BAB III PANDANGAN HUKUM TERHADAP SAKSI PERKARA
C. Perlindungan Hukum Dalam UU No. 13 Tahun 2006 Terhadap Saksi
Perlindungan hukum terdiri dari dua suku kata yaitu “Perlindungan” dan “Hukum”. Artinya perlindungan menurut hukum dan undang-undang yang berlaku. Bahwa pada hakekatnya tidak ada orang yang salah 100% dan tidak ada orang yang benar 100%. Apabila seseorang dituduh bersalah maka orang yang dituduh bersalah itu harus diperiksa dan diadili sesuai hukum dan undang-undang yang berlaku. Apabila seseorang yang dituduh bersalah akan tetapi diperiksa dan diadili tidak sesuai hukum dan undang-undang yang berlaku maka apa bedanya orang yang memeriksa dan mengadili dengan orang yang dituduh bersalah itu.33
Pengertian Perlindungan hukum menurut peraturan perlindungan hukum adalah jaminan perlindungan pemerintah dan atau masyarakat kepada warganegara
32
Ahmad Kosasih, HAM Dalam Perspektif Islam, Menyingkap Persamaan dan Perbedaan
Antara Islam dan Barat, (Jakarta, Salemba Diniyah, 2003), h. 69. 33
31
dalam melaksankan fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya sesuai dengan ketentua perundang-undangan yang berlaku (UU 40/1999).34
Secara teoritis bentuk perlindungan terhadap saksi/ atau korban kejahatan dapat diberikan dalam berbagai cara, tergantung pada penderitaan atau kerugian oleh korban.35 Sebagai contoh untuk kerugian yang sifatnya mental atau psikis tentunya cukup ganti rugi dalam bentuk materi atau uang tidaklah memadahai apabila tidak disertai dengan upaya pemulihan mental korban. Sebaliknya, apabila korban hanya menderita kerugian secara materil (seperti, harta benda hilang) pelayanan yang sifatnya psikis terkesan terlalu berlebihan.36
Dengan mengacu pada beberapa kasus kejahatan yang pernah terjadi, ada beberapa bentuk perlindungan terhadap korban kejahatan yang lazim diberikan, antara lain:
1. Pemberian Restitusi dan Kompensasi.
Restitusi yaitu ganti kerugian yang diberikan oleh korban atau keluarganya oleh pelaku atau pihak ketiga. Sedangkan kompensasi yaitu ganti kerugian yang diberikan oleh negara karena pelaku tidak mampu memberikan ganti kerugian sepenuhnya yang menjadi tanggung jawabnya.37
2. Konseling
34
Ibid.
35
Didik M. Arif Mansyur. dan Elisatris Gultom S.H., M.H. Urgensi Pelindungan Korban
Kejahatan. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007) ed. I, h. 165. 36
Ibid.
37
32
Diberikan kepada korban sebagai akibat munculnya dampak negatif yang sifatnya psikis dari suatu tindak pidana. Pemberian bantuan dalam bentuk konseling sangat diberikan kepada korban kejahatan yang menyisakan trauma berkepanjangan, seperti pada kasus-kasus menyangkut kesusilaan.38
3. Pelayanan atau Bantuan Medis
Pemberian pelayanan atau bantuan medis itu dibrikan kepada korban yang menderita secara medis akibat suatu tindak pidana. Pelayanan medis yang dimaksud dapat berupa pemeriksaan kesehatan dan laporan tertulis (visum atau surat keterangan medis yang memiliki kekuatan hukum yang sama dengan alat bukti).
4. Bantuan Hukum
Bantuan hukum merupakan suatu bentuk pendampingan terhadap korban kejahatan yang harus diberikan terhadap korban kejahatan baik diminta maupun tidak diminta oleh korban.
5. Pemberian Informasi
Pemberian informasi kepada korban atau keluarganya berkaitan dengan proses penyelidikan dan pemeriksaan tindak pidana yang dialami oleh korban.39
D. Pidana
1. Pengertian pidana
38
Dalam Pasal 6 huruf B UU No. 13. Th. 2006. Perlindungan Saksi dan Korban.
39
33
Pidana berasal dari kata straabaarfeitf (Belanda), yang pada dasarnya dapat dikatakan sebagai suatu penderitaan (nestapa) yang sengaja dikena-kan/dijatuhkan kepada seseorang yang telah terbukti bersalah melaku-kan suatu tindak pidana. Dalam pengertian yang lengkap dinyatakan oleh prof. Satochid kartanegara bahwa hukum pidana materil berisikan peraturan-peraturan tentang berikut ini.40
Menurut moeljatno pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan yang mana disertai sanksi berupa pidana tertentu bagi siapa yang melanggar aturan tersebut. 41
a. Perbuatan yang dapat diancam dengan pidana (Strafbare feiten)misalnya: 1) Mengambil barang milik orang lain.
2) Dengan sengaja merampas nyawa orang lain.
2. Jenis pidana dan tindakan bagi orang dewasa
Adapun mengenai bentuk pidana yang di jatuhkan utamanya mengacu kepada KUHP. Namun untuk untuk pidana khusus, ternyata ada perluasan atau penambahan bentuk atau jenis pidana tambahan diluar yang termaktub dalam KUHP.Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) (WvS) telah menetapkan
40
Bambang Waluyo,SH. Pidana dan pemidanaan, (Sinar Grafika, 2004) h.6
41
34
jeniss-jeenis pidana yang termaktub dalam pasal 10. Diatur dua pidana yaitu pidana pokok dan pidana tambahan.42
Jenis-jenis pidana menurut pasal 10 KUHP ialah sebagai berikut:43 a. Pidana pokok meliputi:
1) Pidana mati
Jenis pidana mati yang dalam dalam praktek sering menimbulkan perbedaan diantara yang setuju dan tidak setuju. Bagaimanapun pendapat yang tidak setuju adanya pidana mati, namun kenyataan yuridis formal pidana mati memang dibenarkan, seperti maker pembunuhan terhadap presiden(pasal 104) Pembunuhan berencana (pasal 340) dan sebagainya. 2) Pidana penjara;
Sehubungan dengan pidana penjara yang dapat menjadi jus constituendum, yaitu sebagai berikut:
a) Pidana penjara dijatuhkan untuk seumur hidup atau untuk waktu tertentu. Waktu tertentu dijatuhkan paling lama lima belas tahun betturut-turut. Atau paing singkat satu hari.
b) Jika dapat dipilih antara pidana mati atau penjara seumur hidup; atau ika ada pemberatan pidana atas tindak pidana yang dijatuhi pidana pnjara lma belas tahun maka pidana penjara dapat dijatuhkan untuk waktu dua pulh tahun berturut-turut.
42
Bambang Waluyo,SH. h. 26 43
35
c) Jika pidana seumur hidup telah menjalani pidana paling kurang sepuluh tahun pertama dengan berkelakuan baik, menteri kehakiman dapat mengubah sisa pidana tersebut menjadi pidana penjara paling lama lima belas tahun.
d) Pelepasan bersyarat. 3) Pidana kurungan
Dinyatakan dalam pasal 27 bahwa pidana kurungan yang dapat dijatuhkan kepada anak yang melakukan tindak pidana, paling lama ½ (satu per dua) dari maksimum ancaman pidana kurungan bagi orang dewasa. Mengenai apakah yang dimaksud maksimum ancaman pidana kurungan bagi orang dewasa, adalah maksimum acaman pidana kurungan terhadap tindak pidana yang dilakukan sesuai dengan yang ditentukan dalam KUHP atau undang-undang lainnya yaitu penjelasan pasal 27, yang berbunyi: “Pidana kurungan yang dapat dijatuhkan kepada Anak Nakal
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 huruf a, paling lama ½ (satu perdua) dari maksimum ancaman pidana kurungan bagi orang
dewasa”.
4) Pidana denda
Seperti pidana penjara dan pidana kurungan maka penjatuhan pidana denda terhadap anak nakal paling banyak juga ½ (satu perdua) dari maksimum ancaman pidana denda bagi orang dewasa. Pada pasal 28 ayat 1 yang berbunyi, “Pidana denda yang dapat dijatuhkan kepada anak
36
nakal paling banyak ½ (satu perdua) dari maksimum ancaman pidana
denda bagi orang yang dewasa”.
b. Pidana tambahan meliputi
1) Pencabutan beberapa hak-hak tertentu
Pencabutan hak yang diperoleh oleh terpidana dapat dijatuhkan sesuai dengan kebutuhan walaupun tidak tercantum dalam perumusan tindak pidana dan pencabutan hak bebas dalam menentukan lama atau tidaknya pencabutan hak tersebut.
2) Perampasan barang-barang tertentu
Pidana perampasan barang-barang dapat dijatuhkan apabila ancaman pidana penjara tidak lebih dari tujuh tahun atau jika terpidana hanya dikenakan tindakan. Adapun barang-barang yang dirampas adalah: a) Barang milik terpidana atau orang yang seluruhnya atau sebagian
besar diperoleh dari tindak pidana.
b) Barang yang ada hubungannya dengan terwujudnya tindak pidana. c) Barang yang digunakan untuk mewujudkan atau mempersiapkan
tindak pidana.
d) Barang yang digunakan untuk menghalang-halangi penyidikan tindak pidana.
e) Barang yang dibuat atau diperuntukkan bagi terwujudnya tindak pidana.
37 3) Pengumuman putusan hakim
Dalam hal diperintahkan supaya putusan diumumkan maka harus
ditetapkan cara melaksanakan perintah tersebut dan jumlah biaya pengumuman
yang harus ditanggung oleh terpidana. Namun apabila biaya pengumuman itu
tidak dibayar oleh terpidana maka berlakulah ketentuan pidana mengganti untuk
39
BAB III
PANDANGAN HUKUM TERHADAP SAKSI PERKARA PIDANA
DALAM UU NO 13 TAHUN 2006
A. UU NO 13 TAHUN 2006 1. Sejarah Terbentuknya.
Kerberhasilan suatu proses peradilan pidana sangat bergantung kepada alat bukti yang berhasil diungkap atau diketemukan. Dalam proses persidangan, terutama yang berkenaan dengan saksi, banyak kasus yang tidak terungkap akibat tidak adanya saksi yang dapat mendukung tugas penegak hukum. Padahal, adanya saksi dan korban merupakan unsur yang sangat menentukan dalam proses peradilan pidana. Kasus-kasus yang tidak terungkap dan tidak terselesaikan banyak disebabkan oleh saksi dan korban takut memberikan kesaksian kepada penegak hukum karena mendapat ancaman dari pihak tertentu.
Dalam rangka menumbuhkan partisipasi masyarakat untuk mengungkap tindak pidana, perlu diciptakan iklim yang kondusif dengan cara memberikan perlindungan hukum dan keamanan kepada setiap orang yang mengetahui atau
40
menemukan suatu hal yang dapat membantu mengungkap tindak pidana yang telah terjadi dan melaporkan hal tersebut kepada penegak hukum.44
Pelapor yang demikian itu harus diberi perlindungan hukum dan keamanan yang memadai atas laporannya sehingga ia tidak merasa terancam atau terintimidasi baik hak maupun jiwanya. Dengan jaminan perlindungan hukum atau keamanan tersebut, diharapkan tercipta suatu keadaan yang memungkinkan masyarakat tidak lagi merasa takut untuk melaporkan suatu tindak pidana yang diketahuinya kepada penegak hukum, karena hawatir atau takut jiwanya terancam oleh pihak tertentu.
Perlindungan saksi dan korban dalam proses peradilan pidana di Indonesia belum diatur secara khusus. Pasal 50 sampai dengan pasal 68 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana hanya mengatur perlindungan terhadap tersangka atau terdakwa untuk mendapat perlindungan dari berbagai kemungkinan pelanggaran hak asasi manusia. Oleh karena itu, sudah saatnya perlindungan saksi dan korban diatur dengan undang-undang tersendiri.
Berdasarkan asas persamaan di depan hukum (equality before of law)
yang menjadi salah satu ciri negara hukum, saksi dan korban dalam proses peradilan pidana harus diberi jaminan perlindungan hukum. Adapun pokok
44
Undang-Undang Perlindungan Saksi dan Korban (Jakarta : Sinar Grafika Offset, 2006) cet. Ke-1. h. 18
41
materi muatan yang diatur dalam undang-undang tentang perlindungan saksi dan korban meliputi:45
1. Perlindungan dan hak saksi dan korban; 2. Lembaga perlindungan saksi dan korban;
3. Syarat dan tata cara pemberian perlindungan dan bantuan; dan 4. Ketentuan pidana
2. Tujuan pembentukannya
Perlu di tegaskan kembali bahwa tujuan pembentukan Undang-Undang Perlindungan Saksi dan Korban (PSK), untuk memberikan perlindungan terhadap saksi harus diberikan atas dua hal: perlindungan hukum dan perlindungan khusus terhadap ancaman.
Perlindungan hukum dapat berupa kekebalan yang diberikan kepada pelapor dan saksi agar tidak dapat digugat secara atau dituntut secara perdata. Tentu dengan catatan, sepanjang yang bersangkutan memberikan kesaksian
atau laporan dengan i‟tikat baik atau yang bersangkutan bukan pelaku tindak pidana itu sendiri. Perlindungan hukum lain berupa larangan bagi siapapun untuk membocorkan nama pelapor atau kewajiban merahasiakan nama pelapor disertai dengan ancaman pidana terhadap pelanggarannya.
Semua saksi, pelapor, dan korban memerlukan perlindungan hukum ini. Perlindungan khusus kepada saksi, pelapor dan korban diberikan oleh
45
42
Negara untuk mengatasi kemungkinan ancaman yang membahayakan diri, jiwa, dan harta bendanya, termasuk keluarganya.
Karena itu, perlindungan pun harus meliputi perlindungan atas keamanan pribadi dari ancaman fisik, mental, dan harta benda. Perlindungan semacam ini harus dilakukan terhadap seluruh saksi atau pelapor, termasuk Vincentius Amin Sutanto, sebagai saksi dan pelapor dugaan tindak pidana Asian Agri meski dia terlibat tindak pidana tersendiri.46
3. Landasan hukumnya
Adapun yang menyebabkan adanya landasan hukum ini yang mendasari di bentuknya Undang-undang No. 13 tahun 2006 ini adalah:
1. Undang-undang No. 26 Tahun 2000 tentang pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM), pasal 1dan 3, dan pasal 7.
2. Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.
3. Undang-undang No. 30 tahun 2002 tentang komisi pemberantasan korupsi. 4. Peraturan pemerintah No. 57 Tahun 2003 tentang tata cara perlindungan
khusus terhadap pelapor dan saksi dan,
5. Peraturan ini ditindak lanjuti dengan peraturan kepala kepolisian Negara Republik Indonesia No. 17 Tahun 2005, yang belaku sejak 30 desember 2005.
43
4. Susunan dan isi
Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 ini terdiri dari 7 bab, dan 46 pasal. Pada bab I ketentuan umum undang-undang ini memuat empat pasal. Pasal ini menjelaskan tentang perlindungan saksi dan korban berasaskan kepada: penghargaan atas harkat dan martabat manusia, rasa aman, keadilan, tidak diskriminatif, dan kepastian hokum.47
Bab II terdiri dari enam pasal dan di bagi dalam 12 ayat, dimulai dari pasal 5 sampai dengan pasal 10. Dalam pasal ini menerangkan tentang masalah perlindungan dan hak saksi untuk mendapatkan bantuan medis dan rehabilitasi psiki-sosial. Adapun isi perlindungan yang di jelaskan adalah saksi, korban, dan pelapor tidak dapat di tuntut secara hukum baik pidana maupun perdata atas laporan, kesaksian yang akan, sedang, atau telah di berikannya.48
Bab III terdiri dari 17 pasal dan di bagi dalam 32 ayat, dimulai dari pasal 11 sampai 27. Undang-undang ini menjelaskan tentang pertanggung jawaban Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).49
Bab IV terdiri dari 9 pasal dan dibagi dalam 9 ayat, di mulai dari pasal 28 sampai 36. Undang-undang ini menjelaskan tentang syarat pemberian perlindungan dan bantuan, Tata cara pemberian perlindungan.50
47
Undang-undang Perlindungan Saksi dan Korban, Ibid., h. 2 48 Ibid,. h. 3 49 Ibid,.h. 6 50 Ibid,. h. 11
44
Bab V terdiri dari 7 pasal dan dibagi dalam 5 ayat, dimulai dari pasal 37 sampai 43. Undang-undang ini menjelaskan tentang sanksi hukuman pidana bahwa setiap orang yang memaksakan kehendaknya baik menggunakan kekerasan maupun cara-cara tertentu, yang menyebabkan saksi dan/atau korban tidak memperoleh perlindungan sebagaimana dimaksud pasal 5 ayat (1) huruf a atau hururf d sehingga saksi dan/atau korban tidak memberikan kesaksiannya pada tahap pemeriksaan tingkat manapun, dipidana dengan pidana penjara paling singkat (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 40.000.000 (empat puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 500.000.000 (lima ratus juta rupiah) 51
Bab VI terdiri dari 1 pasal, yang terdiri dari 4 ayat. Undang-undang ini menjelaskan tentang yang mengatur mengenai perlindungan terhadap saksi dan/atau korban tetap dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan udang-undang ini.
Bab VII terdiri dari 2 pasal, dimulai dari pasal 45 sampai 46. Undang-undang ini menjelaskan tentang LPSK harus dibentuk dalam waktu paling lambat 1 (satu) tahun setelah Undang-undang ini diundangkan.
51
45
B.Kajian Pasal –Pasal tentang perlindungan Hukum dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 2006
1) Pasal (1)
1) Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di siding pengadilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan/atau ia alami sendiri.
2) Korban adalah seseorang yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang di akibatkan oleh suatu tindak pidana. 3) lembaga perlindungan saksi dan korban, yang selanjutnya di singkat LPSK,
adalah lembaga yang bertugas dan berwenang untuk memberikan perlindungan dan hak-hak lain kkepada saksi dan/atau korban sebagaimana diatur dalam Undang-undang itu.
4) Ancaman adalah segala bentuk perbuatan yang menimbulkan akibat, baik langsung maupun tidak langsung, yang mengakibatkan saksi dan/atau korban merasa takut dan/atau merasa di paksa untuk melakukan atau tidak melakukan suatu hal yang berkenaan dengan pemberian kesaksiannya dalam suatu proses peradilan pidana.
5) Keluarga adalah orang yang mempunyai hubungan darah dalam garus lurus keatas atau kebawah dan garis menyamping sampai derajat ketiga, atau yang mempunyai hubungan perkawinan, atau orang yang mempunyai tanggungan saksi dan/atau korban.
46
6) Perlindungan adalah segala upaya pemenuhan hak dan pemberian bantuan untuk memberikan rasa aman kepada saksi dan/atau korban yang wajib di lksanakan oleh LPSK atau lembaga lainnya sesuai dengan Undang-Undang ini.
2. Pasal 5
Dalam pasal 5 seorang saksi dan korban berhak :
a. memperoleh perlindungan atas keamanan pribadi dari ancaman fisik maupun psikologis dari
orang lain yang berkenaan dengan kesaksian yang akan, tengah atau telah diberikannya atas suatu perkara pidana;
b. hak untuk memilih dan menentukan bentuk perlindungan dan dukungan keamanan;
c. hak untuk mendapatkan nasihat hukum;
d. hak untuk memberikan keterangan tanpa tekanan; e. hak untuk mendapatkan penterjemah;
f. hak untuk bebas dari pertanyaan yang menjerat;
g. hak untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan kasus; h. hak untuk mendapatkan informasi mengenai keputusan pengadilan; i. hak untuk mengetahui dalam hal terpidana di bebaskan;
j. hak untuk mendapatkan identitas baru;
k. hak untuk mendapatkan tempat kediaman baru (relokasi); dan/atau
47
Hak-hak yang diberikan kepada saksi diatas belum cukup memberikan hak-hak kepada saksi dan korban secara lebih spesifik misalnya :
1. hak untuk memperoleh pendampingan. 2. hak mendapatkan kepastian atas status hukum
3. hak atas jaminan tidak adanya sanksi dari atasan berkenaan dengan keterangan yang diberikan
4. Hak untuk mendapatkan pekerjaan pengganti
5. Hak korban untuk dimintai pendapat pada setiap proses pemeriksaan dan pendapat korban sebagai sarana atau bahan untuk penjatuhan pidana kepada si pelaku.
Hak-hak tersebut sebetulnya merupakan hak yang sangat penting mengingat dalam beberapa kasus saksi dan korban sangat membutuhkan seorang pendamping yang akan memberikan konseling atau dalam korban mengalami trauma dan membutuhkan pihak-pihak yang bisa dipercaya untuk mendampinginya. Adanya pendamping akan membuat saksi menjadi lebih nyaman karena ada orang yang dikenalinya, saksi/korban. lebih percaya diri karena ditemani, adanya dukungan fisik terutama saksi/korban yang sudah tua ataupun lemah, dukungan pendampingan ini juga akan membantu saksi dan korban melewati masa-masa sulit terutama bila saksi/korban mengalama retraumatisasi.
Adanya hak akan pendampingan ini juga memberikan landasan yuridis bagi para pendamping yang selama ini mendampingi saksi/korban dalam memberikan kesaksian dipengadilan. Para pendamping saksi/korban ini tidak diakui dalam sistem hokum pidana kita sehingga kadangkala mendapatkan perlakuan yang tidak
48
semestinya dan sering dituding sebagai pihak yang memandu saksi dalam memberikan keterangan.
Hak untuk tidak ada sanksi bagi saksi atas kesaksiannya dari atasan saksi harus juga dijamin dalam undang-undang ini. Saksi-saksi yang sering merupakan pihak yang lemah atau tidak mempunyai relasi kekuasaan yang sama dengan terdakwa seringkali menerima resiko pemecatan ataupun resiko lain yang berhubungan dengan pekerjaannya. Saksi-saksi yang rentan semacam ini adalah misalnya saksi-saksi yang melibatkan tindak pidana korporasi atau kasus perburuhan. Saksi lain yang juga rentan atas sanksi atasan adalah saksi dalam kasus pelanggaran HAM berat dimana saksi ini, dari militer ataupun kepolisian, potensial menjadi saksi untuk terdakwa yang merupakan atasannya atau bekas pimpinannya sedangkan saksi masih aktif bertugas dikesatuannya.
Hak untuk mendapatkan pekerjaan pengganti atas saksi korban harus juga dijamin dalam undang-undang ini. Hak ini diberikan kepada korban atas kehilangan pekerjaan akibat tindak pidana yang terjadi pada dirinya, korban kejahatan yang dapat memperolah hak ini adalah korban yang sebelumnya memang telah mempunyai pekerjaan. Sedangkan hak atas pekerjaan pengganti pada saksi juga harus diberikan ketika saksi ikut dalam program perlindungan saksi misalnya jika saksi membutuhkan atau menerima hak relokasi.
Hak mendapatkan kepastian atas status hukum menjadi hak yang perlu dipikirkan untuk diberikan terutama pada saksi-saksi yang mencoba untuk mengungkapkan kasus-kasus kejahatan kepada masyarakat tetapi para saksi tersebut malah sering
49
dituntut balik dengan tuntutan pencemaran nama baik dan sebagainya, para saksi menjadi korban dari apa yang meraka suarakan. Hak atas status hukum bukan berarti bahwa seseorang tidak dapat dijadikan tersangka atau terdakwa tetapi lebih kearah pemberian posisi pada saksi yang mengungkapkan suatu tindak pidana untuk menjadi korban atas kesaksiannya tersebut.
3. Pasal 6
Dalam pasal 6 korban dalam pelanggaran hak asasi manusia yang berat, selai berhak atas hak sebagaimana dimaksud dalam pasal 5, mereka juga berhak mendapatkan bantuan medis; dan bantuan rehabilitasi psiko-sosial.
Penjelasan ketentuan tentang bantuan medis ini adalah bahwa tindak kekerasan pada dasarnya menyebabkan penderitaan fisik pada korban dan dalam hal ini negara berkewajiban untuk memberikan bantuan pada korban untuk membantu menyembuhkan luka-lukanya. Sedangakan penjelasan menganai bantuan rehabilitasi psiko-sosial adalah adanya korban yang menderita trauma atau masalah kejiwaan lainnya, bantuan psikolog sangat diperlukan untuk membentunya kembali menjalani kehidupan yang telah dikacaukan oleh adanya kekerasan. Pengertian rehabilitasi haruslah secara jelas ditentukan yang mencakupi pelayanan hukum, psikologis, perawatan medis, dan pelayanan atau perawatan lainnya, maupun tindakan untuk memulihkan martabat dan reputasi (nama baik) sang korban.
Dalam ketentuan tentang pemberian bantuan medis dan rahabilitasi psiko sosial ini tidak ada ketentuan yang menyebutkan bahwa bantuan ini dapat
50
diberikan sesegera mungkin kepada korban atau segera setelah korban mengalami kejahatan terhadap dirinya. Ketentuan mengenai bantuan yang sifatnya segera ini seharusnya juga menjadi ketentuan yang baku agar para korban dapat mendapatkan penanganan secara cepat sehingga tujuan atas pemulihan terhadap korban ini tercapai.
4. Pasal 7
1) Korban melalui LPSK berhak mengajukan ke pengadilan berupa:
a. hak atas kompensasi dalam kasus pelanggaran hak asasi manusia yan berat; b. hak atas restetusi atau ganti kerugian yang menjadi tanggung jawab pelaku
tindak pidana
2) Keputusan mengenai kompensasi dan restetusi di berikan oleh pengadilan 3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian kompensasi dan restetusi di atur
dengan peraturan pemerintah
Peraturan pemerintah ini mengatur tata cara melaksanakan konpensasi,