PERLAWANAN DAN TRANSFORMASI
Kekristenan Diserang
Perang yang diluncurkan Islam terhadap Kekristenan pada tahun 630-an berlangsung tanpa jeda selama berabad-abad. Sebagai rekapitulasi singkat, penaklukkan Mesir pada tahun 636 atau 639 diikuti dengan penyerbuan umum terhadap Barat, terutama Afrika Utara dan Eropa Mediterania. Pada pertengahan tahun 600-an, Italia Selatan dan Byzantium diserang, dan pada tahun 700 seluruh Afrika Utara telah ditundukkan. Spanyol adalah sasaran para jihadis berikutnya, dan Selat Gibraltar diseberangi pada tahun 711. Jazirah Iberia dengan cepat dikuasai, dan tidak lama kemudian pasukan-pasukan Muslim menyeberangi Pyrenees dan menerobos ke jantung Perancis. Seluruh Eropa kini berada di ujung tanduk. Seorang pemimpin Frank bernama Charles Martel, atau
dijuluki “Palu”, dengan gagah berani menghadang mereka di Tours pada 732. Ini
memberikan kesempatan bagi Eropa untuk bernafas, tetapi tidak berarti bahwa bahaya telah berlalu.
Sudah barang tentu dari perspekstif berdasarkan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, kita mengetahui bahwa gelombang Islam untuk sesaat mencapai titik puncaknya, dan setelah itu untuk sementara waktu nampaknya menurun. Tetapi pada abad ke-8 tidak seorangpun yang dapat memprediksi hal itu. Teror dalam nama Islam yang telah melanda semuanya pada abad terdahulu telah membuat orang-orang Kristen bertanya-tanya, apakah akhir jaman telah tiba. Kita harus ingat bahwa sejak kemunculannya di jazirah Arab pada tahun 630-an, tentara- tentara Islam yang tidak dapat dihentikan, selama 90 tahun menyebarkan agama dan fanatisme para pengikutnya dari perbatasan-perbatasan Yerusalem ke bagian tengah Perancis, dan kemenangan Peperangan Tours, walaupun dirayakan dengan sukacita, tidak menandai penyerangan Islam yang pertama dan terakhir terhadap Gaul. Bahkan itu sama sekali bukanlah kemunduran Islam yang pertama di Utara Pyrenees. Itu terjadi di Toulouse pada tahun 721, ketika pasukan penyerbu dari Spanyol dihancurkan oleh Odo Yang Agung, Bangsawan dari Aquitaine. Juga kekalahan di Tours tidak mengakhiri penyerangan- penyerangan Muslim terhadap Perancis. Saat itu, nampaknya hanyalah sebuah penundaan sementara.
Tetapi jika orang-orang modern tidak mampu memahami dan merasakan teror serta memprediksi apa yang telah mencengkeram Eropa dengan kedatangan pasukan-pasukan Islam, setidaknya para sejarawan telah menyadari signifikansi (terutama secara simbolik) kemenangan Charles Martel. Peristiwa itu tercatat sebagai salah satu peperangan yang merupakan titik balik dalam sejarah; sebuah peristiwa yang mengubah haluan peradaban. Menurut Gibbons, jika Islam mengalami kemenangan di Tours maka itu akan membawa invasi dan
pendudukan atas seluruh Eropa, bahkan islamisasi seluruh benua setidaknya sejauh Rhine atau Elbe. Dan Eropa yang islami pada akhirnya menjadi dunia Islam.
Dengan demikian peperangan untuk menyelamatkan kekristenan itu sendiri digabung dengan invasi Spanyol, dan perang merebutkan jazirah Iberia menjadi pertikaian peradaban yang riil. Mulai dari poin ini, senantiasa ada kekerasan yang tidak berkeputusan antara orang-orang Muslim, terkonsentrasi di Spanyol tengah dan selatan, dan orang-orang Kristen di utara Spanyol dan Perancis. Peperangan besar peradaban ini kemudian berlanjut selama beberapa abad dan menyaksikan pertikaian-pertikaian antara kedua belah pihak. Pertikaian- pertikaian ini dan peristiwa-peristiwa di sekelilingnya, sejak semula bersifat brutal. Para penginvasi Muslim melihat benua Kristen Eropa sebagai sumber jarahan dan budak yang melimpah; dan pasukan-pasukan Islam mengumpulkan budak baik dari populasi Kristen di Spanyol tengah dan selatan dan dari populasi-populasi Spanyol utara dan Perancis yang telah ditaklukkan. Mereka juga mengimpor budak dari pedagang-pedagang budak Viking, sejumlah besar tawanan Kristen dari utara, dari Perancis utara, Inggris, Skotlandia dan Irlandia. Penulis bermaksud menunjukkan bahwa pergerakan epik yang kita sebut sebagai Perang Salib berakar pada agresi-agresi Muslim ini. Sudah tentu ini bukanlah pendapat yang banyak beredar pada masa kini, yang cenderung melihat Perang Salib sebagai serangan tanpa adanya provokasi terlebih dahulu oleh Eropa yang barbar terhadap dunia Islam yang damai dan berbudaya. Salah satu alasan untuk ini adalah interval waktu. Nampaknya 4 abad telah berlalu sejak serangan Muslim mula-mula terhadap Eropa dan tanggapan Eropa terhadap hal itu. Dalam Apendiks, topik ini akan lebih banyak dibahas. Alasan lainnya adalah kepatutan politik, yang hanya melihat barbarisme dan agresi di pihak orang-orang Kristen Eropa. Tetapi konsensus ini sekarang semakin ditentang. Maka belum lama ini Bernard Lewis sendiri yang sama sekali tidak bersahabat dengan kekristenan abad pertengahan mengatakan, “Kini kita diharapkan untuk percaya bahwa Perang Salib adalah tindakan agresi terhadap dunia Muslim yang damai. Sama sekali tidak demikian! Panggilan pertama perang Salib terjadi pada tahun 846, ketika sebuah ekspedisi Arab ke Sisilia berlabuh di Tiber dan menyerang St. Petrus di Roma. Sinode di Perancis mengeluarkan permohonan kepada para penguasa Kristen untuk bersatu
menghadapi „musuh-musuh Kristus‟, dan Paus Leo IV menawarkan pahala surga bagi mereka yang gugur dalam peperangan melawan orang Muslim. Satu setengah abad dan setelah melalui banyak peperangan, kemudian pada tahun 1096 para pejuang Perang Salib benar-benar tiba di Timur Tengah. Para pejuang Perang Salib sudah terlambat, terbatas dan tidak berhasil mengimitasi
jihad – sebuah usaha untuk mendapatkan kembali apa yang telah hilang oleh
karena perang suci. Semua itu gagal, dan tidak ditindaklanjuti”270.
Jadi bagi Lewis “Perang Suci” adalah sebuah ide yang ditiru orang-orang Kristen dari orang-orang Muslim. Kita telah melihat ide-ide Islam lainnya yang ditiru orang Kristen; yang menonjol adalah penghancuran benda-benda seni yang sakral (ikonoklasme). Kini kita melihat ide dan konsep lainnya yang diimpor Eropa dari dunia Islam.
Kondisi-kondisi di Spanyol
Kita telah melihat bahwa para sejarawan, terutama di belahan dunia yang berbahasa Inggris, cenderung meromantiskan Islam Spanyol dan mengibliskan orang Kristen, atau lebih tepatnya, Katolik Spanyol. Ada alasan-alasan historis yang kuat yang merujuk kembali kepada Reformasi sehingga para sejarawan dunia Anglo melakukannya, walaupun balakangan ini ditambahkan sudut pandang kepatutan politik yang hanya melihat barbarisme dan keterbelakangan di antara orang-orang Kristen dan diantara orang Eropa.
Ini setidaknya adalah bahasa populis yang seringkali digunakan di televisi dan dalam artikel-artikel di surat kabar. Para akademisi bersikap lebih mempertimbangkan keadaan. Namun demikian, konsensus umum tetaplah sama: ancaman Islam hanya mempunyai sedikit keterkaitan dengan Perang Salib; orang Muslim semata-mata hanyalah sasaran empuk Eropa yang brutal dan liar, melekat dengan budaya terbiasa melakukan kekerasan dan penjarahan.
“Energi-energi” para pejuang Eropa diyakini semata-mata diarahkan oleh kepausan agar tidak melakukan kerusakan internal melainkan menyerang sasaran empuk yaitu dunia Islam. Sebagai contoh, ini adalah kalimat yang dikemukakan Marcus Bull dalam pengujiannya terhadap asal mula Perang Salib dalam The Oxford History of the Crusades. Dalam sebuah artikel yang berisi hampir sepuluh ribu kata, Bull sama sekali gagal menyadari ancaman Muslim.
sesungguhnya ia menyebutkannya hanya untuk mengabaikannya: “Perspektif
terhadap perjuangan Mediterania [antara Islam dengan kekristenan] hanya nyata bagi institusi-institusi itu, terutama kepausan, yang memiliki jejaring inteligensi, memahami geografi, dan tradisi sejarah yang panjang sehingga memiliki sudut pandang yang luas terhadap kekristenan dan ancamannya, apakah itu nyata atau hanya dugaan. Ini adalah poin yang harus ditekankan karena terminologi Perang Salib seringkali diaplikasikan dengan tidak akurat terhadap semua keadaan dalam dekade-dekade sebelum tahun 1095, yaitu ketika orang Kristen dan orang Muslim mendapati diri mereka diperhadapkan dengan gelombang. Gagasan yang mendukung penggunaan yang tidak tepat ini adalah bahwa Perang Salib Pertama adalah yang terakhir dan merupakan kulminasi dari satu
270 Ber ard Le is, Ir i g Kristol Le ture , disa paika kepada A eri a E terprise I stitute, Washington, DC (7 Maret 2007).
seri peperangan pada abad 11, yang berkarakter kegamaan, yang secara efektif
merupakan „eksperimen‟, dan yang telah memperkenalkan orang-orang Eropa pada fitur mendasar Perang Salib. Ini adalah pandangan yang tidak dapat
dibela”271.
Kita dapat bertanya, dengan pembenaran apa Bull memutuskan konflik-konflik Kristen-Muslim pada abad 11 di Spanyol, Sisilia, dan Asia Kecil dari Perang Salib
yang pertama? Jawabannya sama sekali tidak meyakinkan. “Ada banyak bukti”, ujarnya, “yang mengatakan bahwa orang memandang permohonan perang Paus
Urban II pada tahun 1095-6 sebagai sebuah syok terhadap sistem komunal. Hal itu dirasakan benar-benar efektif karena ia berbeda dengan apapun yang telah
diupayakan sebelumnya”272. Sudah tentu berbeda: Paus telah mengumpulkan
semua penguasa dan kaum rohaniwan Eropa untuk mendesak dibentuknya pasukan yang kuat untuk maju ke Konstantinopel dan pada akhirnya untuk kembali mengambil alih Tanah Suci. Ini adalah sesuatu yang baru oleh karena skala dan ambisinya. Tetapi mengabaikan hubungannya dengan apa yang telah terjadi sebelumnya di Spanyol, Sisilia dan Anatolia, sangatlah tidak masuk akal. Pernyataan seperti itu hanya dapat berasal dari cara berpikir yang melihat para pejuang Perang Salib sebagai agresor dan dengan demikian memisahkan mereka dari perang-perang defensif yang sah yang dilakukan orang-orang Kristen di Spanyol dan di seluruh Mediterania dalam dekade-dekade tepat sebelum 1095.
Kenyataannya adalah, dalam 20 tahun sebelum Perang Salib Pertama, kekristenan telah kehilangan seluruh Asia Kecil dan Anatolia, suatu wilayah yang lebih besar dari Perancis, yang merupakan pintu masuk ke Eropa. Kaum petani Eropa mungkin tidak benar-benar memahami bahaya yang datang dari Timur, tetapi golongan atas yang memegang pemerintahan dan juga Gereja semestinya waspada. Sekalipun kaum petani dan seniman Eropa hanya sedikit mengetahui tentang Anatolia, mereka tentunya mempunyai sedikit pengetahuan mengenai ancaman Muslim. Adalah Bull yang mengemukakan bahwa mereka tidak berdaya. Penyerangan-penyerangan yang dipimpin Abd er-Rahman III dan Al- Mansur melalui Spanyol utara dan di tahun-tahun berikutnya pada abad 10 mengakibatkan timbulnya gelombang pengungsi Kristen ke Perancis selatan; dan penyerangan-penyerangan yang hingga mencapai Perancis selatan yang berlanjut hingga abad 11 menimbulkan gelombang pengungsi dari sana ke Perancis tengah dan utara273. Orang-orang ini telah menyebarkan pengetahuan mengenai bahaya Islam di seluruh Eropa Barat. Kaum petani dan pekerja/buruh tidak mempunyai pengetahuan yang memadai mengenai Islam dan apa yang sebenarnya dipercayai orang Muslim; tetapi bukan ini masalahnya: mereka
271Mar us Bull, Origi s dala Jo atha Rile
-Smith (ed.) The Oxford History of the Crusades, p. 19 272
Ibid. 273
mempunyai pengetahuan yang cukup untuk menyadari bahwa orang-orang Muslim adalah musuh Kristus; bahwa mereka memerangi warga sipil dan memperbudak kaum wanita dan anak-anak, dan bahwa mereka telah menaklukkan seluruh Spanyol dan mengancam Perancis.
Dan ini adalah poin yang harus ditekankan berulangkali: realitanya adalah, jauh dari kedamaian dan ketentraman, pada tahun-tahun terakhir abad 10 Islam sekali lagi bergerak maju. Pasukan-pasukan Muslim mengobarkan peperangan untuk menaklukkan orang-orang tidak beriman dari satu ujung dunia Islam ke ujung lainnya; dari Spanyol di barat hingga ke India di timur. Lebih jauh lagi, agresi yang baru ini tidak dibatasi dengan ujung-ujung terjauh di timur dan barat, karena pada pertengahan abad 11 pasukan-pasukan Islam juga bergerak di Timur Dekat, melawan kerjaan-kerajaan Kristen Armenia, Georgia dan Byzantium. Banyak aspek dari penyebaran Islam yang baru ini, terutama yang terjadi pada sekitar permulaan abad 11 di Spanyol dan India, mengingatkan akan ekspansi Islam sebelumnya pada abad 8, dan menyebabkan kita bertanya-tanya lagi, apakah kelahiran Islam salah diberi tanggal dan mundur ke masa lalu sebanyak beberapa abad. Sebagai contoh, kita diberitahu bahwa invasi Islam yang utama di India dimulai dengan penaklukan-penaklukan yang dilakukan oleh Mahmud dari Ghazni, seorang pangeran yang berbahasa Turki yang tinggal di Afghanistan, yang meluncurkan satu seri (17 kali serangan) ke India Utara. Ini dimulai pada tahun 1001 dan berakhir pada 1026, kira-kira hanya 4 tahun sebelum kematiannya; satu seri penyerangan, yang harus kita ingat, yang menyebabkan kehancuran besar dan hilangnya banyak nyawa di negara itu. Pada tahun 1020-an Mahmud memerintah sebuah kekaisaran yang meliputi sebagian besar Lembah Indus, Afghanistan dan Persia. Namun penaklukkan- penaklukkan ini pada permulaan abad 11, nampaknya menggemakan penaklukkan-penaklukkan oleh Muhammed bin Qasim, tiga abad sebelumnya, yang menciptakan suatu kekaisaran Islam kira-kira di wilayah yang sama (sekitar tahun 710).
Aneh juga melihat bahwa nama Mahmud Ghazni hanya sedikit berbeda dari
pendahulunya. Hanya “n” dalam Ghazni yang membedakannya dari Qasim, kata
yang juga dapat ditulis Qasmi. Dan yang lebih menakjubkan, tradisi nampaknya menempatkan Mahmud dari Ghazni hanya 5 generasi setelah Muhammad. Kita
diberitahu bahwa ayahnya Sebektagin adalah “budak dari budak dari budak
Komandan orang-orang Beriman [Muhammad]”274.
Di ujung barat dunia Islam kita menjumpai fenomena yang sama. “Pada abad 10”, kata Runciman, “orang-orang Muslim Spanyol menghadirkan ancaman yang
sangat nyata terhadap kekristenan”275. Di bawah Abd er-Rahman III (912-961)
274
Lihat Gibbon, Bab 57 275
para pengikut Muhammad mendapatkan seorang pemimpin yang berjanji akan mengulangi kesuksesan pada abad 8. Sebagai pendiri kekhalifahan Kordoba, ia membawa era baru kejayaan dan kekuatan militer. Pasukannya memerangi orang Kristen di utara, dan perbatasan antara kedua agama tersebut ditandai dengan pertempuaran yang dilakukannya. Yang paling terkenal adalah pertempuran-pertempuran yang terjadi di Simancas (939), antara Salamanca dan Valladolid di Sungai Duoro, dimana ia berhenti. Ada wilayah-wilayah yang telah dikuasai orang Muslim dua abad sebelumnya, walau orang Kristen nampaknya telah merebutnya kembali setelah sejangka waktu. Dalam banyak hal kemudian Abd er-Rahman III meniru leluhurnya Abd er-Rahman I, yang telah menaklukkan wilayah-wilayah ini pada abad 8. Dan impuls penaklukkan baru ini berlanjut di bawah Al-Mansur (980-1002), yang perjalanan karirnya melihat kekuasaan Muslim sekali lagi membungkus seluruh Spanyol, termasuk hingga jauh ke utara. Ia membakar Leon, Barcelona dan Santiago de Compostela, dan meniru para pendahulu Muslimnya hampir tiga abad terdahulu, menyeberangi Pyrenees. Kita diberitahu bahwa pada jaman Al-Mansur, “Belum pernah sebelumnya orang Kristen berada pada posisi yang kritis seperti ini”276.
Serangan-serangan Al-Mansur yang akhirnya kemudian membangkitkan Eropa Kristen melakukan Reconquista, yang dimulai dengan penyerangan yang dilakukan oleh Sancho III (yang disebut Agung) dari Navarre dan Norman Baron Roger de Tony pada tahun 1020-an. Namun peristiwa-peristiwa ini mengingatkan awal mula Reconquista dengan kemenangan Don Pelayo di Covadonga sekitar tahun 718.
Apakah sejarah Islam perlu dipersingkat tiga abad atau tidak, yang menurut penulis ada kemungkinan untuk itu, tidak diragukan lagi bahwa pada akhir abad 10 dan awal abad 11 Islam mengalami jaman baru ekspansi. Di atas semua itu, di tengah-tengah dunia Islam suku nomaden yang baru menjadi Muslim yaitu orang-orang Turki sedang bersiap meluncurkan suatu episode penting dalam perang melawan Byzantium.
Pendirian kembali Kekaisaran Barat
Konsekuensi politis yang paling dramatis dari kemunculan Islam adalah pendirian kembali Kekaisaran Roma Barat. Henry Pirenne langsung melihat penobatan Charlemagne oleh Paus Leo III pada Hari Natal tahun 800 sebagai Kaisar Barat sebagai sebuah momen menentukan dalam sejarah Eropa. Ini merepresentasikan, setidaknya secara simbolis, keterpisahan final antara Timur dengan Barat, antara dunia kekristenan Latin dengan kekristenan Yunani. Dan kenyataan bahwa ini pasti merupakan konsekuensi langsung dari pertumbuhan kekuasaan Islam yang semakin jelas ketika kita memikirkannya. Para raja Jerman yang memerintah Eropa barat selama abad 5, 6 dan awal abad 7
276
memandang diri mereka sendiri sebagai (secara keseluruhan) para pejabat Kekaisaran, yaitu pejabat-pejabat Kekaisaran Byzantium. Kita ingat mereka mempunyai gelar seperti Konsul, dan mencetak koin-koin bergambar kaisar Timur. Hanya pada abad 7 para raja Merovingian berani mengeluarkan koin yang bergambar potret mereka sendiri. Seperti yang kita lihat, ini terjadi selama jaman Heraclius, Kaisar pertama yang berkonflik dengan orang-orang Arab. Kemudian disini kita memiliki bukti permulaan perpecahan antara Timur dengan Barat dan petunjuk penting penyebabnya. Karena tidak seorangpun, bahkan yang paling berkuasa di antara orang-orang Merovingian, yang layak mendapat gelar Kaisar. Kekuasaan dan prestise Byzantium terlalu besar. Sekalipun ia tidak memiliki pasukan untuk menghancurkan dan menguasai, Byzantium memiliki kekayaan untuk mendanai musuh-musuh dari musuhnya – kekayaan yang digunakan untuk menghadapi para lawannya di Italia, Gaul, Spanyol dan Afrika Utara selama abad 6 dan awal abad 7.
Pendirian kembali Kekaisaran Barat, dengan salah satu dari raja-raja Jerman di wilayah itu adalah sesuatu yang dapat kita harapkan setelah Islam menundukkan Byzantium. Dan pada pertengahan abad 7 Byzantium berada dalam posisi bertekuk lutut. Seluruh Syria dan Afrika Utara telah terhilang, perekonomiannya ambruk, seperti yang akan kita lihat, kota-kotanya (sebagian kecil dari teritori yang masih menjadi miliknya) hampir sama sekali terabaikan. Konstantinopel sendiri kini berdiri di depan bahaya besar. Waktunya sudah matang bagi munculnya kaisar yang baru di Barat. Tetapi hal itu tidak terjadi untuk 150 tahun ke depan. Mengapa Charles Agung dan bangsa Frank Jermannya menunggu sekian lama sebelum melakukan tindakan yang masuk akal, yang mestinya terjadi sekitar tahun 650?
Ada masalah-masalah lain dengan “Kekaisaran Carolingian” ini. Yang paling menekan adalah fakta bahwa hampir-hampir tak satupun artefak atau bangunan yang berkaitan dengannya yang dapat dihubungkan dengan abad 8 dan 9. Sesungguhnya dapat dilihat bahwa segala sesuatu yang disebut sebagai
“Carolingian” berasal dari jaman berikutnya, terutama dari jaman raja-raja Saxon- Ottonian abad 10 dan para penerusnya pada abad 11. Bahkan monumen- monumen Charlemagne yang paling hebat, Katedral Aachen yang indah, telah dibuktikan tanpa keraguan berasal dari pertengahan abad sebelas277.
Kini diakui luas bahwa para raja Ottonian mempunyai banyak kesamaan dengan orang-orang Carolingian, dan kita mengetahui bahwa mereka sangat aktif dalam
mempromosikan “kultus” Charlemagne. Sesungguhnya, kultus terhadap raja ini, semua mitos di sekitarnya, adalah ciptaan Ottonian. Kenyataan bahwa semua
artefak yang disebut sebagai milik “Carolingian” adalah milik periode Ottonian
277
Untuk diskusi lebih terperinci mengenai topik ini, lihat Heribert Illig, Das erfundene Mittelalter
(abad 10 dan 11) membuat kita bertanya-tanya apakah seluruh Kekaisaran Carolingian adalah sebuah ciptaan, untuk tujuan-tujuan propaganda orang-orang Ottonian. Berkenaan dengan ini kita mengingat bahwa paralel yang paling menghebohkan antara orang-orang Ottonian dengan orang Carolingian juga secara politik paling kontroversial: kedua garis para penguasa Jerman mengklaim gelar Kaisar. Dan orang-orang Ottonianlah, alih-alih orang-orang Carolingian yang semi-legendaris atau yang hanya jaya sesaat, yang dalam kerjasamanya dengan kepausan secara definitif membangkitkan kembali Kekaisaran Barat – Kekaisaran Roma yang baru, yang pada jaman Frederick Barbarossa dinamai Kekaisaran Roma Yang Suci. Inilah yang menandai keterpisahan definitif dengan Timur, dan bukannya mitos pemerintahan raja Charles; inilah perpisahan final dengan Konstantinopel yang kemudian menghasilkan Kekristenan Latin yang benar-benar terpisah dari kekristenan di Barat.
Jadi, pada pertengahan abad 10, dan setelah dengan gemilang mengalahkan orang-orang Magyar di Lechfeld, Otto I melakukan apa yang tidak berani dilakukan seorang raja Jerman sebelumnya: Ia menjadikan dirinya sendiri sebagai Kaisar. Langkah ini, tiga abad setelah kita mengharapkannya (dan tiga abad setelah para raja Jerman di Barat berhenti mengukir wajah Kaisar Byzantium pada mata uang mereka), dirancang secara spesifik untuk menjaga
Kekristenan Barat dari musuh-musuh yang mengancam untuk
menghancurkannya. Peristiwa-peristiwa di sekitar pengangkatan Otto sebagai petinggi Imperial pada mulanya nampak seperti kebetulan. Pada tahun 962, Paus Yohanes XII, dengan kemurahan Berenger II, memohon bantuan kepada Otto dan kemudian Duke Saxony. Otto ketika itu baru saja menikahi janda pengganti Berenger, dan memegang kekuasaan terbesar di Italia Selatan. Ia bergegas menuju ke Roma, dimana Paus Yohanes dengan segera menobatkannya menjadi Kaisar. Tidak lama setelah itu Berenger tunduk, menyerahkan kekuasaan kepada Otto, dan Kekaisaran Barat segera lahir
kembali. Ini adalah institusi yang akan “berlanjut tanpa interupsi hingga jaman Napoleon”278. Kita mengetahui bahwa ambisi Otto yang besar adalah
“merestorasi kekaisarannya kembali kepada kekuasaan dan kemakmuran yang telah dinikmati pada masa Charlemagne”279. Ia menghabiskan sebagian besar
masa pemerintahannya selama 11 tahun di Italia, dimana gagasan mengenai seorang Kaisar Jerman masih tetap kuat – terutama di Roma. Pada tahun 966 ia diperhadapkan pada kerusuhan-kerusuhan serius di kota, yang berhasil diredamnya dengan hanya setelah ia menggantung pemimpin kota itu dengan