PERKEMBANGAN PONDOK PESANTREN AL-MANAR DESA BENER, KECAMATAN TENGARAN, KABUPATEN SEMARANG
G. Perkembangan Pondok Pesantren Al Manar 1983-
Sebagai salah satu lembaga pendidikan dan kemasyarakatan pondok pesantren mempunyai peranan dalam mengembangkan santri yang akan berguna nanti ketika sudah terjun di masyarakat. Pesantren adalah milik masyarakat luas sekaligus menjadi panutan berbagai keputusan sosial, politik, agama dan etika.
54
profil Pondok Pesantren Al-Manar Desa Bener, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, 2016.
44
Pada tahun 1983, merupakan masa dimana Pondok Pesantren Al- Manar di Desa Bener, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang mulai normal kembali dan mulai berkembang serta melakukan pembaharuan- pembaharuan, yang sebelumnya Pondok Pesantren mengalami goncangan karena pengaruh suhu politik di Indonesia.
Pada masa kepemimpinan Kyai Fatkhurrohmanlah Pondok Pesantren Al-Manar mulai mengalami banyak perkembangan. Diantarnya yaitu pembaharuan nama Pondok Pesantren menjadi nama “Al-Manar” yang sebelumnya Pondok Pesantren mempunyai nama “As Suyuthiyyah”. Dan juga Pada masa kepemimpinan Kyai Fatkhurrohman, Masjid lama yang dibangun oleh Kyai Haji Djalal Suyuthi dipugar, bangunan Pondok Pesantren ditambah dan juga pendidikan formal dimasukan ke dalam kurikulum Pondok Pesantren. Pada tahun 1985, didirikanlah Madrasah Tsanawiyah, menyusul pada tahun 1989 didirikan pula Madrasah Aliyah. Terakhir pada tahun 1992, Kyai Fatkhurrohman mendirikan Yayasan Al- Manar sebagai wadah yang lebih formal.
Sepeninggal Kyai Fatkhurrohman pada tanggal 28 Juli 1993, masa kepemimpinan Kyai Fatkhurrohman dilanjutkan oleh menantu Kyai Fatkhurrohman yang bernama Kyai Muhammad Imam Fauzi. Pada masa kepemimpinan Kyai Muhammad Imam Fauzi, Madrasah Aliyah diubah menjadi Madrasah aliyah Keagamaan (1994/1995). Pada masa kepemimpinan Kyai Muhammad Imam Fauzi ini pula jumlah Santri
45
mengalami peningkatan yang berasal dari Jawa dan juga luar Jawa. Namun pada tanggal 11 Mei 2000, Kyai Muhammad Imam Fauzi meninggal dalam usia 35 tahun. Sepeninggal Kyai Muhammad Imam Fauzi, masa kepemimpinan Pondok Pesantren digantikan oleh Kyai As‟ad
Haris Nasution sampai saat ini, Kyai As‟ad Haris Nasution merupakan
putra dari Kyai Fatkhurrohman.55
Pada masa kepemimpinan Kyai As‟ad Haris Nasution juga banyak
mengalami perkembangan, baik di bidang pendidikan, life skill maupun pembangunan.
c. Tradisi yang dapat dipertahankan Pondok Pesantren Al Manar
Sejarah telah menunjukkan bahwa pada awalnya Pondok Pesantren Al-Manar berperan sebagai lembaga pendidikan tradisional yang relatif mapan. Hal ini menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Al-Manar pada awalnya lebih banyak mempertahankan bagaimana kesinambungan pemurnian ajaran Islam dari tarikan akulturatif berbagai unsur sistem kepercayaan lokal ataupun asing, yang dianggap dapat menyimpangkan Islam dari keasliannya.
55
Wawancara dengan Bapak As’ad Haris Nasution (Pengasuh), pada tanggal 22
46
Pemeliharaan kesinambungan tradisi ini diwujudkan Pondok Pesantren Al-Manar pada kajian pengajaran yang terfokus pada
bidang Al-Qur‟an dan kitab kuning. Pengajaran dilakukan dengan
metode yang bersifat tradisional dan sangat sederhana, untuk
pengajaran Al-Qur‟an dilakukan secara langsung yaitu tiap santri
mengaji dihadapan pengasuh atau pemimpin Pondok Pesantren Al- Manar. Sedangkan untuk kitab kuning dilakukan dengan metode bandongan dan sorogan. Untuk pengajaran kitab kuning ini pengelolaannya dipercayakan pada pengurus Pondok, santri senior dan juga para santri yang sudah menyelesaikan pendidikan di Pondok Pesantren Al-Manar.
Pemeliharaan tradisi tidak hanya diwujudkan pada sistem pengajaran, akan tetapi juga pada gaya hidup yang terlihat dalam kegiatan rutinitas keseharian yang dilakukan para santri. Salah satu ciri dari gaya hidup pesantren salaf atau tradisional adalah adanya sekat dengan dunia luar Pesantren, kalaupun ada kegiatan yang berada di luar Pondok hanya sebatas untuk mengadakan ziarah ke makam dan makan sehari-hari untuk santri putra. Hal ini dikarenakan dunia luar dianggap sebagai dunia yang penuh dengan kemaksiatan, sedangkan kemaksiatan akan menghambat kecerdasan seorang santri dalam penerimaan ilmu. Oleh karena itu Pondok Pesantren Al-Manar memiliki aturan yang berkaitan dengan aktivitas santri diluar Pondok Pesantren untuk para santrinya. Bentuk aturan itu antara lain tidak
47
diperbolehkan bagi para santri berada di luar lingkungan Pondok Pesantren tanpa seizin dari pihak pengasuh atau pengurus pondok, tidak diperbolehkan keluar malam hari, serta apabila akan pulang ke rumah harus terlebih dahulu meminta izin kepada pengasuh.
Untuk menegakkan peraturan tersebut Pondok Pesantren Al- Manar menerapkan sanksi bagi santri yang melanggar peraturan- peraturan tersebut. Sanksi tersebut antara lain, dimasukan kedalam air, didenda dengan jumlah nominaltertentu, dan sanksi yang paling berat adalah dikeluarkan dari Pondok Pesantren Al-Manar.
Disatu sisi peran penting pesantren adalah penerjemah dan penyebar ajaran-ajaran Islam dalam masyarakat. Oleh karena itu pesantren berkepentingan menyeru masyarakat dengan berlandaskan
komitmen amar ma‟ruf nahi munkar. Adapun wujud dari pengabdian
Pondok Pesantren Al-Manar terhadap masyarakat adalah didirikanya majlis taklim. Pendirian majlis taklim ini mendapat sambutan positif dari masyarakat luar, karena peluang dan kesempatan bagi kaum muslimin dan muslimat untuk memperdalam ilmu keagamaan. Tujuan utama didirikanya majlis taklim selain untuk meningkatkan pengetahuan keilmuan tentang keagamaan bagi warga masyarakat juga mempunyai tujuan agar dapat memperkuat persatuan dan
48
kesatuan antara warga masyarakat dengan keluarga besar Pondok
Pesantren Al-Manar serta terjalinya ukhuwah islamiyah yang kokoh.56
Beberapa tradisi di atas merupakan tradisi yang masih dipertahankan hingga sekarang oleh Pondok Pesantren Al-Manar Desa Bener, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang yang merupakan Pondok Pesantren Salaf.
d. Tradisi yang tidak dapat dipertahankan Pondok Pesantren Al Manar
Dari pemaparan di atas bahwa tradisi yang dapat dipertahankan ketika dikombinasikan dengan perubahan zaman tidak selamanya utuh dan murni sebagaimana ketika tradisi tersebut dilahirkan ada aspek dari tradisi tersebut yang hilang atau menjadi satu bentuk yang lain. Selain itu terdapat juga tradisi yang keberadaanya dilingkungan pondok pesantren Al-Manar perlu dipertanyakan kembali eksistensinya. Seperti halnya peran Kyai atau pengasuh dalam aktifitas para santri Pondok Pesantren Al-Manar sedikit demi sedikit mulai memudar. Dari pengamatan penulis, kegiatan-kegiatan inti yang melibatkan Kyai atau pengasuh seperti
sorogan, bandongan dan pengajian al-Qur‟an hanya ditangani oleh
pengurus pondok, santri senior serta para alumni Pondok Pesantren
56
49
Al-Manar. Peran Kyai atau Pengasuh Pondok Pesantren hanya berkisar pada penentu keputusan akhir suatu kegiatan atau peraturan yang diperbolehkan atau tidaknya untuk dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-manar.
Pemaparan penulis tersebut memberikan gambaran bahwa meskipun peran Kyai atau pengasuh cenderung memudar dan mempercayakan perananya pada pengurus pondok, akan tetapi kepercayaan yang diberikan tersebut tidak bersifat penuh dalam artian, ada koridor dimana dalam beberapa hal seperti penentu aturan- aturan dan keputusan akhir kegiatan-kegiatan yang ada di Pondok Pesantren Al-Manar Kyai atau Pengasuh menjadi pihak yang berperan penuh.
Pemeliharaan tradisi yang tidak dapat dipertahankan lainya yaitu mengenai masa belajar seorang santri. Pada awal didirikanya pesantren, para santri yang datang karena ingin belajar agama dan materi-materi lain yang diajarkan Pondok Pesantren Al-Manar hingga betul-betul memahami dan menguasai apa yang ingin dipelajari setelah pengasuh menganggap seorang santri menguasai apa yang dipelajarinya baru santri tersebut berhenti belajar di Pondok Pesantren Al-Manar.
Seiring berjalanya waktu dimana sebagian santri Pondok Pesantren Al-Manar berstatus sebagai pelajar ataupun mahasiswa hal
50
tersebut hilang ditelan sistem yang memiliki aturan yang jelas, sehingga rata-rata masa belajar santri di Pondok Pesantren Al-Manar banyak yag menyesuaikan dengan masa belajar di sekolah ataupun di kampus. Dalam pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa saaat ini santri datang ke Pondok Pesantren Al-Manar adalah untuk bersekolah ataupun berkuliah sehingga Pondok Pesantren Al-Manar hanyalah sebagai tujuan kedua yang sekaligus dimanfaatkan sebagai tempat tinggal yang ekonomis yang tidak terlalu mahal untuk kalangan menengah kebawah, untuk itu para santri lebih mengutamakan pendidikan formal dan mengesampingkan pendidikan yang terdapat di Pondok Pesantren Al-Manar sehingga santri bertindak seenaknya untuk masuk dan keluar Pondok Pesantren Al- Manar.
Disatu sisi mengenai kebebasan santri, pada beberapa dekade silam santri identic dengan hidup yang penuh keprihatinan dan jauh dari kebebasan dalam artian keterbatasan dalam melakukan aktifitas diluar lingkungan Pondok Pesantren Al-Manar. Dalam keseharianya santri disibukkan dengan kegiatan mengaji dan kegiatan lain yang berkaitan dengan pemenuuhan kebutuhan hidup sehari-hari seperti, mencuci, makan dan lain sebgainya. Aktifitas santri di luar pondok hanya diperbolehkan setiap sebulan sekali dengan seizin pengasuh pondok dan tidak semua santri mendapatkan izin dari pengasuh
51
pondok. Izin diberikan jika kebutuhan santri betul-betul mendesakdan hanya terdapat di luar lingkungan pondok.
Berdasarkan pengamatan penulis di lapangan saat ini keadaan tersebut tidak lagi terlihat di lingkungan pondok pesantren Al-Manar, yang terlihat justru keadaan yang sangat kontras, setiap hari santri diberi kebebasan sepenunya untuk melakukan aktifitas diluar pondok.
Beberapa pemaparan mengenai tradisi di Pondok Pesantren Al-Manar di atas merupakan tradisi yang saat ini sudah tidak dapat dipertahankan oleh Pondok Pesantren Al-Manar Desa Bener, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang.