• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perlindungan Keragamanhayati & Ekosistem (BEP)

Alat-alat penangkapan ikan yang digunakan tidak merusak habitat laut.

RM – BEP 2

Ekosistem setempat dipantau.

1 Spesies primer: Segala spesies tangkapan yang diambil dan bukan merupakan hasil tangkapan sampingan yang diusulkan untuk menjadi satuan penilaian untuk sertifikasi. Spesies primer tidak boleh masuk klasifikasi sebagai spesies yang terancam punah, terancam, atau dilindungi.

Spesies sekunder: Segala spesies tangkapan yang diambil dan bukan merupakan hasil tangkapan sampingan yang tidak diusulkan menjadi satuan penilaian untuk sertifikasi. Termasuk disini adalah semua spesies nonprimer yang diambil yang masuk klasifikasi sebagai spesies yang terancam punah, terancam, atau dilindungi.

Spesies tangkapan sampingan: Spesies yang tidak sengaja tertangkap dalam pemanenan spesies sasaran (yaitu spesies primer dan sekunder) dan tidak diambil (dilepaskan kembali). Termasuk disini adalah mamalia, burung laut, dan reptil dan semua spesies yang dilepaskan kembali yang masuk klasifikasi spesies yang terancam punah, terancam, atau dilindungi. Spesies tangkapan sampingan tidak memenuhi syarat untuk sertifikasi Perdagangan yang Adil.

12

5.5 Tata Kelola (GOV)

RM – GOV 1

Penangkapan ikan ilegal dipantau dan dilaporkan.

RM – GOV 2

Asosiasi Nelayan secara aktif terlibat dalam pengelolaan perikanan.

RM – GOV 3

Ada prosedur untuk penyelesaian konflik di antara pemegang sertifikat, Asosiasi Nelayan, dan lembaga yang mempunyai tanggung jawab legal dalam pengelolaan perikanan dan pemanfaatan sumber dayanya.

5.6 Pengelolaan Limbah (WM)

RM – WM 1

Pembuangan limbah tidak mengancam kesehatan manusia atau lingkungan.

6.0 Ketentuan Perdagangan (TR)

6.1 Keterlacakan Produk (PT)

TR – PT 1

Ada sistem ‘mampu telusur’ untuk memastikan hanya ikan yang ditangkap oleh nelayan yang terdaftar yang dijual sebagai produk Perdagangan yang Adil.

TR – PT 2

Ada dokumentasi untuk semua transaksi produk Perdagangan yang Adil.

6.2 Kontrak & Perjanjian (CA)

TR – CA 1

Ada perjanjian yang ditandatangani dengan masing-masing nelayan yang terdaftar yang menetapkan tanggung jawab pemegang sertifikat dan nelayan yang terdaftar untuk menjalankan tanggung jawab program

Perdagangan yang Adil.

TR – CA 2

Ada perjanjian yang ditandatangani dengan masing-masing nelayan yang terdaftar yang menetapkan persyaratan-persyaratan umum perdagangan, termasuk segala kesepakatan bagi hasil tangkapan.

TR – CA 3

Satu rencana pembelian ikan yang berisi rangkuman perkiraan volume yang harus dibeli dalam 6 hingga 12 minggu berikutnya juga diserahkan kepada Komite Perdagangan yang Adil dan Asosiasi Nelayan.

TR – CA 4

Persyaratan tingkat bunga dan kredit atau dana talangan bersifat transparan.

TR – CA 5

Semua elemen kontrak dengan para pembeli Perdagangan yang Adil dipenuhi sesuai ketentuan-ketentuan yang disepakati bersama dalam kontrak kecuali ada perubahan terhadap kontrak yang disepakati bersama antara pembeli dan penjual secara tertulis.

13 TR – CA 6

Dalam waktu enam tahun sejak sertifikasi awal, Asosiasi Nelayan merundingkan kesepakatan tentang ketentuan-ketentuan dagang untuk jangka waktu satu masa panen atas nama semua nelayan yang terdaftar.

6.3 Penangguhan Kontrak & Pencabutan Sertifikat (CS)

TR – CS 1

Ketika satu pemegang sertifikat atau pembeli ditangguhkan: Dalam enam bulan, kontrak-kontrak yang telah ditandantangani dituntaskan dan kontrak-kontrak baru hanya ditandatangani dengan mitra-mitra dagang yang sudah ada (mereka yang sudah melakukan transaksi komersial dalam 12 bulan sebelumnya).

TR – CS 2

Sebuah organisasi berhenti menjual produk-produk Perdagangan yang Adil sejak tanggal dicabutnya, bahkan jika organisasi mempunyai kontrak-kontrak Perdagangan yang Adil yang sudah ditandangani dan belum dipenuhi.

TR – CS 3

Produk-produk yang Bersertifikat Perdagangan yang Adil tidak dijual kepada pembeli yang sudah dicabut sertifikatnya sejak tanggal pencabutan sertifikat pembeli. Dalam kasus seperti itu, kontrak-kontrak yang belum dikirimkan tidak boleh diklasifikasikan sebagai kontrak Perdagangan yang Adil.

14

Apendiks

Apendiks A: Kebijakan Fair Trade USA untuk Menambahkan Anggota Baru Pemegang Sertifikat Standar Perikanan Tangkap di antara Audit

Maksud Kebijakan

Meskipun sebagian organisasi mengajukan permohonan untuk mendapatkan sertifikasi kepada Fair Trade USA dan SCS disatu saat dimana struktur dan komposisi keanggotaan mereka sudah mantab, dalam banyak kasus organisasi yang mengajukan sertifikasi adalah organisasi yang mempunyai struktur yang baru saja terbentuk dengan tujuan untuk meningkatkan keanggotaan dan penjualan.

Kebijakan ini berisi garis besar tentang ketentuan-ketentuan untuk menambahkan keanggotaan di antara audit, dan mencoba menyeimbangkan antara risiko dengan penambahan anggota yang tidak menjadi bagian dari lingkup dan pilihan sampel audit dengan pengakuan bahwa kemampuan untuk menambahkan anggota baru dan sejalan dengan penjualan yang juga meningkat di antara audit dapat juga meningkatkan dampak pada produsen.

Pemegang sertifikat bisa menambahkan nelayan-nelayan baru diantara audit tahunan, asalkan jumlah total nelayan baru yang ditambahkan tidak menimbulkan dampak negatif pada pengawasan mutu terhadap sediaan ikan mereka atau kesehatan dan keselamatan para nelayan yang terdaftar dan para pekerja yang terkait. Selain itu, para pemegang sertifikat juga perlu mematuhi semua ketentuan Kebijakan Fair Trade USA untuk Menambahkan Anggota Baru. Kebijakan tertuang di bawah ini.

Agar anggota baru dapat ditambahkan untuk masuk dalam ruang lingkup sertifikasi sebelum audit berikutnya, persyaratan-persyaratan berikut harus dipenuhi:

1. Sebuah kebijakan tentang integrasi anggota baru diserahkan kepada auditor pada saat audit yang baru-baru saja dilaksanakan atau pada waktu dilakukan tindak lanjut dengan badan sertifikasi. Kebijakan tentang integrasi anggota baru harus meliputi:

a. Asesmen risiko terhadap anggota baru dan

b. Bahan-bahan pelatihan untuk anggota-anggota baru yang meliputi ketentuan-ketentuan Standar, termasuk operasi dari Komite Perdagangan yang Adil.

2. Pada saat pendaftaran anggota baru, atau saat jeda waktu yang ditentukan oleh auditor, dan sebelum dilakukannya audit berikutnya, para pemegang sertifikat harus memberikan bukti kepada SCS bahwa kebijakan tentang integrasi anggota baru telah dilaksanakan terhadap semua anggota baru mereka pada saat registrasi.

3. Para pemegang sertifikat terus memperbaharui daftar anggota, dan SCS berhak untuk meminta daftar tersebut di antara audit tahunan. Daftar lengkap yang berisi semua anggota harus diperbaharui seluruhnya sebelum audit surveilan/pengamatan berikutnya.

4. Semua anggota baru dimasukkan dalam ruang lingkup sertifikat pada tataran yang sama dengan anggota yang sudah ada (yaitu jika kelompok ada di Tahun 3, mereka masuk tingkat pemenuhan Tahun 3.

5. Anggota-anggota baru hanya boleh ditambahkan ke Komite-Komite Perdagangan yang Adil yang ada atau kelompok-kelompok produsen dari cakupan geografis yang sudah ada.

6. Anggota-anggota baru mengirimkan produk Perdagangan yang Adil ke lokasi pengumpulan yang sudah ada.

15

Apendiks B: Pohon Keputusan untuk Asesmen Sediaan dengan Data Terbatas

Pengantar

Pohon keputusan untuk asesmen sediaan bisa digunakan untuk menentukan metodologi mana yang paling tepat untuk melakukan asesmen sediaan dengan data terbatas untuk perikanan anda. Pohon keputusan ini berisi tindak lanjut yang semestinya dan ketentuan-ketentuan yang didasarkan pada status sediaan, dan hanya boleh digunakan untuk spesies primer atau sekunder. Dokumen ini tidak boleh digunakan untuk sediaan dengan data yang memadai untuk melakukan asesmen sediaan secara formal. Dalam kasus seperti itu, asesmen sediaan formal harus dilakukan sesuai dengan yang dijabarkan oleh standar-standar FAO (FAO, 2003).

Instruksi

1. Tentukan apakah anda sedang melakukan asesmen terhadap spesies primer atau sekunder. Spesies sekunder yang masuk klasifikasi spesies yang terancam punah, terancam atau dilindungi juga harus dilakukan asesmen dengan menggunakan pohon keputusan ini jika belum pernah dilakukan asesmen sediaan.

2. Gunakan pohon keputusan untuk menentukan metode asesmen yang tepat yang didasarkan pada ketersediaan data anda.

3. Untuk spesies primer dan sekunder, lakukan asesmen sediaan dengan data terbatas untuk menganalisis paling tidak tiga indikator kinerja (lihat Tabel 1). Jika memungkinkan, gunakan indikator kinerja dari berbagai jenis data untuk meningkatkan kekuatan asesmen dan mengurangi ketidakpastian. Idealnya, data yang tergantung pada perikanan (misalnya data tangkapan) dan data yang tidak tergantung pada perikanan (misalnya survei visual atau tangkapan) harus digunakan.

Direkomendasikan untuk melakukan interpretasi yang seksama terhadap indikator-indikator kinerja yang dipilih melalui proses partisipatif dan didasarkan pada aliran data yang independen.

4. Gunakan Tabel 2 atau Tabel 3 untuk menentukan tindak lanjut yang tepat untuk spesies.

Sediaan ikan harus dilakukan asesmen setiap tahun. Indikator-indikator kinerja yang sama yang ditunjukkan dalam Tabel 1 tidak perlu digunakan setiap tahun meskipun direkomendasikan adanya kesinambungan dari tahun ke tahun. Sejalan dengan dikumpulkannya data tambahan tentang perikanan, informasi harus

dimasukkan ke dalam asesmen sediaan baru sehingga secara progresif meningkatkan kekuatan setiap asesmen.

Lebih jauh lagi, indikator-indikator kinerja tidak perlu dilakukan asesmen dalam urutan tertentu. Sedapat mungkin, gunakan data yang diperoleh dari lokasi yang sama dengan perikanan daripada informasi dari kawasan lain atau data global.

16

Hitung indikator kinerja yang menggunakan data panjang spesies, seperti kematian karena penangkapan ikan (F), rasio potensi pemijahan (spawning potential ratio/SPR), persentase ikan dewasa, ikan dengan panjang optimal, dan megaspawners dalam perikanan tangkap, dan/atau panjang rata-rata seiring dengna waktu. Gunakan Tabel 1 untuk menentukan apakah indikator kinerja menunjukkan trayektori positf atau negatif.

Pohon Keputusan Penilaian Sediaan dengan Data Terbatas

Apakah anda mempunyai data sensus secara visual untuk spesies ini?

Apakah anda mempunyai data sensus secara visual di dalam dan di luar zona inti?

Menghitung rasio kepadatan ikan dengan membagi kepadatan di dalam kawasan tangkap/ kepadatan bukan di kawasan tangkap. Gunakan Tabel 1 untuk menentukan apakah indikator kinerja menunjukkan trayektori positif atau negatif.

Apakah anda mempunyai data tentang panjang spesies tangkapan?

Apakah ada data tentang upaya penangkapan ikan untuk spesies ini?

Apakah ada catatan tentang tangkapan spesies ini?

Hitung proksi kelimpahan tahunan dengan membagi tangkapan/upaya (tangkapan per unit upaya). Gunakan Tabel 1 untuk menentukan apakah indikator kinerja menunjukkan trayektori positf atau negatif.

Ya

Mengumpulkan data tambahan tentang perikanan untuk dapat melakukan asesmen terbaik terhadap sediaan

Tidak Tidak

17 Tabel 1: Trayektori Indikator Kinerja Asesmen Sediaan

Indikator Kinerja Asesmen Sediaan2 Trayektori Positif Trayektori Negatif Rasio Kepadatan di Kawasan Tangkap/ Bukan

di Kawasan Tangkap3 Semua ikan > 0,8

Ikan dewasa > 0,6 Semua ikan < 0,8 Ikan dewasa < 0,6

Mortalitas karena penangkapan Mortalitas karena penangkapan <

Mortalitas secara alamiah

Mortalitas karena penangkapan >

Mortalitas secara alamiah 4

Rasio Potensi Pemijahan (SPR) SPR > 40%5 SPR < 40%5

Persentase Ikan Dewasa dalam Tangkapan6 > 90% < 90%

Persentase Ikan Tangkapan dengan Panjang

Optimal7 > 90% dalam panjang

optimal +10% < 90% dalam panjang optimal +10%

Persentase Megaspawners8 dalam Perikanan

Tangkap8 < 10%9

30-40%10 > 10%9

< 20%10 Perubahan Panjang Rata-Rata11 Panjang rata-rata tetap

sama Panjang rata-rata

berkurang

2 Lihat rujukan pustaka utama untuk mendapatkan informasi tambahan tentang metode-metode yang disebutkan di bawah.

3 Mungkin tidak berlaku di lokasi-lokasi dimana zona inti tidak ditegakkan dengan baik. Babcock and MacCall, 2011.

4 Mungkin bukan indikator kinerja yang tepat untuk predator tingkat tropis tinggi dengan angka kematian alamiah yang rendah.

5 Berlaku untuk ikan bersirip yang tumbuh lambat/lambat berproduksi. Silahkan merujuk ke pustaka yang dipublikasi untuk menentukan SPR yang tepat untuk invertebrata dan spesies-spesies lain yang tumbuh dengan cepat.

6 Froese, 2004

7 Panjang optimal adalah panjang dimana jumlah ikan di satu kelas pada tahun tertentu dimana tidak ada penangkapan ikan dikalikan dengan berat rata-rata secara individual mencapai maksimum (Froese, 2004).

8 Megaspawners adalah ikan berukuran lebih panjang dari panjang optimal ditambah 10% (Froese, 2004).

9 Berlaku jika tujuan kerangka kerja manajemen adalah nil penangkapan megaspawners.

10 Berlaku jika data tangkapan mencerminkan usia dan struktur ukuran sediaan.

11 Apabila sediaan perikanan dapat diprediksi, maka panjang ikan rata-rata dapat diperkirakan berdasarkan pengukuran yang dilakukan selama tiga sampai lima tahun terakhir.

12 Pastikan upaya penangkapan ikan digambarkan dengan jenis alat tangkap yang digunakan untuk menghindari terjadinya campur-aduk data dari berbagai alat tangkap ikan.

18 Indikator-indikator kinerja perikanan anda mungkin lebih tinggi atau lebih rendah dari yang ditunjukkan disini, terutama jika telah dilakukan kajian-kajian khusus tentang lokasi dan spesies yang menunjukkan adanya alternatif rujukan optimal. Lebih jauh lagi, sebagian indikator mungkin cocok untuk spesies tertentu. Misalnya, kajian-kajian yang menunjukkan bahwa SPR yang berbasis ukuran panjang merupakan indikator yang paling cocok untuk perikanan lobster, dan rasio kepadatan merupakan satu indikator untuk status sediaan yang bagus untuk spesies yang hidupnya lebih menetap seperti bivalvia. Hal ini penting untuk memilih indikator dan rujukan yang tepat untuk spesies hasil perikanan ditempat anda.

Fair Trade USA memberikan peluang untuk memasukkan indikator-indikator yang tidak tercantum dalam Tabel 1 asalkan indikator-indikator tersebut telah melalui proses tinjauan yang mendalam (peer-review) dan ketepatan serta keakuratannya telah diujicobakan.

Berikut ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang perlu dipertimbangkan ketika menganalisis indikator-indikator kinerja:

1. Apakah indikator-indikator dan trayektori-trayektori positif/negatif sesuai dengan pengetahuan perikanan setempat?

2. Apakah indikator-indikator yang didasarkan pada panjang ikan tidak saling bertentangan?

3. Apakah indikator yang didasarkan pada panjang ikan tidak bertentangan dengan indikator-indikator yang tidak didasarkan pada panjang ikan?

4. Apabila CPUE telah digunakan sebagai indikator untuk menunjukkan status sediaan, apakah perikanan menunjukkan kondisi stabilitas yang berlebihan (hyperstability) (yaitu apakah ini merupakan perikanan berdasarkan agregasi)?

19 Tabel 2: Perlakuan Tindak Lanjut Spesies Primer

Spesies

Primer Jumlah Indikator Kinerja yang Menunjukkan Trayektori yang Positif

3 dari 3 2 dari 3 1 dari 3 yang tetap sehat dan stabil.

Rencana Pengelolaan harus ditinjau setahun sekali dan diperbaharui jika diperlukan untuk

memastikan keefektifannya.

Spesies tidak dapat mendapat Sertifikasi Perdagangan yang Adil (atau disertifikasi ulang) kecuali ada analisis tambahan tentang spesies tersebut yang menunjukkan sehat dan stabilnya sediaan.

Untuk perikanan yang mempunyai data yang cukup untuk melacak lebih dari tiga indikator kinerja, paling tidak 60% (atau dua pertiga) dari indikator kinerja yang dianalisis harus menunjukkan satu trayektori positif.

Jika hanya 30% (atau sepertiga) dari indikator yang dianalisis menunjukkan trayektori positif, perikanan tidak dapat disertifikasi kecuali ada analisis tambahan terhadap spesies yang menunjukkan sehat dan stabilnya sediaan.

Tabel 3: Perlakuan Tindak Lanjut Spesies Sekunder Spesies

Sekunder Jumlah Indikator Kinerja yang Menunjukkan Trayektori yang Positif

3 of 3 2 of 3 1 of 3 yang tetap sehat dan stabil.

Rencana Pengelolaan harus ditinjau setahun sekali dan diperbaharui jika diperlukan untuk

memastikan keefektifannya.

Rencana Pengelolaan

Perikanan harus meliputi satu strategi pengembangan ditinjau setahun sekali dan diperbaharui jika diperlukan untuk memastikan

keefektifannya.

20

Apendiks C: Dampak Habitat

Instruksi

1. Gunakan Tabel 1 untuk menilai dampak dari alat-alat penangkapan ikan terhadap substrat di dasar perairan. Jika alat penangkapan ikan tidak masuk dalam daftar, gunakan jenis alat penangkapan ikan yang bersentuhan mirip dengan habitat dasar perairan. Jika ditemui berbagai jenis habitat atau klasifikasi habitat yang tidak menentu, gunakan nilai yang berkaitan dengan jenis habitat yang paling sensitif yang ditemui dalam perikanan.

2. Gunakan Tabel 2 untuk menilai upaya-upaya mitigasi perikanan terhadap dampak-dampak habitat yang diakibatkan alat penangkapan ikan. Langkah 2 tidak perlu untuk alat penangkapan ikan yang tidak menyentuh dasar perairan. Diperlukan tingkat kepastian yang tinggi untuk menilai langkah-langkah mitigasi yang kuat atau menengah. Termasuk dalam contoh ini adalah peta habitat yang baik atau cakupan pengamat yang mendokumentasikan penegakan langkah-langkah pengelolaannya.

3. Tentukan nilai total dampak habitat anda dengan menjumlahkan nilai dari Tabel 2 dengan nilai dari Tabel 1.

Tabel 1: Matriks Dampak (MBA, 2014a)

Konservasi Isu Deskripsi Skor

Tidak ada Alat penangkapan yang tidak bersentuhan dengan habitat dasar perairan;

penangkapan spesies pelagis/perairan terbuka. 5

Sangat Rendah

Pancing vertical (setting line) yang bersentuhan dengan habitat dasar perairan atau penangkapan untuk spesies dengan habitat dasar (benthic)/demersal atau

yang berhubungan dengan terumbu karang. 4

Rendah

Jaring dasar (bottom gillnet), alat perangkap (bubu dasar), rawai tetap/rawai dasar (bottom longline) kecuali ditempat batuan karang /batu yang tergerus aliran air.

Jaring panjang/pukat tarik dasar (hanya di lumpur/pasir)

Pukat ikan untuk perairan pertengahan (midwater trawl) yang sekali-kali bersentuhan dengan dasar perairan (25% setiap waktu) atau pukat kantong (purse seine/seine net), termasuk payang, dogol, pukat pantai, muroami, yang biasanya bersentuhan dengan dasar perairan.

3

Sedang

Alat pengeruk/penyedot (dredge) Scallop di perairan berlumpur dan pasir Jaring dasar (bottom gillnet), alat perangkap (bubu dasar), rawai tetap/rawai dasar (bottom longline) kecuali ditempat batuan karang /batu yang tergerus aliran air.

Payang perairan dasar (kecuali di perairan berlumpur/pasir)

Pukat tarik (trawl) (perairan berlumpur dan pasir, atau batuan kerikil yang dangkal) (termasuk pukat ikan untuk perairan pertengahan/midwater trawl - yang biasanya bersentuhan dengan dasar perairan

2

Tinggi

Alat pengeruk/penyedot kerang secara hidrolik

Alat pengeruk/penyedot Scallop di batuan kerikil, batuan dan batu besar yang tergerus aliran air

Pukat Tarik di batuan atau batu besar, atau batuan kerikil bertenaga rendah (>60 m)

1

Very High Alat pengeruk/penyedot atau pukat tarik diperairan karang dilaut dalam, atau

habitat biogenik (seperti jenis belut laut (eelgrass) dan maerl) 0

21 Tabel 2: Matriks Mitigasi (MBA, 2014a)

Jenis

Mitigasi Deskripsi Skor

Mitigasi Kuat

Paling tidak 50% dari habitat sampel terlindungi dari jenis alat tangkap yang digunakan dalam perikanan yang dilakukan asesmen (lihat Perlindungan lokasi (Spatial) di bawah).

Atau

Intensitas penangkapan ikan cukup rendah dan terbatas sehingga secara ilmiah bisa ditunjukkan bahwa paling tidak 50% dari sampel habitat dalam kondisi sudah terpulihkan kembali, yang didasarkan pada pengetahuan tentang ketangguhan habitat dan frekuensi dari dampak penangkapan ikan yang diakibatkan jenis alat tangkap yang digunakan dalam perikanan yang sedang dilakukan asesmen (lihat Perlindungan lokasi (Spasial) di bawah) Atau

Alat tangkap dirancang khsus untuk mengurangi dampak terhadap habitat dasar laut dan ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa modifikasi yang dilakukan secara efektif dalam hal ini dan kebanyakan dilakukan di hampir semua kapal

Atau

Langkah-langkah lain dilakukan dan telah terbukti sangat efektif dalam mengurangi dampak yang diakibatkan alat penangkapan ikan. Langkah-langkah tersebut bisa berupa kombinasi dua atau lebih dari Langkah-langkah tingkat

“menengah” atau lebih yang dijelaskan di bawah ini, misalnya modifikasi alat tangkap + perlindungan spasial (ruang penangkapan).

+1

Mitigasi Sedang

Langkah-langkah efektif yang sedang dilaksanakan adalah mengurangi upaya, intensitas, atau spasial/ruang penangkapan ikan,

Atau

Sebagian dari seluruh habitat penting terlindungi dari persentuhan dengan yang ada di dasar perairan dan meluasnya ruang penangkapan ikan perlu dicegah, serta habitat yang rentan terhadap dampak yang mempengaruhi habitat dasar laut sangat dilindungi.

Atau

Modifiksi alat tangkap atau langkah-langkah lain yang digunakan diharapkan akan efektif.

+0,5

Mitigasi Minimal

Upaya atau intensitas penangkapan ikan dikendalikan secara efektif namun seharusnya tidak dikurangi secara aktif

Atau

Habitat-habitat yang rentan sangat dilindungi namun habitat-habitat lain tidak dilindungi secara ketat.

Atau

Modifikasi atau langkah-langkah yang diantisipasi akan efektif sedang dalam uji coba atau dikembangkan.

+0,25

Tidak ada Mitigasi yang

Efektif

Tidak ada kendali terhadap intensitas penangkapan ikan.

Atau

Tidak ada atau hanya ada sedikit upaya untuk membatasi cakupan spasial penangkapan ikan.

Atau

Tidak ada modifikasi yang diantisipasi efektif yang digunakan Atau

Dilakukan modifikasi namun tidak efektif.

+0

Tidak Berlaku Tidak berlaku karena alat tangkap yang digunakan tidak berbahaya. +0

22 Perlindungan Ruang Pengkapan (Spasial) (MBA, 2014b)

Mengurangi dampak yang diakibatkan penangkapan ikan melalui pengelolaan ruang bisa menjadi salah satu cara yang paling efektif untuk meredam dampak ekologis yang diakibatkan penangkapan ikan dengan

menggunakan alat tangkap yang merusak habitat (Lindholm et al., 2001; Fujioka, 2006). Ada keterkaitan yang kompleks antara dampak dari alat tangkap, dan yang ditimbulkan dari ruang penangkapan ikan dan upaya penangkapan ikan (yaitu tentang frekuensi adanya dampak) (Fujioka 2006) sehingga hal ini tidak dapat dikuantifikasikan secara tepat dalam asesmen terhadap Seafood Watch®. Meskipun demikian, dalam

menentukan kriteria harus dipertimbangkan hubungan antara manfaat upaya-upaya perlindungan habitat yang lestari dengan menyesuaikan penilaian dari habitat. Ambang batas untuk menyesuaikan penilaian habitat karena adanya perlindungan habitat dari jenis alat tangkap yang digunakan dalam perikanan ( 50% dilindungi untuk masuk kualifikasi sebagai “mitigasi yang kuat” dan 20% dilindungi untuk masuk kualifikasi sebagai

“mitigasi sedang”) yang didasarkan pada rekomendasi-rekomendasi untuk pengelolaan ruang yang ada di pustaka ilmiah seperti ditunjukkan dalam Auster (2001). Auster merekomendasikan untuk diterapkannya prinsip tindakan pencegahan pada waktu tingkat ambang batas mencapai 50% dari kawasan pengelolaan habitat terkena dampak yang disebabkan dari penangkapan ikan, dengan minimal 20% dari kawasan di kumpulan dan dari ciri-ciri alam ang terlindungi dalam MPA, untuk meminimalkan dampak terhadap spesies yang rentan dan habitat yang sensitive.

Tabel berikut ini memberikan contoh modifikasi alat tangkap yang diyakini cukup efektif dalam mengurangi dampak habitat menurut beberapa kajian ilmiah. Tabel ini akan terus direvisi seiring dengan tersedianya berbagai kajian ilmiah baru. Sumber-sumber utama tabel ini adalah He (2007) dan Valdemarsen dkk., (2007).

Alat Penangkapan

Ikan

Modifikasi

Pukat Otter

Tali-temali pukat (trawl) untuk spesies jenis semi-pelagik (bukaan jaring pukat, dayung panjang (sweep) dan tali pengikat jangkar di dasar kapal (bridle), juga termasuk modifikasi bridle and sweep menjadi ukuran yang lebih pendek – yang biasanya digunakan pada pukat udang, nephrop dan spesies lainnya, sehingga spesiet tersebut akan terganggu oleh adukan pasir dan tali pengikat jangkar (bridle), karena tidak mampu untuk berenang) Tali-temali pukat untuk spesies pelagic/pukat tanpa ‘sweep’ (bukaan jaring pukat tetap

Tali-temali pukat (trawl) untuk spesies jenis semi-pelagik (bukaan jaring pukat, dayung panjang (sweep) dan tali pengikat jangkar di dasar kapal (bridle), juga termasuk modifikasi bridle and sweep menjadi ukuran yang lebih pendek – yang biasanya digunakan pada pukat udang, nephrop dan spesies lainnya, sehingga spesiet tersebut akan terganggu oleh adukan pasir dan tali pengikat jangkar (bridle), karena tidak mampu untuk berenang) Tali-temali pukat untuk spesies pelagic/pukat tanpa ‘sweep’ (bukaan jaring pukat tetap

Dokumen terkait