IV. Perlindungan Pelapor dan Saksi di Beberapa Negara
4.3 Perlindungan Saksi di Negara-negara Eropa
Umumnya negara-negara Eropa memiliki program perlindungan saksi, seturut dengan meningkatnya dampak dari pidana terorganisir dan terorisme. Meski demikian, model pengaturan maupun program perlindungannya bervariasi, yang dapat diringkas sebagai berikut:41
a. Terkait peruntukan: Belgia dan Italia hanya menerapkan program perlindungan saksi untuk kasus tertentu, sedangkan Lituania menerapkan perlindungan saksi untuk kasus pidana serius.
b. Tempat kedudukan program: beberapa negara hanya memiliki satu program di tingkat nasional, sedangkan Inggris dan Jerman memiliki program di tingkat nasional dan lokal.
c. Regulasi: Jerman, Italia, Ceko dan Lituania mengatur perlindungan saksi melalui aturan khusus. Hal ini berbeda dengan Austria, Denmark, Finlandia,
40 UNODC, 2008, hlm 9-10
61
Prancis, Yunani, Irlandia, Luxemburg, Belanda dan Spanyol. Sedangkan Inggris mengatur perlindungan saksi melalui kebijakan kepolisian.
d. Kelembagaan: Austria, Inggris dan Slovakia menugaskan polisi untuk menangani perlindungan saksi. Belanda menugaskan lembaga peradilan atau lembaga eksekutif untuk menangani perlindungan saksi. Italia dan Belgia membentuk lembaga khusus yang beranggotakan gabungan antar lembaga penegak hukum dan ahli pidana. Selain program dan pengaturan oleh masing-masing negara, perlindungan saksi diatur di tingkat Uni Eropa, seperti Konvensi HAM Eropa dan Rekomendasi Komite Menteri.
V. Rangkuman
Dari paparan tentang konsep whistle blower dan justice collaborator tersebut di atas, dapat dirangkum sebagai berikut:
1. Tentu tidak ada keseragaman antara definisi whistle blower secara teoretis, sosiologis dan yuridis, tetapi dapat ditarik konsep dasar tentang whistle blower, yaitu:
a. Orang yang berasal dari sebuah lembaga maupun dari luar lembaga; b. mengungkap (dengan cara melaporkan kepada aparat hukum atau
mempublikasikan kepada media) kasus pelanggaran hukum dan etika di sebuah lembaga;
c. dengan tujuan menjadikan kasus tersebut sebagai pengetahuan publik agar ada perbaikan;
d. yang terancam menerima serangan balik.
2. Dari aspek sejarah pengaturan, umumnya kasus whistle blower dan justice
collaborator muncul sebelum ada aturan. Sementara aparat penegak hukum
hanya dapat bertindak setelah ada aturan. Contohnya kasus Khairiansyah Salman, Agus Condro dan Vinsentius Amin Sutanto, Susno Duadji sudah terjadi dan karenanya menjadi alasan lahirnya SEMA 4/2011.
3. Dari aspek konseptual, definisi whistle blower merupakan perluasan dari konsep pelapor dan/atau pengadu. Sedangkan justice collaborator adalah perluasan dari konsep saksi yang mengalami sendiri. Jejak perkembangannya adalah:
a. Jenis tindak pidana yang dilaporkan adalah tindak pidana tertentu, yang pembuktiannya tidak mudah;
62
b. Pelapor (whistle blower) adalah orang yang sangat dekat dengan para pelaku, tetapi ia tidak terlibat dalam tindak pidana tersebut;
c. Saksi (justice collaborator) adalah salah satu pelaku dalam tindak pidana yang disaksikannya, tetapi ia bukan pelaku utama;
d. Kedekatan tersebut menyebabkan pelapor dan saksi memiliki informasi yang akurat sekaligus rentan terhadap serangan balasan;
e. Salah satu serangan balasan adalah menggunakan perangkat hukum, sehingga berpotensi menimbulkan dilema penegakan hukum.
4. Whistle blowing system menjadi piranti tata kelola lembaga pemerintah maupun swasta. Tidak ada keseragaman konsep whistle blowing system di masing-masing lembaga tersebut. Selain itu, ada pengaduan online terpadu yang diprakarsai oleh LPSK dan KPK.
5. Justice Collaborator bukan saksi mahkota. Perbedaan utama terletak pada cara penanganan perkara. Saksi mahkota dapat berlaku dua arah, misalnya X dan Y adalah terdakwa dalam satu perkara. Penanganan perkara tersebut dipisah (splitsing) dengan menjadikan X sebagai saksi dalam persidangan Y, begitu pula sebaliknya. Sesama saksi mahkota umumnya memberikan keterangan yang saling meringankan. Sedangkan justice collaborator memberikan keterangan untuk memberatkan pelaku utama, sedangkan dirinya sendiri akan mendapatkan keringanan dari negara karena jasanya tersebut.
6. Ada beberapa pembelajaran dari sistem perlindungan pelapor dan saksi dari negara-negara lain, antara lain:
a. Tidak ada keseragaman definisi whistle blower maupun justice
collaborator. Contohnya di Amerika Serikat, whistle blower adalah
pegawai, mantan pegawai atau calon pegawai yang mengungkap pelanggaran yang terjadi di lembaga tempat ia bekerja. Whistle blower melaporkan pelanggaran tersebut kepada Office of Special Counsel, sebuah lembaga independen yang bertugas menerima laporan dan melindungi pelapor. Sedangkan justice collaborator adalah pelaku tindak pidana yang bekerjasama dengan aparat penegak hukum untuk mengungkap tindak pidana terorganisir.
b. Pada negara yang menganut sistem pembuktian cross examination akan mengalami dilema antara kebijakan perlindungan saksi dengan
63
anonimitas dan perlindungan terhadap hak terdakwa untuk memeriksa saksi yang memberatkannya.
64
BAB IV
KERANGKA HUKUM DAN KELEMBAGAAN
PERLINDUNGAN TERHADAP
‘PENGUNGKAP KORUPSI’
I. Pengantar
Ancaman dan serangan terhadap ‘pengungkap korupsi’ bukan hanya persoalan khas Indonesia, melainkan seluruh negara. Fenomena ini juga bukan khas terjadi pada isu korupsi, melainkan semua tindak pidana terutama tindak pidana terorganisir dan lintas negara. Untuk itu, muncul kesepakatan antar negara untuk melakukan perlindungan terhadap ‘para pengungkap kejahatan terorgansir,’ baik di masing-masing negara maupun lintas negara. Instrumen hukum lintas negara tentang perlindungan pelapor, saksi dan korban dapat kita lihat pada UNCAC dan UNTOC.
Di level nasional, pengakuan dan perlindungan terhadap ‘pengungkap korupsi’ sudah dimulai sejak reformasi 1998, yaitu melalui UU 28/1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang bebas dari KKN, UU 31/1999 tentang Tipikor, UU 30/2002 tentang KPK dan UU 13/2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Selain itu, ada aturan di level Peraturan Pemerintah, SEMA, Instruksi Presiden hingga Surat Edaran Kabareskrim yang mengatur pengakuan dan perlindungan terhadap ‘para pengungkap korupsi.’
Persoalannya adalah meskipun sudah ada aturan tentang pengakuan dan perlindungan terhadap ‘para pengungkap korupsi,’ tetapi ancaman dan serangan terhadap mereka masih muncul dengan intensitas dan resiko yang makin tinggi. Dengan demikian, pertanyaan deskriptifnya adalah bagaimana potret kerangka hukum dan kelembagaan tentang perlindungan terhadap ‘para pengungkap korupsi?’ Sedangkan pertanyaan reflektifnya adalah apa persoalan di level norma, kelembagaan, penegakan hukum dan ‘para pengungkap korupsi’ sendiri yang mempengaruhi munculnya kasus-kasus ancaman dan serangan tersebut?
65
Bab ini akan menjawab pertanyaan deskriptif tersebut, dengan cara merunut potret kerangka hukum dan kelembagaan tentang pengakuan dan perlindungan terhadap pegiat anti-korupsi berdasarkan waktu. Secara sederhana ada dua periode waktu, yaitu 1999-2006 dan setelah 2006. Bab ini juga akan menyinggung model perlindungan oleh masyarakat.