HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.3 Perkembangan Variabel
4.3.1 Perkembangan Pengeluaran Pemerintah Pada Bidang Pendidikan
Pengeluaran pemerintah di bidang pendidikan merupakan alokasi anggaran yang diperuntukkan bagi penyediaan berbagai pelayanan publik dalam rangka pemunuhan kebutuhan masyarakat oleh pemerintah terkait pendidikan Untuk itu pemerintah secra rutin setiap tahunnya menyusun anggaran tersebut dalam Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara (APBN).
Mengingat pentingnya peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan di setiap lapisan masyarakat dan di setiap golongan umur, maka pemerintah juga berusaha untuk meningkatkan pengeluarannya demi pencapaian tujuan pembangunan. Perkembangan pengeluaran pemerintah pusat pada bidang pendidikan dapat dilihat pada tabel berikut:
Sumber : Olahan Data Sekunder Badan Pusat Statistik
Gambar 4.1
Pengeluaran Pemerintah Pusat Pada Bidang Pendidikan
Berdasarkan Grafik diatas terlihat bahwa pengeluaran pemerintah untuk bidang pendidikan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya walaupun sesekali juga mengalami penurunan karena alokasi anggaran untuk bidang – bidang lainnya. Meskipun di awal tahun 1990-an peningkatannya cenderung konstan atau tidak terlalu signifikan namun mulai dekade 2000-an peningkatannya sangat tinggi. Ini dilakukan dalam rangka perbaikan berbagai sarana dan prasarana pendidikan. Meningkatnya pengeluaran ini dimaksudkan agar reformasi terwujud dan juga memungkinkan terjadinya perluasan akses dan peningkatan kualitas di semua jenjang pendidikan.
Namun tampak sedikit berbeda pada tahun 2010 dimana pengeluaran untuk pendidikan mengalami penurunan jika dibanding tahun 2009 yaitu turun sebesar 5.850 milyar. Turunnya anggaran karena kebijakan yang diambil oleh menteri keuangan saat itu, dimana pada tahun 2009 pengeluaran untuk pendidikan mencapai 21 persen dari APBN maka untuk mengurangi pengeluaran, mengingat
banyaknya bidang – bidang lain yang juga membutuhkan peningkatan anggaran maka pengeluaran untuk pendidikan diturunkan menjadi 20,6 persen dari APBN namun hal ini masih tetap sesuai dengan konstitusi yang dibuat sejak tahun 2003 yang mengharuskan anggaran untuk pendidikan sebesar minimal 20 persen dari APBN.
4.3.2 Perkembangan Pengeluaran Pemerintah Pada Bidang Kesehatan
Pemenuhan kebutuhan kesehatan merupakan salah satu kewajiban pemerintah untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduknya. Hal ini diwujudkan pemerintah melaui anggaran yang dialokasikan khusus untuk bidang kesehatan. Aggaran yang semakin besar dari tahun ke tahun diimbangi dengan perbaikan tingkat kesahatan masyarakat selama beberapa dekade terakhir ini, contohnya, angka kematian bayi turun dari 118 kematian per seribu kelahiran di tahun 1970 menjadi 35 di tahun 2003, dan angka harapan hidup meningkat dari 48 tahun menjadi 66 tahu pada periode yang sama. Perkembangan ini meperlihatkan dampak dari ekspansi perluasan penyediaan fasilitas kesehatan publik. Besarnya pengeluaran pemerintah pusat pada bidang pendidikan selama periode 1990-2010 sebagai berikut:
Sumber : Olahan Data Sekunder Badan Pusat Statistik
Gambar 4.2
Pengeluaran Pemerintah Pusat Pada Bidang Kesehatan
Pada Grafik 4.2 diatas terlihat bahwa mulai tahun 1990 hingga 2010 pengeluaran pemerintah pusat selalu mengalami fluktuasi. Pengeluaran ketika orde baru yaitu era 1990-an memang tidak begitu basar dibandingkan setelah orde baru. Ini karena pada orde baru tidak begitu banyak program pemerintah terkait kesehatan atau hanya terfokus pada Keluarga Berencana. Peningkatan yang mencolok terlihat pada tahun 2005 ke tahun 2006 dan dari tahun 2006 ke tahun 2007 dimana pengeluaran naik sebesar 5.692 milyar dan 4.737 milyar. Namun tahun berikutnya terjadi penurunan sebesar 1.481 milyar. Tapi setelah itu, tepatnya pada tahun 2009 dan 2010 pengeluaran kembali meningkat. Ini karena semakin banyaknya program terkait peningkatan pelayan kesehatan yang digulirkan oleh pemerintah contohnya Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yang mulai diterapkan tahun 2004 dan mulai berkembang lebih baik tahun 2005 hingga saat ini.
4.3.3 Perkembangan Jumlah penduduk Pada Kelompok Umur Muda (0-14 Tahun)
Penduduk pada kelompok umur muda adalah mereka yang tergolong ke dalam penduduk berusia 0-14 tahun. Pada umumnya di negara – negara berkembang jumlah penduduk pada kelompok umur muda lebih banyak dibandingkan penduduk pada kelompok umur tua. Hal ini disebabakan tingginya angka kelahiran dan kematian di negara berkembang termasuk Indonesia. Perkembangan penduduk pada kelompok umur ini terlihat pada grafik berikut:
Sumber : Olahan Data Sekunder Badan Pusat Statistik
Gambar 4.3
Jumlah penduduk Pada Kelompok Umur Muda (0-14 Tahun)
Grafik 4.3 diatas menunjukkan pergerakan jumlah penduduk Indonesia yang berusia 0-14 selama periode 1990-2010. Terlihat bahwa trennya mengalami penurunan mulai tahun 1990-2009 namun mengalami kenaikan pada tahun 2010. Menurunnya jumlah penduduk muda ini disebabakan oleh penurunan angka
Penurunan angka kelahiran bisa disebabkan salah satunya oleh program keluarga berencana (KB) dimana pemerintah menyarankan mengurangi jumlah anak dengan slogannya dua anak lebih baik. Selain itu juga dipicu oleh moderenisasi atau perkembangan zaman serta kemajuan pendidikan yang mengakibatkan perubahan pola pikir orang tua untuk tidak memiliki banyak anak.
Angka 65.690.400 jiwa pada hasil sensus tahun 1990 yang kemudian menjadi 60.979.700 jiwa pada hasil sensus tahun 2000 adalah perubahan yang cukup signifikan yaitu berkurang 4.710.700 jiwa. Namun pada tahun 2010 ternyata jumlahnya naik menjadi 68.603.263 jiwa. Pemicunya adalah naiknya kembali angka kelahiran. Berkurangnya jumlah penduduk pada kelompok umur muda bukan berarti jumlah penduduk Indonesia secara keseluruhan juga mengalami penurunan. Jumlah penduduk Indonesia tetap meningkat karena penduduk pada kelompok umur pertengahan dan kelompok umur tua tetap mengalami kenaikan.
4.3.4 Perkembangan Jumlah penduduk Pada Kelompok Umur Pertengahan (15-64 tahun)
Penduduk pada kelompok umur pertengahan adalah mereka yang berusia 15-64 tahun. Kelompok umur ini juga disebut kelompok usia produktif. Perkembangannya selama beberapa tahun terakhir terlihat pada grafik berikut:
Sumber : Olahan Data Sekunder Badan Pusat Statistik
Gambar 4.4
Jumlah penduduk Pada Kelompok Umur Pertengahan (15-64 tahun) Pada grafik diatas terlihat bahwa jumlah penduduk usia pertengahan mengalami fluktuasi. Jumlahnya tidak selalu menurun dan tidak pula selalu meningkat. Tahun 1990 jumlahnya sebesar 117.946.000 jiwa kemudian naik menjadi 118.300.518 jiwa pada tahun 1991 dan sebesar 119.028.921 pada tahun 1992. Jumlah ini terus meningkat hingga tahu 2010 yang mencapai 157.053.112 jiwa, namun ternyata angka ini ternyata mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yaitu menurun sebesar 443.688 jiwa. Pada tahun 2009 inilah penduduk usia pertengahan jumlahnya paling besar yaitu mencapai 157.496.800.
Penduduk pada kelompok umur yang jumlahnya besar tentu akibat tingkat kelahiran yang tinggi pada tahun – tahun sebelumnya. Penduduk usia pertengahan menanggung secara ekonomi penduduk kelompok usia muda dan tua karena mereka belum dan tidak lagi produktif. Hal inilah yang disebut angka beban tanggungan (dependentcy ratio). Umumnya di negara berkembang jumlah
yang berumur muda akibat tinggnya jumlah penduduk pada kelompok umur tersebut dibanding penduduk tua.
4.3.5 Perkembangan Jumlah penduduk Pada Kelompok Umur Tua (65-75 tahun keatas)
Penduduk pada kelompok umur tua adalah meraka yang berumur 65-75 tahun keatas. Perkembangan jumlah penduduk pada usia ini dapat dilihat pada grafik berikut:
Sumber : Olahan Data Sekunder Badan Pusat Statistik
Gambar 4.5
Jumlah penduduk Pada Kelompok Umur Tua (65-75 tahun keatas) Di indonesia jumlah penduduk tua tidak begitu besar namun terus meningkat dari tahun ke tahun. Seperti tampak pada tabel 4.5 diatas. Pada tahun 1990 jumlahnya sebesat 6.751.100 jiwa. Naik sebesar 262.899 jiwa pada tahun 1991 sehingga menjadi 7013999 jiwa. Hal yang sama juga terjad pada tahun – tahun berikutnya hinga tahun 2010. Namun terjadi sedikit perbedaan pada tahun 2000. Jumlahnya yang sebesar 9.092.645 jiwa ternyata mengalami penurunan
dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 9.662.100 jiwa pada tahun 1999. Namun kembali naik pada tahunn 2001 menjadi 9.692.500
Alasan paling mendasar mengapa jumlah penduduk pada usia tua meningkat adalah naiknya angka harapan hidup. Angka harapan hidup menunjukkan sampai usia berapa penduduk suatu negara bisa bertahan hidup. Di negara – negara maju umumnya angka harapan hidup lebih tinggi dibandingkan negara berkembang.
Faktor yang menyebabkan angka harapan hidup meningkat di Indonesia adalah meningkatnya kualitas kesehatan penduduk yang tentu saja hal ini tidak lepas dari peran pemerintah yang berusaha menyiapkan segala fasilitas kesehatan bagi penduduknya. Maka jika dilihat angka yang terus naik pada jumlah penduduk pada kelompok umur tua, ini sejalan dengan meningkatnya juga anggaran pemerintah untuk kesehatan.