II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A)
Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) adalah kelembagaan pengelolaan air irigasi yang menjadi wadah petani pemakai air dalam suatu daerah pelayanan irigasi yang di bentuk oleh petani pemaki air itu sendiri secara demokratis, termasuk kelembagaan lokal pengelola air irigasi (Anonim. Departemen Dalam Negeri,1992). Perkumpulan petani pemakai air (P3A) merupakan organisasi yang memiliki anggota terdiri dari petani-petani yang berada di sekitar wilaya h pertanian sawah setempat, dimana organisasi P3A memiliki kegiatan mengelola air agar air tersedia dengan baik untuk lahan persawahan petani.
Perkumpulan petani pemakai air (P3A) merupakan organisasi mandiri yang tidak di bawah pemerintahan desa. Organisasi ini boleh berkembang menjadi organisasi yang tidak hanya mengurusi masalah air tetapi juga dapat berkembang menjadi usaha ekonomi jika hal itu dikehendaki oleh anggotaya (Hansen 1992).
Perkumpulan petani pemakai air (P3A) merupakan organisasi pe tani yan tidak berinduk atau bernaung pada golongan atau politik, merupakan organisasi yang bergerak dibidang pertanian, khususnya dalam kegiatan pengelolaan pengairan sehubungan dengan kepentingan-kepentingan melangsungkan usahatani bersama. Adapun kegiatan organisasi P3A antara lain:
1. Pengembangan sumber daya manusia seperti peningkatan kemampuan pengurus dan petugas serta penambahan atau pengurangan petugas
7 2. Mengadakan rapat atau anggota dan pengurus yang membahas kebijakan dan
permasalahan yang akan di ambil dalam pengelolaan irigasi
3. Mengadakan pemungututan iuran pelayanan irigasi (IPAIR) guna pembiayaan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi
4. Mengatur pembagian, pemberian, penggunaan dan pembuangan kelebihan air irigasi
5. Mengadakan gotong royong guna pemeliharaan saluran dan bangunan irigasi 6. Mengajukan permohonan bantuan dan fasilitas kepada pemerintah
7. Melaksanakan AD/ART seperti : penerapan sanksi yang tegas kepada anggota yang melanggar AD/ART (Departemen Dalam Negeri, 1992).
Adapun yang menjadi maksud dan tujuan organisasi P3A adalah:
1. Agar pengelolaan air pengairan bagi kepentingan bersama dapat dilakukan secara mantap, tertib dan teratur melalui perkumpulan petani pemakai air.
Karena perkumpulan petani pemakai air dapat mengeluarkan ketentuan-ketentuan yang mengikat dan memuaskan bagi para anggotanya.
2. Dengan adanya ketentuan-ketentuan tersebut (yang pada dasarnya disepakati bersama oleh para anggotanya) perkumpulan petani pemakai air dengan di dukung kewajiban-kewajiban para anggotanya akan dapat melaksanakan dan meningkatkan pemeiharaan jaringan pengairan dalam wilayah kerja yang menjadi tanggung jawab secara mantap dan teratur.
3. Agar dengan adanya perkumpulan petani pemakai air, para petani anggotanya dapat tenang dan bergairah melaksnakan usaha taninya karena selain kebutuhan air pengairan tercukupi, juga dalam pelaksanaan usaha taninya itu
8 akan dapat menyesuaikan dengan perkembangan teknologi pertanian dan pengairan.
Tugas pokok P3A secara terperinci dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Melakukan pemeliharaan dan perbaikan jaringan-jaringan pengairan tersiaer dan pedesaan.
2. Membuat peraturan-peraturan dan ketentuan pembagian air pengairan serta pengamatan jaringan-jaringan agar terhindar dari perusahaan pembutuh air pengairan yang hanya mementingkan diri sendiri.
3. Mengatasi dan menyelesaikan berbagia masalah yang timbul dan terjadi di antara para anggota petani pemakai air pengairan dalam pengelolaan air pengairan.
4. Mengumpulkan dan mengurus iuran pembiayaan bagi kegiatan eksploitasi dan pemeliharaan bangunan dan jaringan pengairan dari para anggota petani pemakai air yang telah mereka sepakati bersama pada musyawarah di antara mereka.
5. Sebagai badan masyarakat mewujudkan peran sertanya kepada pemerintah dalam rangka kegiatan yang menyangkut persoalan-persoalan pengairan dan pertanian
Menurut Kurnia dan Judawinata (2000) pandangan suatu organisasi perkumpulan petani pemakai air (P3A) yang saat ini sering di dengung-dengungkan dengan otonomi daerah yaitu bahwa P3A harus mandiri.
Perkumpulan petani pemakai air (P3A) yang mandiri adalah kemandirian dalam:
organisasi dan manajemen, pengeloloaan keuangan, pembiayaaan operasi dan
9 pemeliharaan, dan menghadapi kekuatan-kekuatan luar. Selama ini kebijakan dan peraturan yang berkaitan dengan P3A memandang institusin tersebut sebagi lembaga sosial. Di sisi lain P3A sebagai organisasi pengelola air irigasi di tingkat lokal semakin di tuntut peranannya dalam pengalokasian sember daya air yang kompetitif untuk berbagai kepentingan.
Hal ini mengundang kontroversi apakah sifat sosial ini masih perlu dipertahankan dalam menghadapi sistem pengelolaan air irigasi yang semakin kompetitif. Kuswanto (1997) yang memandang P3A dari fungsi dan keuntungannya, menyatakan sifat sosial P3A masih perlu dipertahankan, karena:
1) pemilikan hak atas guna air dan jaringan irigasi oleh para petani anggota P3A bersifat kolektif, 2) P3A dapat berfungsi sebagai instrument untuk menciptakan dan menjaga pemerataan ekonomi dikalangan petani, dan 3) secara teknis akan memerlukan upaya perubahan organisasi yang sangant berat, mengingat sifat sosial P3A yang telah tertanam dalam kebijakan dan peraturan yang menyangkut pengelolaan P3A. Dengan demikian, langkah strategis adalah memadukan pandangan bisnis dalam kerangka visi P3A yang bersifa t sosial. Implikasinya adalah perlunya penyesuaian struktural organisasi P3A yang mengacu kepada pandangan ekonomi daerah. Sejalan dengan dinamika yang berkembang perlu adanya penyesuaian organisasi yang lebih adaptif dari struktur da kewenangan P3A.
10 2.2. Pengelolaan Air Irigasi
Air merupakan kebutuhan pokok bagi tanaman padi sawah. Akan tetapi pemakaian air yang berlebihan atau terjadi kekurangan air dapat menurunkan produksi tanaman padi sawah. Keberadaan sistem irigasi adalah dalam upaya meminimalisir dampak negatif dari kekurangan dan kelebihan air tersebut.
Dalam praktek pembangunaan selama ini, perencanaan pembangunan lebih mengandalkan pada ketrsediaan sumber daya, sehingga keterbatasan sumber daya tersebut juga membatasi kesuksesan pe mbangunan. Air merupakan sumber daya utama pembangunan pertanian, sehingga diperlukan pengelolaannya.
Pengelolaan air yang sudah dirasakan sangat terbatas, diarahkan penguatan organisasi pemakai air. Dengan demikian, pengelolaan sumber daya air pengairan diarahkan pada aspek penguatan organisasi dan norma. Selain itu, keterbatasan sumber daya pembangunan yang dikelola oleh pemerintah digantikan oleh organisasi masyarakat lokal yang memobilisasi berbagai sumber melalui komitmen diantara anggota masyarakat, sehingga sumber daya lokal menempatkan tanggung jawab pembangunan pada masyarakat setempat (Korten dan Syahrir, 1998). Hal ini terjadi karena ada hubungan yang erat antara keputusan yang di ambil masyarakat, tindakan untuk melaksanakan keputusan tersebut, dan sekaligus menerima konsekuensi dari keduanya.
Pusposutardjo (1989) mengatakan kinerja sistem irigasi sangat tergantung pada cara eksploitasi dan pemeliharaan jaringan irigasi serta pengelolaan air.
Dengan demikian kinerja sistem irigasi akan ditentukan oleh empat komponen pokok, yaitu a) fisik jaringan irigasi, b) kemampuan pengoperasian jaringan oleh
11 petugas pengairan, c) ketentuan ketentuan atau peraturan-peraturan yang mengikat pengoperasian dan pemanfaatan dan d) Petani pemakai air.
Optimalnya pelaksanaan keempat komponen tersebut dapat meningkatkan kinerja sistem irigasi sehingga air dapat tersedia dalam jumlah yang sesuai dengan waktu dibutuhkan. Keadaan ini dapat mengefektifkan penggunaan teknologi yang lebih baik, yaitu varietas unggul yang berdaya hasil tinggi berumur pendek, pupuk kimia dan pestisida sehingga menunjang program supra intensifikasi khusus.
Sebaliknya, bila diantara keempat komponen sistem irigasi tidak dapat terlaksana sesuai dengan semestinya maka kinerja sistem irigasi jadi berkurang. Air tidak dapat tersedia dengan baik dan pada akhimya tidak dapat menunjang supra intensifikasi khusus dengan baik (Meizul Zuki, 1993).
Pusposutardjo (1989) mengatakan bahwa dari keempat komponen penyusun sistem irigasi, komponen peran serta Petani pemakai air sangat menonjol karena empat hal, yaitu:
a. Pembangunan irigasi merupakan satu kesatuan dalam pembangunan pengairan yang sifatnya selain meningkatkan kemampuan penyediaan air juga berusaha mengembangkan, mengatur dan menjaga kelestarian sumber air.
b. Diperlukan dorongan terhadap masyarakat tani untuk memanfaatkan air irgasi yang tersedia terutama untuk pengembangan persawahan dan intensifikasi dan penggunaannya.
c. Diperlukan adanya peran serta petani dalam pengembangan jaringan terminal (jaringan tersier maupun kuarter) seperti tertuang di dalam PPRI No. 23 tahun 1082.
12 d. Diperlukan peningkatan kesadaran, kemampuan petani dan peran masyarakat dalam pemeliharaan, perawatan dan pendayagunaan sarana yang ada dengan diikuti pengaturan air secara efisien.
Berkenan dengan peran serta atau partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan, Diana Concers (1984) mengatakan bahwa partisipasi masyarakat dalam kegiatan perencanaan pembangunan setempat begitu penting dengan alasan:
a. Partisipasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan dan sikap masyarakat setempat yang tanpa kehadirannya program pembangunan serta proyek akan gagal.
b. Bahwa masyarakat akan lebih mempercayai proyek atau program pembangunan jika merasa dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaannya, karena mereka akan lebih mengetahui seluk beluk proyek tersebut dan akan mempunyai rasa memiliki terhadap proyek tersebut.
Kepercayan semacam ini adalah penting khususnya bila mempunyai tujuan agar dapat diterima oleh masyarakat.
c. Mendorong adanya partisipasi umum dibanyak negara karena timbul anggapan bahwa merupakan suatu hak demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan masyarakat mereka sendiri.
d. Bahwa merupakan suatu hak demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan masyarakat mereka sendiri.
13 Dalam konteks manajemen kaitannya dengan perilaku dalam organisasi Keith David dan John W. Newstrom (1993)''mengatakan seorang manejer yang partisipatif berkonsultasi dengan pegawai mereka, melibatkan mereka dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan sehingga mereka bekerja sama sebagai sebuah tim. Disini, partisipasi diartikan sebagai keterlibatan mental dan emosional orang-orang dalam situasi kelompok yang mendorong mereka untuk memberikan kontribusi kepada tujuan kelompok dan berbagi tanggung jawab pencapaian tujuan. Lebih lanjut dijelaskan oleh Keith David dan John W.
Newstrom (1993) bahwa ada tiga gagasan penting dalam definisi partisipasi, yaitu; keterlibatan, kontribusi dan tanggung jawab. Akan tetapi yang lebih utama adalah keterlibatan mental dan emosional. Partisipasi disini berarti keterlibatan mental dan emosional ketimbang hanya berupa aktivitas fisik. “Diri" orang itu sendiri yang terlibat, bukan hanya ketrampilannya. Keter libatan ini bersifat psikologis ketimbang fisik. Seseorang yang berpartisipasi 'terlibat egonya"
ketimbang hanya "terlibat tugas".
Menurut Racman (1999), keberhasilan pengelolaan air irigasi sangat tergantung kepada pengelolaan/manajemen di tingkat jaringa n (distribusi) dan tingkat sungai (alokasi). Dalam kaitannya dengan pengelolaan pengairan, unsur-unsur pembangunan sangat mempengaruhi pengelolaan air irigasi yang terdiri dari unsur sumber daya, unsur organisasi dan unsur norma atau peraturan. Pengairan yang terdiri dari air dan saluran merupakan sumber daya utama yang harus dikelola oleh P3A sebagai suatu organisasi dan pelaku pembangunan. Untuk
14 memperlancar kegiatan pengelolaan air irigasi, norma dan aturan memiliki peran yang sangat penting.
Aturan atau norma dalam pengaturan penggunaan air adalah peraturan-peraturan atau kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya pengairan. Aspek sumber daya, organisasi, dan peraturan merupakan faktor-faktor strategis dalam meningkatkan kemampua n P3A dalam mengelola air irigasi.