• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pada tahun 1996 total PDRB atas dasar harga berlaku di Indonesia mencapai Rp 510,7 juta dengan kontribusi terbesar berasal dari pulau Jawa sebesar Rp 307,5 juta atau peranannya sebesar 60,2 persen, kemudian diikuti pulau Sumatera sebesar Rp 108,7 juta atau sebesar 21,29 persen terhadap total PDRB atas dasar harga berlaku di Indonesia(lampiran 1). Sementara itu wilayah KTI pada tahun 1996 hanya memberi peranan kurang lebih sebesar 18,51 persen, wilayah yang terbesar memberikan kontribusi berasal dari pulau Kalimantan

sebesar Rp 45,04 juta atau peranannya sebesar 8,82 persen dan wilayah kontri busi terendah berasal dari pulau Nusa Tenggara Timur yaitu sebesar Rp 3,3 juta atau sebesar 0,65 persen.

Pada tahun 2003 kontribusi dari seluruh pulau menurun karena terjadi krisis ekonomi pada tahun 1997 yang mempengaruhi seluruh kegiatan perekonomian di Indonesia. Tetapi untuk Kawasan Timur Indonesia krisis ekonomi tersebut tidak terlalu berpengaruh, ada beberapa daerah yang tidak mengalami penurunan dan kalaupun terjadi hanya turun beberapa persen saja. Dari tahun 1996 sampai 2003 jumlah PDRB atas dasar harga berlaku terus meningkat, hanya di wilayah Maluku saja terjadi penurunan PDRB menjadi Rp 2,7 juta pada tahun 2000. Bila dilihat dari peranan PDRB tiap propinsi terhadap total PDRB di Indonesia, dalam kurun waktu tersebut ada beberapa wilayah yang mengalami penurunan dan kenaikan, misalnya Kalimantan Timur yang memiliki peningkatan kontribusi pada tahun 2000 menjadi 5,52 persen tetapi pada tahun 2003 turun menjadi 4,46 persen. Begitu pula yang dialami untuk daerah Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Nusa Tenggara Barat (Lampiran 1).

Perkembangan PDRB per kapita atas dasar harga konstan setiap propinsi di Kawasan Timur Indonesia antara tahun 1993 sampai tahun 2004 cenderung terus meningkat, tetapi pada tahun 1997 terjadi penurunan PDRB per kapita yang dikarenakan terjadinya krisis ekonomi yang melanda Indonesia. Krisis yang terjadi tidak terlalu berpengaruh di KTI, karena pada tahun tersebut kegiatan perekonomian lebih didominasi di Jawa.

0.000 50.000 100.000 150.000 200.000 250.000 300.000 350.000 400.000 1993 1996 1998 2004 TAHUN P D R B pe r ka pi ta ( R p . 0 0 0 ) KALIMANTAN SULAWESI BALI NUSA TENGGARA MALUKU IRIAN JAYA Sumber: BPS, diolah

Gambar 6. Persentase PDRB per kapita tiap Pulau KTI

Dalam Gambar 6 terlihat perkembangan PDRB per kapita masing-masing wilayah di Kawasan Timur Indonesia. Jika dilihat dari arah perkembangan PDRB per kapita masing-masing wilayah menunjukkan perkembangan pendapatan yang hampir sama yaitu cenderung meningkat, hanya dari segi nilai absolutnya yang jauh berbeda. Dari tahun 1993-2004 nilai PDRB per kapita masing-masing wilayah meningkat secara bertahap. Pada saat memasuki masa krisis tahun 1997, hampir semua wilayah mengalami penurunan nilai PDRB per kapita, kecuali wilayah Sulawesi.

Propinsi yang mengalami penurunan kontribusi antara lain dari propinsi Kalimantan Tengah, Bali, NTB, dan Irian Jaya, adapun persentase PDRB per kapitanya secara berturut-turut pada tahun 1998 sebesar 6.45%, 9,59%, 2,58%, dan 16.98% (Lampiran 7). Bila dilihat dari Gambar 6 pada tahun 1996-2004, Kalimantan adalah wilayah yang memiliki nilai PDRB per kapita paling tinggi bila dibandingkan dengan wilayah lain. Propinsi yang memberikan kontribusi terbesar berasal dari Propinsi Kalimantan Timur, persentase PDRB per kapitanya

secara berturut-turut pada tahun 1996, 1998, dan 2004 sebesar 21,31%, 23,00%, dan 26,33% (Lampiran 7).

Pada tahun 1993-1998 perkembangan PDRB per kapita tidak jauh berbeda, tetapi setelah tahun 1998 dan setelah adanya otonomi daerah tahun 2001, PDRB per kapita dari masing-masing wilayah meningkat tajam. Pada tahun 2004 yang memiliki PDRB per kapita paling tinggi tetap berasal dari wilayah Kalimantan dibandingkan dengan wilayah lainnya, diikuti dengan Sulawesi di posisi kedua, Nusa Tenggara, Irian Jaya, Bali, dan yang terakhir Maluku. Beberapa propinsi yang memberikan kontribusi terbesar pada tahun 2004 antara lain dari propinsi Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Irian Jaya, dan Sulawesi Utara, persentase PDRB per kapitanya secara berturut-turut sebesar 26,33%, 11,68%, 9,68%, dan 8,73% (Lampiran 7).

Persentase PDRB per kapita dari masing-masing propinsi di Kawasan Timur Indonesia mempunyai nilai yang beranekaragam (Gambar 7.). Kalimantan Timur merupakan propinsi yang memiliki PDRB per kapita tertinggi dibandingkan propinsi yang lainnya yaitu rata-rata sebesar 22,72 %, sedangkan daerah yang memiliki PDRB per kapita terendah adalah propinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara yaitu rata-rata sebesar 2,16 % dan 2,30 %. Dari gambar di bawah ini bisa dilihat bahwa ketimpangan pendapatan per kapita antar daerah sangat tinggi. 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 PROPINSI PD R B pe r ka pi ta ( % ) 1993 1996 1998 2004

Sumber : BPS, data diolah

Gambar 7. Persentase PDRB per kapita tiap propinsi terhadap PDRB di KTI

Ketimpangan pendapatan antar kabupaten/kota diukur dengan menggunakan metode CVw. Nilai CVw yang kecil menggambarkan tingkat ketimpangan yang rendah atau tingkat pemerataan yang lebih baik, dan sebaliknya apabila nilai CVw besar maka menggambarkan tingkat ketimpangan yang tinggi

atau tingkat pemerataan semakin timpang. Hasil analisis CVw untuk Kawasan Timur Indonesia dapat dilihat pada Gambar 8.

0.9900 0.9905 0.9910 0.9915 1990 1995 2000 2005 tahun CV w

Sumber : BPS, data diolah

Gambar 8. Indeks kesenjangan pendapatan antar kabupaten/kota di KTI

Pada tahun 1993 nilai CVw yang diperoleh sebesar 0,99113 hal ini berarti bahwa nilai ketimpangan pendapatan antar kabupaten/kota di Kawasan Timur Indonesia pada tahun 1993 tergolong tinggi karena lebih besar dari 0,5. Ketimpangan ini diduga karena Kawasan Timur Indonesia yang terdiri dari beberapa kepulauan yang memiliki kebudayaan, SDA dan SDM yang berbeda-beda serta faktor lain sehingga masing-masing daerah memiliki kemampuan untuk tumbuh yang berbeda-beda pula.

Pada tahun 1996 nilai CVw lebih besar lagi dari tahun 1993 yaitu sebesar 0,991364. Hal ini berarti bahwa tingkat ketimpangan pendapatan antar kabupaten/ kota di Kawasan Timur Indonesia makin besar. Nilai ini diduga karena jumlah penduduk dari masing-masing daerah rata-rata meningkat sehingga nilai CVw-nya makin besar.

Sedangkan untuk tahun 1998 nilai CVw menurun menjadi 0,990768, hal ini diduga karena meningkatnya nilai pertumbuhan dari masing-masing kabupaten atau kota. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya nilai konvergen yang dapat ditunjukan dari koefisien regresinya yang sebesar – 0,0658 (persamaan 8).

Dokumen terkait