• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Masyarakat Nias di Gunungsitol

IDENTIFIKASI LOKASI PENELITIAN

2.2 Masyarakat Nias di Gunungsitol

2.2.2 Perkembangan Masyarakat Nias di Gunungsitol

Dahulu masyarakat Nias sudah memiliki mbanua (perkampungan) disekitar Luaha Nou (sekarang menjadi Kota Gunungsitoli). Mbanua tersebut merupakan tempat dari leluhur ketiga marga (zebua, harefa dan telaumbanua) yang bersatu untuk membentuk kota Gunungsitoli. Mbanua tersebut merupakan perkampungan awal yang ada dan telah dibentuk sebelum kota Gunungsitoli ada. Kumpulan dari beberapa mbanua tersebutlah yang nantinya menjadi satu daerah yang dinamakan Hili Gatoli atau Gunungsitoli. Adapun tujuh kampung (mbanua) pertama yang ada, yaitu.

23

a. Banua Hilihati

Banua Hilihati adalah kampung pertama yang didirikan disekitar muara sungai Nou di pusat Kota Gunungsitoli. Kampung ini didirikan oleh seorang raja yang bernama Löchözitolu. Beliau adalah orang yang pertama menemukan daerah yang nantinya menjadi kota Gunungsitoli.

Adapun pendapat yang dikemukakan oleh alm F. Zebua (1996:48) tentang asal-usul kampung tersebut. Menurut beliau dahulu setelah terjadi sebuah peperangan besar yang disebut peperangan Öri Do, Penduduk kampung Ononamölö dan Onozitoli banyak yang pindah ke arah utara sampai ke daerah Nihayöu. Penduduk kampung Ononamölö pindah total hingga kampung itu runtuh. Di tempat mereka pindah, sebagian penduduk ada yang menganggap tempat itu membawa sial, tidak serasi, dan berefek negatif. Sehingga penduduk tersebut sebagian kembali meninggalkan daerah mereka dan terus mencari daerah yang cocok. Setelah beberapa generasi kemudian, seseorang keturunan raja yaitu baginda Löchözitölu kembali menemukan daerah disekitar Saita Göröba. Di daerah tersebut baginda Löchözitölu mempunya putra bernama Toli’ana’a. Suatu Hari putra baginda tersebut yang biasa dipanggil Katoli meninggal lalu dikuburkan di sekitar gunung tersebut. Lalu Bukit disebut dinamakan Hili Gatoli (Gunung Sitoli). Bukit terseut membentang di sebelah barat pusat Gunungsitoli (sekarang menjadi perkuburan Cina). Karena Pemukiman Hili Gatoli dianggap sial, mereka sekeluarga pindah ke bukit sebelah bawahnya. Di situ Baginda Löchözitölu mendirikan rumah sebagai bakal kampung. Tetapi beberapa saat kemudian, puteri beliau meninggal dunia dan dikuburkan sekitar bukit itu. Puteri itu bernama Futi Hati dan di aplikasikan ke nama daerah tersebut, sehingga menjadi Hili Hati (Gunung Hati). Dan pada akhirnya Löchözitölu pun meninggal dan dikuburkan di daerah tersebut. Banua Hilihati menjadi tempat pemukiman pertama yang ada di daerah Luaha Nou atau kota Gunungsitoli

(F.Zebua 1996:51). Daerah ini terletak di pusat kota Gunungsitoli, tepatnya di dekat lapangan Merdeka Gunungsitoli.

b. Banua Hilina’a

Kampung (mbanua) ini adalah kampung yang didirikan oleh keturunan baginda Löchözitölu, yaitu Bawögowasa Zebua. Mbanua Hilina’a terdapat di atas bukit pusat kota Gunungsitoli sekarang. Mbanua tersebut merupakan mbanua ke 2 yang ditempati masyarakat Nias di kota Gunungsitoli (F. Zebua 1996:51). Sampai sekarang masyarakat disini banyak ditinggali oleh suku Nias yang bermarga Zebua.

c. Banua Dahana

Mbanua Dahana ini didirikan oleh bangsawan dari Onozitoli, yaitu Bawölaraga Harefa. Disinilah pemukiman mado (marga) Harefa yang pertama. Keturunan Balugu Bawölaraga Harefa berkembang menjadi leluhur banua Dahadanö, Sogawu-gawu, dan Sisobahili (F.Zebua 1996:52). Mayoritas yang tinggal di daerah tersebut adalah masyarakat yang bermarga Harefa. Kampung ini terletak di bagian atas desa Mudik, kota Gunungsitoli.

d. Banua Sifalaete

Mbanua Sifalaete didirikan oleh keturunan Balugu Tumba’ana’a Harefa, yaitu Sinungaluo Harefa. Beliau bermukim di atas perbukitan sebelah atas kampung Dahana dan mendirikan pemukiman kedua mado Harefa. Keturunannya berkembang menjadi leluhur Ombolata. Lawindra, Lauru dan Sihare’ö (F. Zebua 1996:52-53). Kampung ini terletak di pesisir pantai yang ada di sebelah selatan kota Gunungsitoli. Bila dari Bandar Udara Binaka Gunungsitoli, kita akan melewati kampung tersebut sebelum sampai di pusat Kota Gunungsitoli.

25

e. Banua Lasara

Kampung ini didirikan oleh keluarga Harimao Harefa dan menjadi kampung ketiga mado Harefa (F.Zebua 1996:53). Kampung ini terletak di desa mudik sekarang. Kampung ini banyak dihuni oleh Dawa yaitu orang yang bukan asli suku Nias (biasanya disebut pada orang yang beragama muslim, seperti aceh, padang, jawa, dll). Karena kampung ini dihuni oleh dawa, maka sebagai adat istiadat terutama dalam upacara perkawinan berbeda dengan tradisi masyarakat Nias. Hal ini disebabkan karena perbedaan agama dimana mayoritas agama muslim yang tinggal di kampung tersebut memakai sistem upacara perkawinan berdasarkan syariat islam (Yas Harefa 3 Mei 2012).

f. Banua Bonio

Daerah ini didirikan oleh baginda Börömbanua Telaumbanua. Sebelumnya beliau tinggal di Onozitoli, yaitu kampung yang terletak di Nias bagian utara. Namun akibat karena terjadinya perpecahan dan ketidak cocokan tentang prinsip disaat musyawarah perevisian hukum adat perkawinan yang menyebabkan bentrok fisik, beliau lari ke daerah Mo’awo (daerah pelabuhan sebelah utara kota Gunungsitoli) untuk menemui saudara-saudaranya. Ternyata di tengah perjalanan, dia ditangkap dan dianiaya oleh sekelompok orang yang kontra dengannya. Lalu dia dilepaskan didaerah tersebut dan dibiarkan pergi. Setelah kejadian itu, beliau tidak melanjutkan perjalanannya lagi, namun beliau mendirikan rumah dan banua Bonio. Ini menjadi pemukiman ketiga di kawasan Sungai Nou sekaligus menjadi pemukiman pertama bagi mado Telaumbanua (F.Zebua 1996:53). Kampung ini sekarang terletak di desa saombö,sebelah utara kota Gunungsitoli.

g. Banua Fadoro dan Lasara

Kampung tersebut didirikan didaerah Iraono Geba, Tuhemberua, Onozitoli-Sifaoro’asi. Kampung ini didirikan oleh penduduk yang diusir kampung tetangganya (Sihare’ö) karena alasan perkembangan desa. Kampung menjadi pemukiman mado Telaumbanua yang kedua, dan mayoritas yang tinggal dikampung tersebut adalah masyarakat Nias yang bermarga Telaumbanua (F. Zebua, 1996:54). Sekarang kampung ini terletak di atas bukit sebelah utara kota Gunungsitoli.

Setelah terbentuknya ke 7 mbanua tersebut, maka keturunan dari 3 leluhur tersebut yaitu Zebua, Harefa, dan Telaumbanua (sitölu tua) mengadakan Fondrakö Bonio Ni’owuluwulu, yaitu upacara adat untuk pengesahan penyatuan daerah (F. Zebua, 1996:55). Hal ini diadakan karena adanya persamaan hukum adat dan adat istiadat, lalu sekaligus menjadi pengesahan untuk membagi wilayah teritorial. Adapun wilayah tersebut adalah:

1. Wilayah untuk mado (marga) Zebua adalah kawasan tengah, terbentang antar anak sungai Bogalitö sebelah utara sampai sungai Nou sebelah selatan.

2. Wilayah untuk mado (marga) Harefa adalah kawasan sebelah selatan, berbatasan dengan sungai Nou dan bagian mado Zebua.

3. Wilayah untuk mado (marga) Telaumbanua adalah kawasan sebelah utara, yang berbatas pada anak sungai Bogalitö dengan mado Zebua.

Selanjutnya sitölu tua ini mulai bersatu dan saling bekerja sama untuk membangun Luaha Nou (Gunungsitoli) dalam segi perekonomian hingga pemerintahan. Setelah itu ketiga leluhur tersebut (sitölu tua) memilih sebuah pemimpin untuk memimpin dan memerintah daerah tersebut (F.Zebua 1996:55) . Kepala pemerintahannya disebut Salawa Sitölu Tua yang artinya orang yang memimpin ketiga leluhur.

Seiring perkembangan zaman, Luaha Nou (Kota Gunungsitoli sekarang) semakin berkembang, dan didatangi orang-orang dari luar dan akhirnya dijajahi Belanda (VOC) pada

27

tahun 1840 (F.Zebua 1996:65). Lama kelamaan karena terjadinya akulturasi dan kontak budaya, maka Hili Gatoli yang diterjemahkan dan disebut oleh orang dari luar pulau Nias menjadi Gunungsitoli (Man Harefa 3 Juni 2012).

Populasi dan adat istiadat masyarakat Nias pun mulai berkembang sesuai dengan perubahan zaman. Adat istiadat masyarakat Nias di Gunungsitoli pun perlahan-lahan mulai berubah, akibat terjadinya inkulturasi dan kontak budaya lainnya. Banyak masyarakat Nias yang pada akhirnya kawin dengan suku di luar Nias, seperti Aceh, Minangkabau, dan Dawa lainnya. Hal ini menyebabkan sebagian perubahan terjadi, khususnya dalam adat-istiadat perkawinan.

Dahulu kala sebelum masuknya agama Kristen dan Isla, seluruh masyarakat Nias memakai babi sebagai makanan atau pemberian penghargaan kepada mertua atau petinggi lainnya, tetapi sekarang hal ini hanya berlaku kepada masyarakat Nias yang beragama Kristen saja. Hal ini disebabkan karena babi diharamkan oleh masyarakat beragama Islam, sehingga otomatis masyarakat Nias yang beragama islam tidak melakukan upacara tersebut. Pada umumnya masyarakat Nias yang beragama Islam mengikuti upacara dan adat istiadat menurut syariat Islam, tidak menurut adat-istiadat Nias lagi (Yas Harefa 3 mei 2012).

Pada tahun 2005, Nias terkena gempa berkekuatan 8,3 SR yang menewaskan 500 lebih penduduk. Mayoritas korban yang meninggal berasal dari Gunungsitoli. Kota Gunungsitoli sempat menjadi kota mati untuk beberapa hari, kemudian bantuan dari luar datang dan akhirnya Gunungsitoli kembali aktif. Sejak pasca, perputaran ekonomi di Gunungsitoli tergolong cepat. Hal ini disebabkan karena banyaknya orang dari luar pulau Nias (luar negeri maupun luar daerah) yang datang dan memberi bantuan sekaligus membuka usaha yang baru disana (Man Harefa 5 Februari 2012). Oleh sebab itu, perekonomian masyarakat Nias di Gunungsitoli semakin lama semakin baik.

Dalam segi kesenian, dahulu kita masih bisa melihat alat musik Nias yang masih eksis, seperti Lagia, Nduri danga, Nduri mbewe, doli-doli. Namun sejak tahun 1995 alat musik tersebut semakin lama semakin hilang dan hampir punah. Bapak Man Harefa selaku sekretaris Dinas pariwisata pada saat itu (Februari 2012) mengutarakan bahwa pada tahun 2010, pemerintah Kabupaten Nias merevitalisasi alat tersebut dan kembali melestarikannya agar alat-alat musik tersebut bisa kembali diaktifkan dengan cara mempertunjukannya disetiap acara-acara kesenian yang ada di Gunungsitoli (seperti Pesta Budaya Nias) maupun di luar Gunungsitoli (seperti di Pekan Raya Sumatera Utara, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan pertunjukan lainnya). Hal ini menunjukan bahwa pemerintah mempunyai kesadaran dan berupaya untuk mempertahankan warisan kebudayaan tersebut, terutama dalam segi kesenian.