• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISA YURIDIS PENERAPAN SANKSI ADMINISTRATIF

A. Daftar Putusan KPPU yang Diajukan Keberatan dan Penyimpangan

2. Amar Putusan

Berdasarkan hasil pemeriksaan sidang di KPPU, Majelis Komisi menjatuhkan putusan terhadap tender Paket Pekerjaan Preservasi dan Pelebaran Bts. Provinsi Riau-Merlung-Sp. Niam tersebut dan memberikan sanksi berupa:

1. Menyatakan bahwa Terlapor I, Terlapor II, dan Terlapor III terbukti secara sah melanggar Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999;

2. Menyatakan Terlapor IV tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999;

3. Terlapor I dihukum dengan membayar denda sebesar Rp 2.745.900.000,00 (dua milyar tujuh ratus empat puluh lima juta sembilan ratus ribu rupiah);

4. Terlapor II dihukum dengan membayar denda sebesar Rp 588.400.000,00 (lima ratus delapan puluh delapan juta empat ratus ribu rupiah);

5. Terlapor III dihukum dengan membayar denda sebesar Rp 588.400.000,00 (lima ratus delapan puluh delapan juta empat ratus ribu rupiah).

6. Memerintahkan para Terlapor I, II, dan III setelah melakukan pembayaran denda untuk melaporkan serta menyerahkan salinan bukti pembayaran denda tersebut ke KPPU.

3. Analisa Penerapan Sanksi Administratif terhadap Persekongkolan Tender oleh KPPU dalam Memutus Perkara No. 18/KPPU-I/2016

Dalam perkara tersebut dinyatakan bahwa Terlapor I, Terlapor II, dan Terlapor III telah melakukan persekongkolan secara horizontal dimana ketiga perusahaan tersebut terbukti telah melakukan kerjasama dalam penyusunan dokumen penawaran dengan bukti adanya kesamaan kesalahan penulisan pada dokumen tersebut, selain itu KPPU juga menemukan fakta bahwa terdapat kesamaan personil yang mengurus dokumen penawaran tersebut, sehingga tentu menjadi indikasi telah terjadinya persekongkolan tender. Di samping itu, terdapat pula hubungan kekeluargaan di antara pengurus ketiga perusahaan tersebut, sebagaimana seharusnya hal tersebut tidak boleh terjadi sebab telah menyalahi peraturan dalam mengikuti tender sebagaimana diatur dalam pasal 117 Undang – Undang Jasa Konstruksi yang menyatakan bahwa “badan-badan usaha yang telah dimiliki oleh suatu atau kelompok orang yang sama atau berada pada kepengurusan yang sama tidak boleh mengikuti pelelangan untuk satu pekerjaan konstruksi secara bersamaan”113

Pokja Wilayah I yang dalam hal ini bertindak sebagai Panitia Tender tidak bertindak sebagaimana yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan, namun justru mengabaikan dan/atau lalai terhadap fakta ketidakwajaran dokumen penawaran Terlapor I, Terlapor II, dan Terlapor III sehingga hal tersebut menciptakan adanya indikasi telah terjadi persekongkolan secara vertikal. Namun dalam hal ini, KPPU

113 Lihat Pasal 17 ayat 6 UU No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi.

menerapkan hukum yang terdapat dalam Putusan Mahkamah Konstitusi RI No. 85/PUU-XIV/2016 yang merupakan pedoman dalam penegakan hukum yang terdapat pada Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 terkait “frasa pihak lain”. Berdasarkan Putusan tersebut Majelis Komisi berpendapat bahwa unsur pelaku usaha lain dan/atau pihak yang terkait dengan pelaku usaha lain untuk Terlapor IV tidak terpenuhi mengingat KPPU tidak memiliki bukti yang cukup yang menunjukkan bahwa Pokja sebagai Terlapor IV telah memfasilitasi PT Jambi Darma Persada sebagai pemenang dalam tender ini. Menurut Majelis Komisi yang dimaksud dengan pihak lain dalam perkara tersebut adalah PT Hanro dan PT Bina Uli yang tidak bertindak sebagai pesaing melainkan sebagai pendamping dari PT Jambi Darma Persada yang pada akhirnya menimbulkan persaingan semu.

Dalam hal ini penulis sependapat dengan pertimbangan Majelis Komisi tersebut karena sebagaimana juga telah diperjelas dan dipertegas dalam pertimbangan Putusan Mahkamah Konstitusi RI No. 85/PUU-XIV/2016 tepatnya dalam poin [3.14.3] yang menyatakan bahwa pemaknaan terhadap “frasa pihak lain” dapat menjangkau siapa saja dan tanpa batas, akan tetapi diharapkan akan menjadi terbatas yaitu sampai pada pihak yang ada kaitannya dengan pelaku usaha. Dan oleh karena itu, KPPU harus memiliki bukti yang cukup untuk membuktikan adanya keterlibatan pihak ketiga dalam menentukan keterkaitannya dengan pelaku usaha. Sehingga untuk membuktikan apakah telah terjadi persekongkolan dalam perkara ini menurut Penulis sudah sangat jelas dan telah memenuhi

unsur dalam Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999.

Mengenai sanksi yang dijatuhkan oleh KPPU sebagai lembaga yang dibentuk untuk melakukan pengawasan dalam dunia persaingan usaha dan berwenang untuk memutus serta menjatuhkan sanksi administratif terhadap pelanggaran Hukum Persaingan Usaha sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 36 huruf i UU No. 5 Tahun 1999, maka dalam beberapa putusannya dapat dilihat bahwa KPPU menjatuhkan sanksi yang berada di luar macam sanksi administratif sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Pasal 47 UU No. 5 Tahun 1999. Sanksi tersebut antara lain melarang terlapor untuk mengikuti tender dalam kurun waktu tertentu, menghukum terlapor untuk tidak menjadi Panitia Tender dalam kurun waktu tertentu, melarang direktur perusahaan selaku terlapor untuk melakukan transaksi komersial termasuk transaksi keuangan, menghentikan praktik peminjaman perusahaan, menghukum para terlapor untuk mengikuti kegiatan tender secara bersama-sama. Dapat diketahui bahwa sanksi-sanksi tersebut berada di luar kewenangan KPPU dan tidak terikat dengan sanksi administratif yang telah diatur dalam Pasal 47 UU No. 5 Tahun 1999 dan menurut Penulis hal tersebut merupakan bentuk pelampauan wewenang yang dilakukan oleh KPPU. Dalam putusan No.

18/KPPU-I/2016 sendiri, KPPU menjatuhkan sanksi administratif berupa denda dan tidak ada menjatuhkan sanksi yang berada di luar bentuk sanksi yang telah disebutkan dalam Pasal 47 UU No. 5 Tahun 1999. Sehingga menurut Penulis, KPPU dalam kewenangannya menjatuhkan sanksi administratif dalam perkara berikut sudah tepat, yaitu dengan menjatuhkan

bentuk sanksi yang masih berada di lingkup yang telah ditetapkan dalam UU No. 5 Tahun 1999.

Terkait denda dalam amar Putusan No. 18/KPPU-I/2016 dapat dilihat bahwa terhadap PT Karya Darma Jambi Persada selaku Terlapor I dijatuhkan sanksi denda sebesar Rp 2.745.900.000,00 (dua milyar tujuh ratus empat puluh lima sembilan ratus ribu rupiah), PT Hanro selaku Terlapor II sebesar Rp 588.400.000,00 (lima ratus delapan puluh delapan juta empat ratus ribu rupiah); dan PT Bina Uli selaku Terlapor III sebesar Rp 588.400.000,00 (lima ratus delapan puluh delapan juta empat ratus ribu rupiah).

Apabila dilihat dalam Pasal 47 huruf g UU No. 5 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa pengenaan denda serendah-rendahnya Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan setinggi-tingginya Rp 25.000.000.000,00 (dua puluh lima rupiah). Maka dalam hal ini sanksi denda yang dikenakan terhadap PT Karya Darma Jambi Persada sudah memenuhi kriteria besaran sanksi yang ditentukan dalam UU No. 5 Tahun 1999. Namun berbeda dengan PT Hanro dan PT Bina Uli yang masing-masing dikenakan sanksi denda yang melampaui ketentuan batas minimum dari besaran denda yang telah ditentukan dalam Undang-Undang.

Menurut Penulis, ketika KPPU menjatuhan sanksi denda di bawah batas minimum yang telah ditentukan dalam Undang-Undang maka hal tersebut merupakan hal yang tidak seharusnya dilakukan. Pengaturan mengenai penghitungan denda sudah tersusun dengan jelas dalam

Peraturan Komisi No. 4 Tahun 2009. Begitu pun dengan besaran denda yang akan dijatuhkan terhadap pelanggar juga telah tertulis yaitu maksimal Rp25.000.000.000 dan minimal Rp1.000.000.000. Apabila KPPU dalam hal ini menjatuhkan denda di bawah batas minimum yang sudah ditetapkan, maka penulis berpendapat bahwa efek jera yang menjadi tujuan dari dijatuhkannya denda tersebut akan menjadi tidak tercapai.

Sehingga putusan KPPU No. 18-I/2016 menurut penulis belum dapat memberikan efek jera bagi pihak pelanggar dikarenakan denda yang dijatuhkan masih sangat jauh dari batas minimum yang telah ditentukan

Di samping itu, terdapat hal menarik yang Penulis temukan dalam amar putusan perkara No. 18/KPPU-I/2016 dimana KPPU tidak menguraikan secara jelas dasar perhitungan denda yang umumnya melibatkan aspek penghitungan penjualan, penentuan nilai dasar, serta pertimbangan mengenai hal-hal yang memberatkan dan/atau meringankan dalam penjatuhan denda sebagaimana diatur dalam Peraturan Komisi No.

4 Tahun 2009 tentang Pedoman Pasal 47 UU No. 5 Tahun 1999.

Menurut Penulis, KPPU sebagai penegak hukum dalam dunia persaingan usaha memang memiliki wewenang untuk menangani perkara yang sedang ditanganinya, namun dalam menjalankan tugas dan kewenangan tersebut Majelis Komisi harus tetap berjalan dalam koridor hukum yang telah ditentukan, yaitu mampu mempertanggungjawabkan putusan yang diputusnya dengan cara menjelaskan secara detail alasan-alasan serta pertimbangan-pertimbangannya dalam setiap putusannya.

Pada perkara ini hal yang demikian tidak tercermin dalam rincian

penghitungan denda oleh KPPU. Hal tersebut tentu dapat berakibat terhadap timbulnya rasa ketidakpercayaan bagi masyarakat yang tercermin melalui pandangan para terlapor atau masyarakat yang dalam hal ini merasa tidak dipenuhinya kepastian hukum secara utuh yang berdampak pada timbulnya citra buruk KPPU.

C. Analisa Yuridis Penerapan Sanksi Administratif terhadap Persekongkolan Tender dalam Putusan Nomor 1/PDT.KPPU/2017/PN JAMBI Sebagai Putusan atas Upaya keberatan terhadap Putusan KPPU yang Memutus Perkara Nomor 1/PDT.KPPU/2017/PN JAMBI.

1. Kasus Posisi

Dalam perkara persaingan usaha diatur mengenai upaya hukum yang dapat dilakukan oleh pelaku usaha. Pasal 44 UU No. 5 Tahun 1999 menyatakan pada ayat (2) dan ayat (3):114

“Pelaku Usaha dapat mengajukan keberatan kepada Pengadilan Negeri selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari setelah menerima pemberitahuan putusan tersebut.”

“Pelaku usaha yang tidak mengajukan keberatan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (2) dianggap menerima putusan komisi.”

Pada tanggal 21 November 2017, telah dibacakan putusan KPPU terhadap PT Karya Darma Jambi Persada, PT Hanro, dan PT Bina Uli. Ketiga perusahaan tersebut berkedudukan di Kota Jambi sehingga pengadilan negeri yang berwenang untuk mengadili perkara ini adalah Pengadilan Negeri Jambi.

Pada perkara ini Pemohon I yaitu PT Karya Darma Jambi Persada

114 Lihat Pasal 44 ayat (2) dan (3) UU No. 5 Tahun 1999.

dan Pemohon III yaitu PT Bina Uli mengajukan permohonan keberatan pada tanggal 14 Desember 2017. Sementara Pemohon II yaitu PT Hanro mengajukan Permohonan Keberatan mengenai putusan tersebut di Pengadilan Negeri Muara Bulian pada tanggal 18 Desember 2017, dan oleh karena itu keberatan ini diajukan dengan persyaratan dan dalam tenggat waktu yang ditentukan dalam Pasal 44 ayat (2) UU No. 5 Tahun 1999, sehingga keberatan ini diterima.

Pasal 4 ayat (4) Perma RI No. 03 Tahun 2005 tentang Tentang Tata Cara Pengajuan Upaya Hukum Keberatan Terhadap Putusan KPPU berbunyi:115

“Dalam hal keberatan diajukan oleh lebih dari 1 (satu) Pelaku Usaha untuk putusan KPPU yang sama tetapi berbeda kedudukan hukumnya, KPPU dapat mengajukan permohonan tertulis kepada Mahkamah Agung untuk menunjuk salah satu Pengadilan Negeri disertai usulan Pengadilan mana yang akan memeriks keberatan tersebut.”

Berdasarkan hal tersebut, maka melalui Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia tanggal 12 Februari 2018 Nomor 37/KMA/SK/II/2018, Pengadilan Negeri Jambi ditunjuk untuk memeriksa dan memutus keberatan yang diajukan oleh para pelaku usaha terhadap Putusan KPPU Nomor 18/KPPU-I/2016.

Dalam permohonan keberatannya, ketiga pemohon memberikan penjelasan singkat mengenai pokok perkara dan alasan-alasan yang menguatkan dalilnya dalam mengajukan keberatan. Adapun kesimpulan dari poin pembelaan pihak Pemohon Keberatan yaitu:

115Mahkamah Agung Republik Indonesia, Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2005 tentang Tata Cara Pengajuan Upaya Hukum Keberatan terhadap Putusan KPPU , Pasal 4 ayat (3).

a. Termohon keberatan tidak mempertimbangkan Perpres No. 54 tahun 2010, Perpres No. 70 Tahun 2012 dan Perpres No. 4 Tahun 2015 yang menjadi dasar Investigator dalam LDP dan aturan yang dipakai oleh semua pihak dalam tender tersebut.

b. Termohon keberatan dalam putusannya mengabaikan kesaksian dan keterangan saksi-saksi dari Pemohon Keberatan dan keterangan saksi-saksi yang diajukan Investigator yang menyatakan bahwa perusahaan mereka tidak dirugikan.

c. KPPU tidak mampu membuktikan apakah 46 (empat puluh enam) peserta tender lainnya tidak melakukan penawaran pada tender a quo akibat adanya tekanan dari para Pemohon Keberatan;

d. Bahwa KPPU pada pertimbangan putusannya hanya berdasarkan alat bukti tertulis yang didapat dari Terlapor IV, tanpa didukung alat bukti lain seperti keterangan saksi yang hadir di persidangan;

e. Bahwa KPPU keliru mempertimbangkan keterangan Ahli IT yang diajukan Investigator dalam memberikan kesimpulan, tanpa memeriksa alat komputer yang dipakai PT Karya Darma Jambi Persada, PT Hanro dan PT Bina Uli;

f. Bahwa Termohon Keberatan memeriksa dan memutuskan perkara berbeda dengan tuduhan Investigator dalam LDP nya. Dimana Investigator KPPU menuduh pelanggaran Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 tanpa perubahan oleh Mahkamah Konstitusi, sementara Termohon Keberatan memutus perkara a quo berdasarkan Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 dengan perubahan

oleh Putusan Mahkamah Konstitusi No. 85/PUU-XIV /2016, sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum;

g. KPPU menjatuhkan sanksi denda kepada para Terlapor dengan tidak menguraikan secara jelas dasar perhitungan denda, dan mempertimbangkan hanya semata-mata mengacu pada pedoman Peraturan KPPU, dan tidak mempertimbangkan dan menggali nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat, sumber hukum yang dapat diterapkan, dan perkembangan Hukum itu sendiri;

h. KPPU dalam menjatuhkan sanksi denda tidak mempertimbangkan bahwa Pekerjaan Preservasi dan Pelebaran Bts. Provinsi Riau-Merlung-Sp. Niam APBN Tahun Anggaran 2016 telah selesai 100

% dan diterima dengan baik oleh Pemerintah pada tanggal 06 Januari 2016.

Melalui hal tersebut, dalam kesimpulan poin pembelaan pihak Pemohon Keberatan sebagaimana yang diuraikan di atas maka dapat diketahui bahwa terdapat dalil baru yang dimasukkan di luar bantahan terhadap telah terjadinya pelanggaran Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 yaitu berupa bantahan terhadap sanksi denda yang dianggap tidak sesuai oleh Para Pemohon Keberatan karena hal tersebut dirasa mengabaikan rasa keadilan dan telah mengabaikan fakta terhadap hasil tender tersebut.

2. Amar Putusan

Adapun putusan Pengadilan Negeri atas upaya keberatan yang diajukan oleh para Pemohon, secara umum menguatkan apa yang

sebelumnya telah diputuskan oleh KPPU. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan Pihak Termohon Keberatan mengenai pelanggaran Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 dalam pelaksanaan tender tersebut, maka Pengadilan Negeri Jambi menyatakan sepakat dengan KPPU selaku Termohon Keberatan. Sehingga terhadap tuntutan untuk membatalkan Putusan KPPU No. 18/KPPU-I/2016 yang didasarkan pada Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 tidak diterima oleh Pengadilan Negeri. Namun sepanjang mengenai konsekuensi sanksi atas pelanggaran tersebut, Majelis Hakim memiliki pertimbangan yang berbeda.

Adapun isi dari amar putusan Pengadilan Negeri Jambi No.

1/PDT.KPPU/2017/PN JMB secara lengkap adalah:

1. Menerima Permohonan Keberatan dari Para Pemohon;

2. Memperbaiki amar Putusan Komisi Pengawasan Persaingan Usaha Nomor 18/KPPU-I/2016 Tanggal 21 November 2017, sehingga menjadi:

a. Menyatakan Bahwa Terlapor I, Terlapor II, dan terlapor III terbukti secara sah dan menyakinkan melanggar pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan persaingan Usaha Tidak Sehat;

b. Menyatakan Bahwa Terlapor IV tidak terbukti secara sah dan menyakinkan melanggar pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan persaingan Usaha Tidak Sehat;

c. Menghukum Terlapor I membayar denda sebesar Rp.500.000.000,- (Lima ratus juta rupiah) yang harus disetor ke Kas negara sebagai setoran pendapatan denda Pelanggaran dibudang usaha Satuan Kerja komisi Pengawas persaingan Usaha melalui Bank pemerintah dengan Kode Penerimaan 423755 (pendapatan denda pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha);

d. Menghukum Terlapor II membayar denda sebesar Rp.250.000.000,-(dua ratus lima puluhjuta rupiah) yang harus disetor ke Kas negara sebagai setoran pendapatan denda Pelanggaran dibudang usaha Satuan Kerja komisi Pengawas persaingan Usaha melalui Bank pemerintah dengan Kode Penerimaan 423755 (pendapatan denda pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha);

e. Menghukum Terlapor III membayar denda sebesar Rp. Rp.250.000.000,-(dua ratus lima puluhjuta rupiah) yang harus disetor ke Kas negara sebagai setoran pendapatan denda Pelanggaran dibudang usaha Satuan Kerja komisi Pengawas persaingan Usaha melalui Bank pemerintah dengan Kode Penerimaan 423755 (pendapatan denda pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha);

f. Memerintahkan Para Terlapor setelah melakukan Pembayaran denda, maka salinan bukti pembayaran denda tersebut dilaporkan dan diserahkan ke KPPU.

3. Menghukum Para Pemohon membayar biaya perkara secara tanggung renteng yang sampai hari ini ditetapkan sejumlah Rp703.500,00 (tujuh ratus tiga ribu lima ratus rupiah).

Apabila dilihat dari amar putusan di atas, maka perubahan amar yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri Jambi terhadap amar Putusan KPPU terletak pada pengurangan jumlah denda yang harus dibayarkan oleh para Pemohon Keberatan. Dimana terhadap Pemohon I jumlah denda yang harus dibayarkan menjadi Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sedangkan terhadap Pemohon II dan Pemohon III masing-masing menjadi Rp 250.000.000.

3. Analisa Penerapan Sanksi Administratif terhadap Persekongkolan Tender dalam Putusan Pengadilan Negeri No. 1/PDT.KPPU/2017/PN JMB

Dalam Putusan No. 1/Pdt.KPPU/2017/PN.Jmb, dengan melihat berbagai fakta dan juga data yang timbul selama pemeriksaan di KPPU, Majelis Hakim menyatakan setuju terhadap amar putusan Majelis Komisi sepanjang mengenai dinyatakannya bersalah para Pemohon Keberatan terkait dengan pelanggaran Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999. Namun terkait dengan sanksi yang dijatuhkan dalam perkara tersebut, dalam

pertimbangannya Majelis Hakim berpendapat bahwa seharusnya Majelis Komisi menguraikan pertimbangan tentang dasar perhitungan penjatuhan denda yang dibebankan kepada Para Pemohon. Selain itu Majelis Hakim juga menyatakan dalam pertimbangannya bahwa dengan telah selesainya pekerjaan Preservasi dan Pelebaran Bts. Provinsi Riau-Merlung-Sp. Niam serta telah diterima baik oleh Pemerintah, maka keadaan tersebut seharusnya dapat dijadikan pertimbangan oleh Majelis Komisi sebagai bentuk hal yang meringankan bagi Pemohon Keberatan ketika menjatuhkan sanksi denda terhadap para terlapor dalam perkara ini. Di samping itu, Majelis Hakim juga menilai bahwa pekerjaan tersebut tidak menunjukkan fakta adanya pelaku usaha yang dirugikan sebab selain Para Pemohon Keberatan, tidak ada pelaku usaha lain yang mengajukan penawaran.

Terkait putusan No. 18/KPPU-I/2016 yang hanya menjatuhkan sanksi administratif berupa denda, maka Pengadilan Negeri sebagai lembaga yang berwenang untuk melakukan upaya hukum keberatan terhadap putusan KPPU juga hanya mendasarkan pertimbangannya terhadap putusan dan berkas perkara yang diterimanya. Sehingga dalam hal ini, Pengadilan Negeri juga hanya menjatuhkan sanksi administratif berupa denda terhadap para Pemohon Keberatan yang terbukti bersalah melanggar UU No. 5 Tahun 1999.

Merujuk pada putusan No. 1/Pdt.KPPU/2017/PN.Jmb, Penulis berpendapat bahwa putusan tersebut juga tidak mampu untuk mewujudkan tujuan dari dijatuhkannya sanksi denda tersebut terhadap Pemohon

Keberatan. Sebab Penulis juga tidak melihat adanya uraian penghitungan denda yang seharusnya dicantumkan oleh Majelis Hakim dalam sebuah putusan yang memberikan sanksi denda. Selain itu, putusan yang diberikan Majelis Hakim dalam hal ini juga berada di bawah batas minimum sebagaimana yang telah ditentukan dalam UU No. 5 Tahun 1999. Besaran denda yang diberikan oleh Majelis Hakim malah semakin kecil dibandingkan dengan denda yang diberikan oleh Majelis Komisi sebelumnya.

Dalam Peraturan Komisi No. 4 Tahun 2009 tentang Pedoman Tindakan Administratif telah diatur apa saja faktor-faktor yang digunakan untuk menentukan proporsi nilai penjualan sebuah kasus. Persekongkolan tender merupakan jenis pelanggaran yang paling berat dalam persaingan usaha dan hal tersebut menjadikan bahwa pelangaran tender akan memperoleh denda yang berat.116

Berdasarkan uraian tersebut, maka Penulis berpendapat bahwa putusan Majelis Hakim terkait denda juga tidak sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Komisi No. 4 Tahun 2009. Hal tersebut tentunya memperlihatkan adanya inkonsistensi antara putusan Majelis Komisi dan Majelis Hakim terhadap UU No. 5 Tahun 1999 dan Peraturan KPPU No. 4 Tahun 2009 yang seharusnya dijadikan acuan dalam menyelesaikan permasalahan dalam kasus ini. Selain itu, sikap penegak hukum yang seperti ini juga sangat berdampak pada timbulnya krisis kepercayaan dan kosongnya rasa kepastian hukum juga keadilan dari para pelaku dunia

116 Lihat Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha No. 4 Tahun 2009 Tentang Pedoman Tindakan Administratif, hal. 9.

usaha dan juga masyarakat, sebab tidak jarang banyak sekali ditemukan dalam prakteknya bahwa putusan yang dikeluarkan tidak memberikan denda yang besarnya sesuai dengan ketentuan yang telah diatur bahkan tidak mengatur penjabaran dari penghitungan denda itu sendiri.

114 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan dalam skripsi ini, maka Penulis menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Permasalahan yang sering muncul dalam dunia persaingan usaha adalah mengenai persekongkolan tender. Hal tersebut disebabkan oleh tingginya nilai yang ada pada suatu proyek tender dimana sumber dana proyek tender tersebut berasal dari APBN/APBD sehingga hal tersebut membuat para pelaku usaha berlomba – lomba dalam memenangkan suatu tender.

Faktor lainnya adalah dikarenakan pada suatu pengadaan proyek tender masih banyak ditemukan tender yang dilakukan secara tertutup sehingga membuat hal tersebut mempermudah dilakukannya suatu persekongkolan.

Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999 telah memberikan defenisi mengenai persekongkolan dalam tender dan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Komisi No. 2 Tahun 2010 tentang Pedoman Larangan Persekongkolan Dalam Tender yang dikeluarkan oleh KPPU sebagai Komisi yang berwenang untuk mengawasi pelaksanaan kegiatan dalam dunia persaingan usaha, serta telah diberikan pemahaman lebih lanjut mengenai pihak yang terkait dalam kegiatan tender dalam Putusan Mahkamah Konstitusi No. 85/PUU-XIV/2016. Dapat kita lihat bahwa seluruh proses dalam suatu tender dimanipulasi sehingga terlihat seolah-olah telah terjadi proses tender atau proses persaingan yang sebenarnya namun pada faktanya yang terjadi adalah persaingan semu yang sebelumnya telah

diatur oleh sesama pesaing. Penerapan hukum oleh Majelis Komisi dan Majelis Hakim terhadap perkara Tender pada Paket Pekerjaan Preservasi dan Pelebaran Bts. Provinsi Riau-Merlung-Sp. Niam tersebut sudah sesuai dengan Hukum Persaingan Usaha di Indonesia, yaitu dengan menyatakan bahwa Terlapor I, Terlapor II, dan Terlapor III adalah bersalah. Putusan

diatur oleh sesama pesaing. Penerapan hukum oleh Majelis Komisi dan Majelis Hakim terhadap perkara Tender pada Paket Pekerjaan Preservasi dan Pelebaran Bts. Provinsi Riau-Merlung-Sp. Niam tersebut sudah sesuai dengan Hukum Persaingan Usaha di Indonesia, yaitu dengan menyatakan bahwa Terlapor I, Terlapor II, dan Terlapor III adalah bersalah. Putusan

Dokumen terkait