• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

C. Perkembangan Program Keluarga Berencana (KB) Di Kabupaten Pringsewu

Keluarga Berecana merupakan salah satu prioritas program pembangunan yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Pringsewu. Berbagai upaya terus dilakukan untuk mensukseskan pelaksanaan Program KB di kabupaten tersebut.Berdasarkan pemaparan Kabid Advokasi, Data dan Informasi BKKBN Provinsi Lampung Parada Kurnaidi dalam harian saibumi.com pada tanggal 25 Febuari 2015, Pringsewu merupakan wilayah penyangga Ibu kota Provinsi Lampung, baik dari segi letak geografis maupun kelengkapan sarana dan prasarana, termasuk fasilitas kesehatan yang memadai. Menurutnya, Pringsewu merupakan salah satu kabupaten yang berhasil dalam melaksanakan Program KB. Maka dari itu, keberhasilan program KB di Kabupaten Pringsewu tentu akan mempengaruhi keberhasilan program serupa di tingkat provinsi Lampung. Berdasarkan penuturannya, pada tahun 2014 lalu bahkan Pringsewu termasuk dalam kelompok 3 daerah terbaik dan berhasil dalam pelaksanaan program KB di Provinsi Lampung.

Selain itu, ternyata ia juga memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Pringsewu sebagai kabupaten/kota yang pertama di Provinsi Lampung yang mengawali program KB Pria dengan Medis Operasi Pria (MOP). Hal tersebut tentunya mendapatkan dukungan penuh dari Bupati Kabupaten Pringsewu yaitu Sujadi, yang dalam kesempatan tersebut memberikan penghargaan dan apresiasi kepada para peserta KB tersebut, yang merupakan salah satu bentuk dukungan akan keberhasilan program Keluarga Berencana yang dicanangkan pemerintah.

Namun, dengan hadirnya KB Pria dengan Medis Operasi Pria atau MOP tersebut ternyata kurang diminati. Hal tersebut seperti yang diberitakan dalam harian tribun pada tanggal 30 april 2012 yang menyatakan bahwa minat kaum adam untuk melaksanakan program Keluarga Berencana (KB) dengan alat kontrasepsi MOP (Metode Operasi Pria) atau vasektomi di Kabupaten Pringsewu masih rendah.Berdasarkan catatan Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (BKBPP) Kabupaten Pringsewu, akhir 2011 lalu tercatat sebanyak 21 pria menjadi akseptor (peserta) baru kontrasepsi vasektomi. Dalam harian tersebut, Kepala BIdang KB dan PP menyebutkan bahwa vasektomi merupakan KB yang paling sulit dilaksanakan, kelemahannya adalah masih banyak kaum pria yang tdak mau mengalah untuk ber-KB, sehingga lebih banyak perempuan yang melaksanakan program tersebut. Ia menguraikan bahwa sebanyak 24.649 perempuan akseptor baru KB selama 2011, rincinya IUD sebanyak 1.120 orang, Medis Operasi Wanita atau MOW (tubektomi) 291 orang, implant 1.517 orang, suntik 12.036 orang, pil 8.096 orang dan kondom 1.589 orang.

Selain tidak bersedia mengalah, menurutnya kaum pria masih merasa takut untuk vasektomi, karena adanya asumsi ditengah masyarakat bahwa divasektomi itu sama dengan melakukan kebiri. Padahal, menurut asnyamsi tersebut tidak benar dan bahakn vasektomi merupakan cara ber-KB yang aman dan bermanfaat bagi laki-laki terutama kesehatan, karena bisa menghilangkan prostat.

Setelah berjalan beberapa tahun, ternyata perkembangan KB di Kabuapaten Pringsewu sangatlah pesat.Hal tersebut ditunjukkan dengan peserta KB yang selalu mengalami kenaikan setiap tahunnya, baik dari wanita maupun

pria.Ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk meningkatkan partisipasi masyarakat khususnya Pasangan Usia Subur, Muda Paritas Rendah (PUS MUPAR). Pernyataan ini diperkuat dengan adanya peningkatan PUS yang mengikuti program KB di Kabupaten Pringsewu, dan dapat dilihat persentasenya pada Tabel 2.

Hal tersebut tentunya diawali dengan upaya-upaya pemerintah yang selalu berusaha untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam ber-KB. Contohnya saja, dalam melaksanakan Program KB Pria dengan MOP, pemerintah membuat sebuah gerakan saling mengajak di mana untuk satu orang pria yang sudah vasektomi harus mengajak pria yang lainnya untuk menjalani medis yang sama tersebut. Selanjutnya, masyarakat yang mengajak dan di ajak tersebut akan mendapat kompensasi dana dari pemerintah sebagai bentuk hadiah. Dengan begitu, masyarakat dari keluarga pra sejahtera akan banyak yang mengikuti program ini dan dapat dipastikan persentasi dari partisipasi pria yang ber-KB akan mengalami peningkatan.

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengendalian penduduk melalui pelaksanaan Program KB Dinamis/TKBK dengan menganalisis Program KB Dinamis/TKBK di Kabupaten Pringsewu. Berdasarkan hasil serta pembahasan dalam skripsi ini, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Program pelayanan KB Dinamis telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan sasarannya pun sudah tepat yaitu pasangan usia subur yang ada di tingkat kecamatan dan desa, jumlah peserta KB yang ada pun sudah semakin meningkat setiap tahunnya tetapi angka kelahiran bayi masih saja tinggi dan menyebabkan jumlah penduduk belum terkendali. Namun, terkait standar, dalam pelaksanaan program ini belum adanya standar yang benar-benar jelas yang menjadi tolak ukur keberhasilan program. Hal ini dikarenakan pemerintah masih menggunakan undang-undang serta peraturan menteri sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan.

2. Melihat ketersediaan sumber daya yaitu sumber daya manusia dan sumber daya finansial, dimana sumber daya manusia masih hasrus mengalami perbaikan dari segi kuantitasnya karena jumlah tenaga kerja yang tersedia sangat sedikit yang berada di setiap kecamatannya. Terkait sumber daya

finansial juga masih perlu mendapatkan perhatian lebih, karena ketersediaan anggaran yang ada sangat minim.

3. Terkait hubungan organisasi, kedua instansi yang bergabung untuk melaksanakan program ini menjalin hubungan yang sangat baik dan selalu ada koordinasi antara kedua belah instansi sehingga mengakibatkan tidak adanya miss komunikasi yang dapat menimbulkan permasalahan besar.

4. Masalah karakteristik agen pelaksana, Badan KB dan PP tidak memiliki SOP yang sedemikian rinci lagi, namun hanya saja implementor sebagai pegawai negeri sipil harus mentaati aturan-atura yang dibuat oleh pemerintah. Implementor yang ada selama ini sudah cukup mematuhi aturan yang ada, namun kepatuhan itu harusnya lebih ditingkatkan lagi agar tingkat kedisiplinan implementor lebih baik.

5. Kondisi ekonomi, sosial dan politik juga turut menjadi variabel yang mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan. Kondisi sosial ekonomi memiliki pengaruh dalam pelaksanaan program ini, karena sebagian besar masyarakat yang hadir dalam program KB Dinamis ini adalah masyarakat yang tergolong keluarga pra sejahtera yang memang menginginkan program ini namun terkendala pada biaya dan jarak tempuh yang cukup jauh. Selanjutnya adanya dukungan penuh dari golongan elit politik seperti Bupati dan Wakil Bupati serta Pemerintah Kabupaten Pringsewu untuk pelaksanaan program ini. Namun, dalam pelaksanannya juga ada pihak-pihak yang menentang program ini, dikarenakan asumsi mereka atas program ini adalah dengan mengikuti program KB bisa menentang kehadiran bayi yang telah dianugerahkan oleh Tuhan.

6. Sejauh ini program KB Dinamis telah dipahami oleh implementor dengan baik, dimana implementor telah memahami apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab mereka dalam melaksanakan program KB Dinamis/TKBK di Kabupaten Pringsewu

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang berjudul “Upaya Pengendalian Melalui Pelaksanaan Program KB Dinamis/Tim KB Keliling (Analisis Terhadap Implementasi Program KB Dinamis/TKBK Di Kabupaten Pringsewu)” ini, maka

peneliti dapat memberikan saran agar dapat pelaksanaan atau pengimplementasian kebijakan pemerintah tersebut berjalan dengan semestinya dan lebih baik lagi. Adapun saran-saran dari peneliti yaitu:

1. Perlu dibuatnya standar yang lebih rinci dan jelas lagi terkait pelaksanaan program KB Dinamis/TKBK yang dapat menjadi pedoman pelaksanaannya agar tidak terjadi multiinterpretasi pada program ini.

2. Perlu adanya peningkatan kerjasama (team work )antara Petugas Lapangan Keluarga Berencana dan Kader KB untuk saling memantau hasil Program KB Dinamis.TKBK dengan melihat berbagai aspek kehidupan dan kepentingan bersama.

3. Perlu adanya peningkatan sumber daya finansial yang dapat menunjang keberhasilan program serta tercapainya sarana prasarana yang memadai dengan cara meningkatkan anggaran untuk melaksanakan program ini.

4. Dalam pelaksanaan program KB Dinamis masih mengalami kekurangan staf atau sumber daya manusia untuk mensosialisasikan program ini lebih luas

lagi, maka dari itu sebaiknya Badan KB dan PP menambah lagi sumber daya manusia atau PLKB yang bertugas di lapangan dengan cara merekrut pegawai baru, serta perlu diadakannya peningkatan kualitas atau mutu dari setiap implementor dengan memberikan pelatihan-pelatihan.

5. Membuka ruang komunikasi publik yang luas agar Program KB Dinamis/TKBK ini dapat tersosialisasi dengan baik, serta kejelasan program ditiap metode hingga pada efek samping dapat diketahui oleh calon peserta KB. Hal tersebut dapat dilakukan melalui pengadaan sosialisasi antara dinas terkait bersama kader KB serta Pasangan Usia Subur (PUS) yang ada di Kabupaten Pringsewu.

6. Membuat forum komunikasi dan dialog antara masyarakat, tim ahli medis, Badan KB dan PP Kabupaten Pringsewu beserta perwakilan ulama dan tokoh masyarakat yang ada, yang bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya mengikuti program KB supaya tidak menimbulkan miss komunikasi yang dapat menghilangkan isu-isu negatif tentang program KB.