• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

A. Landasan Teori

4. Perkembangan Nilai Agama dan Moral Anak Usia Dini

Dengan demikian metode pembiasaan dapat digunakan tatkala guru menjadi seorang model yang baik, sehingga nanti akan diikuti oleh siswa.

Dimana dalam hal ini guru juga harus mengikuti kegiatan keagamaan sebagai sarana proses internalisasi nilai agama dan moral.

bertingkah laku), moral enotion (artinya apa yang dirasakan oleh seseorang setelah melakukan sesuatu), dan moral judgement (artinya alasan yang dipakai orang dalam mengambil keputusan). (Susilawati, 2009 : 2).

Selanjutnya perlu diketahui baik guru maupun orang tua bahwa perkembangan agama pada anak ini sangatlah penting dan perlu diberikan kepada anak sejak dini, karena memiliki beberapa tujuan khusus seperti: Membantu anak agar tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan, Membiasakan anak-anak agar melakukan ibadah kepada Tuhan, Mengembangkan rasa iman dan cinta terhadap Tuhan, dan Membiasakan agar perilaku dan sikap anak didasari dengan nilai-nilai agama. (Ananda Rizki, 2017 : 26) Beberapa metode yang dapat diterapkan oleh orang tua dan guru untuk membantu mengembangkan nilai agama dan moral anak, yaitu menggunakan : Metode bercerita, karyawisata, bermain, uswatun hasanah, dan demontrasi.

Pendidikan moral pada anak usia dini juga merupakan suatu kewajiban yang harus diberikan kepada anak melalui sikap, keterampilan, ilmu pengetahuan, dan nilai- nilai yang mampu mempengaruhi anak dalam kehidupan sosialnya. (Safitri., Latifah Nurul, 2019 : 89). Menurut para ahli sebagian perilaku dan kebiasaan manusia diiringi dengan keyakinan Agamanya masing- masing. Agama memiliki pengaruh positif yang tinggi seperti dapat membantu pertumbuhan dan

kesehatan mental seseorang. Selain itu bagi orang muslim didalam Al- Qur’an terdapat banyak ajaran tentang moral yang sudah menjadi kewajiban untuk dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dijelaskan dalam surat Al-Baqoroh ayat 148 sebagai berikut :

اَهيِ ل َوُم َوُه ٌةَه ْجِو ٍّ لُكِل َو ِتا َرْي َخْلا اوُقِبَتْساَف ۖ

ۖ َنْيَأ

اًعي ِم َج ُ هاللَّ ُمُكِب ِتْأَي اوُنوُكَت اَم ِ لُك ٰىَلَع َ هاللَّ هنِإ ۖ

ٌريِدَق ٍّء ْيَش

Artinya : Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Departemen Agama, Hal 2000 : 38 )

Nilai-nilai yang terkandung dalam keagamaan merupakan salah satu alat atau intrumen yang dipandang memiliki peran penting karena bisa membantu seseorang untuk dapat mencapai tujuannya, seperti kebahagian dunia dan akhirat, sosiologis, paktis dan termanifestasikan secara teoritis. (Safitri, Latifah Nurul, 2019 : 88) Oleh karena itu, pendidikan keagamaan merupakan pendidikan dasar yang wajib diberikan pada anak sedini mungkin. Anak- anak yang sudah diajarkan nilai- nilai positif keagamaan sejak dini akan berpengaruh pada perkembangan anak selanjutnya. Karena anak usia dini merupakan anak dimana ketika mereka diberikan pengetahuan yang baru mereka akan cepat menangkap dan menyerap apa yang telah diberikan. Oleh karena itu, penting untuk menanamkan dan mendukung perkembangan agama dan moral anak sejak dini.

Al-Qur’an dan Sunnah-sunnah Nabi Muhammad Saw, merupakan sumber penentu apakah moral seseorang tersebut dapat dikatakan baik atau buru, karena baik dan buruknya moral seseorang tidak dapat diukur dengan (akal) manusia. (Safitri, Latifah Nurul, 2019 : 91) Menurut Michele Borba, (2008 :7-8) ada 7 kebajikan yang dapat membantu perkembangan kecerdasan moral pada anak usia dini, yakni: Empati, Hati nurani, kontrol diri, rasa hormat, kebaikan hati, toleransi, dan keadilan.

Kholberg dalam Susilawati (2009 : 9) menyatakan, bahwa perkembangan moral anak prasekolah ada pada urutan yang paling bawah yakni prakonvensional. Perkembangan moral anak ditahap ini masih berbentuk hedonistik dan fisik, dan diusia ini anak- anak belum mengalami perkembangan moral yang begitu signifikan. Kemudian perlu diketahui diusia prasekolah ada beberapa aspek perkembangan anak yang harus dikembangkang oleh seorang guru dan orang tua yakni seperti, perkembangan fisik, bahasa, sosial-emosional, dan kognitif.

Dimana aspek perkembang tersebut juga dapat membantu anak mengembangkan kemampuan nilai agama dan moralnya. Kemudian diusia prasekolah anak mulai memahami dan mengetahui bahwa terdapat perbedaan ungkapan mengenai aturan baik- buruk, dan salah- benar. Namun penilaian baik dan buruh anak pada tahap ini dipengaruhi dan ditentukan oleh faktor- faktor dari luar.

Melalui penelitiannya Kohlberg dalam Nida, (2013 : 282)

menyatakan bahwa ada tiga tahap perkembangan moral, dimana setiap tahapan terdiri dari dua tahap sehingga jumlahnya ada enam tahap perkembangan moral. Tiga tahap perkembangan moral yang dimaksud adalah tahap prakonvensional, konvensional, dan pasca- konvensional.

Pada anak usia dini usia 4-10 tahun tahap perkembangan moralnya ada pada tahap prakonvensional, dan tahap konvensional terjadi pada anak ketika usia 10-13 tahun, sedangkan pasca- konvensial terjadi ketika anak dalam usia 13 tahun dan seterusnya.

Tahap prakonvensional merupakan tahapan yang dialami oleh anak- anak yang berusia 4-10 tahun. Anak yang berusia ini seringkali bersikap baik, dan cepat tanggap terhadap hal- hal yang dimiliki budayanya terkait baik dan buruk. Akan tetapi mereka mengartikan semua itu dari segi kekuatan fisiknya, misalnya dari segi kebaikan, ganjaran, dan hukuman. Kemudian tingkatan ini terbagi menjadi dua tahap, yakni: Pertama tahap Orientasi hukuman dan kepatuhan.

Orientasi rasa hormat dan hukuman ini tidak begitu dipersoalkan, karena setiap budaya memiliki batas nilai manusiawinya sendiri- sendiri untuk dijadikan penentu terkait sifat buruk dan baik dari suatu tindakan. (Nida, 2013 : 283)

Tahap Kedua yaitu Individualism dan tujuan, ditahap ini perilaku yang benar merupakan perilaku secara instrumentalnya mampu memuaskan segala kebutuhan individu dan terkadang kebutuhan orang lain jugaSuatu hubungan antar manusia dini sama halnya seperti

hubungan ditempat umum, karena memiliki unsur kewajaran, persamaan pembagian, dan hubungan timbal balik. Akan tetapi, semua unsur itu biasanya ditafsirkan secara timbal- balik, fisis pragmatis, bukan tentang rasa terimakasih atau keadilan, dan bukan soal kesetiaan. Hedonisme Instrumental merupakan sebutan dari kedua tahapan tingkatan diatas, dimana sifat hubungan timbal-balik ini memiliki peran, dalam artian masih moral balas dendam. (Nida, 2013 : 285)

Berdasarkan Permendikbud No. 137 tahun 2014 tentang Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak untuk capaian perkembangan nilai agama dan moral anak usia 4- 6 tahun, yaitu sebagai berikut:

a. Mengetahui dan mengenal agama yang dianutnya.

b. Meniru gerakan beribadah dengan urutan yang benar serta dapat mengerjakannya.

c. Mengucapkan doa sebelum dan sesudah melakukan sesuatu.

d. Berperilaku jujur, penolong, sopan, hormat, sportif, dan sebagainya.

e. Mengenal perilaku baik, buruk, dan sopan santun.

f. Membiasakan diri berperilaku yang baik.

g. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

h. Mengetahui hari- hari besar agama.

i. Mengucapkan salam dan membalas salam.

j. Menghormati (toleransi) agama orang lain (Permendikbud No. 137, 2014)