• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perlindungan Nasabah Menurut Undang-undang No. 10

BAB III : SEKILAS TENTANG BANK YANG DICABUT IZIN

C. Perlindungan Nasabah Menurut Undang-undang No. 10

Dalam hubungan antara nasabah dengan bank dimana nasabah berkedudukan sebagai debitur, maka hubungan yang dimaksud disini adalah hubungan dalam pemberian kredit atau dalam dunia perbankan dikenal sebagai perjanjian kredit.

Dalam hubungan ini akan terlihat peranan bank yang lebih dominan yaitu pihak bank membuat secara sepihak isi perjanjian kredit dengan calon nasabah debitur. Perjanjian kredit

yang berisikan hak-hak dan kewajiban-kewajiban para pihak, dalam hal ini bank dan nasabah, sudah ditentukan terlebih dahulu oleh pihak bank.

Hal ini menunjukkan bahwa perjanjian kredit itu merupakan perjanjian baku, dimana salah satu pihak yaitu bank menentukan terlebih daulu akan isi perjanjian kredit yang akan ditawarkan kepada nasabah debitur.

Dalam hubungan ini kedudukan bank adalah lebih kuat daripada kedudukan nasabah debitur. Pihak nasabah sebagai pihak yang membutuhkan kredit bank untuk membiayai usaha maupun proyeknya mau tidak mau akan memenuhi persyaratan yang dicatumkan dalam perjanjian kredit Bank tersebut

Pada saat ini belum ada pedoman atau ancuan yang dapat diajadikan pegangan oleh bank-bank mengenai apa saja isi atau klausula-klausula yang seyogyanya dimuat dalam suatu perjanjian kredit. Setiap bank syarat–syarat dan ketentuan-ketentuan yang jelas tentang pemberian kredit dan hal ini tidak terlepas dari asas kebebasan berkontrak antara bank dengan nasabah . Dengan demikian perjanjian kredit yang ada antara bank dengan nasabah dibuat dengan asas kebebasan berkontrak dengan berdasar kepada bentuk perjanjian baku.

Undang-undang No. 10 Tahun 1998 juga tidak ada menyebutkan ketentukan mengenai bentuk dan isi pembuatan perjanjian kredit. Sehingga dalam prakteknya, pembuatan bentuk dan isi perjanjian kredit dilakukan oleh masing-masing bank sesuai dengan kebutuhannya. Hal akan mengakibatkan berlakunya perjanjian baku berdasarkan asas kebebasan berkontrak yang semakin luas yang pada gilirannya nasabah debitur hanya mempunyai pilihan untuk menerima seluruh klausula-klausula dalam perjanjian kredit tersebut, yang mungkin saja dapat merugikan nasabah debitur nantinya, seperti halnya pencantuman klausula yang memberatkan dalam perjanjian kredit tersebut.

C.2. Perlindungan Nasabah Dalam Kedudukannya Sebagai Kreditur

Nasabah kreditur (nasabah penyimpan dana) dapat menyimpan dananya dalam berbagai bentuk simpanan. Yang terutama adalah dalam bentuk giro atau demand deposit atau current account atau current deposit, deposito berjangka atau time deposit dan tabungan atau saving account.

Hubungan hukum antara bank dengan nasabah kreditur dituangkan dalam bentuk peraturan bank yang bersangkutan yang berisikan ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat umum yang harus disetujui oleh nasabah penyimpan tersebut.

Menurut Undang-undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan yang dimaksud dengan simpanan adalah dana yang dipercayakan masyarakat kepada bank dalam bentuk giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu (Pasal 1 ayat 6). Adapun yang dimaksud dengan penitipan adalah penyimpanan harta benda berdasarkan kontrak antara bank umum dengan penitip yang didalamnya ditentukan bahwa bank umum yang bersangkutan melakukan penyimpanan harta tanpa mempunyai hak kepemilikan atas harta tersebut (Pasal 1 ayat (13)). Lebih lanjut dalam Penjelasan Umum Pasal 6 huruf i disebutkan bahwa dalam melakukan kegiatan penitipan, bank menerima harta penitip dengan mengadministrasikan secara terpisah dari kekayaan bank. Dalam Pasal 9 ayat (3) ditentukan dari kekayaan bank mengalami kepailitan, semua harta yang dititipkan kepada bank tersebut tidak dimaksudkan dalam harta kepailitan dan wajib dikembalikan kepada penitip yang bersangkutan. Dengan dibedakannya antara “simpanan” dan “penitipan”, Undang-undang No. 10 Tahun 1998 bermaksud untuk menegaskan hal-hal sebagai berikut :

(2) Pada penitipan, harta yang disimpan oleh bank bukan milik bank dan harus dibukukan didalam pembukuan bank secara terpisah dari kekayaan bank.

Dalam praktek perbankan, penyerahan dana oleh nasabah untuk disimpan oleh bank mengandung pengertian atau kesepakatan bahwa bank yang menerima simpanan tersebut berhak untuk memakai dana tersebut sekehendaknya untuk keperluan apapun juga dan nasabah penyimpan dana tidak mempunyai hak apapun mengenai tujuan pemakaian dana tersebut oleh bank. Hak nasabah penyimpan dana semata-mata hak untuk menagih dan mendapatkan kembali dana tersebut. Praktek perbankan selama ini bersikap bahwa dana atau uang yang telah diserahkan oleh nasabah penyimpan dana kepada bank adalah uang bank. Menurut Remy Sjahdeini, 30 bahwa dalam pembukuan bank, simpanan dana nasabah dibukukan sebagai asset bank. Asset bank akan bertambah bila simpanan nasabah bertambah. Hal ini berarti bahwa dana yang disimpan nasabah merupakan kekayaan bank selama dalam penyimpanan bank.

Disini tampak suatu hubungan yang kurang seimbang antara bank dengan nasabah kreditur. Nasabah telah memberikan uangnya untuk dipakai dan dipergunakan oleh bank tanpa nasabah boleh mencampuri urusan kemanakah tujuan uang tersebut dipergunakan oleh bank.

Disamping itu dalam proses penyimpanan dana tersebut semua ketentuan-ketentuan maupun syarat-syarat penyimpanan ditentukan secara sepihak oleh bank, dan nasabah hanya boleh menyetujuinya atau tidak sama sekali.

Jika hal ini kita bandingkan dengan prosedur permintaan untuk mendapatkan kredit dari bank, maka tanpa calon nasabah debitur harus mempunyai agunan baik barang bergerak maupun barang tetap sebagai jaminan nantinya apabila nasabah tidak membayar kembali kredit bank tersebut, sebaliknya apabila seorang nasabah menyimpan uangnya di suatu bank, maka ia tidak

30

Remy Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang Seimbang Bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, Institut Bankir Indonesia (IBI), Jakarta, 1993, hal. 150.

“berhak” untuk meminta “jaminan” bahwa bank nantinya akan mampu mengembalikan uang yang disimpan nasabah di bank tersebut.

Dengan demikian tampaklah bahwa kedudukan bank yang berhadapan dengan kedudukan nasabah baik sebagai penyimpan dana (kreditur) maupun sebagai debitur adalah sangat kuat dan nasabah berada dalam posisi yang lemah.

Selanjutnya, dalam Undang-undang No. 10 Tahun 1998 secara khusus tidak ada menyebutkan akan hak-hak, upaya-upaya dan keadaan nasabah kreditur bila bank mengalami kebangkrutan. Jadi tidak ada prioritas perlindungan khusus kepada nasabah jika bank mengalami kebangkrutan.

Perlindungan kepada nasabah dianggap cukup dengan adanya ketentuan bahwa bank dijalankan dengan secara hati-hati (Pasal 2 Undang-undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan).

Menurut Munir Fuady, 31 suatu bank yang telah dilikuidasi mempunyai konsekuensi yuridis. Jika ada pihak yang dirugikan, misalnya ada nasabah yang dananya tidak terbayar penuh, pihak otoritas moneter dapat digugat ke Pengadilan Tata Usaha Negara, karena otoritas moneter berwenang untuk memerintahkan pelikuidasian sebuah bank.

Menurut Undang-undang No. 10 Tahun 1998, likuidasi hanya dimaksudkan sebagai the last resort, yakni setelah seluruh tinakan lain tidak membuahkan hasil, misalnya negoisasi pihak bank dengan kalangan tertentu ataupun kemungkinan merger dengan bank swasta lainnya tidak berhasil.

Di negara manapun, perintah penutupan suatu bank hanya dilakukan dalam keadaan yang benar-benar bersifat darurat. Apabila usaha yang dilakukan tidak membuahkan hasil, barulah tindakan likuidasi ditempuh. Jadi seharusnya izin bank dicabut setelah proses likuidasi selesai.

Bukan sebaliknya, mencabut izin bank lalu menempuh proses likuidasi, seperti halnya kasus Bank Century. Anehnya, undang-undang Perbankan juga menyebutkan likuidasi terhadap bank dilakukan setelah izin bank tersebut dicabut oleh Menteri Keuangan (Pasal 37 Undang-undang No. 10 Tahun 1998).

Bagi nasabah sendiri, sekiranya likuidasi itu merugikan mereka, misalnya urutan prioritas pembayaran kepada nasabah kreditur ditempatkan pada urutan terakhir oleh tim likuidasi, maka merger dapat menggugat bank yang bersangkutan ke Pengadilan sehingga seluruh assetnya dijadikan sita jaminan.

Hal seperti inilah yang tidak diatur oleh Undang-undang No. 10 Tahun 1998, sehingga seperti kasus Bank Century, banyak nasabah yang dirugikan.

Pada dasarnya perlindungan terhadap nasabah ini sudah dicakup oleh Pasal 2 Undang-undang Perbankan 1998. Dengan adanya prinsip kehati-hatian ini diharapkan bank dalam menjalankan kegiatannya benar-benar menjaga “kesehatannya”, sehingga tidak merugikan kepentingan nasabah. Namun siapa yang bisa menjamin bahwa bank tidak akan bangkrut ?

Pada akhirnya akan kembali pada nasabah itu sendiri. Ia harus berhati-hati dalam memilih seluruh bank menjadi mitranya. Oleh karena itu pemerintah atau bank Indonesia perlu membuat daftar bank yang sehat secara transparan, diumumkan secara terbuka.

Dokumen terkait