Anak yang ada dalam kandungan perempuan dianggap sebagai telah dilahirkan. Bilamana juga kepentingan si anak menghendakinya atau berarti bayi dalam kandungan ibu heruslah telah dianggap sebagai insan atau individu demi perlindungan dilakukan orang tua sedini mungkin, yaitu sejak anak dalam kandungam baik secara adat maupun agama telah dilakukan atau dibiasakan oleh sebagian besar rakyat Indonesia.
Perlindungan anak adalah suatu hasil interaksi karena adanya interelasi antara fenomena yang ada dan saling mempengaruhi. Oleh sebab itu apabila kita mengetahui adanya terjadi perlindungan anak yang baik atau buruk, tepat atau tidak tepat maka harus memperhatikan fenomena mana yang relevan yang mempunyai peran penting dalam terjadinya kegiatan perlindungan anak (Gosita, 2004: 12).
Perlindungan anak menjelaskan segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi (Undang-Undang Nomor 23 tahun 2003 pasal 1 ayat 2).
Konsep perlindungan anak mencakup dalam empat kelompok permasalahan yaitu perlindungan aspek sosial budaya, ekonomi, politik atau hukum dan pertahanan keamanan. Dalam aspek sosial budaya, tidak boleh ada paksaan atas anak yang berdalih adat istiadat atau tradisi yang menganggu atau menghambat pertumbuhan si anak menjadi manusia berkualitas. Dalam aspek ekonomi tidak ada pekerja anak atau buruh anak yang bekerja tidak sesuai dengan persyaratan kerja bagi anak-anak. Aspek politik atau hukum tidak boleh ada peraturan
perundangan yang mengindahkan harkat dan martabat anak dalam penghukuman serta perlakuan terhadap anak bermasalah harus selalu diutamakan kepentingan pertumbuhan dan perkembangan anak sebagai manusia yang baik. Sedangkan dalam aspek pertahanan keamanan, anak harus dilindungi dari penyalahgunaan di dalam segala bentuk kejahatan seperti prostitusi dan perdagangan anak (Supatmi dan Puteri, 1999: 109-110).
2.3.2 Prinsip Perlindungan anak
Adapun 4 prinsip mengenai perlindungan anak meliputi: a. Anak yang tidak dapat berjuang sendiri.
Salah satu prinsip yang digunakan dalam perlindungan anak sebagai modal utama kelangsungan hidup manusia, bangsa dan keluarga, untuk itu hak-hak anak harus dilindungi. Anak tidak dapat melindungi diri sendiri hak-haknya, banyak pihak yang mempengaruhi kehidupannya. Negara dan masayarakat berkepentingan untuk mengusahakan perlindungan hak-hak anak.
b. Kepentingan terbaik anak (the best interest of the child).
Demi kepentingan terbaik anak merupakan filsafah utama dibalik konvensi hak anak adalah bahwa anak juga setara sebagai manusia mereka memiliki nilai melekat yang sama seperti orang dewasa. Penegasan tentang hak anak menyoroti penekanan bahwa masa kanak-kanak sangat berharga bagi anak belakangan ini bukan semata-mata periode pelatihan untuk menuju ke kehidupan manusia dewasa. Adanya gagasan bahwa anak-anak memiliki setara mungkin terdengar seperti kebenaran yang tidak dapat disangkal lagi tetapi sesungguhnya merupakan pemikiran radikal yang sama sekali dihargai pada saat ini.
Perlindungan anak dapat diselenggarakan dengan baik dengan menganut prinsip yang menyatakan kepentingan terbaik anak harus dipandang sebagai of promount
importance (memperoleh prioritas tertinggi) dalam setiap keputusan yang menyangkut anak. Tanpa prinsip ini perjuangan untuk melindungi anak akan mengalami banyak batu sandungan. Prinsip the best interest of the child digunakan karena dalam banyak hal anak sebagai korban disebabkan ketidaktahuan karena usia perkembangannya.
The best interest of the child merupakan salah satu prinsip yang terkandung dalam Konveksi Hak Anak sebagaimana telah diadopsi dalam prinsip-prinsip penyelengggaraan perlindungan anak selain dari non diskriminasi, hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan serta penghargaan terhadap pendapat anak. Kepentingan yang terbaik bagi anak dalam semua tindakan yang menyangkut anak yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, badan legislatif dan badan yudikatif maka kepentingan terbaik bagi anak harus menjadi pertimbangan utama (Penjelasan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002).
c. Ancangan daur kehidupan (Life-Circleapproach)
Perlindungan anak mengacu pada pemahaman perlidungan harus dimulai sejak dini dan terus menerus. Janin yang berada dalam kandungan perlu dilindungi dengan gizi, termasuk yodium dan kalsium yang abaik melalui ibunya. Jika ia lahir maka diperlukan air susu ibu dan pelayanan kesehatan primer dengan memberikan pelayanan imunisasi dan lain-lain, sehingga anak terbebas dari berbagai kemungkinan cacat dan penyakit.
d. Lintas sektoral
Nasib anak tergantung dari berbagai faktor mikro maupun makro yang langsung maupun tidak langsung. Kemiskinan, perencanaan kota dan segala penggusuran, sistem pendidikan yang menekankan hapalan dan bahan-bahan yang tidak relevan, komunitas yang penuh dengan ketidakadilan dan sebagainya tidak dapat ditangani oleh sektor,
terlebih keluarga atau anak itu sendiri. Perlindungan terhadap anak adalah perjuangan yang membutuhkan sumbangan semua orang diseluruh tingkatan (Irwanto, 1997: 4).
2.3.3 Perlindungan Anak Dalam Kondisi Khusus (Bencana Alam)
Kejadian bencana alam yang merenggut korban yang banyak termasuk anak-anak mengilhami dan menginisiasi para pengambil kebijakan untuk meminilisir dampak bencana alam terhadap masyarakat khususnya memberikan perlindungan terhadap anak-anak yang menjadi korban. Perlindungan terhadap anak-anak dalam situasi dan kondisi yang tidak normal (kondisi bencana alam dan konflik) telah diatur dalam Konvensi Hak Anak yang merupakan instrumen internasional dalam penyelenggaraan perlindungan terhadap anak. Dalam bahasa hukumnya KHA (Konvensi Hak Anak) merinci kewajiban Negara untuk memenuhi 31 hak anak. Dimana pengaturan pemenuhan 31 hak anak ini dikelompokan kedalam 5 kelompok besar yaitu :
a. Hak dan Kebebasan Sipil.
b. Lingkungan keluarga dan pemeliharaan alternatif. c. Kesehatan dan Kesejahteraan Dasar.
d. Pendidikan, Kegiatan liburan dan Budaya. e. Perlindungan Khusus.
Kondisi yang tidak normal akibat kejadian bencana alam, yang tidak dapat diprediksi, melanda dan merusak tatanan sosial yang telah berlangsung dalam masyarakat dan memberikan dampak yang signifikan terhadap tumbuh kembang anak. Proses perlindungan terhadap anak di Indonesia dapat diberikan dengan beberapa cara yang secara legal telah diakui dan diatur oleh negara dalam beberapa undang-undang seperti pemenuhan perlindungan anak dalam situasi dan kondisi khusus telah ditetapkan dalam Konvensi Hak Anak yang diratifikasi oleh bangsa Indonesia dan dituangkan dalam Undang-Undang Nomor
23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang terinci dalam beberapa pasal yaitu yang mengamanatkan dalam beberapa pasal yakni pada pasal 59 bahwa pemerintah dan lembaga negara lainnya berkewajiban dan bertanggungjawab untuk memberikan perlindungan khusus kepada anak dalam situasi darurat. Pasal 60 anak dalam situasi darurat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 terdiri atas:
a. Anak yang menjadi pengungsi. b. Anak korban kerusuhan. c. Anak korban bencana alam.
d. Anak dalam situasi konflik bersenjata.
Pada pasal selanjutnya 61 dinyatakan bahwa Perlindungan khusus bagi anak yang menjadi pengungsi sebagaimana dimaksud dalam pasal 60 huruf a dilaksanakan sesuai dengan hukum humaniter. Pada pasal 62 Perlindungan khusus bagi anak korban kerusuhan, korban bencana, dan anak dalam situasi konflik bersenjata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 huruf b, huruf c dan huruf d, dilaksanakan melalui:
a. Pemenuhan kebutuhan dasar yang terdiri atas pangan, sandang, pemukiman, pendidikan, kesehatan, belajar dan berekreasi, jaminan keamanan dan persamaan perlakuan.
b. Pemenuhan kebutuhan khusus bagi anak yang menyandang cacat dan anak yang mengalami gangguan psikososial.
c. Dalam Undang-Undang tersebut juga dijelaskan tentang peran masyarakat dalam hal perlindungan anak. Masyarakat berhak memperoleh kesempatan seluas-luasnya untuk berperan dalam perlindungan anak (pasal 72 ayat 1). Peran masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilakukan oleh orang perorangan, lembaga perlindungan anak, lembaga sosial kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, lembaga pendidikan,
lembaga keagamaan, badan usaha dan media massa. Peran masyarakat tersebut dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana pada pasal 48 dinyatakan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 huruf b meliputi:
a. Pengkajian secara cepat dan tepat terhadap lokasi, kerusakan dan sumber daya. b. Penentuan status keadaan darurat bencana.
c. Penyelamatan dan evakuasi masyarakat terkena bencana. d. Pemenuhan kebutuhan dasar.
e. Perlindungan terhadap kelompok rentan (bayi, balita, anak-anak, ibu sedang mengandung atau menyusui, penyandang cacat dan lanjut usia.
f. Pemulihan dengan segera prasarana dan sarana vital.
g. Secara manusiawi bencana merupakan keadaan yang tidak dapat diperdiksikan danterjadi diluar kontrol. Dalam merekonstruksikan kembali tatanan dan lingkungan yang telah porak poranda dibutuhkan respon agar tatanan masyarakat tidak mengalami disfungsi dalam waktu yang cukup lama.