KAJIAN PUSTAKA
C. Perkembangan Sikap Religius (Iman)
Menurut Scifman dan Kanuk, dalam Susanta, sikap dipandang dari segi perasaan adalah ekspresi perasaan (inner feeling) yang mencerminkan apakah seseorang senang, suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju terhadap suatu objek. Untuk objeknya pun bisa pada barang, layanan,
39
perilaku, termasuk pada seseorang.53 Sementara itu, sikap juga bisa dimaknai sebagai evaluasi umum yang dibuat manusia terhadap dirinya sendiri, orang lain, obyek atau isue54. Dengan demikian mengindikasikan bahwa sikap selalu diarahkan kepada suatu objek, tanpa objek maka tidak ada sikap. Selain itu, sikap juga merupakan bentuk ekspresi dari perasaan yang positif atau negatif terhadap objek yang dituju.
Berdasarkan analisis data yang diperoleh lewat wawancara semi klinis, Fowler (1976) berhasil merumuskan adanya tujuh tahap kepercayaan yang berurutan. Dengan urutan tahap-tahap itu proses perkembangan dan tranformasi pola pengertian dan penghayatan arti dalam kepercayaan dapat diuraikan. Secara ringkas, skematis dan global akan disajikan pandangan komprehensif tentang tujuh tahap kepercayaan eksistensial (iman) sebagai berikut:
1. Tahap 0: Kepercayaan Elementer Awal (Primal Faith)
2. Tahap 1: Kepercayaan Intuitif - Proyektif (Intuitive - Projective Faith) 3. Tahap 2: Kepercayaan Mistis - Harfiah ((Misthic-Literal Faith)
4. Tahap 3: Kepercayaan Sintesis - Konvensional (Synthetic - Conventional Faith)
5. Tahap 4: Individuatif - Reflektif (Individuative - Reflective Faith) 6. Tahap 5: Kepercayaan Eksistensial - Konjungtif (Conjunctive Faith) 7. Tahap 6: Kepercayaan Eksistensial yang Mengacu pada Universalitas
(Universalitas Faith)55
Pada Tahap nol mansuia berada pada kepercayaan elementer awal. Kepercayaan pada tahap ini juga disebut pratahap “kepercayaan yang belum
53Susanta, Sikap: Konsep dan Pengukuran, Jurnal Administrasi Bisnis; Jurusan Ilmu Administrasi Bisnis Fisip UPN, Yogyakarta, Vo. 2, No. 2, Januari 2006, hlm. 94
54Azwar S.,Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya, cet. 2, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2011), hlm. 6
40
terdiferensiasi”, sebab di dalam diri seseorang masih belum bisa membedakan nilai-nilai yang ada di sekitar. Tahap ini mendasari dan meresapi secara positif dan negatif, dengan menunjang dan menodai segala hal yang timbul kemudian selama perkembangan kepercayaan eksistensial.
Pada tahap kesatu kepercayaan seseorang masih pada tataran imajinasi dan dunia gambaran. Pengalaman disusun berdasarkan kesan-kesan inderawi emosional yang kuat. Seseorang masih belum memiliki operasi logis yang mantap, demikian pula belum bisa membedaka perspektif diri sendiri dan orang lain. Dengan kemampuan simbolis dan bahasa, maka imajinasi dan dunia gambaran dirangsang oleh cerita, gerak, isyarat, upacara, symbol-simbol dan kata-kata.
Selanjutnya Pada tahap kedua gambaran emosional dan imajonal masih berpengaruh kuat, namun pula muncul operasi-operasi logis yang melempaui tingkat perasaan dan imajinasi tingkat sebelumnya. Operasi-operasi tersebut masih bersifat konkret, tapi sudah memungkinkan daya pikir logis menggunakan kategori-kategori sebab akibat, ruang dan waktu. Hubungan sebab akibat itu kini dimengerti secara jelas, dan dunia spasial-temporal disusun menurut skema linier (garis sebab akibat) serta sifat dapat diramalkan.
Memasuki tahap ketiga muncul kemampuan kognitif baru yaitu operasi formal, maka seseorang mulai mengambil alih pandangan pribadi orang lain menurut pola pengambilan perspektif antar pribadi secara timbal balik. Berkat munculnya operasi-operasi logis seseorang sanggup
41
merefleksikan secara kritis riwayat hidupnya dan menggali arti sejarah hidup bagi dirinya sendiri. Yang dicari adalah suatu sintesis baru baru atas berbagai arti yang pernah dialami dalam hidupnya. Namun pencarian sintesis ini bersifat konfirmistis karena identitas yang dibentuk berdasarkan rasa percaya dan diteguhkan oleh orang lain yang penting baginya. Seseorang ingin menjadi identitas yang diharapkan dan didukung oleh orang lain yang dipercayainya.
Pola kepercayaan pada tahap keempat ditandai oleh lahirnya refleksi kritis atas seluruh pendapat, keyakinan dan nilai religius lama. Pribadi sudah mampu melihat diri sendiri dan orang lain sebagai suatu bagian dari sistem masyarakat, tetapi juga yakin bahwa ia sendirilah yang memikul tanggung jawab atas penentuan pilihan ideologis. Kepercayaan ini juga disebut individuatif karena baru saat inilah manusia –untuk pertama kalinya dalam refleksi diri– tidak semata-mata bergantung pada orang lain, tetapi dengan kesanggupannya sendiri mampu mengadakan dialog antara berbagai “diri” sebagaimana dilihat dan dipantulkan orang-orang dengan “diri sejati” yang hanya dikenal oleh pribadi yang bersangkutan.
Pada tahap kelima semua yang diupayakan di bawah kuasa kesadaran dan pengontrolan rasio pada tahap sebelumnya akan ditinjau kembali. Batas-batas sistem pandangan hidup dan identitas diri yang jelas, kaku dan tertutup, kini menjadi lentur, permeable dan kembali samar-samar. Tahap ini ditandai oleh suatu keterbukaan dan perhatian baru terhadap adanya polaritas, ketegangan, paradox dan ambiguitas dalam kodrat kebenaran diri dan
42
hidupnya. Kebenaran hanya akan terwujud apabila paradox dan sebagainya itu diakui dan diungkap dalam bentuk pemikiran yang dialektis. Orang mencari berbagai daya dan cara untuk mempersatukan pertentangan-pertentangan yang ada dalam pikiran dan pengalamannya, karena sadar bahwa manusia membutuhkan sebuah tafsiran majemuk terhadap kenyataan multidimensional.
Terakhir pada tahap keenam pribadi melampaui tingkatan paradox dan polaritas, karena gaya hidupnya langsung berakar pada kesatuan dengan Yang Ultim, yaitu pusat nilai, kekuasaan dan keterlibatan yang terdalam. Identifikasi dan partisipasi dengan Yang Ultim (Yang Satu dan Tunggal) sebagai dasar dan sumber segala yang hidup menjadi mungkin, karena pribadi berhasil melepaskan diri dari egonya dan dari pandangan bahwa ego adalah pusat, titik acuan dan tolok ukur kehidupan yang mutlak. Dia melampaui keterikatan pada pusat-pusat nilai dan kekuasaan yang terbatas dan relative, serta memperoleh semangat hidup dari penyerahan diri total dan rasa bersatu dengan Realitas Transenden Yang Satu dan Tunggal.
Kepercayaan Eksistensial sebagai cara mengenal dan menilai suatu (dunia) yang meliputi 7 aspek operasi itu, mengalami perkembangan secara bertahap, setiap tahap baru membawa peningkatan dalam seluruh aspek operasi.
43 D. Kerangka Berpikir
“Peran Forum Dialog Bangbang Wetan dalam Menanamkan Nilai-Nilai Humanisme Religius pada Jamaah Maiyah Surabaya”
Bagaimana pengembangan nilai-nilai humanisme religius yang ditanamkan forum dialog Bangbang Wetan pada Jamaah Maiyah Surabaya? Bagaimana strategi forum dialog Bangbang Wetan dalam menanamkan nilai-nilai humanisme religius pada Jamaah Maiyah Surabaya? Bagaimana dampak penanaman nilai-nilai humanisme religius oleh forum dialog Bangbang Wetan terhadap sikap religius Jamaah Maiyah Surabaya? Teori Pengembangan Nilai Humanisme Religius oleh Achmadi Teori penanaman nilai (Teaching Force dan Character Building) Teori perkembangan sikap religius oleh Fowler
Nilai keimanan dikembangkan menjadi keimanan kepada Allah dan Rasulullah sedangkan nilai kemanusiaan dikembangkan menjadi nilai kemandirian, toleransi dan persaudaraan. Strategi penananaman nilai humanisme religius dilakukan dalam tiga proses. Pertama pemberian materi, kedua
pengkondisian suasana dan ketiga pembimbingan praktek
Sikap jama’ah ada pada tahap reflective faith, conjunctive faith dan universalitas faith.
44 BAB III