Sektor pertanian sendiri terdiri dari tiga sub kategori yaitu pertanian, kehutanan dan perikanan. Di kota Surakarta untuk sub sektor kehutanan tidak memiliki potensi yang dapat diandalkan. Sedangkan untuk tiap tiap sub kategori memiliki kontribusi yang beragam. Total kontribusi dari tiga sub kategori hanya
Analisis ekonomi kota Surakarta tahun iii
L P
1 Pertanian, Perkebunan, Kehutanan,
Perburuhan dan Perikanan 3 286 44 330 0.70
2 Pertambangan dan Penggalian 0 0 0 0 0.00
3 Industri Pengolahan 176 6,822 9,574 16396 34.58
4 Listrik, Gas dan Air Minum 17 378 70 448 0.94
5 Konstruksi 8 753 98 851 1.79
6 Perdagangan, Rumah Makan dan Jasa
Akomodasi 312 6,480 3,631 10111 21.32
7 Angkutan, Pergudangan dan Komunikasi 34 1126 357 1483 3.13
8 Keuangan, Real Estate, Usaha Persewaan dan Jasa Perusahaan
221
5,899 3,016
8915
18.80
9 Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan
122 4,623 4,259 8882
18.73
893 26367 21049 47416
Sumber : Dinsosnakertrans Kota Surakarta
Kesemp atan Kerja Jumlah Perusahaan dan Tenaga Kerja Berdasarkan Sektor Tahun 2015
Jumlah
No Sektor Jumlah
Perusahaan
Tenaga Kerja Jumlah
Tenaga Kerja
menyumbangkan angka pada PDRB sebesar 0,50 %. Hal ini disumbangkan oleh pertanian sebesar 0.50 % dan sub kategori yang lain dibawah dua digit desimal karena saking kecilnya. Pertumbuhan sektor pertanian dari tahun ke tahun sangat bervariasi. Pada tahun 2015 kategori pertanian mengalami kenaikan sebesar 0,52 %.
Sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja hanya 0,70 % terhadap total tenaga kerja yang bekerja di semua sektor.
Di Kota Surakarta sangat sulit untuk bergelut di sektor pertanian. Dengan kecilnya daya serap terhadap angkatan kerja pada sektor pertanian, dan kondisi lahan pertanian yang semakin sempit di perkotaan memungkinkan peminat disektor ini semakin berkurang. Dapat dilihat bahwa sektor pertanian kontribusinya terhadap total perekonomian di Kota Surakarta sangat kecil.
Analisis ekonomi kota Surakarta tahun iii
(Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) %
(1) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
B
599.04 0.00 589.94 0.00 589.56 0.00 600.78 0.00 697.25 0.00 770.26 0.00
(Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) %
(1) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) B 599.04 -0.13 567.20 -5.31 564.81 -0.42 562.50 -0.41 549.59 -2.29 535.17 0.00 Pertambangan dan Penggalian 2015 (2) Sumber : BPS, PDRB Kota Pertambangan dan Penggalian
ATAS DASAR HARGA KONSTAN TAHUN 2010-2015 Kate
gori Uraian
2010
PERKEMBANGAN PDRB SEKTOR PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN KOTA SURAKARTA
2011 2012 2013 2014 2015
(2)
Sumber : BPS, PDRB Kota Surakarta,2015
STRUKTUR PDRB SEKTOR PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN KOTA SURAKARTA ATAS DASAR HARGA BERLAKU TAHUN 2010-2015
Kate
gori Uraian
2010 2011 2012 2013 2014
2. Pertambangan dan Penggalian.
Sektor ini mencakup kegiatan pertambangan, penggalian,
pengeboran, penyaringan, pencucian, pemilihan dan
pengambilan/pemanfaatan segala macam benda non biologis, seperti barang tambang, barang mineral dan barang galian yang tersedia di alam baik yang berupa benda padat, benda cair, maupun benda gas.
Sektor pertambangan meliputi pengambilan dan persiapan pengolahan lanjutan benda padat, baik di bawah maupun di atas permukaan bumi serta seluruh kegiatan lainnya yang bertujuan untuk memanfaatkan bijih logam dan hasil tambang lainnya. Hasil kegiatan ini berwujud batubara, pasir besi, bijih timah, bijih nikel, fero nikel, nikel mattes, bijih bauksit, bijih tembaga, bijih emas dan perak, bijih mangan, belerang, yodium, fosfat, aspal alam, serta komoditas lainnya.
Sektor penggalian mencakup penggalian dan pengambilan segala jenis barang galian yang umumnya berada di permukaan bumi. Hasil kegiatan ini berupa batu gunung, batu kali, batu kapur, koral, kerikil, batu karang, batu marmer, pasir untuk bahan bangunan, pasir silika, pasir kwarsa, koalin, tanah liat dan sebagainya.
Pada dasarnya sektor pertambangan dan penggalian di kota Surakarta, sangat minim bahkan hampir tidak dikarena lahan dan areal di sektor ini sama sekali tidak ada, andaikan itu muncul sifatnya informal hanya sekedar kegiatan rumah tangga.
Analisis ekonomi kota Surakarta tahun iii
3. Industri Pengolahan
Industri adalah bidang yang menggunakan ketrampilan, dan ketekunan kerja (bahasa Inggris: industrious) dan penggunaan alat-alat di bidang pengolahan hasil-hasil bumi, dan distribusinya sebagai dasarnya. Maka industri umumnya dikenal sebagai mata rantai selanjutnya dari usaha-usaha mencukupi kebutuhan (ekonomi) yang berhubungan dengan bumi, yaitu sesudah pertanian, perkebunan, dan pertambangan yang berhubungan erat dengan tanah. Kedudukan industri semakin jauh dari tanah, yang merupakan basis ekonomi, budaya, dan politik.
Selain itu, pengertian industri menurut undang-undang tentang perindustrian adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah , bahan baku, bahan setengah jadi , dan/atau barang jadi menjadi barang nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya, teremasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri. Industri umumnya dikenal sebagai mata rantai selanjutnya dari usaha-usaha mencukupi kebutuhan (ekonomi) yang berhubungan dengan bumi, yaitu sesudah pertanian, perkebunan dan pertambangan yang berhubungan erat dengan tanah. Kedudukan industri semakin jauh dari tanah, yang merupakan basis ekonomi,
budaya dan politik.
Dari sisi structural industri pengolahan mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Pada tahun memberi kontribusi sebesar 7,62% (Rp.1.636.047,97 juta rupiah) meningkat pada tahun 2011 sebesar
Analisis ekonomi kota Surakarta tahun iii
(Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) %
(1) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
C 1,636,047.97 7.62 1,932,330.19 8.08 2,184,220.23 8.27 2,440,165.97 8.39 2,789,563.68 8.70 3,002,990.09 8.58
(Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) %
(1) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
C 1,636,047.97 4.38 1,746,601.12 6.76 1,874,945.81 7.35 2,044,003.66 9.02 2,184,105.67 6.85 2,263,993.97 8.58
Sumber : BPS, PDRB Kota Surakarta,2015
STRUKTUR PDRB SEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN KOTA SURAKARTA ATAS DASAR HARGA BERLAKU TAHUN 2010-2015 Kate
gori Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
(2)
Industri Pengolahan
PERKEMBANGAN PDRB SEKTOR INDUSTRI KOTA SURAKARTA ATAS DASAR HARGA KONSTAN TAHUN 2010-2015 Kate
gori Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
(2)
Industri Pengolahan
Sumber : BPS, PDRB Kota Surakarta,2015
8,08% (Rp.1.932.330,19 juta rupiah) peningkatan terus berjalan pada tahun berikutnya dengan besaran kontribusi 8,27% pada tahun 2012 (Rp.2.184.220,23 juta rupiah) diikuti peningkatan pada tahun 2013 memberi kontribusi sebesar 8,39% (2.440.165,97 juta rupiah) dan kontribusi naik pada tahun 2014 sebesar 8.70% ( Rp.2.789.563,68 juta rupiah). Pada tahun 2015 industri pengolahan mengalami sedikit penurunan kontribusi terhadap total PDRB, walaupun secara kuantitatif nilainya naik.
Hal ini terjadi karena ada pergeseran ke sektor lain. (lihat tabel dibawah).
4. Listrik Gas dan Air bersih
Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih yang merupakan sektor
penunjang seluruh kegiatan ekonomi, dan sebagai infrastruktur yang mendorong aktivitas seluruh sektor terutama sektor industri, ternyata perkembangannya cukup pesat. Hampir seluruh kegiatan di sector Listrik, Gas dan Air Bersih dimonopoli oleh pemerintah, sehingga sektor ini bisa bebas dari persaingan bisnis apapun.
Sektor ini mencakup kegiatan pembangkitan dan
penyaluran tenaga listrik, penyediaan serta penyaluran gas kota kepada konsumen dan kegiatan penampungan, penjernihan,
Analisis ekonomi kota Surakarta tahun iii (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (1) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
D 47,061.77 0.22 51,207.57 0.21 57,110.07 0.22 58,562.30 0.20 60,379.07 0.19 61,213.06 0.17
E 48,303.14 0.22 50,226.77 0.21 49,150.21 0.19 49,564.92 0.17 52,562.74 0.16 55,285.78 0.16
95,364.91 0.44 101,434.34 0.42 106,260.29 0.40 108,127.21 0.37 112,941.82 0.35 116,498.85 0.33
(Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (1) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) D 47,061.77 4.21 50,905.97 8.17 57,293.50 12.55 61,821.35 7.90 63,499.68 2.71 61,092.81 0.17 E 48,303.14 6.54 49,441.81 2.36 48,187.39 -2.54 47,384.05 -1.67 48,594.69 2.55 49,454.24 0.16 95,364.91 100,347.78 5.23 105,480.89 5.12 109,205.41 3.53 112,094.36 2.65 110,547.05 -1.38 2015 (2) Jumlah Sumber : BPS, PDRB Kota (2) Jumlah Sumber : BPS, PDRB Kota
PERKEMBANGAN PDRB SEKTOR PENGADAAN LISTRIK DAN AIR BERSIH KOTA SURAKARTA ATAS DASAR HARGA KONSTAN TAHUN 2010-2015
Kate
gori Uraian
2010 2011 2012
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Pengadaan Listrik dan Gas
Pengadaan Air, Pengl. Sampah, Limbah dan Daur Ulang
STRUKTUR PDRB SEKTOR PENGADAAN LISTRIK DAN AIR BERSIH KOTA SURAKARTA ATAS DASAR HARGA BERLAKU TAHUN 2010-2015
Kate
gori Uraian
Pengadaan Listrik dan Gas
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang
2013 2014
penyediaan dan pendistribusian air bersih kepada rumah tangga, industri, rumah sakit, dan penggunaan komersial lainnya. Walaupun sektor ini penunjang seluruh kegiatan ekonomi dan sebagai infrastruktur yang mendorong aktivitas proses produksi sektoral maupun pemenuhan kebutuhan masyarakat, namun kontribusinya terhadap pembentukan total PDRB masih relatif kecil.
Perkembangan sektor listrik, gas dan air bersih secara
agregat mengalami kenaikan, yaitu sebesar Rp 95.364,91 juta tahun 2010 menjadi Rp 101.434,34 juta tahun 2011. Secara structural terjadi fluktuasi mengalami kenaikan kembali pada tahun 2012. Pada tahun 2010 sektor ini perkembangannya melambat bahkan pada tahun 2015 mengalami perkembangan minus yang artinya bahwa sektor ini mempunyai nilai PDRB lebih kecil dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
5. Konstruksi
Perkembangan pada sektor- sektor ekonomi umumnya diikuti oleh sektor bangunan. Hampir Semua sektor ekonomi mempunyai keterkaitan dengan sektor ini. Namun kontribusinya
Analisis ekonomi kota Surakarta tahun iii
(Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) %
(1) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
F 6,060,192.51 28.23 6,463,871.49 27.04 7,132,200.69 26.99 7,707,302.44 26.50 8,591,705.73 26.80 9,410,744.97 26.90
(Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) %
(1) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
F 6,060,192.51 6.72 6,175,996.77 1.91 6,512,554.87 5.45 6,767,584.32 3.92 7,014,333.33 3.65 7,390,395.31 5.36
2013 2014 2015
(2)
Sumber : BPS, PDRB Kota Surakarta,2015
2014 2015
(2)
PERKEMBANGAN PDRB SEKTOR KONSTRUKSI / BANGUNAN KOTA SURAKARTA ATAS DASAR HARGA KONSTAN TAHUN 2010-2015
Kate gori Uraian
2010 2011 2012
Sumber : BPS, PDRB Kota Surakarta,2015
STRUKTUR PDRB SEKTOR KONSTRUKSI / BANGUNAN KOTA SURAKARTA ATAS DASAR HARGA BERLAKU TAHUN 2010-2015 Kate
gori Uraian
2010 2011 2012 2013
Konstruksi Konstruksi
dalam pembentukan PDRB Kota Surakarta selama periode 2010-2015 berada pada kisaran 26,50 persen sampai 28,23 persen.
Perkembangan di sektor konstruksi secara agregat mengalami kenaikan, yaitu sebesar Rp 6,060 trilyun tahun 2010 menjadi Rp 9,41 trilyun pada tahun 2015. Secara structural mengalami fluktuasi dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2015, yaitu 28,23 % tahun 2010 dan 26,50 % tahun 2015.
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran
Sektor perdagangan sebagai muara dari sektor- sektor yang
memproduksi barang seperti sektor pertanian, sektor
pertambangan dan penggalian serta sektor industri pengolaan biasanya bergerak seirama sektorsektor tersebut. Selam periode 2010-2015 sektor ini merupakan penyumbang terbesar kedua setelah industri terhadap total PDRB Kota Surakarta. Sedang sektor hotel dan restoran mempunyai peran relatif kecil terhadap kontribusi sektor ini.
Seperti sektor yang lain, sektor perdagangan, hotel dan restoran secara agregat juga mengalami kenaikan. Pada tahun 2010 sebesar Rp 6.158.285,91 juta menjadi Rp 9.909.883,65 juta tahun 2015. Secara struktural hampir setiap tahun terjadi fluktuasi, amat
Analisis ekonomi kota Surakarta tahun iii (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (1) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
G 5,113,356.59 23.82 5,839,528.28 24.42 6,167,070.06 23.34 6,839,466.39 23.52 7,307,631.60 22.79 7,893,738.82 22.56
I 1,044,929.32 4.87 1,191,045.72 4.98 1,416,920.94 5.36 1,614,045.03 5.55 1,826,367.28 5.70 2,015,814.83 5.76
6,158,285.91 28.68 7,030,574.00 29.41 7,583,991.00 28.70 8,453,511.42 29.07 9,133,998.89 28.49 9,909,553.65 28.33
(Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (1) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
G 5,113,356.59 6.06 5,647,923.34 10.45 5,764,372.04 2.06 6,193,415.14 7.44 6,461,014.08 4.32 6,730,422.13 22.56
I 1,044,929.32 5.49 1,130,160.17 8.16 1,218,509.72 7.82 1,288,357.53 5.73 1,377,875.81 6.95 1,463,048.48 5.76
6,158,285.91 6,778,083.51 10.06 6,982,881.77 3.02 7,481,772.67 7.14 7,838,889.89 4.77 8,193,470.61 4.52 Jumlah
Sumber : BPS, PDRB Kota Surakarta,2015
2014 2015
(2)
Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum
Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
Jumlah
Sumber : BPS, PDRB Kota Surakarta,2015
PERKEMBANGAN PDRB SEKTOR PERDANGAN DAN AKOMODASI KOTA SURAKARTA ATAS DASAR HARGA KONSTAN TAHUN 2010-2015
Kate
gori Uraian
2010 2011 2012 2013
(2)
Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum
Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
STRUKTUR PDRB SEKTOR PERDAGANGAN DAN AKOMODASI KOTA SURAKARTA ATAS DASAR HARGA BERLAKU TAHUN 2010-2015 Kate
gori Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
variasi naik turunnya perkembangan sektor ini selama lima tahun terakhir.Tahun 2010 sebesar 28,68 % menjadi 28,33 % tahun 2015.
7. Pengangkutan & Komunikasi
Sektor ini mencakup kegiatan pengangkutan umum untuk barang dan penumpang baik melalui darat, laut, sungai dan danau serta udara, termasuk jasa penunjang angkutan dan jasa penunjang komunikasi. Peran sektor ini didominasi oleh angkutan jalan raya, dimana selama periode 2010-2015 kontribusinya terhadap PDRB Kota Surakarta relative stabil berada pada kisaran 13,29 persen sampai dengan 14,00 persen. Jasa penunjang angkutan dan
Analisis ekonomi kota Surakarta tahun iii
(Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) %
(1) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
H 566,181.32 2.64 595,691.62 2.49 639,607.23 2.42 713,390.43 2.45 828,699.95 2.58 932,398.98 2.67 J 2,439,338.58 11.36 2,659,909.56 11.13 2,968,644.77 11.23 3,201,750.06 11.01 3,453,784.47 10.77 3,715,658.93 10.62 3,005,519.90 14.00 3,255,601.19 13.62 3,608,252.00 13.65 3,915,140.49 13.46 4,282,484.41 13.36 4,648,057.91 13.29
(Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) %
(1) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) H 566,181.32 4.89 591,897.31 4.54 630,022.97 6.44 695,071.27 10.32 750,350.60 7.95 811,007.78 2.67 J 2,439,338.58 6.09 2,646,721.83 8.50 2,959,428.76 11.81 3,204,036.98 8.27 3,490,330.91 8.94 3,723,082.11 10.62 3,005,519.90 3,238,619.14 7.76 3,589,451.73 10.83 3,899,108.24 8.63 4,240,681.51 8.76 4,534,089.89 6.92 2014 2015 (2) Jumlah
Sumber : BPS, PDRB Kota Surakarta,2015
ATAS DASAR HARGA KONSTAN TAHUN 2010-2015 Kate gori Uraian 2010 2011 2012 2013 2012 2013 2014 2015 (2) Jumlah
Sumber : BPS, PDRB Kota Surakarta,2015
STRUKTUR PDRB SEKTOR TRANSPORTASI DAN KOMONIKASI KOTA SURAKARTA
Transportasi dan Pergudangan Informasi dan Komunikasi
PERKEMBANGAN PDRB SEKTOR TRANSPORTASI DAN KOMONIKASI KOTA SURAKARTA Transportasi dan Pergudangan
Informasi dan Komunikasi
ATAS DASAR HARGA BERLAKU TAHUN 2010-2015 Kate
gori Uraian
2010 2011
(Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) %
(1) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
K 783,042.54 3.65 874,845.28 3.66 980,309.86 3.71 1,065,842.54 3.67 1,173,873.01 3.66 1,326,074.81 3.79 L 907,497.62 4.23 997,530.77 4.17 1,081,941.05 4.09 1,148,116.83 3.95 1,296,580.03 4.04 1,436,443.80 4.11 M,N 136,373.29 0.64 160,589.58 0.67 181,151.78 0.69 208,386.73 0.72 235,080.88 0.73 272,952.59 0.78 1,826,913.45 8.51 2,032,965.63 8.50 2,243,402.69 8.49 2,422,346.10 8.33 2,705,533.91 8.44 3,035,471.21 8.68
(Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) %
(1) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) K 783,042.54 7.15 818,294.40 4.50 842,704.78 2.98 872,109.50 3.49 907,659.83 4.08 968,341.37 3.79 L 907,497.62 5.80 971,859.64 7.09 1,040,600.25 7.07 1,094,700.86 5.20 1,164,923.59 6.41 1,249,065.08 4.11 M,N 136,373.29 8.00 151,629.26 11.19 162,516.32 7.18 177,726.37 9.36 189,915.26 6.86 207,530.85 0.78 1,826,913.45 20.95 1,941,783.30 22.78 2,045,821.35 17.24 2,144,536.73 18.05 2,262,498.68 17.35 2,424,937.30 8.68 (2) Jumlah
Sumber : BPS, PDRB Kota Surakarta,2015
PERKEMBANGAN PDRB SEKTOR JASA KEUANGAN DAN JASA PERUSAHAAN KOTA SURAKARTA ATAS DASAR HARGA KONSTAN TAHUN 2010-2015
Kate
gori Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
STRUKTUR PDRB SEKTOR JASA KEUANGAN DAN JASA PERUSAHAAN KOTA SURAKARTA ATAS DASAR HARGA BERLAKU TAHUN 2010-2015
Kate
gori Uraian
2010 2011 2012 2013 2014 2015
(2)
Jumlah
Jasa Keuangan dan Asuransi Real Estate
Jasa Perusahaan Jasa Perusahaan
Sumber : BPS, PDRB Kota Surakarta,2015
Jasa Keuangan dan Asuransi Real Estate
komunikasi memberikan kontribusi yang hampir berimbang. Sedangkan angkutan rel memberikan kontribusi yang relatif kecil.
8. Keuangan, Sewa & Jasa Perusahaan.
Sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan identik dengan kegiatan perbankan tidak mengalami fluktuasi, namun masih relatif stabil. Bila ditelaah lebih dalam, sub sektor persewaan ternyata lebih dominan dibanding sektor lainnya. Kontribusi meningkat dari 8,51 persen pada tahun 2010 menjadi 8,68 persen pada tahun 2015. Secara umum sub sektor jasa keuangan mengalami peningkatan, jika pada tahun 2010 kontribusinya sebesar 3,65 persen, maka pada tahun 2015 meningkat menjadi 3,79 persen.
Analisis ekonomi kota Surakarta tahun iii (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) %
(1) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) O 1,387,544.33 6.46 1,454,692.69 6.08 1,630,094.69 6.17 1,772,641.71 6.10 1,888,650.12 5.89 2,086,163.83 5.96 P 785,767.73 3.66 1,055,833.37 4.42 1,286,013.89 4.87 1,534,635.46 5.28 1,734,114.99 5.41 1,877,495.85 5.37 Q 183,228.09 0.85 219,979.97 0.92 265,871.64 1.01 296,594.32 1.02 346,392.98 1.08 385,675.46 1.10 R,S,T ,U 222,461.64 1.04 237,184.76 0.99 250,255.67 0.95 273,487.25 0.94 305,614.62 0.95 326,200.52 0.93 2,579,001.79 12.01 2,967,690.79 12.41 3,432,235.89 12.99 3,877,358.74 13.33 4,274,772.71 13.33 4,675,535.65 13.37
(Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) % (Rp/juta) %
(1) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) O 1,387,544.33 6.03 1,426,534.36 2.81 1,450,191.36 1.66 1,506,447.18 3.88 1,524,921.96 1.23 1,623,466.15 5.96 P 785,767.73 7.20 888,360.44 13.06 982,167.18 10.56 1,060,271.81 7.95 1,144,903.75 7.98 1,223,370.41 5.37 Q 183,228.09 4.67 205,314.81 12.05 220,699.59 7.49 238,715.15 8.16 268,758.62 12.59 285,590.16 1.10 R,S,T 222,461.64 6.61 229,738.50 3.27 239,731.95 4.35 254,181.54 6.03 264,987.02 4.25 273,171.04 0.93 24,566,461.31 92.06 26,672,938.02 8.57 28,135,114.77 5.48 30,116,462.95 7.04 31,893,720.49 5.90 33,716,599.36 5.72 2014 2015 (2) Kate gori Uraian 2010 2011 2012 2013 2013 2014 2015 (2)
PERKEMBANGAN PDRB SEKTOR JASA - JASA LAINNYA KOTA SURAKARTA ATAS DASAR HARGA KONSTAN TAHUN 2010-2015 STRUKTUR PDRB SEKTOR JASA - JASA LAINNYA KOTA SURAKARTA
ATAS DASAR HARGA BERLAKU TAHUN 2010-2015 Kate
gori Uraian
2010 2011 2012
Jasa lainnya Jumlah
Sumber : BPS, PDRB Kota Surakarta,2015
Administrasi Pemerintahan, Jasa Pendidikan Jasa Kesehatan dan Kegiatan
Sumber : BPS, PDRB Kota Surakarta,2015
Administrasi Pemerintahan, Jasa Pendidikan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Jasa lainnya
Jumlah
9. Jasa-jasa
Secara umum sektor jasa- jasa mengalami peningkatan dalam hal kontribusinya terhadap total PDRB Kota Surakarta, pada tahun 2010 kontribusinya sebesar 10,01 persen, pada tahun 2015 sudah mencapai 13,37 persen. Dari tahun ke tahun mengalami perkembangan yang naik walaupun kecil. Sub sektor jasa pemerintah umum memberikan peran lebih besar dibanding sub sektor swasta.
Analisis ekonomi kota Surakarta tahun iii
BAB IV INFLASI
Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi makro yang penting untuk memberikan gambaran tentang perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat. Data IHK juga dapat menunjukan keseimbangan antara permintaan dan penawaran barang dan jasa. Sedangkan angka inflasi menggambarkan perubahan IHK yang terjadi pada suatu periode
waktu tertentu dengan periode waktu sebelumnya.
Secara sederhana inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga-harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Kebalikan dari inflasi disebut deflasi.
Analisis ekonomi kota Surakarta tahun iii
Inflasi adalah kenaikan harga secara umum. Inflasi dikatakan sebagai suatu proses kenaikan harga, yaitu adanya kecenderungan bahwa harga barang meningkat secara terus-menerus. Inflasi juga
merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu.
Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi adalah suatu proses atau peristiwa kenaikan tingkat harga barang-barang secara umum. Dikatakan tingkat harga secara umum karena barang dan jasa itu banyak sekali jumlah dan jenisnya. Ada kemungkinan harga sejumlah barang turun banyak barang lainnya yang justru naik harganya. Kenaikan satu dua barang saja bukan merupakan inflasi, kecuali bila kenaikan harga barang tersebut meluas pada sebagian besar harga barang-barang lainya.
Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (continue) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang. Dengan kata lain,
inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara
kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-memengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan
peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai
penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur
tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah CPI
Analisis ekonomi kota Surakarta tahun iii Inflasi dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun; inflasi sedang antara 10%—30% setahun; berat antara 30%—100% setahun; dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun.
Target atau sasaran inflasi merupakan tingkat inflasi yang harus dicapai oleh Bank Indonesia, berkoordinasi dengan Pemerintah. Penetapan sasaran inflasi berdasarkan UU mengenai Bank Indonesia dilakukan oleh Pemerintah. Dalam Nota Kesepahaman antara Pemerintah dan Bank Indonesia, sasaran inflasi ditetapkan untuk tiga tahun ke depan melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Berdasarkan PMK No.66/PMK.011/2012 tentang Sasaran Inflasi tahun 2013, 2015, dan 2016 tanggal 30 April 2012 sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk periode 2013 – 2016, masing-masing sebesar 4,5%, 4,5%, dan 4% masing-masing-masing-masing dengan deviasi ±1%.
Inflasi Berdasarkan Penyebabnya di bagi menjadi dua yaitu inflasi karena tarikan permintaan atau inflasi permintaan (demand full
inflation) dan inflasi karena kenaikan biaya-biaya produksi (cost push
inflation).
Inflasi permintaan merupakan inflasi yang disebabkan oleh besarnya permintaan masyarakat akan barang-barang. Permintaan total yang berlebihan biasanya dipicu oleh membanjirnya likuiditas di pasar sehingga terjadi permintaan yang tinggi dan memicu perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya volume alat tukar atau likuiditas yang terkait dengan permintaan terhadap barang dan jasa
mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor
produksi tersebut. Meningkatnya permintaan terhadap faktor
produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi
meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam
Analisis ekonomi kota Surakarta tahun iii
situasi full employment dimana biasanya lebih disebabkan oleh rangsangan volume likuiditas dipasar yang berlebihan. Membanjirnya likuiditas di pasar juga disebabkan oleh banyak faktor selain yang utama tentunya kemampuan bank sentral dalam mengatur peredaran jumlah uang, kebijakan suku bunga bank sentral, sampai dengan aksi spekulasi yang terjadi di sektor industri keuangan.
Inflasi karena kenaikan biaya-biaya produksi (cost push inflation),
inflasi ini terjadi karena adanya perubahan tingkat penawaran. Kelangkaan produksi dan/atau juga termasuk adanya kelangkaan distribusi, walau permintaan secara umum tidak ada perubahan yang meningkat secara signifikan. Adanya ketidak-lancaran aliran distribusi ini atau berkurangnya produksi yang tersedia dari rata-rata permintaan normal dapat memicu kenaikan harga sesuai dengan berlakunya hukum permintaan-penawaran, atau juga karena terbentuknya posisi nilai keekonomian yang baru terhadap produk tersebut akibat pola atau skala distribusi yang baru. Berkurangnya produksi sendiri bisa terjadi akibat berbagai hal seperti adanya masalah teknis di sumber produksi (pabrik, perkebunan, dll), bencana alam, cuaca, atau kelangkaan bahan baku untuk menghasilkan produksi tsb, aksi spekulasi (penimbunan), dll, sehingga memicu kelangkaan produksi yang terkait tersebut di pasaran. Begitu juga hal yang sama dapat terjadi pada distribusi, dimana dalam hal ini faktor infrastruktur memainkan peranan yang sangat penting.
Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu.
Analisis ekonomi kota Surakarta tahun iii
Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu. Secara singkat dapat di pilah akibat buruk dari inflasi tersebut.
Inflasi dapat mengakibatkan kesenjangan distribusi pendapatan. Dalam keadaan inflasi nilai harta tetap seperti tanah, rumah, bangunan, pertokoan dan sebagainya akan mengalami kenaikan harga. Kenaikan harga tersebut seringkali lebih cepat dari kenaikan inflasi itu sendiri. Sebaliknya pendapatan riil penduduk berpengha silan rendah merosot. Dengan demikian maka inflasi memperlebar
kesenjangan distribusi pendapatan antara anggota-anggota
masyarakat.
Inflasi juga dapat mengakibatkan pada pendapatan riil merosot. Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil contoh seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiun-nya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di tahun 2003 atau tiga belas tahun kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dari hal tersebut biasanya dalam masa inflasi
kenaikan harga cenderung selalu mendahului kenaikan
pendapatan.Dengan demikian inflasi cenderung menimbulkan kemero- sotan pendapatan riil sebagian besar tenaga kerja.Ini berarti kemakmuran masya- rakat merosot.
Inflasi dapat juga menjadikan nilai riil tabungan merosot. Bagi masyarakat yang menyimpan sebagian kekayaannya dalam bentuk deposito dan tabungan di Bank, dalam masa inflasi nilai riil tabungan tersebut akan merosot, tidak hanya itu masyarakat yang memegang uang tunai pun akan dirugikan karena penurunan nilai riilnya.
Analisis ekonomi kota Surakarta tahun iii
Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat.
Bagi orang yang meminjam uang dari bank (debitur), inflasi menguntungkan, karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya, kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman.
Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil).
Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca
pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan
kesejahteraan masyarakat serta menurunnya daya beli masyarakat.
Inflasi kenaikan harga barang dan jasa secara umum dimana barang dan jasa tersebut merupakan kebutuhan pokok masyarakat atau turunnya daya jual mata uang suatu negara. Inflasi merupakan salah satu penyakit ekonomi di setiap negara. Semua negara baik negara