• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Deskripsi Teoretik

2. Permainan tradisional engklek (engklek)

Dinata mengemukakan bahwa permainan tradisional mempunyai unsur keterampilan fisik, kecepatan berfikir serta penerapannya dalam nilai sosial dan budaya. Menurut Metakupan permainan tradisional adalah permainan yang telah melalui banyak penyesuaian, proses pertukaran, untuk mencapai tujuan-tujuan termasuk dalam dunia pendidikan, serta permainan ini sekarang menjadi lebih modern.36

Dalam penelitian Yudiwinata dan Handoyo anak-anak yang bermain permainan tradisional lebih berkembang dalam hal kemampuan fisik motorik, sikap kerjasama, sikap adil, kemampuan berpikir menyusun strategi, menguatkan dan menyeimbangkan tubuhnya sendiri. Ekawati, dkk menjelaskan bahwa permainan tradisional dapat memiliki pengaruh pada perkembangan kecerdasan intrapersonal anak.37 Menurut Iswinarti, permainan tradisional diketahui sebagai aktivitas bermain suka rela yang

35 Galih Dwi Pradipta, Pamuji Sukoco., loc. cit.

36 Ratu Tuti Alawiyah, Peningkatan Keterampilan Motorik Kasar Melalui Permainan Tradisional Banten, Jurnal Pendidikan Usia Dini, Vol. 8, 2014, h. 178.

37 Nofrans Eka Saputra, Yun Nisna Ekawati, Permainan Tradisional Sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Dasar Anak, Jurnal Psikologi Jambi, Vol. 2, 2017, h. 49.

menciptakan rasa senang bagi pemainnya, diatur oleh peraturan permainan yang dijalankan secara turun-temurun. Sedangkan menurut Achroni permainan tradisional adalah salah satu bentuk permainan anak, yang meluas dari lisan antar pemain, berbentuk tradisional dan bersifat mewarisi turun temurun, serta memiliki berbagai variasi.38

Menurut Rahmawati permainan sondah adalah sebuah permainan melompat dengan satu kaki. Sedangkan menurut Kumiati permainan sonlah/sondah adalah permainan yang bagi setiap pemainnya menggunakan komposisi motorik kasar. Sejalan menurut Wulandari permainan ingkling adalah permainan melompati kotak dengan satu kaki dan berhenti pada kotak tertentu dengan dua kaki.39

Permainan engklek atau tapak gunung atau yang dalam penelitian ini disebut motion foot merupakan sebuah permainan tradisional yang cara memainkannya adalah dengan melemparkan sebuah koin atau kepingan pada kotak yang telah dibuat sebelumnya yang menyerupai sebuah bangunan dan kemudian meloncat dengan satu kaki. Permainan tradisional ini sudah banyak dilupakan di generasi sekarang, karena penggunaan gadget saat ini lebih menarik perhatian anak. Oleh karena itu, penting untuk mengenalkan kembali permainan tradisional ini dan memodifikasi nya agar lebih menarik perhatian dan antusiasme anak.

Peneliti memodifikasi permainan engklek ini menjadi lebih modern dibandingkan permainan sebelumnya yang hanya dibuat dengan kapur (atau semacamnya) lalu dibuat garis kotak-kotak. Dan permainan ini dapat lebih menarik perhatian anak-anak karena penuh dengan warna dan gambar yang indah dalam kotak permainan ini. Selain itu, pada permainan yang sebelumnya menggunakan koin atau sebuah kepingan untuk dilempar ke dalam kotak. Akan tetapi, peneliti akan memodifikasi nya dengan sebuah kepingan berwarna yang dapat disukai anak-anak.

b. Manfaat Engklek

38 Ika Muslimah, Ramadhan Lubis, dkk., op. cit., h. 3

39 Ibid.

Permainan tradisional banyak memiliki manfaat untuk anak. Selain itu, permainan ini tidak mengeluarkan banyak dana dan bisa juga untuk menyehatkan badan. Permainan tradisional merupakan salah satu sarana olahraga fisik bagi anak yang menyehatkan. Secara tidak langsung, dengan bermain ini kreatifitas, kekuatan, jiwa kepemimpinan, daya pikir, dan pengetahuannya dipacu. Para psikolog menilai bahwa permainan tradisional dapat membentuk fisik motorik anak.40

Menurut Achroni, permainan engklek memiliki manfaat, manfaat permainan engklek tersebut antara lain:

a) Membuat anak gembira

b) Membuat anak menjadi sehat, karna adanya gerakan melompat yang cukup menjadikan anak berolahraga.

c) Melatih anak belajar menyeimbangkan tubuh dan belajar kekuatan tubuh dari gerakan mengangkat satu kaki.

d) Belajar disiplin dalam mematuhi aturan ketika bermain.

e) Belajar bersosialisasi, karna permainan ini dimainkan bersama.

f) Mengembangkan kecerdasan berpikir anak, yaitu dengan melatih anak untuk menentukan langkah-langkah yang harus dilewati.41

Selain itu, manfaat lain yang dapat diperoleh dari permainan engklek ini adalah :

a) Kemampuan fisik anak menjadi kuat karena dalam permainan engklek ini anak diharuskan untuk melompat-lompat.

b) Mengasah kemampuan bersosialisasi dengan orang lain dan mengajarkan kebersamaan.

c) Dapat mentaati aturan-aturan permainan yang telah disepakati bersama.

40 Uswatun Hasanah, op. cit., h. 730.

41 A. Adipriyadi, op. cit., h. 189.

d) Mengembangkan kecerdasan logika anak. Permainan engklek melatih anak untuk berhitung dan menentukan langkah-langkah yang harus dilewatinya.

e) Anak menjadi lebih kreatif. Permainan tradisional biasanya dibuat langsung oleh para pemainnya. Mereka menggunakan barang-barang, benda-benda, atau tumbuhan yang ada di sekitar para pemain. Hal itu mendorong mereka untuk lebih kreatif menciptakan alat-alat permainan.

f) Melatih Keseimbangan. Permainan tradisional ini menggunakan satu kaki untuk melompat dari satu kotak ke kotak berikutnya.

g) Melatih keterampilan motorik tangan anak karena dalam permainan ini anak harus melompat seperti katak dalam permainan engklek modifikasi ini atau yang diberi nama motion foot.42

Diperkuat dari beberapa hasil penelitian yang relevan yaitu sebagai berikut:

1) Hasil penelitian skripsi Mella Citra Devana, yang berjudul Mengembangkan Motorik Kasar Anak Melalui Permainan Tradisional Engklek Di Paud Nurul Islam Bumi Waras Bandar Lampung, Tahun 2017, dapat disimpulkan bahwa permainan tradisional engklek dapat mengembangkan motorik kasar anak di PAUD Nurul Islam Bumi Waras Bandar Lampung dengan cara bermain yang baik sesuai dengan teori, mengikuti langkah-langkah dalam permainan tradisional engklek sehingga motorik kasar anak dapat berkembang sesuai harapan.43

2) Hasil penelitian dari jurnal A. Adpriyadi, yang berjudul Permainan Tradisional Engklek Untuk Meningkatkan Kemampuan Mototrik Kasar Anak Kelompok B, Jurnal Pendidikan Dan Pemberdayaan

42 Dian Apriani, Penerapan Permainan Tradisional Engklek Untuk Meningkatkan Kemampuan Motorik Kasar Anak Kelompok B Ra Al Hidayah 2 Tarik Sidoarjo, Artikel Jurnal, h. 4.

43 Mella Citra Devana,” Mengembangkan Motorik Kasar Anak Melalui Permainan Tradisional Engklek Di Paud Nurul Islam Bumi Waras Bandar Lampung”, Skripsi (Lampung: Universitas Agama Islam Negeri Raden Intan Lampung, 2017)

Masyarakat, Tahun 2017. Peningkatan kemampuan motorik kasar anak sebelum adanya tindakan pada kriteria keseimbangan meningkat dari 45,8% dengan kategori kurang baik menjadi 62,5% pada siklus I dengan kategori cukup, menjadi 77,08%

pada siklus II dengan kategori baik, menjadi 95,83% pada siklus III dengan kategori baik. Dan hasil penelitian menunjukan bahwa kemampuan motorik kasar anak kelompok B TK Tunas Gading Yogyakarta dapat ditingkatkan melalui kegiatan bermain engklek.44

Adapun beberapa manfaat permainan tradisional secara umum adalah:

a) Permainan tradisional dapat terus dilestarikan serta dijaga nilai-nilai leluhur.

b) Sebagai sarana bermain yang mudah dan murah juga dapat mengajarkan rasa untuk peduli dan cinta potensi lokal.

c) Meningkatkan rasa kekeluargaan dan kebersamaan pada anak sejak dini.45

Selain diatas, manfaat dari permainan tradisional menurut pendapat yang lain adalah sebagai berikut:

a) Mengembangkan kecerdasan intelektual b) Mengembangkan kecerdasan emosional c) Mengembangkan daya kreatifitas anak

d) Menjadi lebih kreatif bisa digunakan sebagai terapi terhadap anak e) Mengembangkan kecerdasan majemuk anak46

Begitu banyak manfaat dalam permainan tradisional ini. Sudah sebaiknya, kita sebagai orangtua, kakak, ataupun guru yang telah mengetahui berbagai manfaat agar mengembangkan kembali permainan

44 A. Adipriyadi, op. cit.

45 Ati Bahiyati Utami Putri, Noor Hasyim, Upaya Melestarikan Permainan Tradisional Engklek Melalui Teknologi Digital Interaktif, Jurnal Rupa, Vol. 02, 2017, h. 125.

46 Mila Karmila, Upaya Guru Meningkatkan Motorik Kasar Melalui Permainan Tradisional Pada Anak Usia Dini Usia 5-6 Tahun Dikober Geger Sunten, Jurnal Empowerment, Vol. 5, 2016, h. 40.

ini sehingga dapat membantu perkembangan anak. Selain itu, nilai-nilai positif dari permainan ini akan membawa anak turut serta. Kemudian permainan ini pun mudah dibuat dan tanpa mengeluarkan uang banyak bahkan tidak perlu pakai uang.

c. Tujuan Bermain Engklek

Melalui permainan tradisional dapat memberikan pengalaman langsung kepada anak-anak seperti: a) terbentuknya fisik yang sehat dan kuat; b) terbentuknya mental sportifitas, toleransi, disiplin dan demokratis;

c) terbentuknya moral menjadi lebih tanggap, peka, jujur dan tulus; d) terbentuknya kemampuan sosial.47

Adapun tujuan permainan tradisional sunda manda dalam pembelajaran kemampuan motorik kasar anak menurut Achroni adalah sebagai berikut: (1) keadaan proses belajar mengajar lebih kondusif, karena anak dilibatkan secara penuh dalam pembelajaran, (2) penggunaan metode bermain berpusat pada anak dan anak terlibat aktif dalam pembelajaran (3) termotivasinya anak ketika bermain permainan tradisional.48

Dari beberapa tujuan permainan tradisional tersebut, peneliti juga mempunyai tujuan bermain engklek ini yaitu bertujuan untuk meningkatkan kemampuan fisik motorik anak dan untuk mengenalkan budaya leluhur pada anak, mengingat canggihnya teknologi masa kini yang pada umumnya bisa anak dapatkan seperti permainan pada smartphone nya. Selain itu, bertujuan juga untuk melestarikan permainan tradisional walaupun permainan engklek ini telah di modifikasi dan untuk melatih diri anak untuk berkontribusi dalam permainan ini, seperti membuat aturan-aturan dalam bermain, jujur dalam bermain, dan melatih kesabaran ketika menunggu giliran bermain.

47 Romlah, Pengaruh Motorik Halus dan Motorik Kasar Terhadap Perkembangan Kreatifitas Anak Usia Dini, Tadris: Jurnal Keguruan Dan Ilmu Tarbiyah, Vol. 02, 2017, h. 132.

48 Sih Maryati, Mas’udah, Meningkatkan Kemampuan Motorik Kasar Anak Usia 5-6 Tahun Melalui Permainan Sunda Manda Modifikasi Di PAUD Nur Amin Ridwan Gadingmangu Perak Jombang, Jurnal PAUD Teratai, Vol. 7, 2018, h. 3.

d. Cara bermain

Sebelum melakukan permainan, biasanya anak-anak membuat kotak-kotak untuk menjadi acuan saat melompat dan mereka memiliki koin atau benda yang dijadikan pion untuk mengetahui sampai dimana perjalanannya terhenti. Ketika melompat, anak-anak harus bisa berpijak pada kotak demi kotak tanpa diperbolehkan menyentuh garis tepi kotak.

Jika ada koin milik lawan maka kotak tersebut tidak boleh dilompati. Ini berarti pemain harus mampu melompati kotak berikutnya. Melihat teknik bermain yang demikian maka terlihat dengan jelas bahwa permainan engklek membutuhkan keterampilan gerak motorik kasar yakni melompat dengan satu kaki.49

Cara bermain permainan tradisional ini adalah membentuk kotak sebanyak delapan kotak di tanah atau di jalan, setelah itu di paling atas atau ujung kotak ditambahkan kembali bagian yang berbentuk setengah lingkaran untuk penentuan akhir permainan dan nomor terakhir yaitu nomor sembilan. Lalu masing-masing kotak diberi nomor. Kemudian lakukan penentuan urutan pemain dengan cara suit atau hompimpa jika anggota pemain banyak. Setelah itu, pemain melakukan loncatan pertamanya baik dengan kaki kanan nya atau kiri nya. Jika kaki kiri menjadi tumpuan, maka kaki kanan yang diangkat, begitupun sebaliknya.

Sedangkan cara bermain permainan tradisional yang telah peneliti modifikasi yaitu:

1) Untuk media yang bergambar telapak kaki

Terdapat lima lingkaran yang berisi gambar telapak kaki, baik satu telapak maupun kedua telapak kaki. Anak-anak berdiri seperti bermain tapak gunung, kemudia menempatkan kedua telapak kaki pada lingkaran pertama. Pada lingkaran kedua dan selanjutnya, anak melompat dengan meregangkan kedua kakinya dan menyatukan

49 Dwiana Asih Wiranti, Diah Ayu Mawarti, Keefektiffan Permainan Engklek Dalam Mengembangkan Kemampuan Motorik Kasar Anak Usia Dini, Jurnal Ilmiah Kependidikan, Vol.

9, 2018, h. 68.

kembali kedua telapak kaki nya mengikuti gambar telapak kaki pada media ini. Media ini sebagai media utama dalam penelitian skripsi ini.

2) Untuk media yang bergambar telapak tangan

Sama seperti media yang bergambar telapak kaki, media yang bergambar telapak tangan ini memiliki cara bermain yang hampir sama. Hanya saja, dalam bermain media ini anak melakukannya dengan cara berjongkok, menempatkan kedua telapak tangan pada gambar sesuai instruksi gambar telapak tangan di media ini. ketika bermain ini, anak seperti katak melompat. Sedangkan media ini, sebagai media tambahan untuk melihat peningkatan kemampuan anak dalam segi motorik kasar.

Dokumen terkait