• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Majelis Taklim Hidayatul Muslimin (2003-2015 M)

Dalam dokumen BAB IV LAPORAN HASIL PENELITIAN (Halaman 31-39)

C. Analisis Data

1. Perkembangan Majelis Taklim Hidayatul Muslimin (2003-2015 M)

Secara umum penelitian terhadap perkembangan Majelis Taklim Hidayatul Muslimin (2003-2015 M) ini yang meliputi sejarah berdiri, pendiri dan kepengurusan, muallim (penceramah), jamaah, visi dan misi, materi dan metode, dan pendanaan, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

a. Sejarah Berdiri Majelis Taklim Hidayatul Muslimin

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan penulis seperti yang dijelaskan pada penyajian data sebelumnya bahwa sejarah berdirinya lembaga yang bertempat di rumah orang tua muallim KH. Abdullah Basya dilatarbelakangi oleh keadaan Desa yang betul-betul membutuhkan pembinaan pendidikan agama Islam. Kesadaran masyarakat Desa akan latar belakang tersebut mendorong beberapa tokoh masyarakat seperti H. Rasyid, H. Kastalani dan A. Maki untuk memikirkan perlu adanya upaya untuk merubah keadaan desa menjadi lebih baik, dengan mengadakan pengajian agama Islam sehingga terhindar dari kejahilan-kejahilan yang dapat membawa mereka kepada kesesatan dan api neraka.

b. Pendiri dan kepengurusan

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan penulis seperti yang dijelaskan pada penyajian data sebelumnya bahwa Majelis Taklim Hidayatul Muslimin dirintis oleh 3 orang yakni H. Rasyid, H. Kastalani, S.Pd.I dan Achmad Maki. Tiga orang tokoh tersebut telah memberikan andil yang sangat besar terhadap

kemajuan-kemajuan yang telah dialami oleh majelis taklim itu sendiri. Walaupun pernah terjadinya pergantian susunan kepengurusan ditahun 2008 M dengan naiknya Mustain Billah S.Ag sebagai sekretaris kegiatan di Majelis Taklim Hidayatul Muslimin selalu berjalan dengan baik hingga di tahun 2015 M sekarang ini.

Mengenai masalah kepengurusan terhadap Majelis Taklim Hidayatul Muslimin ini, menurut penulis sudah cukup baik, hanya saja perlu diperbaharui dalam hal kepanitiaan yang belum terorganisir dan terstruktur secara keseluruhan, seperti dengan menambah kepanitiaan yang bergerak dibidang wakil ketua, acara, humas, pubdekdok, konsumsi, dan keamanan. Karena nantinya hal itu dapat menutupi bagian penugasan yang belum diadakan secara tetap dan akan memudahkan pelaksanaan kegiatan agar berjalan dengan efektif efesien.

c. Muallim (Penceramah)

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan penulis seperti yang dijelaskan pada penyajian data sebelumnya bahwa KH. Abdullah Basya adalah seorang muallim satu-satunya dan bersifat tetap sejak tahun 2003-2015 M di Majelis Taklim Hidayatul Muslimin. Menurut penulis hal yang demikian itu cukup baik jika dibandingkan dengan Majelis Taklim yang memiliki beberapa orang muallim secara bergantian atau tidak tetap mengisi jadwal pengajian, dan hal itu bisa membuat jamaah istiqamah menghadiri pengajian yang muallim-nya bersifat tetap yakni seseorang yang memang disenangi mereka.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan penulis seperti yang dijelaskan pada penyajian data sebelumnya bahwa perkembangan terhadap keadaan jamaah ini cukup baik, hal itu terlihat dari lenturnya pelaksanaan kegiatan pengajian yang mampu membaur dalam semua elemen masyarakat tanpa sekat kelas sosial sekalipun. Sehingga pengajian yang diisi oleh muallim KH. Abdullah Basya banyak diminati jamaah sekitar 1000 orang, bahkan ketika peringatan kebudayaan Islam dilangsungkan jamaah mencapai sekitar 2000 orang atau lebih.

Menurut penulis, seandaikan pengelolaan terhadap jamaah ini ditingkatkan niscaya Majelis Taklim Hidayatul Muslimin akan mampu menghadirkan para jamaah lebih dari pada jumlah yang sudah disebutkan, bahkan panitia dapat mengetahui setiap keadaan berdasarkan latar belakangnya, seperti dengan melakukan pendataan, mengisi daftar kehadiran dan lain sebagainya.

e. Visi dan Misi

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan penulis seperti yang dijelaskan pada penyajian data sebelumnya bahwa Majelis Taklim Hidayatul Muslimin mempunyai Visi agar jamaah yang mengikuti kegiatan selamat dikehidupan dunia dan akhirat. Visi tersebutlah yang menjadi arahan dalam kegiatan yang dilakukan oleh pengurus, baik itu kegiatan dalam pengajian ataupun kegiatan peringatan Maulid Nabi, Isra Mi‟raj, Haul Syekh Samman dan KH Zaini bin Abdul Ghani. Kegiatan-kegiatan tersebut mengandung nilai-nilai positif sesuai dengan pendidikan agama Islam sehingga jamaah sangat antusias memeriahkannya ketika perayaan tersebut berlangsung.

Menurut penulis, visi dan misi yang diemban Majelis Taklim Hidayatul Muslimin sudah bisa dikategorikan sangat baik, karena sesuai dengan landasan firman Allah Swt., surah Al-An’am (6) : 162 yang berbunyi:



















)

٢٦١

(

f. Materi dan Metode

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan penulis seperti yang dijelaskan pada penyajian data sebelumnya bahwa mengenai materi dan metode yang digunakan muallim KH. Abdullah Basya pada pengajian di majelis taklim ini cukup baik, karena telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan serta para jamaahnya yang bersifat heterogen. sehingga jamaah menerima bimbingan kegamaan yang fardhu kifayah dan fardhu „ain seperti pembacaan kitab Tauhid seperti tentang sifat 20 yang mengajarkan tauhid rububiyah (Allah Swt., satu-satunya pencipta, pemberi rizki, menghidupkan dan mematikan, serta mengatur semua urusan makhluk-makhluk-Nya tanpa ada sekutu bagi-Nya), uluhiyah (Pengesaan Swt., dalam hal ibadah dengan penuh ketaatan dan rendah diri serta cinta pada setiap peribadatan tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun), dan asma‟ wa shifat (Berkeyakinan dengan keyakinan yang pasti tentang nama-nama Allah, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya yang termuat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, tanpa merubah-rubah atau menolak atau menanyakan bagaimana hakekatnya atau menyerupakan dengan makhluk-Nya). Selain itu juga kitab Fiqih tentang praktik

wudhu, shalat, mandi jenazah, mandi junub dan ilmu yang lainnya. Kemudian disampaikan materi tersebut dengan menggunakan bahasa yang baik sehingga apa yang beliau ajarkan dapat dipahami, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut penulis, berdasarkan observasi dari materi yang diajarkan dalam pengajian, maka jenis Majelis Taklim Hidayatul Muslimin ini termasuk jenis majelis al-Tadris. Hal ini sudah dijelaskan pada BAB II sebelumnya bahwa jenis majelis taklim menurut Muniruddin Ahmad ada 7 macam, diantaranya sebagai berikut:

1) Majelis al-Hadits

Majelis ini biasanya diselenggarakan oleh ulama atau guru yang ahli dalam bidang Hadits.

2) Majelis al-Tadris

Majelis ini adalah lembaga yang kegiatan pengajarannya di bidang Hadits secara khusus memakai istilah Hadits, sedangkan kelas disiplin lainnya bila disebut dengan Majelis fikih, Majelis nahwu, atau Majelis kalam. Jadi Majelis fikih, nahwu atau kalam dapat disebut dengan Majelis al-Tadris. Jadi apabila kegiatannya khusus Hadis maka hanya akan disebut al-Hadis dan tidak dapat disebut Majelis al-Tadris.73

3) Majelis al-Munazharah

Majelis ini biasanya dipergunakan sebagai sarana untuk perdebatan mengenai suatu masalah oleh para ulama.

4) Majelis Muzakarah

73

Departemen Agama Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, Rekonstruksi Sejarah

Majelis ini adalah lembaga dari inovasi murid-murid yang belajar Hadits, seperti sanad, mazori, perawi dan lain-lain.

5) Majelis Syu’ara

Majelis ini adalah lembaga untuk belajar syair dan juga sering diikutkan dalam kontes perlombaan para ahli syair.

6) Majelis al-Adab

Majelis ini adalah lembaga untuk membahas masalah adab yang meliputi puisi, silsilah, dan laporan bersejarah bagi orang-orang yang terkenal.

7) Majelis al-Fatwa dan al-Nazar

Majelis ini adalah lembaga untuk sarana pertemuan dalam mencari keputusan suatu masalah dibidang hukum kemudian difatwakan. Disebut juga Majelis al-Nazar karena karakteristik Majelis ini adalah perdebatan antara ulama fiqih atau hukum-hukum Islam.

Nampak jelas jika ditinjau dari pengertian jenis-jenis Majelis Taklim menurut Muniruddin Ahmad tersebut bahwa Majelis Taklim Hidayatul Muslimin termasuk Majelis al-Tadris, karena Majelis Taklim tersebut merupakan lembaga yang tidak hanya menjelaskan masalah hadits saja (satu disiplin ilmu), tetapi juga membahas tentang kajian Fikih, Tauhid, Tasawuf, dan lain-lain.

g. Pendanaan

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan penulis seperti yang dijelaskan pada penyajian data sebelumnya bahwa mengenai pengelolaan terhadap pendanaan

yang ada di Majelis Taklim Hidayatul Muslimin ini cukup baik, hanya saja perlu adanya upaya dari pengurus untuk meningkatkan kesejahteraan majelis taklim ini dalam hal pendanaan agar kegiatan tetap bisa dijalankan semaksimal mungkin. Seperti menyediakan dan membagikan kotak amal kesetiap-tiap tempat tertentu yang biasa didatangi oleh banyak orang, membentuk Badan Amil Zakat, menyusun proposal dana untuk diajukan ke Kementrian Agama dan lain sebagainya. Karena berdasarkan data yang diperoleh penulis sekarang ini, Majelis Taklim Hidayatul muslimin tidak memiliki pemasukan dana yang menjanjikan, bahkan pengurus sendiri tidak melakukan pembukuan terhadap pengelolaan pendanaan ini, sehingga ketika penulis membutuhkan arsip mengenai pemasukan dan pengeluaran pendanaan pada Majelis Taklim Hidayatul Muslimin menjadi kesulitan merincikannya kembali. Maka penting bagi pengurus memperhatikan hal tersebut, agar diketahui perkembangan dana dari setiap tahun ketahun berikutnya.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Majelis Taklim Hidayatul Muslimin

Selama 12 tahun Majelis Taklim Hidayatul Muslimin telah berlangsung, beragam faktor yang dapat mempengaruhi perkembangannya. Berdasarkan hasil penelitian yang telah ditelusuri penulis selama dilapangan, secara umum faktor-faktor yang telah mempengaruhi perkembangan Majelis Taklim Hidayatul Muslim ini terbagi dua, yakni faktor pendukung dan penghambat.

a. Faktor pendukung

Berdasarkan hasil wawancara seperti yang dijelaskan pada penyajian data sebelumnya bahwa faktor pendukung inilah sebab dari ketertarikan jamaah untuk selalu bisa meluangkan waktunya berhadir mengikuti pengajian, yakni muallim, kitab pengajian, lingkungan strategis dan kesungguhan jamaah. Menurut penulis, hal yang demikian itu memang telah memberikan pengaruh yang besar jika dilihat dari fungsinya dalam hal Perkembangan Majelis Taklim Hidayatul Muslimin.

b. Faktor penghambat

Berdasarkan hasil wawancara seperti yang dijelaskan pada penyajian data sebelumnya bahwa faktor penghambat struktur organisasi, pendanaan dan pandangan masyarakat inilah yang sering menjadi kendala bagi para pengurus dan jamaah untuk melaksanakan kegiatan. Walaupun demikian, penulis dapat melihat bahwa para pengurus dapat mengatasi permasalahan tersebut dengan bijaksana, sehingga kegiatan pengajian dan peringatan kebudayaan Islam dapat terlaksana se-efektif mungkin.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis terhadap Perkembangan Majelis Taklim Hidayatul Muslimin (2003-2015 M) bahwa terdapat beberapa nilai-nilai pengetahuan yang menggambarkan eksistensi dari lembaga tersebut, yakni sebagai berikut:

1. Majelis Taklim Hidayatul Muslimin adalah salah satu pusat lembaga pendidikan keagamaan (Islamic Centre) bagi semua kalangan masyarakat yang masih berstatus pelajar pada pendidikan formal dan yang sudah tidak berstatus pelajar pada pendidikan formal.

2. Majelis Taklim Hidayatul Muslimin berorientasi pada dakwah memberikan pengajaran agama Islam yang fardhu kifayah dan fardhu „ain kepada jamaahnya .

3. Majelis Taklim Hidayatul Muslimin menjadi tempat berkumpulnya orang-orang Islam, dengan mengikuti kegiatan pengajian menjadikan pusat silaturrahmi umat beragama Islam.

4. Majelis Taklim Hidayatul Muslimin adalah pusat konseling Islam mengenai permasalahan agama, keluarga dan sosial kemasyarakatan.

5. Majelis Taklim Hidayatul Muslimin menjadi pusat pengembangan budaya dan kultur agama Islam.

Dalam dokumen BAB IV LAPORAN HASIL PENELITIAN (Halaman 31-39)

Dokumen terkait