BAB III PERKEMBANGAN PERBUATAN MELAWAN HUKUM DI
C. Perkembangan Perbuatan Melawan Hukum dalam Yurisprudensi
Perbuatan melawan hukum terjadi dalam hukum Prancis, dengan mengambil dasar hukum dari hukum Romawi, prinsip perbuatan melawan hukum ini sederhana tetapi dapat menjaring semua perbuatan, yaitu perbuatan melawan hukum yang dirumuskan sebagai perbuatan yang merugikan orang lain, menyebabkan orang yang karena salahnya menimbulkan kerugian tersebut harus mengganti rugi.
Rumusan tersebut diambil dan diterapkan di negeri Belanda, yang rumusannya dapat ditemukan pada Pasal 1365 KUHPerdata. Perkembangan sejarah hukum tentang perbuatan melawan hukum di negeri Belanda sangat berpengaruh terhadap
perkembangan hukum di Indonesia, karena berdasarkan asas konkordansi, kaidah hukum yang berlaku di negeri Belanda akan berlaku di negeri jajahannya yaitu termasuk Indonesia.75
Perkembangan perbuatan melawan hukum dalam yurisprudensi berawal dari satu unsur pada praktik peradilan di Belanda, unsur tersebut muncul karena adanya yurisprudensi yang dikeluarkan oleh Hoge Raad yang menyatakan bahwa norma yang dilanggar bermaksud untuk melindungi kepentingan atau hak dari korban.76
Putusan HR yang dimaksud adalah: Putusan HR 6 Januari 1905 dalam perkara mesin jahit Singer (Singer-naaimachine arrest), Putusan HR 24 November 1905 yang terkenal dengan nama Putusan Prospektus (Prospectus arrest) dan Putusan HR 10 Juni 1910 yang terkenal sebagai Zutphense Waterleiding arrest. Pada perkara mesin jahit Singer, hakim memutuskan bahwa perbuatan pedagang yang menjual mesin jahit Singer dengan nama “mesin jahit Singer yang telah disempurnakan” padahal mesin jahit tersebut sama sekali bukan produk Singer dinyatakan bukan merupakan perbuatan melawan hukum karena tidak semua perbuatan dalam dunia usaha yang bertentangan dengan tata krama dalam masyarakat dapat dianggap sebagai tindakan melawan hukum dalam arti Pasal 1401 BW (Pasal 1365 KUHPerdata).77
Lalu dalam Prospectus arrest dimana putusan hakim yang mencerminkan pendirian yang sempit mengenai pemaknaan “melawan hukum”. Dimana duduk perkaranya adalah seseorang telah mengemukakan keadaan suatu Perseroan
75 Abdulkadir Muhammad, Loc. Cit., h. 264-265.
76 Soetojo Prawirohamidjojo dan Marthalena Pohan, Onrechtmatige Daad, (Surabaya: Djumali, 1979), h. 1
77 Sari Murti Widiyastuti, Asas-Asas Pertanggungjawaban Perdata (Bagian Pertama), (Yogyakarta:
Cahaya Atma Pustaka, 2020), h. 25.
Terbatas dalam suatu prospektus yang isinya melebih-lebihkan dan tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Hal tersebut dilakukan dengan maksud untuk mengundang publik agar turut serta membeli saham perusahaan tersebut.
Persoalannya kemudian, informasi dalam prospektus tersebut telah membawa
“korban”. Pembeli saham perusahaan tersebut menderita kerugian dan kemudian menuntut ganti rugi pada orang yang telah memberikan keterangan yang tidak benar tersebut. HR menolak dengan alasan antara lain bahwa memang benar dipandang dari sudut moral ada kewajiban pada orang untuk berhati-hati dalam memberikan advis-advis finansial, namun kelalaian yang demikian bukanlah merupakan pelanggaran kewajiban hukum dan oleh karena itu, orang yang memberikan advis finansial tidak dapat dituntut ganti rugi berdasarkan perbuatan melawan hukum.78
Pada perkara “Zutphense Waterleiding”, duduk perkaranya adalah Nijhof, penyewa gudang bawah menderita kerugian karena barang dagangannya yang terbuat dari kulit yang disimpan di gudang tersebut terendam air, karena pipa ledeng di gudang tersebut pecah. Ia sudah meminta Nona de Vries untuk menutup kran induk yang terletak dalam ruangan yang disewa oleh Nona de Vries. Nona de Vries tidak menghiraukan permintaan Nijhof tersebut sehingga air benar-benar telah merendam barang dagangannya. Selanjutnya, karena barang-barang Nijhof diasuransikan, maka perusahaan asuransi mengganti kerugian yang diderita oleh Nijhof dan atas dasar itu perusahaan asuransi mendapat subrogasi atas hak-hak yang dipunyai Nijhof terhadap nona de Vries. Perusahaan asuransi menuntut ganti rugi dari Nona de Vries atas dasar onrechtmatige daad. Terhadap kasus ini, hakim telah memberikan pertimbangan hukumnya bahwa sikap Nona de Vries yang menolak
78 Ibid.
menutup kran induk tidak bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku. Oleh karena itu, perbuatannya tidak dapat dikualifikasikan sebagai perbuatan melawan hukum.79
Akibat dari beberapa putusan di atas timbul reaksi ketidakpuasan dari kalangan para sarjana dan masyarakat. tepatnya pada tahun 1919 dalam perkara Cohen v Lindebaum. Sebelum putusan HR 1919, pada tahun 1911 telah dibuat rancangan undang-undang di mana perbuatan melawan hukum diberi penafsiran yang luas sehingga lebih memenuhi kebutuhan pergaulan hidup dalam masyarakat.
Onrechtmatige daad tidak lagi harus didasarkan atas kewajiban hukum yang diatur dengan tegas-tegas dalam undang-undang, tetapi meliputi pula perilaku yang dalam masyarakat dianggap bertentangan dengan ketentuan sosial mengenai kepatutan dan itikad baik. Menurut Asser Rutten, hal demikian dapat dilihat dari rumusan berikut: “………handelt op een wijze die ten eene male in strijd is met de maatschapelijke regelen van betamelijkheid en goeder trouw….”80
Hoge Raad dalam putusan Lindenbaum v.s Cohen memberikan penafsiran tentang perbuatan melawan hukum sebagai perbuatan yang dilakukan baik karena kesengajaan atau kelalaian seseorang yang dapat mengurangi hak dan kepentingan korban atau kewajiban hukum pelaku sendiri. perbuatan tersebut juga bertentangan dengan norma kesusilaan atau kesopanan tentang kehati-hatian dalam berbuat yang berpotensi merugikan hak dan kepentingan orang lain diukur dari kepantasan perbuatan tersebut menurut pandangan umum masyarakat. Putusan ini tidak lagi melihat hak subjektif dan kewajiban hukum si pembuat sebagaimana yang tertuang
79 Ibid. h. 26.
80 Ibid. h. 27.
dalam peraturan perundang-undangan, tetapi juga dapat dinilai dari aspek kesusilaan dan kebiasaan masyarakat. Pasca 1919, Hoge Raad mendefinisikan perbuatan melawan hukum sebagai perbuatan atau kelalaian yang apakah mengurangi hak orang lain atau melanggar kewajiban hukum orang yang berbuat, apakah bertentangan dengan kesusilaan atau bertentangan dengan sikap hati-hati, yang pantas di dalam lalu lintas masyarakat terhadap orang lain atau barangnya.81
Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia yang dihimpun oleh Abdulkadir Muhammad mengenai konsep perbuatan melawan hukum dalam arti luas yaitu:82 melalui Putusan Kasasi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 3191K/Pdt/1984 tanggal 8 Februari 1986 antara M (Penggugat) melawan GLB (Tergugat). Duduk perkaranya ialah Tergugat yang tidak kunjung menikahi Penggugat. Walaupun, Penggugat telah mendesak pihak Tergugat, Tergugat tidak juga mau menikahi Penggugat hingga berlangsung sampai 1 (satu) tahun 4 (empat) bulan mereka hidup bersama. Selama hidup bersama itu, penggugatlah yang menanggung biaya penghidupan keluarga (Tergugat, anak dan orang tua Tergugat), karena Tergugat tidak memenuhi perjanjian untuk menikahi Penggugat, Penggugat merasa bahwa perbuatan tergugat telah merugikan nama baik atau kehormatannya sehingga penggugat menuntut ganti kerugian berdasar pada Pasal 1365 KUHPerdata dan sejumlah uang Rp. 5.000.000,- sebagai pemulihan nama baik atau kehormatan penggugat.
81 Syukron Salam, ‘Perkembangan Doktrin Perbuatan Melawan Hukum Penguasa’, Nurani Hukum, Vol. 1, No. 1, 2018, h. 35.
82 Abdulkadir Muhammad, Loc.cit., h. 266-268.
67 BAB IV
PENYELESAIAN TANGGUNGAN PEMBIAYAAN DENGAN KLAIM ASURANSI JIWA BAGI DEBITUR YANG MENINGGAL DUNIA (STUDI
KASUS PUTUSAN MA 3079 K/Pdt/2019) A. Peristiwa Hukum
Pengertian peristiwa dalam bahasa Indonesia peristiwa diartikan sesuatu kejadian, jadi secara bahasa peristiwa hukum dapat diartikan kejadian yang menimbulkan suatu adanya hukum dapat berlaku atau kejadian yang berhubungan dengan hukum. Aturan hukum terdiri dari peristiwa dan akibat yang oleh aturan hukum tersebut dihubungkan. Peristiwa demikian disebut sebagai peristiwa hukum dan akibat yang ditimbulkan dari peristiwa tersebut sebagai akibat hukum.83
Pada kasus ini terjadi peristiwa hukum antara para pihak, dimana pada perkara ini para nama pihak akan disamarkan yaitu S sebagai pihak Penggugat yang diwakili kuasa hukumnya AH, DKK, para Advokat pada Kantor Hukum A & Rekan melawan PT. MTF sebagai Tergugat I dan PT. AJII sebagai Tergugat II. Dimana Almarhum Suami Penggugat dan menanda tangani Formulir Permohonan Pengajuan Pembiayaan Pembelian Mobil secara kredit kepada pihak PT AA, yang dikemudian hari Almarhum Suami Penggugat mengetahui bahwa yang membiayai kredit mobil adalah Pihak Tergugat I. Dalam pengajuan kredit mobil pada Tergugat I, Almarhum suami Penggugat ternyata juga diikut sertakan oleh Tergugat I pada
83 Pipin Syarifin dan Zarkasy Chumaidy, Pengantar Ilmu Hukum, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), h. 72.
Program Asuransi Jiwa Kredit pada Tergugat II guna meng-cover ketidakmampuan debitur dalam melunasi sisa pinjaman akibat risiko meninggal dunia.
Pada tanggal 20 Juni 2017 Almarhum suami Penggugat menyetor Uang Muka pembelian mobil secara kredit kepada PT. AA serta melakukan pembayaran Premi kepada Tergugat II. Setelah uang muka diterima oleh pihak PT. AA, pada tanggal 22 Juni 2017 Almarhum suami Penggugat menandatangani Berita Acara Serah Terima Nomor : 024/VI/AAP-KTP/2017, tentang Serah Terima 1 (satu) Unit Kendaraan Merk TOYOTA buatan tahun 2017 Jenis Toyota Avanza 1.3 G-M/T Type F653RM-GMMFJ, Nomor Rangka MHKM5EA3JHK070023, Nomor Mesin INR F284255, Warna Silver Metallic, KB. 1947 GA dari Pihak PT. AA. Tergugat II juga menerbitkan Sertifikat Asuransi Mandiri Inhealth No. C 019001 dengan uang pertanggungan sebesar Rp. 310.800.000,- dengan masa berlakunya pertanggungan dimulai sejak tanggal 3 Agustus 2017 sampai dengan tanggal 3 Agustus 2022. Bahwa yang mengadakan ikatan perjanjian Asuransi Jiwa adalah Tergugat I selaku Pemegang Polis dan Tergugat II selaku Penanggung serta Almarhum suami Penggugat selaku Tertanggung.
Almarhum suami Penggugat telah melaksanakan kewajibannya selaku Tertanggung dengan cara melakukan pembayaran Premi atau kontribusi kepada Tergugat II selaku Penanggung, dengan bukti adanya Sertifikasi Asuransi yang diterbitkan oleh Tergugat II pada tanggal 3 Agustus 2017.
Pada tanggal 24 September 2017, suami Penggugat kemudian meninggal dunia, bahwa dengan meninggal dunianya suami Penggugat, menurut hukum hutang kredit Almarhum suami Penggugat terhadap 1 (satu) Unit Kendaraan Merk TOYOTA buatan tahun 2017 Jenis Toyota Avanza 1.3 G-M/T Type
F653RM-GMMFJ, Nomor Rangka MHKM5EA3JHK070023, Nomor Mesin INR F284255, Warna Silver Metallic, KB. 1947 GA dari Tergugat I dianggap lunas karena telah di cover oleh Tergugat II dan Tergugat I harus menyerahkan bukti kepemilikan (BPKB) atas unit mobil a quo kepada Penggugat selaku salah satu ahli waris dari J.
Namun Tergugat I melakukan penagihan sisa hutang Almarhum suami Penggugat kepada Penggugat dan ketika Penggugat mendalilkan bahwa hutang Almarhum suami Penggugat telah lunas karena di cover oleh Tergugat II, Tergugat I malah memberikan kuasa kepada pihak ketiga untuk menarik unit mobil a quo dari penguasaan Penggugat. Bahwa Tergugat II ternyata tidak mau melaksanakan kewajibannya membayar klaim atau manfaat Asuransi yang diajukan oleh Tergugat I kepada Tergugat II dengan alasan yang dibuat-buat dan tidak masuk akal, sehingga akibat penolakan klaim yang diajukan Tergugat II, Tergugat I kemudian melakukan penagihan sisa hutang Almarhum suami Penggugat kepada Penggugat, menahan bukti kepemilikan (BPKB) atas unit mobil a quo serta memberikan kuasa kepada pihak ketiga untuk menarik unit mobil a quo dari penguasaan Penggugat selaku salah satu ahli waris dari almarhum J.
B. Alasan Hukum (Legal Reasoning)
Majelis hakim dalam pertimbangannya menyebutkan bahwa alasan-alasan kasasi yang disampaikan dari pemohon kasasi dapat dibenarkan, oleh karena setelah membaca dan meneliti memori kasasi tanggal 20 Februari 2019 dan kontra memori kasasi tanggal 20 Mei 2019, dihubungkan dengan pertimbangan judex facti dalam hal ini Pengadilan Tinggi Pontianak yang menguatkan putusan Pengadilan Negeri Ketapang telah salah menerapkan hukum, dengan pertimbangan yaitu bahwa pembelian mobil yang dilakukan oleh Almarhum suami Penggugat telah
diasuransikan kepada Tergugat II dengan Nomor C 019001 dengan uang pertanggungan sebesar Rp 310.000.000,00 (tiga ratus sepuluh juta rupiah) dan mulai berlaku tanggal 3 Agustus 2017 sampai dengan 3 Agustus 2022, karena suami Penggugat telah meninggal dunia pada tanggal 24 September 2017 maka menjadi kewajiban Tergugat II untuk menutup sisa hutang Almarhum suami Penggugat kepada Tergugat I, karena suami Penggugat telah mengasuransikan pembelian mobil tersebut dan telah membayar premi asuransi.
Oleh karena itu Mahkamah Agung berpendapat bahwa terdapat cukup alasan untuk mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi S dan membatalkan Putusan Pengadilan Tinggi Pontianak Nomor 79/PDT/2018/PT PTK., tanggal 20 Desember 2018 yang menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Ketapang Nomor 2/Pdt.G/2018/PN Ktp., tanggal 17 Juli 2018.
C. Putusan Hakim
Mahkamah Agung mengadili sendiri perkara ini dengan amar putusan sebagaimana yang akan disebutkan di bawah ini;
Mengadili:
- Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi S tersebut;
- Membatalkan Putusan Pengadilan Pontianak Nomor 79/PDT/2018/PT PTK., tanggal 20 Desember 2018 yang menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Ketapang Nomor 2/Pdt.G/2018/PN Ktp., tanggal 17 Juli 2018;
Mengadili sendiri:
Dalam Konvensi:
Dalam Eksepsi:
- Menolak eksepsi Para Tergugat;
Dalam Pokok Perkara:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;
2. Menyatakan perbuatan Tergugat II yang menolak pembayaran klaim atau manfaat asuransi atas nama Tertanggung J yang diajukan oleh Tergugat I merupakan perbuatan melawan hukum yang merugikan Penggugat sebagai salah satu ahli waris dari almarhum J;
3. Menyatakan perbuatan Tergugat I melakukan penagihan sisa hutang almarhum J kepada Penggugat, menahan bukti kepemilikan (BPKB) unit mobil a quo serta memberikan kuasa kepada pihak ketiga untuk menarik unit mobil a quo dari penguasaan Penggugat merupakan perbuatan melawan hukum yang merugikan Penggugat selaku salah satu ahli waris dari almarhum J;
4. Menyatakan menurut hukum hutang almarhum J kepada Tergugat I telah lunas dan 1 (satu) unit mobil merek Toyota buatan tahun 2017 jenis Toyota Avanza 1.3 G-M/T Tipe F653RM-GMMFJ, Nomor Rangka MHKM5EA3JHK070023, Nomor Mesin INR F284255, warna silver metallic, KB. 1947 GA adalah sah milik almarhum J;
5. Menghukum Tergugat II membayar klaim atau manfaat asuransi atas nama Tertanggung J kepada Tergugat I secara sekaligus dan seketika;
6. Menghukum Tergugat I untuk segera menyerahkan bukti kepemilikan (BPKB) atas 1 (satu) unit mobil merek Toyota buatan tahun 2017 jenis Toyota Avanza 1.3 G-M/T Type F653RM-GMMFJ, Nomor Rangka MHKM5EA3JHK070023, Nomor Mesin INR F284255, warna silver metallic, KB 1947 GA kepada Penggugat tanpa syarat dan beban apa pun juga;
7. Menolak gugatan Penggugat untuk selain dan selebihnya;
Dalam Rekonvensi:
- Menolak gugatan Penggugat Rekonvensi/Tergugat Konvensi untuk seluruhnya;
Dalam Konvensi dan Rekonvensi:
- Menghukum Para Termohon Kasasi untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini sejumlah Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah);
D. Akibat Hukum Terhadap Para Pihak
Akibat hukum adalah segala akibat yang terjadi dari segala perbuatan hukum yang dilakukan oleh subyek hukum terhadap hukum ataupun akibat-akibat yang lain yang disebabkan karena kejadian-kejadian tertentu yang oleh hukum yang bersangkutan sendiri telah ditentukan dianggap sebagai akibat hukum. Singkatnya akibat hukum dapat diartikan akibat dari suatu tindakan hukum. Akibat hukum inilah yang kemudian melahirkan suatu hak dan kewajiban bagi subyek hukum.84
Akibat hukum yang dilakukan oleh Tergugat I yaitu kepada Penggugat yang menurut Majelis Hakim adalah perbuatan melawan hukum melakukan penagihan sisa hutang almarhum J kepada Penggugat, menahan bukti kepemilikan (BPKB) unit mobil serta memberikan kuasa kepada pihak ketiga untuk menarik unit mobil dari penguasaan Penggugat dan Tergugat II yang melakukan perbuatan Tergugat II yang menolak pembayaran klaim atau manfaat asuransi atas nama Tertanggung J yang diajukan oleh Tergugat I. Bahwa artinya unsur-unsur dari perbuatan melawan hukum dalam Pasal 1365 KUHPerdata terpenuhi, yaitu:
1. Adanya suatu perbuatan
2. Perbuatan tersebut melawan hukum.
3. Adanya kesalahan dari pihak pelaku.
84 Suryaningsi, Pengantar Ilmu Hukum, (Samarinda: Mulawarman University Press, 2018), h. 218.
4. Adanya kerugian bagi korban.
5. Adanya hubungan klausula antara perbuatan dengan kerugian.
Akibat hukum terhadap pihak Tergugat I yaitu PT. MTF, majelis hakim menyatakan bahwa perbuatan Tergugat I melakukan penagihan sisa hutang Almarhum J kepada Penggugat, menahan Bukti Kepemilikan (BPKB) unit mobil serta memberikan kuasa kepada pihak ketiga untuk menarik unit mobil dari penguasaan Penggugat merupakan perbuatan melawan hukum. Selain itu Tergugat I juga harus menyerahkan bukti kepemilikan (BPKB) atas 1 (satu) unit mobil kepada Penggugat.
Akibat hukum terhadap pihak Tergugat II yaitu PT AJII, majelis hakim menyatakan bahwa perbuatan Tergugat II yang menolak pembayaran klaim atau manfaat asuransi atas nama Tertanggung J yang diajukan oleh Tergugat I merupakan perbuatan melawan hukum. Oleh karena itu Tergugat II juga harus membayar klaim atau manfaat asuransi atas nama Tertanggung J kepada Tergugat I secara sekaligus dan seketika. Tergugat I dan Tergugat II juga harus membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi sejumlah Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).
Akibat hukum dari putusan hakim terhadap pihak Penggugat yaitu S adalah hutang Almarhum Suami Penggugat yang berinisial J kepada Tergugat I dinyatakan telah lunas dan 1 (satu) unit mobil merek Toyota buatan tahun 2017 jenis Toyota Avanza 1.3 G-M/T Tipe F653RM-GMMFJ, Nomor Rangka MHKM5EA3JHK070023, Nomor Mesin INR F284255, warna silver metallic, KB.
1947 GA adalah sah milik almarhum J.
74 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas mengenai perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh perusahaan pembiayaan konsumen dan perusahaan asuransi jiwa dalam penyelesaian pembiayaan konsumen dengan klaim asuransi jiwa, maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Pengaturan pembiayaan konsumen berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.012/2006 Tentang Perusahaan Pembiayaan Pasal 1 huruf (g), yaitu pembiayaan konsumen (Consumer Finance) adalah kegiatan pembiayaan untuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan pembayaran secara angsuran. Untuk menghindari risiko meninggal dunianya seorang konsumen pada masa belum terselesaikannya perjanjian pembiayaan konsumen tersebut, maka dibutuhkan pihak ketiga sebagai pengambil alih setiap risiko yang mungkin timbul atau dihadapi.
Pihak ketiga tersebut merupakan perusahaan asuransi, salah satu jenis asuransi yang digunakan dalam masyarakat dan perusahaan pembiayaan konsumen adalah asuransi jiwa. Asuransi jiwa itu sendiri terdapat dalam Pasal 302 KUHD yaitu jiwa seseorang dapat dipertanggungkan untuk keperluan orang yang berkepentingan, baik untuk selama hidup ataupun untuk suatu waktu yang ditentukan dengan perjanjian.
2. Perkembangan perbuatan melawan hukum dalam hukum Indonesia diatur berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata, pada awalnya pada pasal tersebut mengandung pengertian secara sempit yaitu tiap perbuatan yang
melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk menggantikan kerugian tersebut. Perkembangan sejarah hukum tentang perbuatan melawan hukum di Indonesia sangat dipengaruhi oleh perkembangan perbuatan melawan hukum yang berlaku di Belanda. Pada praktik peradilan di Belanda, karena banyaknya rasa ketidakpuasaan masyarakat dan para ahli sarjana terhadap putusan-putusan yang telah dikeluarkan sebelumnya berdasarkan arti sempit tersebut maka pada tahun 1919 dalam putusan Lindenbaum v.s Cohen, Hoge Raad mendefinisikan perbuatan melawan hukum dalam arti luas yaitu tidak hanya dinilai dari hak subjektif dan kewajiban hukum si pembuat sebagaimana yang tertuang dalam peraturan perundang-undangan, tetapi juga dapat dinilai dari aspek kesusilaan dan kebiasaan masyarakat.
3. Penyelesaian Putusan MA 3079 K/Pdt/2019, Perbuatan Tergugat I yaitu melakukan penagihan sisa hutang almarhum J kepada Penggugat, menahan bukti kepemilikan (BPKB) unit mobil serta memberikan kuasa kepada pihak ketiga untuk menarik unit mobil dari penguasaan Penggugat dan perbuatan Tergugat II yang melakukan perbuatan menolak pembayaran klaim atau manfaat asuransi atas nama Tertanggung J yang diajukan oleh Tergugat I memenuhi unsur-unsur perbuatan melawan hukum yaitu menyebabkan kerugian kepada Penggugat baik material maupun imaterial, adanya perbuatan, perbuatan tersebut melawan hukum, adanya kesalahan dari pihak pelaku, adanya hubungan klausula antara perbuatan dengan kerugian. Oleh karena itu dalam putusan tersebut, majelis hakim menghukum Tergugat I
untuk menyerahkan bukti kepemilikian (BPKB) kepada Penggugat, menghukum Tergugat II untuk membayar klaim atau manfaat asuransi atas nama tertanggung, dan menyatakan menurut hukum bahwa hutang almarhum J kepada Tergugat I telah lunas dan satu unit mobil tersebut adalah sah milik almarhum J.
B. Saran
Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan yang telah disampaikan di atas, maka penulis memberikan saran sebagai berikut:
1. Masyarakat Indonesia sebagai konsumen pada perusahaan pembiayaan konsumen pada saat ini sudah mulai banyak yang menggunakan asuransi jiwa untuk mengalihkan risiko ketidakmampuan dalam melunasi sisa pinjaman akibat risiko meninggal dunia, maka alangkah lebih baiknya agar perusahaan asuransi jiwa tersebut melaksanakan kewajibannya yaitu membayar klaim atau manfaat asuransi sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh kedua belah pihak pada perjanjian yang dibuat, dan apabila perusahaan asuransi jiwa melakukan penolakan klaim atau manfaat untuk dapat memberikan alasan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku, agar masyarakat Indonesia merasa aman dan terlindungi mengikatkan dirinya dalam perjanjian asuransi jiwa.
2. Diharapkan kepada perusahaan pembiayaan konsumen agar menagih sisa hutang kepada perusahaan asuransi jiwa apabila terdapat perjanjian asuransi jiwa dalam perjanjian pembiayaan konsumen bukan kepada konsumen, karena konsumen sudah melakukan kewajiban pembayaran premi asuransi
maka perusahaan asuransi jiwa sudah selayaknya melakukan kewajibannya yaitu membayarkan klaim atau manfaat asuransi.
3. Terkait dengan Putusan Mahkamah Agung Nomor 3079 K/Pdt/2019, majelis hakim sudah melakukan keputusan sesuai dengan hukum yang berlaku untuk menciptakan keadilan dan kepastian hukum bagi para pihak.
Selain itu, pentingnya pengetahuan dari konsumen, tertanggung ataupun para ahli waris tentang hak dan kewajiban yang tertulis dalam perjanjian pembiayaan konsumen maupun perjanjian asuransi jiwa, agar kedepannya tidak mengalami kerugian yang disebabkan oleh perusahaan pembiayaan konsumen atau perusahaan asuransi jiwa.
DAFTAR PUSTAKA A. Buku
Abdullah, Moch. Anwar, Kamus Umum Asuransi, Kesain Blanc: Jakarta, 1993.
Achdijat, Teknik Pengelolaan Asuransi Jiwa. Penerbit Gunadarma: Jakarta, 1995.
Agustina, Rosa, Perbuatan Melawan Hukum, FH Universitas Indonesia: Jakarta, 2008.
Badrulzaman, Mariam Darus, Kompilasi Hukum Perikatan, PT. Citra Aditya Bakti:
Bandung, 2001.
Black, Henry Campbell, Black’s Law Dictionary, 1993.
Fuady, Munir, Konsep Hukum Perdata, Rajawali Pers: Jakarta, 2015.
___________, Perbuatan Melawan Hukum, Citra Aditya Bakti: Bandung, 2002.
___________, Hukum Tentang Pembiayaan dalam Teori dan Praktik (Leasing, Factoring, Modal Ventura, Pembiayaan Konsumen, Kartu Kredit). Citra Aditya Bakti: Bandung, 1995.
Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Rajawali Pers: Jakarta, 2018.
Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Rajawali Pers: Jakarta, 2018.