• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.5. Perkembangan Tingkat Inflasi

Tingkat Inflasi adalah persentase selisih Indeks Harga Konsumen sekarang dan waktu sebelumya. Perubahan Inflasi akan mempengaruhi perekonomian negara semakin membaik atau memburuk. Perkembangan Inflasi disajikan dalam Gambar 4.5

Berdasarkan Gambar 4.5 terlihat bahwa perkembangan inflasi mengalami pertumbuhan positif. Inflasi mengalami rata-rata peningkatan pertumbuhan sebesar 3,44 persen. Pertumbuhan inflasi paling rendah atau data ektrem rendah terjadi pada kwartal IV tahun 2006, kwartal II tahun 2009 dan kwartal IV tahun 2015. Sedangkan pertumbuhan inflasi tinggi atau data

59 ekstrem tinggi terjadi pada kwartal II tahun 2004, kwartal I tahun 2010, dan kwartal IV tahun 2014.

Gambar 4.5

Grafik Pertumbuhan Inflasi

Sumber: https://www.bi.go.id 4.2. Hasil Uji Normalitas

Adapun hasil hitung dari uji Normalitas pada nilai unstandardized residual pada 2 struktur model akan menghasilkan 2 residual adalah sebagai berikut:

60 1. Residual 1 (Struktur 1)

Berdasarkan tabel output SPSS tersebut, pada jumlah data observasi sejumlah 103 data terdapat nilai Asymp.Sig. (2-tailed) sebesar 0,698 lebih besar dari 0,05.

Maka disimpulkan berdasarkan uji K-S diatas bahwa data berdistribusi normal.

Asumsi normalitas data sudah terpenuh

1. Residual 2 (Struktur 2)

Kolmogorov-Smirnov Z 2,291

Asymp. Sig. (2-tailed) ,0675

a. Test distribution is Normal.

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Kolmogorov-Smirnov Z ,708

Asymp. Sig. (2-tailed) ,698

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

61 Berdasarkan tabel output SPSS tersebut, pada jumlah data observasi sejumlah 103 data terdapat nilai Asymp.Sig. (2-tailed) sebesar 0,0675 lebih besar dari 0,05.

Maka disimpulkan berdasarkan uji K-S diatas bahwa data berdistribusi normal.

Asumsi normalitas data sudah terpenuhi.

a. Hasil Uji Multikolinearitas

Adapun hasil hitung dari uji Multikolinearitas pada nilai Collinearity Statistics pada 2 struktur model adalah sebagai berikut:

1. Model Struktur 1

a. Dependent Variable: kurs

Nilai Tolerance untuk variabel Utang (X1) sebesar 0,696. Variabel Ekspor Netto (X2) sebesar 0,903 dan Suku Bunga (X3) sebesar 0,760. Nilai tolerance ketiga variabel independen lebih besar dari 0,10. Sementara, nilai VIF untuk variabel Utang (X1) sebesar 1,436. Variabel Ekspor Netto (X2) sebesar 1,108 dan Suku Bunga (X3) sebesar 1,316. Nilai VIF ketiga variabel independen lebih kecil dari 10,00. Maka mengacu pengambilan keputusan dalam uji multikolineritas bahwa disimpulkan tidak terjadi gejala multikolineritas dalam model regresi.

62 2. Model Struktur 2

Coefficientsa

Model Collinearity Statistics Tolerance VIF

a. Dependent Variable: inflasi

Nilai Tolerance untuk variabel Utang (X1) sebesar 0,772. Variabel Ekspor Netto (X2) sebesar 0,988. Variabel Suku Bunga (X3) sebesar 0,948. Variabel Kurs (Y1) sebesar 0,742. Nilai tolerance keempat variabel independen lebih besar dari 0,10.

Sementara, nilai VIF untuk variabel Utang (X1) sebesar 1,295. Variabel Ekspor netto (X2) sebesar 1,012. Variabel Suku Bunga (X3) sebesar 1,055. Variabel Kurs (Y1) sebesar 1,347. Nilai VIF keempat variabel independen lebih kecil dari 10,00.

Maka mengacu pengambilan keputusan dalam uji multikolineritas bahwa disimpulkan tidak terjadi gejala multikolineritas dalam model regresi.

b. Hasil Uji Autokorelasi

Adapun hasil hitung dari uji Durbin Watson pada 2 struktur model adalah sebagai berikut:

63 Nilai Durbin-Watson (d) sebesar 0,705. Angka DW diantara angka -2 < d < 2.

Maka pengambilan keputusan dalam uji durbin watson disimpulkan tidak terdapat masalah atau gejala autokorelasi.

2. Model Struktur II

a. Predictors: (Constant), kurs, ekspor netto, suku bunga, utang b. Dependent Variable: inflasi

Nilai Durbin-Watson (d) sebesar 1,104. Angka DW diantara angka -2 < d < 2.

Maka pengambilan keputusan dalam uji durbin watson disimpulkan tidak terdapat masalah atau gejala autokorelasi.

c. Hasil Uji Analisa Jalur (Path) 1. Model Struktur I

a. Predictors: (Constant), suku bunga, ekspor netto, utang b. Dependent Variable: kurs

Besarnya nilai atau R square yang terdapat pada tabel Model Summary adalah sebesar 0,940 menunjukkan bahwa kontribusi atau sumbangan pengaruh X1, X2, X3 terhadap Y1 adalah sebesar 94,0% sementara sisanya 6% merupakan

64 kontribusi dari variabel-variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian.

Nilai e1 dapat dicari dengan rumus e1 = = 0,245

a. Dependent Variable: kurs

Koefisien Jalur Model Struktur I:

Mengacu pada output regresi model struktur I pada tabel Coefficients dapat diketahui bahwa nilai signifikansi variabel utang (X1) sebesar 0,000 berpengaruh signifikan terhadap Y1. Variabel ekspor netto (X2) sebesar 0,000 berpengaruh signifikan terhadap Y1. Variabel suku bunga (X3) sebesar 0,260 menunjukan pengaruh yang tidak signifikan.

Berdasarkan Standardized Coefficients yaitu koefisien yang digunakan dalam analisa jalur maka diagram yang terbentuk sebagai berikut:

65 Gambar 4.6

Diagram Model Struktur I

2. Model Struktur II

Model Summaryb Mode

l

R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

Durbin-Watson

1 ,869a ,755 ,745 6,0009 1,104

a. Predictors: (Constant), kurs, ekspor netto, suku bunga, utang b. Dependent Variable: inflasi

Besarnya nilai atau R square yang terdapat pada tabel Model Summary adalah sebesar 0,755 menunjukkan bahwa kontribusi atau sumbangan pengaruh X1, X2, X3 dan Y1 terhadap Y2 adalah sebesar 75,5% sementara sisanya 24,5%

merupakan kontribusi dari variabel-variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian. Nilai e2 dapat dicari dengan rumus e2 = = 0,49.

66

a. Dependent Variable: inflasi

Koefisien Jalur Model Struktur II:

Mengacu pada output regresi model struktur II pada tabel Coefficients dapat diketahui bahwa nilai signifikansi variabel utang (X1) sebesar 0,066 berpengaruh tidak signifikan terhadap Y2. Variabel ekspor netto (X2) sebesar 0,696 berpengaruh tidak signifikan terhadap Y1. Variabel suku bunga (X3) sebesar 0,000 menunjukan pengaruh signifikan. Dan variabel kurs (Y2) sebesar 0,016 menunjukkan pengaruh signifikan.

Berdasarkan Standardized Coefficients yaitu koefisien yang digunakan dalam analisa jalur maka diagram yang terbentuk sebagai berikut:

67 Gambar 4.7

Diagram Model Struktur II

d. Pembahasan

Berdasarkan uji normalitas data diketahui bahwa semua data dinyatakan terdistribusi normal. Berdasarkan hasil uji multikolinearitas diketahui bahwa data disimpulkan tidak terjadi gejala multikolineritas dalam model regresi. Berdasarkan uji autokorelasi pengambilan keputusan dalam uji durbin watson disimpulkan tidak terdapat masalah atau gejala autokorelasi.

1. Pembahasan hasil analisa kontribusi pengaruh signifikan variabel tidak langsung dan secara langsung:

a. Pengaruh tidak langsung

Kontribusi variabel sangat berpengaruh diatas 50 persen. Besarnya nilai atau R square sebesar 0,940 menunjukkan bahwa kontribusi atau sumbangan pengaruh X1, X2, X3 terhadap Y1 adalah sebesar 94 %.

Tingkat signifikansi masing-masing variabel sebagai berikut: variabel X1

68 sebesar (berpengaruh signifikan), variabel X2 sebesar (berpengaruh signifikan), dan variabel X3 sebesar

. (berpengaruh tidak signifikan).

b. Pengaruh Langsung

Kontribusi variabel sangat berpengaruh diatas 50%. Besarnya nilai atau R square sebesar 0,755 menunjukkan bahwa kontribusi atau sumbangan pengaruh X1, X2, X3 terhadap Y1 adalah sebesar 75,5%.

Tingkat signifikansi masing-masing variabel sebagai berikut:

Nilai signifikansi masing-masing varibel adalah variabel X1 sebesar (berpengaruh tidak signifikan), variabel X2 sebesar (berpengaruh tidak signifikan), dan variabel X3 sebesar (berpengaruh signifikan), dan variabel Y1 sebesar (berpengaruh signifikan).

2. Analisa pengaruh positif atau negatif antar variabel

1. Terdapat pengaruh positif utang secara tidak langsung terhadap Inflasi melalui tingkat kurs dengan persamaan ;

Y2 = (PY1X1) (PY2Y1) = (0,997) (0,328) = 0,327.

Hasil positif ini sama dengan penelitian Saheed & Idakwoji (2014), menjelaskan variabel utang berpengaruh positif signifikan terhadap nilai tukar di Nigeria. Sesuai juga dengan penelitian Yudiarti et.all (2018), menjelaskan utang berpengaruh positif signifikan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika serikat. Menurut Widharma, I

69 et.all (2013) yang menjelaskan dalam penelitiannya bahwa Kenaikan kurs dollar (depresiasi rupiah) berpengaruh positif signifikan terhadap utang luar negeri pemerintah. Beberapa teori ekonomi yang menguatkan bahwa utang berpengaruh terhadap kurs (nilai tukar) adalah Teori Kebijakan Fiskal Ekspansi bahwa dengan peran kebijakan pengeluaran pemerintah dapat mengakhir depresi dengan merangsang permintaan konsumen. Didukung oleh teori kajian pengawasan utang luar negeri swasta Pusat kebijakan ekonomi makro badan kebijakan fiskal (2013), bahwa melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar mengakibatkan kewajiban membayar kembali utang luar negeri swasta juga mengalami peningkatan sehingga memberikan tekanan kepada neraca pembayaran. Bentuk praktik intervensi pemerintah melalui fiskal salah satu intrumennya adalah utang berlawanan dengan teori teori ekonomi laissez-faire yang mendeskripsikan ideologi politik yang menolak praktik intervensi pemerintah dalam perekonomian. Konsep tangan tak terlihat yang mengutamakan kebebasan pasar. Utang salah satu instrumen untuk mengintervensi perekonomian.

2. Terdapat pengaruh positif signifikan Ekspor Netto secara tidak langsung terhadap Inflasi melalui tingkat kurs dengan persamaan ; Y2 = (PY1X2).(PY2Y1) = (0,267) ( 0,328) = 0,09.

Hasil positif ini sama dengan penelitian Tanjung, Ahmad et.all (2019) yang menjelaskan ”the increase of exchange rate/depreciation positively has correlation with Balance of Payment in the long run.”

70 Kenaikan nilai tukar atau depresiasi berkorelasi positif dengan neraca pembayaran. Sesuai dengan penelitian Erlina Marpaung (2013) yang menerangkan nilai tukar rill berpengaruh negatif dan signifikan terhadap impor di negara ASEAN. Apabila nilai tukar rill mengalami kenaikan atau terdepresiasi maka akan menurunkan volume impor negara ASEAN. Dan akan memperbesar nilai ekspor netto. Hasil ini juga sesuai dengan penelitian Ginting (2013) yang menjelaskan dalam jangka panjang menunjukkan semakin kuatnya (apresiasi) akan menyebabkan semakin menurunnya ekspordi indonesia. Beberapa teori ekonomi yang menguatkan bahwa ekspor netto berpengaruh positif terhadap kurs atau nilai tukar dalam teori Krugman menjelaskan kenaikan kurs (depresi) akan memberikan pengaruh negatif terhadap permintaan impor, sehingga mengurangi barang impor. Tentunya nilai ekspor netto mengalami kenaikan positif. Sesuai juga dengan teori ekonomi marshall-lerner yang menjelaskan suatu kenaikan kurs rill (depresi rill) bisa memperbaiki kondisi neraca perdagangan apabila ekspor dan impor perekonomian cukup elastis terhadap perubahan kurs rill tersebut. Sesuai juga dengan teori penawaran (supply) apabila tingkat harga disamakan dengan tingkat kurs sedangkan penawarannya adalah ekspor maka jika kurs valas naik maka penawaran barang ekspor akan naik. Kesimpulannya terdapat hubungan positif. Hasil positif ini juga sesuai dengan teori ekonomi mundell-fleeming yang menjelaskan bahwa nilai tukar turun berakibat neraca perdagangan

71 (ekspor netto) juga turun. Nilai tukar dalam Rupiah/Dollar digambarkan dalam kurva IS (Investment Saving) berkoefisien arah (Slope) positif. Turunnya nilai tukar didefinisikan Rupiah terapresiasi yang menyebabkan barang impor lebih murah dibandingkan barang lokal (domestik). Sehingga neraca perdagangan tertekan.

3. Terdapat pengaruh positif Suku Bunga secara tidak langsung terhadap Inflasi melalui tingkat kurs dengan persamaan;

Y2 = (PY1X3) (PY2Y1) = (0,049) (0,328) = 0,02. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya oleh Sa’adah (2020) yang menjelaskan bahwa suku bunga, jumlah uang beredar berpengaruh positif terhadap kurs rupiah/dollar. Juga sesuai dengan penelitian Abditaska (2015) yang menjelaskan variabel suku bunga (BI Rate) berpengaruh positif terhadap kurs rupiah terhadap dollar AS. Hasil ini sesuai dengan penelitian Kirana (2017) tingkat suku bunga memiliki hubungan positif terhadap nilai tukar rupiah. Apabila suku bunga mengalami peningkatan 1% maka nilai tukar meningkat sebesar 1,021. Begitupun sebaliknya. Beberapa teori ekonomi yang menguatkan bahwa terdapat pengaruh positif suku bunga secara tidak langsung terhadap Inflasi melalui tingkat kurs, pada teori ekonomi teori bunga non-moneter fisher yang menjelaskan suku bunga nominal di pasar domestik lebih tinggi dari negara mitra maka nilai tukar domestik mengalami kenaikan (terdepresiasi). Sesuai dengan teori ekonomi interest rate parity theory menjelaskan bahwa semakin tinggi suku bunga akan

72 mendorong aliran modal masuk (capital inflow) sehingga menambah persediaan valuta asing (valas). Valas masuk melalui ekspor. Sesuai dengan teori ekonomi teori keynessian, preferensi liquid yang menjelaskan bahwa tingkat bunga semata-mata merupakan fenomena moneter yang ditentukan oleh penawaran dan permintaan akan uang.

Dimana permintaan uang dalam spekulasi,semakin rendah suku bunga akan menaikkan jumlah uang beredar sehingga nilai tukar mengalami kenaikan (depresiasi).

4. Terdapat pengaruh negatif utang terhadap tingkat inflasi. Dengan persamaaan Y2 = PY2X1= -0,271. Hasil ini bertentangan dengan teori yang mengatakan bahwa utang berpengaruh positif terhadap inflasi.

Hasil positif signifikan utang terhadap inflasi adalah penelitian terdahulu oleh Lim Chia Yen dan Abdullah Muhammad Azam (2017), yang menjelaskan bahwa utang dalam negeri dan utang luar negeri memiliki pengaruh positif yang kuat terhadap inflasi di negara malaysia. Menurut penelitian Anwar (2014) menjelaskan bahwa utang dan inflasi berkorelasi positif. Hasil estimasi menunjukkan bahwa defisit anggaran yang dibiayai utang luar negeri akan meningkatkan jumlah uang beredar yang akan berpengaruh pada peningkatan tingkat harga atau peningkatan inflasi. Menurut penelitian Satrianto (2016) menjelaskan utang dan inflasi berpengaruh signifikan terhadap defisit anggaran. Sedangkan teori ekonomi yang menjelaskan utang berkorelasi positif terhadap inflasi adalah teori inflasi Keynes

73 menjelaskan utang untuk membangun infrastruktur dapat meyebabkan inflasi, teori ekonomi teori kebijakan fiskal ekspansif (deficit spending) oleh keynes dan mankiw menjelaskan kenaikan pengeluaran pemerintah akan mengakibatkan kenaikan permintaan agregat dan kenaikan harga (inflasi). Penjelasan tentang fenomena pengaruh negatif utang terhadap tingkat inflasi disebabkan di negara indonesia, angka inflasi yang sangat rendah sebesar 1,32 pada kuartal III tahun 2020. Sedangkan angka utang sangat tinggi sebesar 5756,87 pada kuartal III tahun 2020. Berdasarkan teori ekonomi melalui kuva philip, pertumbuhan ekonomi yang tinggi menyebabkan inflasi yang tinggi.

Orientasi inflasi yang cenderung rendah menunjukkan bahwa negara kesulitan mengenjot pertumbuhan ekonomi. Menurut Agus Sumarto (2020), pemerintah sebaiknya berusaha mengembalikan inflasi pada tingkat normalnya dengan terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Rendahnya inflasi bukan desain pembangunan terorganisir. Menjaga daya beli dengan menambah utang namun menjaga inflasi serendah mungkin adalah bentuk kesia-siaan.

5. Terdapat pengaruh negatif tidak signifikan ekspor netto terhadap tingkat inflasi Y2 = PY2X2 = -0,025. Hasil ini sesuai dengan penelitian Firmansyah & Safrizal. (2018) yang menjelaskan Ekspor tidak berpengaruh terhadap inflasi. Hal ini disebabkan karena inflasi akan mendorong pelemahan daya saing dalam negeri dan pada akhirnya menyebabkan penurunan ekspor. Sedangkan Hasil ini

74 bertentangan dengan penelitian Jumhur et.al (2019) yang mengatakan bahwa ekspor berpengaruh positif signifikan terhadap inflasi. Dalam beberapa teori ekonomi yang menejelaskan pengaruh ekspor netto terhadap inflasi antara lain sebagai berikut: 1) Teori penawaran barang (cost push inflation) menjelaskan bahwa inflasi yang menimbulkan harga domestik naik menyebabkan penawaran terhadap barang ekspor naik sebagaimana kurva penawaran dengan slope positif. 2) Teori permintaan barang (Demand Pull Inflation) menjelaskan bahwa inflasi yang menimbulkan harga domestik naik menyebabkan permintaan terhadap barang impor turun. Kurva permintaan dengan slope negatif.

Sehingga mampu menambah surplus neraca perdagangan. 3) Teori Inflasi Strukturalis menjelaskan inflasi disebabkan cadangan valuta asing yang terbatas karena ekspor yang lebih kecil dari pada impor dan pengeluaran pemerintah terbatas sehingga pemerintah melakukan utang atau mencetak uang.

Fenomena bertolak belakang tersebut disebabkan cadangan devisa indonesia mencapai angka tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Walaupun ekspor netto aman bukan disebabkan produktivitas perekonomian indonesia meningkat, melainkan roda ekonomi tidak berjalan. Konsumsi atas barang impor menurun drastis. Ketika perekonomian normal setelah pandemi maka dipastikan cadangan devisa akan turun seiring dengan meningkatnya barang impor.

75 6. Terdapat pengaruh positif signifikan suku bunga terhadap tingkat inflasi Y2 = PY2X3 = 0,862. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya oleh Perlambang (2017) yang mengatakan bahwa Suku Bunga/ BI rate berpengaruh positif signifikan terhadap inflasi. Dan sesuai dengan teori suku bunga klasik. Tindakan menaikkan suku bunga disebabkan jumlah uang beredar pada masyarakat tinggi yang mengakibatkan inflasi. Hasil ini juga sependapat dengan Tanjung, Ahmad et.all (2019) menjelaskan “the variable of interest rate in the short run and long run has positive and significant correlation with inflation”. Dan hasil ini juga selaras dengan penelitian Aprileven (2017) yang menjelaskan tingkat suku bunga berpengaruh positif (signifikan), kurs berpengaruh positif dan jumlah uang beredar berpengaruh positif (signifikan) terhadap inflasi.

Beberapa teori ekonomi yang mendukung adalah teori inflasi klasik menjelaskan jumlah uang beredar akan meyebabkan inflasi, Teori Inflasi Moneterisme menjelaskan suku bunga yang tinggi berkorelasi positif dengan Inflasi yang tinggi

7. Terdapat pengaruh positif signifikan kurs terhadap tingkat inflasi.

Y2 = PY2Y1 = 0,328. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya oleh Adrian Sutawijaya (2012) yang mengatakan bahwa nilai tukar atau kurs berpengaruh positif signifikan terhadap inflasi. Menurut Umam, Muslihul et.all. (2018) menjelaskan nilai kurs Rp/Dollar berpengaruh positif dan signifikan terhadap inflasi diIndonesia. Dan

76 sependapat dengan penelitian Sudarmiani, Yati. (2017) menjelaskan bahwa inflasi berpengaruh positif secara signifikan terhadap nilai tukar rupiah. Beberapa teori ekonomi yang menjelaskan pengaruh nilai tukar terhadap inflasi antara lain:

1) Teori paritas dan daya beli (purchasing power parity) menjelaskan nilai kurs antar 2 negara berasal dari tingkat harga di kedua negara itu sendiri. Kenaikan kurs (depresiasi) ditunjukkan dengan kenaikan harga. Sebab ketika inflasi meningkat menurunkan Purchasing Power Parity (PPP). 2) Teori mekanisme exchange rate pass through (ERPT) menjelaskan inflasi dan kenaikan kurs (depresiasi rupiah) akan sebanding atau berhubungan positif. 3) Teori Inflasi Ekspektasi menjelaskan ramalan masyarakat domestik dan internasional terhadap perekonomian suatu negara dapat mempengaruhi kurs dan inflasi secara bersamaan.

77 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait