelapa sawit mencapai 32,68 juta ton. Data Perkembangan Volume Ekspor Kelapa Sawit Asean, 1980-2011 dapat dilihat pada Gambar 4.12 dan Lampiran 17.
34 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 1980 1982 1984 1986 1988 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010 2011 (000 Ton)
Gambar 4.12. Perkembangan Volume Ekspor Kelapa Sawit Asean, 1980-2011
4.2.2. Perkembangan Volume Impor Kelapa Sawit Asean
Data yang bersumber dari FAO, menunjukkan bahwa perkembangan volume impor kelapa sawit asean dalam bentuk crude palm oil (CPO) selama periode tahun 1980-2011 realtif berfluktuatif (Gambar 4.13). Tahun 1980 total impor kelapa sawit hanya sebesar 776,6 ribu ton. Dengan rata-rata laju pertumbuhan sebesar 8,20% per tahun maka pada tahun 2011 impor kelapa sawit mencapai 3,52 juta ton (Lampiran 17).
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 35 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 (000 Ton)
Gambar 4.13. Perkembangan Volume Impor Kelapa Sawit Asean, 1980-2011
4.2.3. Perkembangan Volume Ekspor dan Impor Kelapa Sawit Dunia
Perkembangan volume ekspor dan impor kelapa sawit dunia dalam bentuk minyak sawit (CPO) menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data FAO, pada periode tahun 2007–2011 terdapat dua negara eksportir CPO terbesar di dunia yang secara kumulatif memberikan kontribusi sebesar 85,37% terhadap total volume ekspor minyak sawit di dunia, yaitu Indonesia dan Malaysia. Indonesia berada di peringkat pertama negara eksportir minyak sawit terbesar di dunia dengan rata-rata kontribusi sebesar 42,99% dari total ekspor minyak sawit dunia (Gambar 4.14). Rata-rata volume ekspor minyak sawit dari Indonesia mencapai 14,52 juta ton per tahun. Peringkat kedua ditempati oleh Malaysia yang memberikan kontribusi sebesar 42,38% dengan rata-rata volume ekspor 14,32 juta ton per tahun. Belanda dan Papua Nugini berada di peringkat ketiga dan keempat dengan kontribusi masing-masing sebesar 3,86% dan 1,39% dari total volume ekspor minyak sawit dunia (Lampiran 18). Negara-negara produsen CPO lainnya, seperti Thailand, Nigeria, Kolombia dan Papua Nugini belum mampu menjadi negara eksportir CPO utama dunia karena produksi domestiknya sebagian besar masih digunakan untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri.
36 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
42.99% 42.38%
3.86% 1.39%
9.39%
Indonesia Malaysia Belanda Papua Nugini Lainnya
Gambar 4.14. Negara Eksportir Minyak Sawit Terbesar Dunia, Rata-rata 2007-2011
Sementara itu ditinjau dari sisi impor minyak sawit (CPO) dunia, pada tahun 2007–2011 terdapat sepuluh negara importir CPO terbesar di dunia. Total volume impor negara-negara tersebut mencapai 58,37% dari total volume impor CPO dunia. China merupakan negara importir CPO terbesar di dunia dengan rata-rata volume impor mencapai 5,91 juta ton per tahun atau 17,69% dari total volume impor CPO dunia, diikuti oleh India (15,04%), Belanda (5,44%) dan Pakistan (5,37%). Negara-negara importir CPO lainnya mengimpor kurang dari 4% total impor CPO dunia. Malaysia yang merupakan negara eksportir terbesar CPO dunia ternyata juga menjadi negara importir CPO pada urutan ke-14 dengan rata-rata volume impor mencapai 1,05 juta ton (Gambar 4.15 dan Lampiran 19). Indonesia menempati urutan ke-140 dari negara-negara importir CPO dunia.
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 37 17.69% 15.04% 5.37% 5.44% 3.68% 52.79%
China India Pakistan Belanda Jerman Lainnya
Gambar 4.15. Negara Importir Kelapa Sawit Terbesar Dunia, Rata-rata 2007-2011
4.3. PERKEMBANGAN KETERSEDIAAN MINYAK SAWIT ASEAN DAN DUNIA
4.3.1. Perkembangan Ketersediaan Minyak Sawit Asean
Ketersediaan kelapa sawit di Asean diperoleh dari perhitungan produksi dikurangi volume ekspor ditambah volume impor dalam wujud CPO. Pada periode 1980-2011 secara umum ketersediaan CPO di Asean menunjukkan kecenderungan meningkat (Gambar 4.16). Pada tahun 1980 ketersediaan minyak sawit hanya sebesar 799,38 ribu ton, dan meningkat cukup tajam menjadi 12,81 juta pada tahun 2011 dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 14,54% per tahun. Kenaikan ketersediaan minyak sawit tertinggi terjadi pada tahun 2007 sebesar 42,64% yang menyebabkan ketersediaan minyak sawit pada tahun tersebut naik menjadi 13,65 juta ton. Kenaikan tersebut terutama disebabkan oleh kenaikan produksi CPO di Asean. Perkembangan ketersediaan minyak sawit di Asean selengkapnya disajikan pada Lampiran 20.
38 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian -2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 12,000 14,000 16,000 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 (000 Ton)
Gambar 4.16. Perkembangan Ketersediaan Minyak Sawit di ASEAN, 1980-2011
4.3.2. Perkembangan Ketersediaan Minyak Sawit Sawit Dunia
Seiring dengan peningkatan ketersediaan minyak sawit asean, ketersediaan minyak sawit dunia pun mengalami peningkatan. Dimana ketersediaan minyak sawit di dunia diperoleh dari perhitungan produksi dikurangi volume ekspor ditambah volume impor dalam wujud CPO. Pada periode 1980-2011 secara umum ketersediaan CPO di dunia menunjukkan kecenderungan meningkat (Gambar 4.17). Pada tahun 1980 ketersediaan minyak sawit hanya sebesar 29,65 juta ton, dan pada tahun 2011 meningkat cukup tajam menjadi 240,77 juta ton dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 7,12% per tahun. Perkembangan konsumsi minyak sawit di dunia selengkapnya disajikan pada Lampiran 21.
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 39 -50,000 100,000 150,000 200,000 250,000 300,000 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 (000 Ton)
40 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 41