F.13.1. Perlakuan Perpajakan di KAPET (PPh dan PPN)
I. DASAR HUKUM
A. PP 147 TAHUN 2000 (berlaku sejak 1 Januari 2001) tentang perubahan PP 20 TAHUN
2000 tentang perlakuan perpajakan di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)
B. KEPRES No. 150 TAHUN 2000 (berlaku sejak 19 Oktober 2000) tentang Kawasan
Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)
C. 11/KMK.04/2001 (daya laku surut sejak 1 Januari 2001) tentang perubahan
KMK-200/KMK.04/2000 tentang perlakuan perpajakan dan kepabeanan di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)
D. KEP-229/PJ./2001 (berlaku sejak 22 Maret 2001) tentang perlakuan perpajakan di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)
II. DEFENISI (Pasal 1 KEPRES No. 150 TAHUN 2000)
o KAPET merupakan wilayah geografis dengan batas-batas tertentu yang memenuhi persyaratan :
1. memiliki potensi untuk cepat tumbuh; dan atau
2. mempunyai sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitarnya; dan atau
3. memiliki potensi pengembalian investasi yang besar.
o Penetapan KAPET berikut batas-batasnya dilakukan dengan Keputusan Presiden tersendiri.
III. KEWAJIBAN TERKAIT PEMBUKUAN
o Kepada Pengusaha yang melakukan kegiatan usaha di luar wilayah KAPET, diwajibkan
melaksanakan pembukuan secara terpisah untuk transaksi, penghasilan dan biaya-biaya antara kegiatan usaha yang dilakukan di dalam wilayah KAPET dengan kegiatan usaha yang dilakukan di luar wilayah KAPET. (Pasal 4 KEP-229/PJ./2001)
IV. PERLAKUAN PERPAJAKAN DI KAPET
o Perlakuan perpajakan di KAPET dibedakan atas 3 kelompok besar, yaitu :
1. Untuk Pengusaha yang Berdomisili di dalam wilayah KAPET (diberikan fasilitas PPh saja) 2. Untuk Pengusaha yang Tidak Berdomisili di dalam wilayah KAPET (diberikan fasilitas PPh
saja)
3. Untuk Pengusaha yang Melakukan Kegiatan Usaha Sebagai Penyelenggara Kawasan Berikat (PKB) dan atau Pengusaha di Kawasan Berikat (PDKB) Pada Wilayah KAPET yang ditetapkan sebagai Kawasan Berikat (diberikan fasilitas PPh dan PPN serta PPnBM)
o Untuk mengembangkan KAPET sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, beberapa wilayah dalam KAPET dapat ditetapkan sebagai Kawasan Berikat (Pasal 7 KEPRES Nomor 150 TAHUN 2000).
A. Untuk Pengusaha yang Berdomisili di dalam wilayah KAPET (Fasilitas perpajakan di bidang PPh ini diberikan terhadap kegiatan dan aktiva yang semata-mata digunakan di dalam wilayah KAPET (Pasal 2 ayat (3) KEP-229/PJ./2001)
o diberikan fasilitas PPh berupa: (Pasal 2 ayat (1) KEP-229/PJ./2001)
1. Pengurangan penghasilan neto sebesar 30% dari jumlah penanaman yang dilakukan, yang dapat dinikmati selama 6 tahun terhitung sejak tahun dimulainya produksi komersial, yaitu sebesar 5% setiap tahun dari jumlah realisasi penanaman modal baik dalam aktiva tetap yang dapat disusutkan maupun yang tidak dapat disusutkan;
Page 189 of 504
o Pengurangan penghasilan neto diberikan dalam hal Pengusaha mendapat keuntungan usaha atau menambah kerugian fiskal dalam hal Pengusaha mengalami kerugian. (Pasal 3 ayat (1) KEP-229/PJ./2001)
o Apabila dalam tahun-tahun pemberian fasilitas ini, Pengusaha melakukan pengalihan harta yang berasal dari penanaman modal yang telah mendapat fasilitas tersebut, maka fasilitas yang telah dinikmati yang melekat pada harta tersebut dicabut kembali dan ditambahkan pada penghasilan kena pajak dalam tahun pajak dilakukannya pengalihan harta, dan atas keuntungan yang diperoleh dari pengalihan harta tersebut tetap terutang PPh. (Pasal 3 ayat (2) KEP-229/PJ./2001)
o Untuk dapat memperoleh fasilitas PPh ini, Pengusaha harus mengajukan
permohonan tertuliskepada Kepala KPP tempat Pengusaha terdaftar dengan
menggunakan formulir Lampiran I KEP 229/PJ./2001, dengan disertai : 1. Surat Penunjukan Pelaksana Proyek dari Badan Pengelola KAPET; 2. Surat Keterangan Penanaman Modal dari instansi yang berwenang; 3. Jumlah dan tahun realisasi penanaman modal yang dilakukan; 4. Laporan keuangan untuk tahun mulai berproduksi komersial.
o Kepala KPP tempat Pengusaha terdaftar, menerbitkan Surat Keputusan Persetujuan paling lambat 5 hari kerja setelah permohonan diterima lengkap. (Pasal 6 ayat (1) KEP-229/PJ./2001)
o Dalam hal KPP tempat Pengusaha terdaftar berbeda dengan KPP tempat Pengusaha melakukan kegiatan usaha, maka Kepala KPP tempat Pengusaha terdaftar mengirimkan tembusan Surat Keputusan Persetujuan kepada Kepala KPP yang wilayahnya meliputi tempat Pengusaha melakukan kegiatan usaha. (Pasal 6 ayat (2) KEP 229/PJ./2001)
2. Pilihan untuk menerapkan penyusutan dan atau amortisasi yang dipercepat, sebagai berikut: Kelompok Harta Masa Manfaat Menjadi
Tarif Penyusutan dan Amortisasi Berdasarkan Metode
Garis Lurus Saldo Menurun I. Bukan Bangunan atau Harta Tak
Berwujud o Kelompok I 2 th 50% 100% o Kelompok II 4 th 25% 50% o Kelompok III 8 th 12,5% 25% o Kelompok IV 10 th 10% 20% II. Bangunan
Page 190 of 504
o Permanen 10 th 10%
o Tidak Permanen 5 th 20%
3. Kompensasi kerugian fiskal, mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai paling lama 10 tahun;
o Untuk dapat memperoleh fasilitas PPh ini, Pengusaha harus mengajukan permohonan tertulis kepada Kepala KPP tempat Pengusaha terdaftar dengan menggunakan formulir Lampiran II.aKEP-229/PJ./2001 dengan melampirkan Surat Penunjukan Pelaksana Proyek dari Badan Pengelola KAPET.
o Kepala KPP tempat Pengusaha terdaftar, menerbitkan Surat Keputusan Persetujuan paling lambat 5 hari kerja setelah permohonan diterima lengkap. (Pasal 6 ayat (1) KEP 229/PJ./2001)
o Dalam hal KPP tempat Pengusaha terdaftar berbeda dengan KPP tempat Pengusaha melakukan kegiatan usaha, maka Kepala KPP tempat Pengusaha terdaftar mengirimkan tembusan Surat Keputusan Persetujuan kepada Kepala KPP yang wilayahnya meliputi tempat Pengusaha melakukan kegiatan usaha. (Pasal 6 ayat (2) KEP-229/PJ./2001)
4. PPh Pasal 26 atas Dividen sebesar 10%, atau tarif yang lebih rendah menurut Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda yang berlaku.
o Untuk dapat memperoleh fasilitas PPh ini, Pengusaha harus mengajukan permohonan kepada Kepala KPP tempat Pengusaha terdaftar dengan menggunakan formulir Lampiran III.a KEP-229/PJ./2001 dengan disertai :
a. Surat Penunjukan Pelaksana Proyek dari Badan Pengelola KAPET;
b. Daftar nama, alamat, jumlah Dividen yang dibagikan, jumlah PPh Pasal 26 yang terutang;
c. Penjelasan bahwa Dividen yang dibayarkan berasal dari sisa laba tahun pajak yang bersangkutan.
o Kepala KPP tempat Pengusaha terdaftar, menerbitkan Surat Keputusan Persetujuan paling lambat 5 hari kerja setelah permohonan diterima lengkap. (Pasal 6 ayat (1) KEP-229/PJ./2001)
o Dalam hal KPP tempat Pengusaha terdaftar berbeda dengan KPP tempat Pengusaha melakukan kegiatan usaha, maka Kepala KPP tempat Pengusaha terdaftar mengirimkan tembusan Surat Keputusan Persetujuan kepada Kepala KPP yang wilayahnya meliputi tempat Pengusaha melakukan kegiatan usaha. (Pasal 6 ayat (2) KEP-229/PJ./2001)
B. Untuk Pengusaha yang Tidak Berdomisili di dalam wilayah KAPET (Fasilitas perpajakan di bidang
PPh ini diberikan terhadap kegiatan dan aktiva yang semata-mata digunakan di dalam wilayah KAPET (Pasal 2 ayat (3)KEP-229/PJ./2001)
o hanya diberikan fasilitas PPh berupa: (Pasal 2 ayat (2) KEP-229/PJ./2001)
1. Pengurangan penghasilan neto sebesar 30% dari jumlah penanaman yang dilakukan, yang dapat dinikmati selama 6 tahun terhitung sejak tahun dimulainya produksi komersial, yaitu sebesar 5% setiap tahun dari jumlah realisasi penanaman modal baik dalam aktiva tetap yang dapat disusutkan maupun yang tidak dapat disusutkan;
Page 191 of 504
o Pengurangan penghasilan neto diberikan dalam hal Pengusaha mendapat keuntungan usaha atau menambah kerugian fiskal dalam hal Pengusaha mengalami kerugian. (Pasal 3 ayat (1) KEP-229/PJ./2001)
o Apabila dalam tahun-tahun pemberian fasilitas ini, Pengusaha melakukan pengalihan harta yang berasal dari penanaman modal yang telah mendapat fasilitas tersebut, maka fasilitas yang telah dinikmati yang melekat pada harta tersebut dicabut kembali dan ditambahkan pada penghasilan kena pajak dalam tahun pajak dilakukannya pengalihan harta, dan atas keuntungan yang diperoleh dari pengalihan harta tersebut tetap terutang PPh. (Pasal 3 ayat (2) KEP-229/PJ./2001)
o Untuk dapat memperoleh fasilitas PPh ini, Pengusaha harus mengajukan
permohonan tertuliskepada Kepala KPP tempat Pengusaha terdaftar dengan
menggunakan formulir Lampiran I KEP-229/PJ./2001, dengan disertai : a. Surat Penunjukan Pelaksana Proyek dari Badan Pengelola KAPET; b. Surat Keterangan Penanaman Modal dari instansi yang berwenang; c. Jumlah dan tahun realisasi penanaman modal yang dilakukan; d. Laporan keuangan untuk tahun mulai berproduksi komersial.
o Kepala KPP tempat Pengusaha terdaftar, menerbitkan Surat Keputusan Persetujuan paling lambat 5 hari kerja setelah permohonan diterima lengkap. (Pasal 6 ayat (1) KEP-229/PJ./2001)
o Dalam hal KPP tempat Pengusaha terdaftar berbeda dengan KPP tempat Pengusaha melakukan kegiatan usaha, maka Kepala KPP tempat Pengusaha terdaftar mengirimkan tembusan Surat Keputusan Persetujuan kepada Kepala KPP yang wilayahnya meliputi tempat Pengusaha melakukan kegiatan usaha. (Pasal 6 ayat (2) KEP-229/PJ./2001) 2. Pilihan untuk menerapkan penyusutan dan atau amortisasi yang dipercepat, sebagai berikut:
o Kelompok Harta Masa Manfaat Menjadi
Tarif Penyusutan dan Amortisasi Berdasarkan Metode
Garis Lurus Saldo Menurun I. Bukan Bangunan atau Harta Tak
Berwujud o Kelompok I 2 th 50% 100% o Kelompok II 4 th 25% 50% o Kelompok III 8 th 12,5% 25% o Kelompok IV 10 th 10% 20% II. Bangunan o Permanen 10 th 10% o Tidak Permanen 5 th 20%