• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perlindungan Hukum bagi Para Pihak yang telah

BAB III MEKANISME PENJUALAN SAHAM DALAM

C. Perlindungan Hukum bagi Para Pihak yang telah

Derivatif action/ gugatan derifatif adalah suatu gugatan yang berdasarkan

hak utama (primary rights) dari perseroan, tetapi dilaksanakan oleh pemegang untuk dan atas nama perseroan, gugatan mana dilakukan karena adanya suatu keegagalan dalam perseroan. Doktrin hukum modern berupa derivatif naction / gugatan derivative sudah di kenal Sejak berlakunya Undang-Undang No.1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas (UUPT), hal ini lebih lanjut di pertegas dalam Pasal 114 ayat (6) Undang-Undang No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas "Atas nama Perseroan, pemegang saham yang mewakili paling sedikit 1/10 (satu persepuluh) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara dapat menggugat

anggota Dewan Komisaris yang karena kesalahan atau kelalaiannya menimbulkan kerugian pada Perseroan ke pengadilan negeri".

Menurut Munir Fuady29 1. Adanya suatu gugatan.

, gugatan derivatif adalah sebagai berikut:

2. Gugatan tersebut diajukan ke pengadilan.

3. Gugatan diajukan oleh pemegang saham perseroan yang bersangkutan. 4. Pemegang saham mengajukan gugatan untuk dan atas nama perseroan. 5. Pihak yang digugat selain perseroan, biasanya direksi perseroan.

6. Penyebab dilakukannya gugatan karena adanya kegagalan dalam perseroan atau kejadian yang merugikan perseroan yang bersangkutan.

7. Oleh karena diajukan untuk dan atas nama perseroan, maka segala hasil gugatan menjadi milik perseroan walaupun pihak yang mengajukan gugatan adalah pemegang saham.

Dalam hal pemegang saham yang bertindak sebagai penggugat, yang mana tidak mewakili dirinya sendiri melainkan untuk dan atas nama perseroan sehingga menurut Munir Fuady ada beberapa karakteristik khusus dalam gugatan derivatif tersebut, yaitu:30

1. Sebelum dilakukan gugatan, sejauh mungkin dimintakan yang berwenang (direksi) untuk melakukan gugatan untuk dan atas nama perseroan sesuai ketentuan dalam anggaran dasarnya.

2. Pihak pemegang saham lain dapat dimintakan juga partisipasinya dalam gugatan derivatif, ini mengingat gugatan tersebut juga untuk kepentingannya.

29

Munir Fuady, Doktrin-Doktrin Modern dalam Coorporate Law dan Eksistensinya dalam

Hukum Indonesia, (Jakarta: PT. Citra Aditya Bakti , 2002) hal, 75

30

3. Selain itu diperhatikan juga kepentingan pemegang saham yang lain, pihak pekerja dan kreditor.

4. Tindakan penolakan gugatan derivatif berdasarkan alasan ne bis in idem tidak boleh merugikan kepentingan pihak stake holder yang lain.

5. Harus dibatasi bahkan dilarang penerimaan manfaat oleh pemegang saham yang ikut terlibat dalam tindakan merugikan perseroan, yakni manfaat dari ganti rugi yang diberikan terhadap gugata derivatif tersebut.

6. Seluruh manfaat yang diperoleh dari gugatan derivatif menjadi milik perseroan. 7. Sebagai konsekuensinya, maka seluruh biaya yang diperlukan dalam gugatan

derivatif harus ditanggung oleh pihak perseroan.

Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas memberikan perlindungan terhadap pemegang saham yang telah dirugikan oleh organ perseroan. Perlindungan tersebut terlihat dari beberapa pasal dalam Undang-undang Perseroan Terbatas, baik kepentingan pribadi pemegang saham maupun kepentingan pemegang saham sebagai bagian dari perseroan, terhadap perbuatan/tindakan yang dilakukan oleh organ perseroan. Perlindungan ini berdasarkan hak perseorangan (personal rights), dan kepentingannya sebagai bagian dari perseroan (hak derivatif). Perlindungan tersebut meliputi hak-hak dalam UUPT sebagai berikut:

1. Hak meminta Keterlibatan Pengadilan

Pihak pemegang saham minoritas sebagai pihak yang merasa dirugikan kepentingannya berhak untuk meminta dipulihkan haknya, untuk hal tersebutlah pemegang saham minoritas berhak meminta keterlibatan pengadilan.

Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas mengatur hak meminta keterlibatan pengadilan dalam Pasal 61 ayat (1), Pasal 80 ayat (1), Pasal 97 ayat (6), Pasal 114 ayat (6), Pasal 138 ayat (2).

Pasal 61 ayat (1) :

“Setiap pemegang saham berhak mengajukan gugatan terhadap perseroan ke Pengadilan Negeri apabila dirugikan karena tindakan perseroan yang dianggap tidak adil dan tanpa alasan wajar sebagai akibat keputusan RUPS, Direksi, dan/atau Dewan Komisaris.”

Pasal 80 ayat (1):

Dalam hal Direksi atau Dewan Komisaris tidak melakukan pemanggilan RUPS dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat (5) dan ayat (7), pemegang saham yang meminta penyelenggaraan RUPS dapat mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan perseroan untuk menetapkan pemberian izin kepada pemohon melakukan sendiri pemanggilan RUPS tersebut.

Pasal 97 ayat (6):

“Atas nama perseroan, pemegang saham yang mewakili paling sedikit 1/10 (satu persepuluh) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara dapat mengajukan gugatan melalui Pengadilan Negeri terhadap anggota Direksi yang karena kesalahan atau kelalaiannya menimbulkan kerugian pada perseroan.”

Pasal 114 ayat (6):

“Atas nama perseroan, pemegang saham yang mewakili paling sedikit 1/10 (satu persepuluh) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara dapat menggugat anggota Dewan Komisaris yang karena kesalahan atau kelalaiannya menimbulkan kerugian pada perseroan ke Pengadilan Negeri.”

Pasal 138 ayat (2):

“Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan mengajukan permohonan secara tertulis beserta alasannya ke pengadilan negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan Perseroan.”

Pasal 97 ayat (6) dan Pasal 114 ayat (6) diatas merupakan derivative

actionatau derivative suit yang telah diberikan UUPT kepada pemegang saham

minoritas perseroan. Derivative suit berarti gugatan yang berdasarkan pada hak utama (primary right) dari perseroan, tetapi dilaksanakan oleh pemegang saham atas nama perseroan, atau dengan perkataan lain derivative suit merupakan gugatan yang dilakukan oleh para pemegang saham untuk dan atas nama perseroan. Jadi, jika dalam gugatan biasa, direksi yang mewakili perseroan, tetapi dalam gugatan derivatif, justru pemegang sahamlah yang mewakili perseroan. Dalam gugatan derivatif ini pihak tergugat adalah direksi perseroan atau bisa jadi perseroan itu sendiri dalam statusnya sebagai badan hukum yang bisa menjadi subjek hukum perdata.

Sebenarnya ada beberapa sistem otoritas dan pembatasan tanggung jawab, namun dalam hubungannya untuk melindungi pemegang saham minoritas perseroan terbatas, kedua ayat inilah yang paling berperan. Hak meminta

keterlibatan pengadilan sangatlah diperlukan karena apabila ada hal yang dianggap tidak adil oleh pemegang saham minoritas maka sector hukumlah yang berperan untuk membalikkan keadaan sehingga keadilan yang telah hilang dapat diketemukan kembali oleh pihak yang dieksploitasi.

2. Hak untuk tidak Menanggung Kerugian yang diakibatkan oleh Organ Perseroan

Hak ini berkaitan erat dengan asas responsibilitas. Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas juga telah mengatur tentang responsibilitas yaitu dalam Pasal 97 ayat (3): “Setiap anggota Direksi bertanggung jawab penuh secara pribadi atas kerugian Perseroan apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)” dan Pasal 114 ayat (3) : “Setiap anggota Dewan Komisaris ikut bertanggung jawab secara pribadi atas kerugian Perseroan apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2)”. Secara umum kedua Pasal diatas menunjukkan bahwa tanggung jawab seorang direksi dan komisaris tidak hanya bertugas semata-mata untuk menjalankan bisnis perusahaan sehari-hari, membuat financial report, mengikuti seluruh aturan hukum yang berlaku, akan tetapi prinsip resposibilitas mengharapkan juga agar direksi dapat memenuhi kehendak masyarakat di lingkungannya dan memenuhi kepentingan sleuth stakeholdernya.

Hal lain yang juga terlihat sebagai perwujudan asas responsibilitas dalam UUPT adalah Pasal 97 ayat (4) : “Dalam hal Direksi terdiri atas 2 (dua) anggota Direksi atau lebih, tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berlaku

secara tanggung renteng bagi setiap anggota Direksi. Ini berarti bahwa dalam hal lebih dari seorang direktur yang mewakili perseroan, apabila ada tindakan salah satu direksi yang merugikan perusahaan, meskipun direksi yang lain tidak ikut selama itu masih tindakan perseroan maka direktur yang lainnya yang sebenarnya tidak ikut berbuat, juga ikut bertanggung jawab secara bersama-sama (renteng).

Dalam hal menghadapi kemungkinan adanya tindakan-tindakan direksi, komisaris ataupun pemegang saham mayoritas yang merugikan kepentingan pemegang saham minoritas, UUPT telah mengakomodasi tiga jenis gugatan yakni gugatan derivatif berdasarkan Pasal 97 ayat (6) dan Pasal 114 ayat (6), gugatan pemegang saham yang bersifat keperdataan untuk mempertahankan hak yang diatur dalam Pasal 61 ayat (1), dan gugatan pemegang saham yang berkaitan dengan penyelenggaraan RUPS yang diatur dalam Pasal 79 ayat (2).

Secara umum perusahaan wajib memiliki direksi atau Dewan direksi sebagai pimpinan perusahaan. Dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas yang selanjutnya disebut UUPT, ditentukan bahwa kepengurusan perseroan dilakukan oleh Direksi yang diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham (Pasal 79 ayat 1) dan Pasal 80 UUPT). Yang diangkat menjadi anggota Direksi adalah orang perseroan yang mampu melaksanakan perbuatan hukum dan tidak pernah dinyatakan pailit atau menjadi anggota Direksi atau Komisaris yang dinyatakan bersalah menyebabkan suatu perseroan dinyatakan pailit., atau orang yang pernah dihukum karena melakukkan tindakan pidana yang merugikan keuangan Negara dalam waktu 5 (lima) tahun sebelum pengangkatan (Pasal 79 ayat 3) .

Pendirian suatu perusahaan akan selalu diawali dengan adanya pemegang saham atau pemilik saham pada perusahaan teersebut. Pemegang saham (shareholder) adalah individu atau institusi yang mempunyai taruhan vital (vital stake) dalam perusahaan. Direksi sebagai salah satu organ perseroan memiliki tanggung jawab yang besar untuk melakukan pengurusan perusahaan. Pengurusan perseroan haruslah dilakukan dengan prinsip-prinsip itikad baik dan penuh tanggung jawab.

Secara umum, dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab direksi adalah untuk memaksimalkan nilai pemegang saham. Oleh karena itu, direksi dalam melaksanakan tugas-tugasnya harus menerapkan beberapa kewajiban yang lain yang mengacu pada prinsip-prinsip dan pedoman dalam Good Corporate

Governance. Kelalaian direksi dalam menjalankan tugas perseroan sehingga

berakibat merugikan perseroan tidak hanya membawa direksi harus mempertanggung jawabkan tindakan secara pribadi akan tetapi membuka peluang bagi peemegag ssaham unttuk meminta pertanggungjawaban direksi melalui mekanisme derivative action.

3. Pengertian Derivative Action

Istilah derivative action lahir pertama kali di Amerika Serikat dalam putusan perkara Wallersteiner v. Moir No (2) di tahun 1975 yang dijatuhkan oleh Court of Appeal. Dalam kata tersebut mengandung arti : ”the

individual shareholder is enforcing a right which is not his or her but rather is

derivative action kerap digunakan bagi para pencari keadilan (justiciabel) dalam perkara yang menyangkut tindakan hukum pemegang saham terhadap direksi perseroan.

Dalam KUHD tidak dikenal istilah Derivative Action yang menyatakan bagi pemegang saham bertindak untuk dan atas nama perseroan melakukan tindakkan hukum dalam bentuk pengajuan gugatan terhadap Direksi Perseroan yang telah melakukan pelanggaran terhadap Fiduciary Duty. Namun ketentuan dalam ketentuan Pasal 97 ayat (6) UUPT menegaskan “atas nama Perseroan, pemegang saham yang mewaliki paling sedikit 1/10 (satu persepuluh) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara dapat mengajukan gugatan melalui pengadilan negeri terhadap anggota Direksi yang karena kesalahan atau kelalaiannya menimbulkan kerugian pada perseroan”.

Dari ketentuan di atas tampak jelas tindakan hukum pemegang saham tersebut bukan “aksi individual” oleh para pemegang saham yang kepentingannya dirugikan. Akan tetapi para peemegang saham yang mewakili paling sedikit 1/10 bagian dari jumlah seluruh pemegang saham bertindak atas nama perseroan.mAkan tetapi yang menjadi persoalan UU PT tidak menjelaskan bagaimana kapan dan bilamana pemegang saham tersebut dapat dianggap mewakili dan bertidak untuk dan atass nama Perseroan. Pada praktik gugatan di Pengadilan Negeri hal tersebut akan menimbulkan persyaratan formil yang mengundang keberatan dari pihak Direksi atau pihak-pihak yang digugat.

Tidak semua gugatan yang diajukan oleh pemegang saham dan atas nama perseroan dapat diakui sebagai derivative action. Ada beberapa syarat dan

ketentuan yang perlu diperhatikan bagi pemegang saham yang bertindak untuk dan atas nama perseroan untuk melakukan gugatn derivative action adalah :

a. Pemegang saham tidak dapat mengajukan gugatan dalam bentuk derivative action, jika yang digugat adalah tindakan atau perbuatan anggota Direksi yang dapat disahkan oleh Rapat Umum Pemegang Saham berdasarkan persetujuan sederhana (Ordinary resolution);

b. Anggota direksi yang melakukan tindakanatau perbuatan melanggar fiduciary

duty teersebut adalah anggota Direksi yang dominan dan memegang keendali

dalam Perseroan, dan dalam hal terteentu telah diseetujui oleh sebagian besar pemegang saham independen.

Demikian juga tidak semua tindakan Direksi yang melanggar prinsip-prinsip fiduciary duty dapat dikatakan sebagai derivative action. Ada beberapa pengecualian dari tindakkan direksi yang melanggar fiduciary duty mendapatkan pengesahan dan persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham dalam suara mayoritass biasa diantaranya adalah :

a. Tindakan ultra vires

b. Tindakan lain yang memerlukan persetujuan khusus dalam suatu Rapat Umum Pemegang Saham

c. Tindakan yang merupakan fraud on the minority

Akan tetapi tidak semua tindakan direksi yang melanggar fiduciary duty yang disahkan oleh Rapat Umum Pemegang Saham mengikat pemegang saham minoritas. Tindakan-tindakan direksi yang mengutamakan kepentingannya sendiri

diatas kepentingan perseroan dapat digugat oleh pemegang saham minoritas sebagaimana yang telah diuraikan diatas.

Gugatan derivatif merupakan bentuk penyelesaian (remedy) yang paling penting, dimana pemegang saham minoritas yang dirugikan berhak untuk meminta pertanggungjawaban direksi, karyawan, maupun pemegang saham mayoritas atas kesalahan dalam melakukan pengurusan perseroan (mismanagement), pengalihan harta kekayaan perseroan, dan tindakan manipulasi yang merugikan perseroan.

4. Gugatan biasa

Gugatan biasa ini merupakan gugatan yang dapat diajukan oleh atau terhadap PT atau organ-organnya ke pengadilan berdasarkan ketentuan di luar dari ketentuan UUPT atau di luar anggaran dasar dari PT tersebut. Dan gugatan biasa ini terlibat dari kasus-kasus biasa seperti gugatan berdasarkan perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) atau wanprestasi.

Setiap orang yang merasa hak keperdataannya dilanggar orang lain atau memiliki kepentingan dapat menggugat orang yang merugikannya ke Pengadilan Negeri dengan menuntut ganti rugi.

Pengajuan gugatan menurut Hukum Acara Perdata dapat berdasarkan atas adanya:

1) Perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) diatur dalam Pasal 1365 Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Semula perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) hanya diartikan sebagai perbuatan yang bertentangan

dengan undang-undang. Namun sejak tanggal 31 Januari 1919 dalam perkara Lidenbaum- Cohen, Hoge Raad memperluas pengertian perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) meliputi pula perbuatan yang melanggar hak subyektif orang lain atau bertentangan kewajiban hukum pelaku ataupun bertentangan dengan tata susila atau bertentangan dengan kepatutan, ketelitian atau sikap hati-hati yang seharusnya dimiliki seseorang dalam pergaulan antara sesama warga masyarakat atau terhadap harta benda orang lain. Adapun terhadap orang yang karena kesalahannya menyebabkan timbulnya kerugian dapat dituntut adalah:

a) Kerugian Materiel dan/atau

Selanjutnya tentang hal apa saja yang harus dimuat dalam surat gugatan dalam HIR maupun Rbg tidak diatur, namun demikian dalam B.Rv ditentukan haruslah memuat :

a. Uraian peristiwa dan dasar hukum gugatan (posita atau fundemintum

putendi)

b. Dasar-dasar yang diminta oleh Penggugat (petitum) dan tuntutan tersebut haruslah jelas dan tertentu ;

Dokumen terkait