• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan serta Prediksi Penyediaan, Penggunaan dan

BAB V. KELAPA SAWIT anaman kelapa sawit ( Elaeis

5.2. Perkembangan serta Prediksi Penyediaan, Penggunaan dan

Ketersediaan Minyak Sawit di Indonesia

Berdasarkan hasil perhitungan Neraca Bahan Makanan (NBM), komponen penyediaan minyak sawit terdiri dari produksi ditambah impor dan dikurangi ekspor dan perubahan stok, sementara komponen penggunaan minyak sawit adalah untuk diolah sebagai makanan dan bahan makanan serta tercecer. Penyediaan minyak sawit di Indonesia

seluruhnya dipasok dari produksi dalam negeri, walaupun ada realisasi impor namun dalam kuantitas yang sangat kecil.

Produksi minyak sawit dari tahun 2009 hingga 2011 menunjukkan pola berfluktuatif namun cenderung mengalami peningkatan yang sangat signifikan dengan rata-rata sebesar 68,75% per tahun. Produksi minyak sawit pada tahun 2009 mencapai 19,32 juta ton dan meningkat menjadi 21,96 juta ton pada tahun 2010, yang kemudian meningkat lagi menjadi 22,51 juta ton pada tahun 2011.

Buletin Konsumsi Pangan

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 37

Produksi minyak sawit dari tahun 2012 hingga 2014 diperkirakan akan mengalami peningkatan sebesar 6,84% per tahun. Produksi minyak sawit pada tahun 2012 (ASEM) mencapai 23,52 juta ton dan

meningkat menjadi 25,98 juta ton pada tahun 2013, yang kemudian meningkat lagi menjadi 27,42 juta ton pada tahun 2014 (Tabel 5.2).

Tabel 5.2. Penyediaan, penggunaan dan ketersediaan minyak sawit tahun 2009 - 2011 serta prediksi tahun 2012 – 2014

2009 2010 2011*) 2012 **) 2013**) 2014 **) A. Penyediaan (000 Ton) 2.416 5.613 5.903 5.086 7.150 8.450 1. Produksi - Masukan - Keluaran 19.324 21.958 22.508 23.521 25.978 27.425 2. Impor 21 47 23 44 48 51 3. Ekspor 16.829 16.292 16.436 18.352 18.606 18.860 4. Perubahan Stok 100 100 192 127 270 166

B. Konsumsi Untuk (000 Ton) 2.416 5.613 5.903 5.086 7.150 8.450

1. Pakan (ton) - - - - - -2. Bibit (ton) - - - - - -3. Diolah untuk : - makanan 2.131 5.255 5.479 4.677 6.668 7.914 - bukan makanan 227 224 283 287 311 334 4. Tercecer 58 134 141 122 171 202 5. Bahan Makanan

Ketersediaan per kapita - - - - - (Kg/Kapita/Tahun)

Sumber : Neraca Bahan Makanan (NBM) Kementerian Pertanian, diolah Pusdatin Keterangan : *) Angka Sementara **) Angka Prediksi Pusdatin

No. Uraian Tahun

C.

Penggunaan minyak sawit menurut data Neraca Bahan Makanan (NBM) adalah sebagian besar diolah dalam industri makanan menjadi minyak goreng sawit, dan juga digunakan dalam indutri non makanan dan tercecer. Pada tahun 2009, penggunaan minyak sawit untuk diolah dalam industri makanan sebesar 2,13 juta ton dan diolah bukan makanan sebesar 227 ribu ton, serta tercecer 58 ribu ton. Pada tahun 2010 untuk diolah dalam industri makanan sebesar 5,25 juta ton dan diolah bukan makanan sebesar 224 ribu ton, serta tercecer 134 ribu ton,

selanjutnya pada tahun 2011 untuk di olah dalam industri makanan sebesar 5,48 juta ton dan diolah bukan makanan sebesar 283 ribu ton, serta tercecer 141 ribu ton.

Pada tahun 2012 – 2014, penggunaan minyak sawit diperkirakan untuk keperluan industri bukan makanan diprediksikan akan mengalami peningkatan dengan rata-rata sebesar 30,62%. Sedangkan tercecer diprediksikan mengalami penurunan dengan rata-rata sebesar 7,88% per tahun. Demikian juga, penggunaan untuk bahan makanan diprediksikan cenderung mengalami

Buletin Konsumsi Pangan

38 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

penurunan dengan rata-rata sebesar 29,38% per tahun.

Pada periode tahun 2009 – 2012, dari jumlah penyediaan minyak sawit domestik tersebut sekitar 45,40% digunakan untuk industri non makanan, 8,81% tercecer, sehingga 41,22% yang diolah industri makanan yang nantinya sebagai masukan dalam neraca minyak goreng sawit secara lengkap disajikan pada Tabel 5.2.

5.3. Perkembangan serta Prediksi Penyediaan, Penggunaan dan Ketersediaan Minyak Goreng Sawit di Indonesia

Berdasarkan hasil perhitungan Neraca Bahan Makanan (NBM) minyak sawit di atas, selanjutnya komponen penggunaan diolah untuk industri makanan inilah yang akan menjadi masukan

(produksi) dalam neraca minyak goreng sawit. Selanjutnya dari masukan minyak sawit tersebut dengan menggunakan angka konversi sebesar 68,28 persen menjadi minyak goreng sawit. Komponen penyediaan minyak goreng sawit terdiri dari produksi, sementara impor, ekspor dan data perubahan stok tidak tersedia. Penyediaan minyak goreng sawit di Indonesia seluruhnya bisa dipasok dari produksi dalam negeri. Produksi minyak goreng sawit dari tahun 2009 hingga 2011 menunjukkan pola berfluktuatif namun cenderung mengalami penurunan dengan rata-rata sebesar 37,20% per tahun. Produksi minyak goreng pada tahun 2009 mencapai 1,46 juta ton dan meningkat menjadi 3,59 juta ton pada tahun 2010, yang kemudian meningkat menjadi 3,74 juta ton pada tahun 2011.

Tabel 5.3. Penyediaan, penggunaan dan ketersediaan minyak goreng tahun 2009-2011 serta prediksi tahun 2012 – 2014

2009 2010 2011*) 2012 **) 2013**) 2014 **) A. Penyediaan (000 Ton) 3.586 8.843 9.222 5.599 5.922 3.971 1. Produksi - Masukan 2.131 5.255 5.480 3.327 3.519 2.360 - Keluaran 1.455 3.588 3.742 2.272 2.403 1.611 2. Impor - - - - - -3. Ekspor - - - - - -4. Perubahan Stok - - - - -

-B. Konsumsi Untuk (000 Ton) 1.456 3.588 3.742 2.272 2.403 1.611

1. Pakan (ton) - - - - - -2. Bibit (ton) - - - - - -3. Diolah untuk : - makanan - - - - - - bukan makanan 26 22 22 23 23 23 4. Tercecer 23 56 58 35 37 25 5. Bahan Makanan 1.407 3.510 3.662 2.214 2.342 1.563

Ketersediaan per kapita 6,08 14,54 14,94 9,06 9,47 6,24 (Kg/Kapita/Tahun)

Sumber : Neraca Bahan Makanan (NBM) Kementerian Pertanian, diolah Pusdatin Keterangan : *) Angka Sementara **) Angka Prediksi Pusdatin

No. Uraian Tahun

Buletin Konsumsi Pangan

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 39

Penggunaan minyak goreng sawit menurut data Neraca Bahan Makanan (NBM) adalah diolah dalam industri bukan makanan, tercecer dan sisanya merupakan bahan yang tersedia untuk dikonsumsi menjadi bahan makanan. Pada tahun 2009, penggunaan minyak goreng sawit untuk diolah untuk industri bukan makanan sebesar 26 ribu ton, tercecer sebesar 23 ribu ton, sehingga ketersediaan yang digunakan sebagai bahan makanan sebesar 1,41 juta ton. Kemudian, pada tahun 2010 – 2011 terjadi peningkatan produksi minyak sawit, yang berakibat produksi minyak goreng sawit meningkat, sementara penggunaan diolah industri bukan makanan relatif tetap sehingga penggunaan minyak goreng untuk bahan makanan mengalami peningkatan.

Selanjutnya pada tahun 2012 – 2014, penggunaan minyak goreng untuk keperluan industri bukan makanan diprediksikan akan mengalami sedikit peningkatan dengan rata-rata sebesar 1,06%. Sedangkan penggunaan minyak goreng yang tercecer mengalami penurunan dengan rata-rata sebesar 13,58%, demikian juga penggunaan minyak goreng sawit untuk bahan makanan diprediksikan mengalami penurunan dengan rata-rata sebesar 13,73% per tahun. Dengan membagi angka penggunaan minyak goreng sawit yang siap digunakan sebagai bahan makanan dengan jumlah penduduk maka diperoleh angka ketersediaan per kapita minyak goreng sawit.

0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00 14,00 16,00 2009 2010 2011 2012 2013 2014 (Kg/Kap/Thn)

Gambar 5.2. Perkembangan ketersediaan minyak goring sawit per kapita per tahun di Indonesia, tahun 2009 – 2014

Buletin Konsumsi Pangan

40 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Pada tahun 2009 ketersediaan minyak goreng sawit mencapai 6,08 kg/kapita/tahun yang kemudian meningkat hingga menjadi 14,94 kg/kapita/tahun pada tahun 2011. Ketersediaan minyak goreng sawit pada periode 2012 – 2014 diprediksikan mengalami penurunan dengan rata-rata sebesar 14,84%. Pada tahun 2012, ketersediaan per kapita minyak goreng sawit diprediksikan sebesar 9,06 kg/kapita/tahun, kemudian naik menjadi 9,47 kg/kapita/tahun pada tahun 2013 dan menurun menjadi 6,24 kg/kapita/tahun pada tahun 2014 secara lengkap disajikan pada Tabel 5.3 dan Gambar 5.2.

5.4. Penyediaan Minyak Goreng di

Dokumen terkait