Perkembangan perbankan secara umum menunjukkan trend peningkatan dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Tingkat kepercayaan masyarakat mengalami peningkatan yang tercermin dari naiknya dana pihak ketiga yang dihimpun oleh perbankan. Fungsi intermediasi perbankan juga mengalami peningkatan dengan kualitas kredit yang masih terjaga yang terindikasi dari masih rendahnya rasio kredit bermasalah.
Pada triwulan I-2012 perkembangan transaksi pembayaran tunai mengalami penurunan. Fluktuasi perkembangan transaksi tunai tersebut dipengaruhi oleh siklus transaksi di masyarakat yang biasanya mengalami peningkatan di triwulan III dan menunjukkan kecenderungan turun di triwulan IV dan triwulan I. Berbeda dengan transaksi pembayaran tunai, volume dan nilai transaksi non tunai melalui instrumen uang giral justru mengalami kenaikan dibandingkan dengan priode sebelumnya.
33..11.. PPEERRKKEEMMBBAANGNGAANN PEPERRBBAANNKAKANN DDAAERERAAHH
Pada triwulan I-2012, perkembangan indikator perbankan secara umum menunjukkan trend yang meningkat. Volume usaha perbankan di Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan pertama 2012 mengalami peningkatan 21,88% (yoy) sehingga tercatat sebesar Rp30,25 triliun. Sementara itu tingkat kepercayaan masyarakat yang tercermin dari penghimpunan dana pihak ketiga sampai triwulan I-2012 tercatat Rp25,55 triliun atau mengalami peningkatan sebesar 23,64% (yoy). Intermediasi yang dilakukan oleh perbankan triwulan awal 2012 mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu sebesar 29,04%
sehingga menjadi sebesar Rp19,21 triliun. Peningkatan kredit tersebut juga diiringi peningkatan kualitas kredit yang tercermin dari penurunan rasio kredit bermasalah dari triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,36% menjadi 2,04% pada triwulan laporan.
Grafik 3.1
Indikator Utama Bank U mum di Provinsi Kepulauan Riau
Grafik 3.2
Perkembangan NPL dan LDR Bank Umum di Provinsi Ke pulauan Riau
2011 2012
Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Triwulan I Total Asset 24,818.94 26,787.30 27,273.06 28,685.52 30,250.54 Total Dana 20,665.76 22,308.67 22,555.91 24,069.09 25,550.96 Total Kredit 14,887.31 16,151.45 17,075.53 18,216.27 19,210.78
NPL 2.79% 2.45% 2.77% 2.36% 2.04%
LDR 72.04% 72.40% 75.70% 75.68% 75.19%
33..11..11.. PEPERKRKEEMMBBANANGAGANN DDAANNAA PPIIHHAAKK KKETETIIGAGA
Laju pertumbuhan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada triwulan laporan menunjukkan tren peningkatan. Dana Pihak Ketiga yang berhasil dihimpun oleh bank umum di Kepulauan Riau hingga akhir triwulan laporan tercatat sebesar Rp 25,55 triliun, dengan pertumbuhan sebesar 23,64% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya.
Sementara itu, pangsa dana pihak ketiga bank umum tidak terjadi pergeseran yang cukup berarti. Hingga akhir periode laporan, pangsa tabungan sebesar 41,82% dan giro sebesar 38,64%, sementara sisanya, pangsa deposito sebesar 19,54%. Simpanan dalam bentuk giro mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu sebesar 35,30% (yoy).
Peningkatan pertumbuhan ekonomi khususnya sektor perdagangan meningkatkan jumlah transaksi dalam bentuk giral. Sementara itu simpanan dalam bentuk tabungan deposito masing-masing mengalami peningkatan sebesar 24,53% (yoy) dan 4,27% (yoy).
Sumber: Bank Indones ia
Sumber: Bank Indonesia
Sumber: Bank Indones ia Grafik 3.3
Pe rke mbangan Pertumbuh an DPK Bank Umum di Ke pulauan Riau
Grafik 3.4
Pe rke mbangan DPK Ban k Umu m Me nurut Jenis Simp an an di Kepulauan Riau
Tabel 3.1
Indikator Bank Umum di Provinsi Kepulauan Riau
33..11..33.. PEPERKRKEEMMBBANANGAGANN IINNTETERRMMEEDDIIAASISI PPEERRBBAANNKKAANN
Perkembangan kredit yang berhasil disalurkan oleh bank umum untuk proyek-proyek yang berlokasi di Kepulauan Riau cukup ekspansif hingga akhir triwulan laporan. Hal ini ditunjukkan dengan total kredit yang disalurkan berdasarkan lokasi proyek di Kepulauan Riau pada triwulan I-2012 tercatat sebesar Rp19,21 triliun atau tumbuh 29,04% (yoy). Meski cukup ekspansif, ruang bagi fungsi intermediasi perbankan khususnya bank umum masih terbuka. Rasio loan to deposit (LDR) pada triwulan laporan baru mencapai 75,19%, di bawah target ideal Bank Indonesia yang berada pada kisaran 78%-100%. Sementara itu risiko kredit bermasalah masih cukup terkendali dengan rasio NPL sebesar 2,04% di bawah target indikatif Bank Indonesia sebesar 5%. Pertumbuhan ekonomi yang cukup baik telah mendorong daya serap kredit yang disalurkan oleh perbankan di Kepulauan Riau pada periode laporan.
Sementara itu, penyaluran kredit menurut jenis penggunaannya kredit investasi mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi pada posisi triwulan I-2012. Akselerasi kredit juga dialami oleh kredit konsumsi dan kredit modal kerja. Pertumbuhan kredit investasi mengalami peningkatan sebesar 52,48% (yoy). Sementara itu pertumbuhan modal kerja meningkat sebesar 24,15% (yoy) sedangkan kredit konsumsi meningkat sebesar 22,22%
(yoy) pada triwulan I-2012.
Meskipun perekonomian global khususnya Amerika Serikat dan Eropa mengalami perlambatan, perekonomian regional Provinsi Kepulauan Riau masih menunjukkan kinerja positif yang tercermin dari peningkatan daya serap kredit di sektor produktif. Berdasarkan
Grafik 3.5
Pe rke mbangan Kre dit yang Disalurkan di Ke pulauan Riau
Sumber: Bank Indones ia
sektor ekonomi, pangsa pembiayaan yang disalurkan bank umum konvensional untuk sektor industri pengolahan, sektor konstruksi dan sektor perdagangan masih dominan di Kepulauan Riau di luar kredit konsumsi.
33..11..44.. PPEERRKKEMEMBBAANNGGAANN BBAANNK K PPEERKRKRREEDDIITATANN RRAAKYKYAATT ((BPBPRR) )
Pada triwulan awal 2012, tidak terdapat penambahan BPR di wilayah Provinsi Kepulauan sehingga jumlah total BPR yang beroperasi masih tetap 41 BPR. Demikian juga dengan kantor cabang, tidak terjadi penambahan pada triwulan laporan sehingga total kantor BPR yang beroperasi di wilayah Provinsi Kepulauan Riau sejumlah 63 kantor.
Kinerja kredit yang disalurkan oleh BPR terus mengalami peningkatan, secara nominal kredit yang disalurkan oleh BPR di Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan I-2012 tercatat sebesar Rp2,98 triliun meningkat 28,87% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan kredit BPR tercatat sebesar 30,93% (yoy) dibandingkan dengan tahun sebelumnya sehingga tercatat Rp2,03 triliun.
Tingkat kepercayaan masyarakat kepada lembaga keuangan mikro ini terus menunjukkan peningkatan yang tercermin dari peningkatan DPK yang dihimpun oleh BPR.
Penghimpunan DPK BPR juga mengalami peningkatan. DPK BPR pada posisi triwulan I-2012 tercatat sebesar Rp2,45 triliun meningkat 25,59% (yoy) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
Diagram 3.1
Pangsa Kredit Me nurut Sektor Ekono mi di Ke pulauan Riau
Perkembangan fungsi intermediasi BPR di Kepulauan Riau menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Jika pada triwulan I 2011 LDR BPR tercatat sebesar 79,25% maka pada triwulan laporan LDR BPR tercatat sebesar 82,62%. Banyaknya jumlah BPR berpengaruh pada tingkat persaingan yang semakin tinggi di sektor kredit mikro. Oleh karena itu, BPR harus lebih jeli untuk menangkap peluang-peluang bisnis baru khususnya untuk kredit sektor produktif.
Kecenderungan BPR di Provinsi Kepulauan Riau lebih banyak menyalurkan kredit untuk sektor konsumsi seperti pembelian kendaraan bermotor maupun perumahan. Hal ini terkonfirmasi oleh data yang menunjukkan kredit konsumsi mendominasi dengan pangsa sebesar 59,71% dari total kredit BPR di Provinsi Kepulauan Riau. Sementara itu, bila ditinjau dari aspek risiko kredit cukup terkendali yang tercermin dari rasio NPLs yang tercatat 2,35%, masih di bawah angka indikatif Bank Indonesia sebesar 5%.
33..11..55.. PPEERRKKEEMMBBAANNGAGANN PEPERRBBAANNKAKANN SSYAYARIRIAHAH
Pangsa asset bank syariah terhadap total asset seluruh bank di Kepulauan Riau terus mengalami trend peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya dan telah melewati angka psikologis 5%. Pada posisi triwulan I-2012 pangsa asset perbankan syariah terhadap total asset tercatat 6,34% lebih tinggi dibandigkan dengan posisi triwulan sebelumnya yang tercatat 5,93%.
Grafik 3.6
Perke mbangan Perkemb angan Indikator BPR di Kepulauan Riau
Sumber: Bank Indones ia
Dilihat dari data historis, aset perbankan syariah terus mengalami peningkatan seiring semakin luasnya informasi mengenai perbankan syariah yang diterima oleh masyarakat di Kepulauan Riau. Dengan demikian, Bank syariah di Kepulauan Riau memiliki peluang yang cukup besar untuk terus mengembangkan pangsa pasarnya dengan jaringan yang lebih luas agar bisa diakses oleh masyarakat baik di perkotaan maupun daerah hinterland.
Apabila dilihat dari aspek intermediasi bank syariah, perkembangan pembiayaan yang berhasil disalurkan oleh bank syariah menunjukkan tren peningkatan hingga triwulan awal 2012 mencapai nominal sebesar Rp1,46 triliun. Sementara itu dana pihak ketiga yang telah dihimpun pada triwulan laporan mencapai Rp1,26 triliun. Financing to deposit ratio (FDR) bank syariah masih relatif tinggi yaitu sebesar 115,36% pada akhir triwulan laporan atau mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat 112,56%. Tingkat FDR yang cukup tinggi dan melampaui 100% ini dipenuhi oleh perbankan syariah dengan cara menggunakan dana pihak ketiga dari rekening antar kantor bank.
3 3. .2 2 . . P PE ER RK KE E MB M B AN A N G G AN A N S SI IS ST TE EM M P PE EM MB B AY A YA A R R AN A N
Perkembangan transaksi pembayaran tunai pada triwulan I 2012 mengalami penurunan. Naik turunnya perkembangan transaksi tunai tersebut dipengaruhi oleh siklus transaksi di masyarakat yang biasanya mengalami peningkatan di triwulan III dan menunjukkan kecenderungan turun di triwulan IV dan triwulan I. Sementara itu, volume dan nilai transaksi melalui instrumen uang giral mengalami peningkatan di banding periode sebelumnya.
Grafik 3.7
Perke mbangan Perkemb angan Indikator Pe rbankan Syariah di Kepulauan Riau
Sumber: Bank Indones ia
33..22..11 TRTRAANSNSAAKKSSII PPEEMBMBAAYAYARARANN TTUUNNAAII 33..22..11..11. . AAlliriranan UUaangng KKaarrttaall MMaassuukk/K/Keeluluaarr
Seperti halnya terjadi di tahun sebelumnya, perkembangan aliran uang kartal di wilayah kerja KBI Batam pada triwulan akhir 2011 kembali mengalami penurunan. Penurunan aliran uang tersebut merupakan bagian dari proses siklikal setiap tahunnya. Sementara itu, belum ada perubahan karateristik net ouflow di KBI Batam di mana outflow hampir selalu lebih besar daripada inflow. Pada triwulan laporan net outflow tercatat Rp504 miliar lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
Kendati terjadi penurunan nett outflow, Bank Indonesia tetap melakukan kebijakan clean money policy secara konsisten yaitu dengan melakukan pemusnahan terhadap uang kartal yang sudah tidak layak edar. Pada triwulan laporan Bank Indonesia di Provinsi Kepulauan Riau telah memusnahkan Uang Tidak Layak Edar (UTLE) dengan jumlah nominal mencapai Rp216,89 milyar atau turun dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp227,48 milyar.
Selain dengan melakukan pemusanahan UTLE, Bank Indonesia juga melakukan kegiatan kas keliling secara rutin ke kabupaten/kota di wilayah Provinsi Kepulauan Riau, seperti Kota Batam, Kota Tanjungpinang, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Anambas dan Kabupaten Lingga. Kegiatan ini bertujuan agar masyarakat di daerah rural dan hinterland juga dapat mendapatkan fasilitas uang rupiah yang masih relative baru dan layak edar.
Sumber: Bank Indones ia Sumber: Bank Indones ia
Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang keaslian uang rupiah, Bank Indonesia juga melakukan sosialisasi tentang ciri-ciri keaslian uang rupiah kepada masyarakat secara periodik. Sosialisasi ini dilakukan di pusat-pusat perbelanjaan seperti pasar (baik modern maupun tradisional) serta pusat pendidikan seperti universitas dan sekolah. Selain kegiatan sosialisasi secara langsung, Bank Indonesia juga melakukan publikasi tentang cirri-ciri keaslian uang rupiah melalui media massa baik cetak maupun elektronik.
33..22..22 TTRRAANNSSAAKSKSII PEPEMBMBAAYYAARARANN NNONON TTUUNNAAI I 33..22..22..11. . KKlliririingng LLookakall
Volume transaksi non tunai melalui instrumen kliring di Kepulauan Riau mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal yang sama juga dibukukan dari sisi jumlah warkat yang dipertukarkan selama triwulan laporan tercatat mengalami peningkatan.
Sementara itu, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap instrumen uang giral masih dapat dikategorikan baik terlihat dari kualitas penyelenggaraan kliring di Kepulauan Riau pada triwulan I-2012 cukup terkendali dengan rendahnya rasio tolakan kliring yang tercatat sebesar 2,35% dari seluruh jumlah warkat yang dipertukarkan turun dibandingkan dengan rasio triwulan sebelumnya yang tercatat 2,65%.
2012
Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I
Lembar 111,776 116,538 118,849 108,865 122,544 Nominal (Rp Miliar) 3,187 3,230 3,399 3,287 3,966
Lembar 2,642 2,892 2,989 2,522 2,362 Nominal (Rp Miliar) 82.19 92.73 109.47 86.96 93.22
Keterangan
Perputaran Kliring
Penolakan Cek/BG Kosong
2011
33..22..22..22. . RReeaal l TTiimmee GGrrososss SeSettttlleemmeentnt ((RRTTGGSS))
Sebagai informasi Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) adalah proses penyelesaian akhir transaksi (settlement) pembayaran yang dilakukan per transaksi (individually processed/ gross settlement) dan bersifat real time (electronically processed), dimana rekening peserta dapat didebit/kredit berkali-kali dalam sehari sesuai dengan perintah pembayaran dan peneriman pembayaran. Selama triwulan berjalan, transaksi keuangan masyarakat yang menggunakan fasilitas BI-RTGS di Provinsi Kepulauan Riau mengalami penurunan dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Secara rata-rata penurunan transaksi BI-RTGS nominal tercatat 24,10% (yoy).
Tabel 3.2 Perkembangan Transaksi Kliring
Sumber: Bank Indones ia
Jika dilihat dari sebaran transaksi di Provinsi Kepulauan Riau, sebagian transaksi BI-RGTS yang dilakukan oleh masyarakat terjadi di Kota Batam. Secara nominal Batam mendominasi transaksi BI-RTGS dengan pangsa sebesar 87,88% diikuti oleh Kota Tanjungpinang dengan pangsa 8,22%. Demikian pula secara volume, transaksi BI-RTGS di Provinsi Kepulauan Riau masih didominasi oleh transaksi masyarakat Kota Batam dengan pangsa 87,51% yang kembali diikuti oleh Kota Tanjungpinang dengan pangsa 8,22%.
2012