• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan

melindungi anak dan hak- haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi73

72

Op.cit.S.Wojowasito,1999, Kamus Bahasa Indonesia dengan ejaan yang disempurnakan menurut Pedoman

bahasa nasional Edisis Revisi Malang;Penerbit C.V Pedngarang, 73

lxvii b. Dasar Hukum Perlindungan anak

1) Undang – Undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak 2) Undang- Undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak 3) Undang- Undang Nomor 20 Tahun 1999 tentang Pengesahan ILO

Convention Nomor 138 Concerning Minimum Age for Admission to Employment (konvensi ILO mengenai Usia Minimum untuk diperbolehkan bekerja)

4) Undang – Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Azasi Manusia 5) Undang – Undang Nomor 35 Tahun 2014, Tentang Perlindungan Anak. 6) Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan Sosial 7) Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan

Pidana Anak

8) Peraturan Pemerintah Nomor 1Tahun 2016, Tentang Perubahan kedua atas Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2002, Tentang Perlindungan Anak..

9) Peraturan Menteri Sosioal RI Nomor 16 Tahun 2017, tentang Standar Nasional Sumber Daya Manusia Penyelenggara Kesejahteraan Sosial 10) Rencana Strategis Kementerian Sosial RI periode 2014- 2019

11) Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 15.A/HUK/2010 tentang Panduan Umum Program Kesejahteraan Sosial Anak

Landasan hukum diatas, untuk memayungi pengadaan Satuan Bhakti Pekerja Sosial.

lxviii P. KerangkaTeori Disertasi

Teori yang menjadi landasan dalam rekontruksi hukum tentang Standar Nasional Sumber Daya Manusia Penyelenggara Kesejahteraan Sosial

yaitu : Teori Keadilan Pancasila dan Teori Negara Kesejahteraan sebagai “ Grand Theory “ Teori Hukum Perlindungan dan Teori Hukum Pembangunan sebagai “Middle Theory“ dan Hukum Progresif sebagai “ Applied Theory“.

6. Grand Theory : Teori Keadilan Pancasila

Hukum dan keadilan selalu diarahkan pada upaya untuk menemukan keduanya pada sebuah subsistem dalam Negara. Dalam sila kelima Pancasila, yaitu “Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia”. Adapun hukum yang adil bagi bangsa Indonesia juga harus mencerminkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Penjabaran keadilan pancasila dapat ditemukan dalam 45 nilai-nilai butir Pancasila berikut ini :

a. Ketuhanan Yang Maha Esa

1) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaanya dan ketaqwaanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2) Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

3) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

4) Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

5) Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

lxix

6) Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

7) Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaanya masing masing

8) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain

b. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

1) Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan

martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

2) Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap

manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama,

kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.

3) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.

4) Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.

5) Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.

6) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

7) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.

8) Berani membela kebenaran dan keadilan.

9) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.

10) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan

bangsa lain.

c. Persatuan Indonesia

1) Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan

keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

2) Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa

apabila diperlukan.

3) Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.

4) Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air

Indonesia.

5) Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,

perdamaian abadi dan keadilan sosial.

6) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.

7) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

d. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

1) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.

lxx

2) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.

3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk

kepentingan bersama.

4) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat

kekeluargaan.

5) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai

sebagai hasil musyawarah.

6) Dengan i’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan

melaksanakan hasil keputusan musyawarah.

7) Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas

kepentingan pribadi dan golongan.

8) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani

yang luhur.

9) Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara

moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.

10) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk

melaksanakan pemusyawaratan.

e. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

1) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan

suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.

2) Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.

3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.

4) Menghormati hak orang lain.

5) Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.

6) Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat

pemerasan terhadap orang lain

7) Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.

8) Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau

merugikan kepentingan umum.

9) Suka bekerja keras.

10) Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan

dan kesejahteraan bersama.

11) Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang

merata dan berkeadilan sosial74

74

lxxi

Ada beberapa karakteristik yang berkaitan dengan keadilan yang berdasarkan Pancasila. Pancasila sendiri mempunyai karakteristik atau ciri khas sebagai berikut:

1. Pancasila sebagai Falsafah bangsa yang hanya dimiliki oleh bangsa Indonesia, negara yang lain tidak. Pancasila merupakan hasil olah fikir asli bangsa Indonesia, yang mencerminkan kebenaran. Sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Falsafah Pancasila mencerminkan dasar negara dalam menemukan hakekat kebenaran yang menjadi pedoman dalam hidup. Bangsa Indonesia mendapatkan limpahan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa dengan Pancasila agar terjalinnya kehidupan berbangsa dan bernegara yang mencerminkan keadilan, kemanfaatan dan perlindungan. Rahmat tersebut diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia merupakan anugerah yang tidak diberikan kepada bangsa lain. Jadi, Pancasila murni lahir dari olah fikir founding fathers/mothers kita dalam menentukan arah tujuan bangsa.

2. Fleksibel dalam arti mampu ditempatkan pada kondisi perubahan jaman. Sifat fleksibel Pancasila terbukti bahwa Pancasila mampu mengikuti perubahan jaman dari periode orde lama, periode orde baru, dan periode reformasi sampai sekarang ini. Dalam mengikuti perkembangan jaman, Pancasila mampu menempatkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Perubahan periode pemerintahan tidak merubah substansi dan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila, akan tetapi substansi dan nilai-nilai tersebut mampu memberikan kontribusi yang positif dalam era pemerintahan dalam berbagai periode.

Di sinilah Pancasila dapat disebut fleksibel karena mampu menempatkan dirinya dalam perubahan dan perkembangan jaman sesuai dengan tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara.

3. Kelima sila merupakan satu kesatuan yang utuh yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Dalam pemaknaan substansi dari Pancasila, merupakan suatu kewajiban bahwa substansi Pancasila tidak dapat dipisah-pisahkan. Hal ini mencegah agar tidak terjadi multi tafsir tentang Pancasila. Pemaknaan sila-sila Pancasila secara utuh dan tidak terpisahkan, maka dapat memunculkan penafsiran yang sama, tujuan yang sama serta persepsi yang sama dalam memaknai Pancasila sebagai pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara. Dapat disimpulkan bahwa Pancasila merupakan satu kesatuan yang utuh, sila-sila dalam Pancasila tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya

lxxii

karena sila-sila tersebut saling berkaitan dan saling memberi cerminan nilai positif, satu sila dengan sila-sila yang lainnya.

4. Pancasila merupakan NKRI dan NKRI merupakan Pancasila karena Pancasila dan NKRI merupakan suatu kesepakatan yang tidak akan dirubah. Pancasila ada karena NKRI dan NKRI ada berdasarkan Pancasila. Hal ini menunjukkan hubungan yang erat antara Pancasila dan NKRI. Pancasila dan NKRI merupakan kesatuan yang tidak dapat dirubah dan saling membutuhkan satu dengan yang lainnya karena Pancasila merupakan dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

5. Mampu memberikan dasar keadilan sesuai dengan corak dan budaya bangsa Indonesia. Karena Pancasila diakui kebenarannya secara koheren, korespondensi, dan pragmatik, tentunya Pancasila sudah diakui sejak Pancasila dilahirkan. Pancasila diakui kebenarannya oleh banyak orang dan berfungsi sebagai pedoman bangsa Indonesia yang diakui sejak dulu sampai sekarang. Kebenaran tersebut merupakan keadilan yang bersumber dari Pancasila dapat diakui kebenarannya. Keadilan berdasarkan Pancasila merupakan keadilan yang benar-benar memberikan yang dibutuhkan dalam kehidupan Keadilan Berdasarkan Pancasila Sebagai dasar berbangsa dan bernegara, mampu memberikan perlindungan terhadap hak dan kewajiban warga negara serta memberikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia75

Dari 5(lima ) karakterisktik Pancasila terlihat bahwa :

6. Pancasila sudah melekat pada kehidupan bangsa Indonesia sejak zaman nenek moyang dan sampai saat ini.

7. Pancasila mempunyai sifat yang fleksibel, sejak jamn orde lama, orde baru dan orde reformasi, Pancasila tetap aktual dan ,mampu mengikuti perubahan

8. Pancasila merupakan satu kesatuan, diantara 5 sila tidak ada yang lebih menonjol, saling mendukung.

75

Ferry Irawan Febriansyah, Pebruari 2017, Jurnal Keadilan Berdasarkan Pancasila Sebagai Dasar Filosofi dan Ideologi Bangsa, Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah Tulungagung,

lxxiii

9. Pancasila merupakan suatu kesepakatan dengan NKRI, tanpa NKRI tidak ada pancasila, begitu juga sebaliknya.

10. Keadilan berdasarkan Pancasila merupakan keadilan yang benar-benar memberikan sesuai dengan yang dibutuhkan dalam kehidupan warga negara serta memberikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Keadilan berdasarkan Pancasila sebagai dasar berbangsa dan bernegara, mampu memberikan perlindungan terhadap hak dan kewajiban warga negara.

Karakteristik keadilan berdasarkan Pancasila meliputi nilai keadilan yang bersumber dari sila kemanusiaan yang adil dan beradab dan sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang merupakan perwujudan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Nilai keadilan yang muncul dari kedua sila tersebut, mencerminkan nilai-nilai dari sila-sila yang lainnya. Dapat disimpulkan bahwa nilai keadilan Pancasila merupakan cerminan satu kesatuan yang utuh dari sila-sila yang terdapat di dalam Pancasila yang muncul dari perwujudan Negara Kesaturan Republik Indonesia (NKRI).

Keadilan berdasarkan Pancasila menganut beberapa asas-asas yang meliputi keadilan berdasarkan sila (1) Ketuhanan Yang Maha Esa, bangsa indonesia diberi rasa adil dalam melaksanakan ibadah sesuai dengan ajaran yang dianutnya, tanpa ada kekerasan tanpa ada diskriminasi (2) memanusiakan manusia dengan mengutamakan Hak Asasi Manusia yaitu hak dalam memperoleh keadilan, seluruh warga negara tidak ada yang merasa ditindas,

lxxiv

saling hormat menghormati, sesuai dengan prinsif- prinsif Hak Azasi Manusia, (3) persatuan dalam mewujudkan keadilan, perlunya ada persatuan dan kesatuan untuk mendapatkan keadilan(4) Demokrasi, keadilan dapat diakui kebenarannya bagi seluruh rakyat Indonesia, dengan cara dimusyawarahkan, (5) keadilan akan didapat oleh semua warga dengan memegang teguh ajaran agama, memanusiakan manusia, menjaga persatuan dan berdemokrasi.

Jika kita bandingkan yang ada dalam teori keadilan Pancasila, tidak jauh beda dengan teori keadilan yang lain dengan menitiktekankan bahwa keadilan merupakan nilai penting dalam hukum. Hanya saja, “ berbeda dengan nilai kepastian hukum yang lebih bersifat umum, nilai keadilan ini lebih bersifat personal atau individual kasuistik”76.

Teori Keadilan salah satunya digagas oleh Aristoteles. Aristoteles memandang keadilan dalam dua bentuk yaitu keadilan distributif dan keadilan korektif. Keadilan distributif menurut Aristoteles berfokus pada distribusi, honor, kekayaan, dan barang-barang lain yang sama-sama bisa didapatkan dalam masyarakat. Dengan mengesampingkan “pembuktian” matematis, jelaslah bahwa apa yang ada dibenak Aristoteles ialah distribusi kekayaan dan barangberharga lain berdasarkan nilai yang berlaku dikalangan warga. Distribusi yang adil boleh jadi merupakan distribusi yang sesuai degan nilai kebaikannya, yakni nilainya bagi masyarakat.

76

lxxv

Keadilan korektif berfokus pada pembetulan sesuatu yang salah. Jika suatu pelanggaran dilanggar atau kesalahan dilakukan, maka keadilan korektif berusaha memberikan kompensasi yang memadai bagi pihak yang dirugikan; jika suatu kejahatan telah dilakukan, maka hukuman yang sepantasnya perlu diberikan kepada si-pelaku. Bagaimanapun, ketidakadilan akan mengakibatkan terganggunya “kesetaraan” yang sudah mapan atau telah terbentuk. Keadilan korektif bertugas membangun kembali kesetaraan tersebut. Berdasarkan uraian tersebut, nampak bahwa keadilan korektif merupakan wilayah peradilan

sedangkan keadilan distributif merupakan bidangnya pemerintah.77

Pandangan kedua keadilan di atas yaitu keadilan distributif dan keadilan korektif merupakan ruang lingkup keadilan yang berdimensi jama’. Keadilan yang berdimensi jama’ adalah keadilan yang mencoba ingin mempertahankan kepentingan bersama dibandingkan legitimasi kepentingan individu.

Lebih jauh memahami keadilan Aristoteles menempatkan keadilan dengan membaginya ke dalam kategori sebagai berikut ;

a. Keadilan Komutatif : perlakuan terhadap seseorang dengan tidak melihat jasa-jasa yang telah diberikannya;

b. Keadilan Distributif : perlakuan terhadap seseorang sesuai dengan jasa-jasa yang telah diberikannya;

c. Keadilan Kodrat Alam : memberi sesuatu sesuai dengan yang diberikan orang lain kepada kita;

d. Keadilan Konvensional : keadilan yang diberikan jika seorang warga negara telah menaati segala peraturan perundang-undangan yang telah diberikan;

e. Keadilan Perbaikan : keadilan yang diberikan jika seseorang telah

berusaha memulihkan nama baik orang lain yang telah tercemar78

77

Google,http://harris-setyawan.blogspot.com , diunduh 12 Januari 2016. Jam 17.00 78

lxxvi

Hal yang paling esensial dalam setiap pembicaraan hukum , adalah soal keadilan. Karena hukum tidak dapat dipisahkan dari keadilan. Hukum dan keadilan bagaikan dua sisi mata uang. Sebagaimana diungkapkan oleh Satjipto Rahardjo dalam pernyataannya

:“ Membicarakan hukum adalah membicarakan hubungan antar manusia, membicarakan hubungan antar manusia adalah membicarakan keadilan. Dengan demikian setiap pembicaraan mengenai hukum, jelas atau samar- samar, senantiasa merupakan pembicaraan mengenai keadilanpula. Kita tidak dapat membicarakan hukum hanya sampai kepada wujudnya sebagai suatu bangunan yang formal, Kita juga perlumelihatnya sebagaiekspresi dari cita- cita keadilan masyarakat79. Dalam kajian filsafat hukum, keadilan merupakan salah satu tujuan hukum,yang kadang dipahami seakan – akan terdapat jarak antara hukum dankeadilan, yakni ketika manusia menggerakkan hukum esensi hukum itu sendiri tidak berisi keadilan, karena kejadian baru akan dicapai atau ditujuoleh hukum. Dalam kondisi demikian “esensi hukum akan tergantung dari ide dan cita- cita para pelaku hukum itu sendiri80 “ Sejatinya hukum tidak dapat dipisahkan dari keadilan” 81

Sebagaimana diungkapkan oleh Gustav Radbruch, “ hukum hanya berarti sebagai hukum jika hukum itu merupakan perwujudan keadilan atau sekurang-

kurangnyamerupakan usaha kearah itu82

79

Satjipto Rahardjo,2006,Ilmu Hukum, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, halaman 159 80

Fokky Fuad Wasitaatmadja, 2015 Filsafat Hukum, Akar Religiositas Hukum, Jakarta Prenada media Group, halaman 47

81

Sukarno Aburaera, dkk, 2013, Filsafat Hukum, Teori & Praktik, Jakarta , kencana , halaman 178- 190 82

lxxvii

Hans Kelsen dalam bukunya “ general theory of law and state, berpandangan bahwa “hukum sebagai tatanan sosial yang dapat dinyatakan adil apabila dapat mengatur perbuatan manusia dengan cara yang memuaskan

sehingga dapat menemukan kebahagiaan di dalamnya”83

Pandapat tersebut adalah pandangan positifisme, nilai- nilai keadilan individu dapat diketahui dengan aturan- aturan hukum yang mengakomodir nilai- nilai umum, namun pemenuhan rasa keadilan dan kebahagiaan masing- masing individu di utamakan.

Hans Kelsen mengemukakan :

Keadilan sebagai pertimbangan nilai yang bersifat subyektif. Walaupun suatu tatanan yang adil yang beranggapan bahwa suatu tatanan bukan kebahagiaan setiap perorangan, melainkan kebahagiaan sebesar- besarnya bagi sebanyak mungkin individu dalam arti kelompok,yakni terpenuhinya kebutuhan- kebutuhan tertentu yang oleh penguasa atau pembuat hukum dianggap sebagai kebutuhan yang patut dipenuhi, seperti kebutuhan sandang, pangan, papan. Tetapi kebutuhan manusia yang manakah yang patut diutamakan. Hal ini dapat dijawab dengan

menggunakan pengetahuan rasional, yang merupakan sebuah

pertimbangan nilai, ditentukan oleh faktor- faktor emosional dan oleh sebab itu bersifat subyektif84

Sebagai aliran positivisme Hans Kelsen :

mengakui bahwa keadilan mutlak berasal dari alam, yakni lahirdari hakikat suatu benda atau hakikat manusia, dari penalaran manusia atau kehendak Tuhan, pemikiran tersebut di esensikan sebagai doktrin yang disebut hukum alam.Doktrin hukum alam beranggapanbahwa ada suatu keteraturan hubungan – hubungan manusia yang berbeda dari hukum positif, yang lebih tinggi dan sepenuhnya sahih dan adil, karena berasal

dari alam, dari penalaran manusia atau kehendak Tuhan85

83

Google, ugun guntari.blogspot.co.id 84

ibid 85

lxxviii

Pemikiran tersebut yang menganut aliran positivisme, mengakui juga kebenaran hukum alam. Sehingga pemikiran terhadap konsep keadilan menimbulkan dualisme antara hukum positif dan hukum alam.

Yang pertama tentang keadilan dan perdamaian, keadilan yang bersumber dari cita- cita irasional. Keadilan di rasionalkan melalui pengetahuan yang dapat berwujud suatu kepentingan – kepentingan yang pada akhirnya menimbulkan suatu konflik kepentingan. Kepentingan – kepentingan tersebut dapat diselesaikan melalui suatu tatanan yang memuaskan salah satu kepentingan dengan mengorbankan kepentingan lain.

Yang kedua, konsep keadilan dan legalitas. Untuk menegakan diatas dasar yang kokoh dari suatu tatanan sosial tertentu, menurut Hans kelsenpengertian keadilan bermaknakan legalitas. Suatuperaturan umum adalah “ adil “ jika ia benar- benar diterapkan, sementara itu suatu peraturan umum adalah “ tidak adil “ jika diterapkan pada suatu kasus dan tidak diterapkan pada kaus lain yang serupa

Konsep keadilan dan legalitas inilah yang diterapkan dalam hukum nasional bangsa Indonesia, yang memaknai bahwa peraturan hukum nasional dapat dijadikan sebagai payung hukum ( law unbrela ) bagi peraturan- peraturan hukum nasional lainnya sesuai tingkat derajat dan peraturan hukum itu memilki daya ikat terhadap materi – materi yang

dimuat ( materi muatan ) dalam peraturan hukum tersebut86

Pandangan tentang keadilan juga dikemukakan oleh Jhon Rawls dengan menegaskan bahwa :

program penegakan keadilan yang berdimensi kerakyatan haruslah memperhatikan dua prinsip keadilan, yaitu, pertama, memberi hak dan kesempatan yang sama atas kebebasan dasar yang paling luas seluas kebebasan yang sama bagi setiap orang. Kedua, mampu mengatur kembali kesenjangan sosial ekonomi yang terjadi sehingga dapat memberi keuntungan yang bersifat timbal balik (Reciprocal Benefits) bagi setiap orang, baik mereka yang berasal dari kelompok beruntung maupun tidak beruntung87.

Disini keadilan secara umum dapat diartikan :

86

.google ,infobikinskripsihukum,blogspot.co.id 87

John Rawls, 1973, A Theory of Justice, London: Ox ford University press, diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Uzair Fauzan dan Heru Prasetyo, 2006, Teori Keadilan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, halaman 37

lxxix

Merupakan kondisi kebenaran ideal dan secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut sebagian besar teori,

keadilan memiliki tingkat kepentingan yang besar. John

Rawls, menyatakan bahwa "Keadilan adalah kelebihan (Virtue) pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran"88.

Ketentuan untuk mendapatkan keadilan memang bukan semata-mata sebagai perwujudan sikap cara memperolehnya, akan tetapi ketentuan yang secara hakiki merupakan wujud dari adanya keberpihakan melalui ketentuan yang telah disepakati. Praktik tersebut nantinya akan menjelaskan bahwa keadilan adalah tidak ada keberpihakan.

Dalam Islam sendiri, keadilan sangat menjadi perhatian serius untuk diwujudkan. Baik dalam ranah sosial, hukum dan ekonomi, keadilan adalah pondasi utama yang menjadi faktor ketaqwaan seorang muslim. Al-Qur`an menggunakan term (al-`Adl) dan (al-Qisht) untuk pengertian keadilan. Dilihat dari akar katanya, term al-`Adl terdiri dari huruf `ain, dal dan lam. Maksud yang terkandung didalamnya ada dua macam, yaitu lurus dan bengkok. Makna ini bertolak belakang antara satu dan lainnya. Intinya ialah persamaan atau al-musawah89.

Sayyid Quthb menafsirkan keadilan :

bersifat mutlak yang berarti meliputi keadilan yang menyeluruh diantara semua manusia, bukan keadilan diantara sesama kaum muslimin dan terhadap ahli kitab saja. Keadilan merupakan hak setiap manusia mukmin ataupun kafir, teman ataupun lawan, orang berkulit putih ataupun berkulit hitam orang arab ataupun orang ajam (non arab)90.

Beberapa ayat Al- Qur’an yang menyatakan tentang kewajiban berperilaku adil diantaranya dalam firman Allah SWT:

88

www.google, penjelasan lengkap ,https://eduspensa.id Keadilan menurut Aristoteles 89

Abi al-Husain Ahmad Ibn Faris Ibn Zakariyya, 1979, (Selanjutnya disebut Ibn Faris) Mu`jam Maqayis al-Lughah,

Dokumen terkait