• Tidak ada hasil yang ditemukan

Permasalahan Birokrasi Polri

Secara keseluruhan pada pencapaian tiga sasaran Reformasi Birokrasi Polri dalam mewujudkan aparatur Polri yang bebas dari KKN, peningkatan pelayanan publik dan peningkatan akuntabilitas kinerja dengan fakta yang ada maka pelaksanaan Reformasi Birokrasi belum mencapai target yang diharapkan, hal ini terlihat pada Indeks Reformasi Birokrasi Polri Tahun 2015 berdasarkan hasil verifikasi Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) oleh Kementerian PAN-RB dengan hasil nilai rata-rata 67,23 yang meliputi komponen pengungkit dengan nilai 39,18 dari nilai maksimal 60 dan komponen hasil dengan nilai 28,05 dari nilai maksimal 40.

10

Dari komposisi penilaian tersebut digambarkan bahwa pencapaian hasil belum maksimal yang tentunya menjadi permasalahan Birokrasi Polri untuk diprioritaskan pada pelaksanaan Reformasi Birokrasi Polri Gelombang III Tahun 2016-2019, sebagaimana tergambar dalam pencapaian delapan area perubahan, yaitu:

1. Bidang Organisasi dengan program Penataan Penguatan Organisasi, terdapat 3 indikator keberhasilan yang belum tercapai yaitu belum dilakukan pengukuran jenjang organisasi, masih ditemukan kemungkinan duplikasi fungsi dan kesesuaian struktur organisasi dengan mandat;

2. Bidang Tata Laksana dengan program Penataan Tata Laksana, terdapat 1 indikator keberhasilan yang belum tercapai yaitu belum seluruh anggota dalam melaksanakan tugas dilengkapi dengan SOP yang memiliki peta proses bisnis sesuai dengan tugas dan fungsi kepada seluruh unit kerja;

3. Bidang Peraturan Perundang-Undangan dengan program Penataan Peraturan Perundang-undangan, terdapat 1 indikator keberhasilan yang belum tercapai yaitu belum melakukan evaluasi pada system pengendalian penyusunan peraturan perundang-undangan;

4. Bidang SDM Aparatur dengan program Sistem Manajemen SDM, terdapat 2 indikator keberhasilan yang belum tercapai yaitu belum diterapkan sistem pengembangan pegawai berdasarkan assessment dan promosi jabatan secara terbuka;

5. Bidang Pengawasan, dengan program Penguatan Pengawasan, terdapat 3 indikator keberhasilan yang belum tercapai yaitu belum diterapkan kebijakan gratifikasi, penanganan benturan kepentingan dan pembangunan Zona Integritas secara optimal;

6. Bidang Akuntabilitas, dengan program Penguatan Akuntabilitas, terdapat 1 indikator keberhasilan yang belum tercapai yaitu belum diterapkan system pengukuran kinerja berbasis elektronik secara terintegrasi;

7. Bidang Pelayanan Publik, dengan program Pelayanan Publik, terdapat 1 indikator keberhasilan yang belum tercapai yaitu belum diterapkan

kebijakan standar pelayanan dan budaya pelayanan prima;

8. Bidang Mind Set dan Culture Set Aparatur dengan program Manajemen Perubahan, terdapat 3 indikator keberhasilan yang belum tercapai yaitu program quick wins yang belum memenuhi ekspetasi masyarakat, dokumen Roadmap Reformasi Birokrasi Polri belum

11

tersosialisasi sampai dengan anggota dan belum dilaksanakan internalisasi dalam penyusunan Rencana Aksi Reformasi Birokrasi Polri di tingkat Satker, hasil evaluasi pelaksanaan Reformasi Birokrasi Polri belum dilengkapi rencana tindak lanjut dan belum dibentuk tim agent of change/role model sebagai agen perubahan pola pikir dan budaya kinerja.

Kondisi tersebut diatas, berdampak pada pencapaian tiga sasaran Reformasi Birokrasi Polri sebagai komponen hasil atas upaya kinerja yang telah dilakukan pada delapan area perubahan tersebut, yaitu:

1. Dalam rangka mewujudkan aparatur Polri yang bersih dan bebas dari KKN, mencapai nilai 7,60 dari skala 10, hal ini disebabkan karena: a. belum mengimplementasikan penanganan gratifikasi dan

penanganan benturan kepentingan untuk menguatkan pengawasan di lingkungan Polri;

b. Wisthle Blowing System yang telah di implementasikan belum dievaluasi untuk menjamin kualitas pelaksanaan system;

c. belum membangun lingkungan pengendalian dan penilaian resiko keseluruh organisasi;

d. tindak lanjut seluruh hasil penanganan pengaduan masyarakat belum dilaksanakan;

e. belum melakukan fungsi pengawasan internal di lingkungan Polri yang berfokus pada client dan audit berbasis resiko. 2. Dalam rangka mewujudkan peningkatan kualitas pelayanan publik

Kepolisian memperoleh nilai 7,12 dari skala 10, hal ini disebabkan karena:

a. belum menerapkan system sanksi/reward bagi pelaksana layanan serta pemberian kompensasi kepada penerima layanan bila layanan tidak sesuai standar dalam meningkatkan budaya pelayanan prima;

b. belum melakukan tindak lanjut atas seluruh pengaduan pelayanan untuk perbaikan kualitas pelayanan dan mengevaluasi atas penanganan keluhan/masukan pelayanan secara berkala;

c. belum membuka akses terhadap data hasil survei kepuasan masyarakat dan belum menindaklanjuti hasil suvei kepuasan masyarakat agar kualitas pelayanan kepada masyarakat dapat terus terjaga;

d. belum menerapkan teknologi informasi dalam memberikan pelayanan secara optimal.

12

3. Dalam rangka meningkatkan kapasitas dan akuntabilitas kinerja Polri memperoleh nilai 13,34 dari skala 20, hal ini disebabkan karena: a. pelaksanaan sistem pengendalian penyusunan peraturan

perundang-undangan yang selama ini telah dilaksanakan untuk perbaikan system sesuai dengan kondisi saat ini belum dilakukan evaluasi;

b. belum melakukan evaluasi organisasi yang menganalisis satuan organisasi yang berbeda tujuan namun ditempatkan dalam satu kelompok, dan evaluasi atas kesesuaian struktur organisasi dengan mandat, kemudian menindaklanjutinya dengan mengajukan perubahan organisasi yang diperlukan untuk menata dan menguatkan organisasi;

c. belum menyusun rencana redistribusi pegawai dan melakukan promosi terbuka secara kompetitif, dengan penilaian yang obyektif, dan dilakukan oleh panitia seleksi yang independen, serta pengumuman hasil setiap tahapan seleksi secara terbuka untuk menguatkan penataan sistem manajemen SDM;

d. belum melakukan monitoring dan evaluasi atas pencapaian kinerja individu, dan menjadikan dasar untuk pemberian tunjangan kinerja;

e. belum membangun sistem pengukuran kinerja berbasis elektronik yang dapat diakses oleh seluruh Satker;

f. belum melibatkan peran langsung Pimpinan Polri dalam penguatan akuntabilitas, dimulai dari perencanaan sampai dengan pemantauan terhadap capaian kinerja yang diukur secara berkala.

13

BAB III

AGENDA REFORMASI BIROKRASI POLRI

Langkah-langkah konkrit menuju World-Class Organization Pelaksanaan tugas Polri pada Renstra 2015-2019 diarahkan untuk mencapai tujuan dalam rangka mewujudkan organisasi Polri menuju National-Class Organization (NCO) hingga mencapai status World-Class Organization (WCO) pada 2025; organisasi Polri dengan Good and Clean Governance; perubahan mind set dan culture set menuju Pemolisian Demokratis (Democratic Policing); rasa aman dan nyaman di masyarakat dalam melaksanakan aktivitas dan kegiatan kehidupan sehari-hari; Polri yang profesional dan kompeten, bermoral, modern, unggul dan dipercaya masyarakat; dan penegakan hukum yang transparan, akuntabel dan anti KKN yang mampu memberikan perlindungan dan pengayoman masyarakat serta memenuhi rasa keadilan masyarakat, yang tidak lain sebagai aktualisasi arah kebijakan pemerintah dalam Nawa Cita menuju perubahan dengan menghadirkan negara yang bekerja, kemandirian yang mensejahterakan, dan revolusi mental sebagaimana tertuang dalam RPJMN Tahun 2015-2019.

Guna mewujudkan tujuan tersebut, Polri menetapkan Visi Tahun 2015-2019 yaitu “Terwujudnya Polri yang makin profesional, unggul dan dapat dipercaya masyarakat guna mendukung terciptanya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian yang berlandaskan gotong royong”

serta 10 arah kebijakan dan strategi Polri, sebagai berikut:

1. Arah kebijakan Polri dalam rangka pencapaian sasaran strategis terpenuhinya Alpalkam/Almatsus Polri guna mendukung penguatan Tupoksi Polri, yaitu:

a. membangun dan mengembangkan sarana prasarana yang berbasis teknologi dan informasi dalam rangka sebaran pelayanan Kamtibmas dan penegakan hukum;

b. melanjutkan pembangunan Laboratorium Forensik yang belum tersedia pada tingkat pusat dan Polda serta melakukan renovasi bangunan Labfor cabang yang diperlukan.

2. Arah kebijakan Polri dalam rangka pencapain sasaran strategis terbangunnya Postur Polri yang profesional, bermoral, modern dan unggul melalui perubahan mindset dan culture set, yaitu:

14

a. rekrutment personel Polri dan PNS dengan mempertimbangkan kebijakan minimal zero growth;

b. percepatan peningkatan kapasitas dan kapabilitas SDM serta modernisasi teknologi kepolisian sebagai bagian dari penerapan reformasi Polri;

c. meningkatkan profesionalisme anggota Polri melalui pendidikan dan pelatihan;

d. membangun SDM Polri yang profesional melalui metode sekolah sambil bekerja (off campus) di STIK-PTIK;

e. melakukan sertifikasi terhadap kemampuan teknis profesi Kepolisian;

f. mewujudkan tata kelola organisasi Polri yang bersih, transparan dan akuntabel untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri;

g. melanjutkan pembangunan standar pelayanan prima pada tingkat Polsek, Polres dan Polda dengan melengkapi Daftar Susunan Personel dan Peralatan (DSPP);

h. membangun hukum kepolisian di pusat dan daerah sebagai elemen Prolegnas bidang Kepolisian serta memfungsikan sebagai pusat informasi hukum Kepolisian bagi pelaksana tugas Polri di lapangan serta pusat penelitian hukum Indonesia dan negara-negara lain di dunia;

i. peningkatan kesejahteraan personel Polri dalam rangka meningkatkan profesionalisme;

j. menyelaraskan dan mengefektifkan secara optimal kegiatan pengawasan dan pemeriksaan oleh Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP) guna mewujudkan aparat Polri yang profesional dan akuntabel serta menerapkan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) secara maksimal guna mencegah terjadinya Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

3. Arah kebijakan Polri dalam rangka pencapaian sasaran strategis tergelarnya kekuatan Polri di wilayah perbatasan dan pulau terluar berpenghuni serta sebagai poros maritim secara berkelanjutan, yaitu:

a. merevisi struktur organisasi Polri dengan menggabungkan Ditpolair dan Ditpoludara menjadi Korps Kepolisian Perairan dan Udara;

15

b. peningkatan kemampuan Polair dan udara dengan didukung penambahan kapal dan pesawat udara yang dapat menjangkau pulau-pulau terluar dan wilayah terluar berpenghuni/berpenduduk dalam rangka mendukung poros maritim.

4. Arah kebijakan Polri dalam rangka pencapaian sasaran strategis terbangunnya teknologi kepolisian dan sistem informasi secara berkelanjutan yang terintegrasi melalui penelitian dan kajian ilmiah dalam mendukung kinerja Polri yang optimal, yaitu:

a. penguatan lembaga penelitian dan pengembangan dalam rangka membangun kemampuan industri Kepolisian melalui rintisan perangkat inovasi teknologi Kepolisian yang mencakup semua bentuk Almatsus Polri menuju standar minimal pelayanan Polri;

b. membangun sistem teknologi informasi dan komunikasi secara terpadu mulai dari Mabes Polri sampai dengan Polda dan Polres.

5. Arah kebijakan Polri dalam rangka pencapain sasaran strategis meningkatnya pelayanan prima dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat dengan mengedepankan upaya preemtif dan preventif yang didukung oleh penegakan hukum yang tegas, yaitu:

a. optimalisasi pelayanan masyarakat yang prima melalui penggelaran personel dan peralatan Polri yang berbasis teknologi;

b. penguatan bidang kehumasan melalui implementasi keterbukaan informasi publik guna mewujudkan kepercayaan masyarakat;

c. mengoptimalkan pengelolaan keamanan dalam negeri terhadap segenap warga negara dan penciptaan rasa aman masyarakat;

d. mempersiapkan seluruh satuan wilayah dalam rangka pengamanan Pemilukada sepanjang tahun, Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden/Wakil Presiden tahun 2019.

6. Arah kebijakan Polri dalam rangka pencapaian sasaran strategis meningkatnya peran intelijen dalam mendukung upaya mengelola keamanan dan ketertiban masyarakat, yaitu: Memperkuat kemampuan deteksi aksi intelijen (deteksi dini, peringatan dini dan cegah dini) yang didukung personel, anggaran dan teknologi

16

intelijen yang memadai dalam rangka mengeliminir setiap potensi gangguan dan gejolak sosial.

7. Arah kebijakan Polri dalam rangka pencapain sasaran strategis terbangunnya kerja sama dalam negeri dan luar negeri dalam rangka sinergi polisional, yaitu:

a. mengoptimalkan sinergi polisional antar kementerian dan lembaga serta kerja sama dengan luar negeri;

b. meningkatkan partisipasi Polri dalam menjaga perdamaian dunia.

8. Arah kebijakan Polri dalam rangka pencapaian sasaran strategis tergelarnya Bhabinkamtibmas di seluruh desa/kelurahan dalam rangka implementasi Polmas dan melakukan deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan dan gejala sosial masyarakat, yaitu: Melanjutkan pemantapan pelaksanaan pemolisian masyarakat (community policing) dengan Bhabinkamtibmas dan kelompok kesadaran masyarakat tentang Kamtibmas.

9. Arah kebijakan Polri dalam rangka pencapaian sasaran strategis memantapkan keselamatan lalu lintas dalam rangka mendukung program Decade of Action for Road Safety 2011-2020, yaitu:

a. meningkatkan peran sebagai Pusat Kendali, Koordinasi, Komunikasi dan Informasi (K3I);

b. meningkatkan kualitas keselamatan dan menurunkan tingkat fatalitas korban kecelakaan lalu lintas dan angkutan jalan;

c. membangun budaya tertib lalu lintas dan angkutan jalan; d. meningkatkan kualitas pelayanan publik di bidang Regident

pengemudi dan kendaraan bermotor berbasis teknologi. 10. Arah kebijakan Polri dalam rangka pencapaian sasaran strategis

meningkatnya penyelesaian dan pengungkapan serta terciptanya rasa aman terhadap empat jenis kejahatan (kejahatan konvensional, kejahatan terhadap kekayaan negara, kejahatan transnasional dan kejahatan berimplikasi kontinjensi), yaitu:

a. pemantapan fungsi pencegahan dan penegakan hukum terhadap empat jenis kejahatan yang meliputi: kejahatan konvensional, kejahatan transnasional, kejahatan terhadap kekayaan negara, dan kejahatan yang berimplikasi kontijensi yang disertai pengadaan sarana dan prasarananya;

17

b. membangun kemampuan back up operasional di tingkat Mabes Polri dalam penanganan gangguan keamanan berintensitas tinggi (Flash Point) secara langsung dan cepat, khususnya terorisme, separatisme dan konflik social; c. membangun kemampuan penyidikan berstandar investigasi

pidana yang ilmiah (Scientific Criminal Investigation-SCI) dari tingkat Mabes Polri sampai tingkat Polsek.

Oleh karena itu, dalam penyusunan agenda Reformasi Birokrasi diintegrasikan dengan mengacu pada delapan area perubahan Reformasi Birokrasi Nasional bidang Mental Aparatur, Pengawasan, Akuntabilitas, Kelembagaan, Tatalaksana, Sumber Daya Manusia Aparatur, Peraturan perundang - undangan dan Pelayanan publik. Kedelapan area perubahan

tersebut dijabarkan dalam 9 program, 37 kegiatan, 94 rencana aksi dan 15 quick wins, sebagaimana ditentukan Tim Reformasi Birokrasi Nasional dalam Permen PAN-RB Nomor 11 Tahun 2015 dengan tiga sasaran yaitu mewujudkan Birokrasi Polri yang bersih dan akuntabel, Birokrasi Polri yang memiliki pelayanan publik berkualitas dan Birokrasi yang efektif dan efisien, sebagai berikut:

18

1. Program Revolusi Mental Aparatur.

Program ini bertujuan untuk membentuk sistem nilai dan integritas birokrasi yang efektif dan hasil yang diharapkan melalui program ini adalah:

a. meningkatnya penerapan/internalisasi asas, prinsip, nilai dasar, kode etik, dan kode perilaku, termasuk penguatan budaya kinerja dan budaya pelayanan;

b. meningkatnya penerapan budaya kerja positif di setiap instansi pemerintah;

c. meningkatnya integritas aparatur; d. meningkatnya profesionalisme aparatur;

e. meningkatnya citra positif aparatur sebagai pelayan masyarakat;

f. meningkatnya kepuasan masyarakat.

Program Revolusi Mental Aparatur, dilaksanakan dengan dua kegiatan:

a. pengembangan nilai-nilai untuk menegakkan integritas; b. pembentukan agen perubahan yang dapat mendorong

terjadinya perubahan pola pikir. 2. Program Penguatan Sistem Pengawasan.

Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan peran APIP dalam mendorong penyelenggaraan pemerintahan yang berintegritas dan berkinerja tinggi dan hasil yang diharapkan melalui program ini adalah:

a. meningkatnya kapasitas APIP;

b. meningkatnya penerapan sistem pengawasan yang independen, profesional, dan sinergis;

c. meningkatnya penerapan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN;

d. meningkatnya efisiensi penyelenggaraan birokrasi; e. menurunnya tingkat penyimpangan oleh aparatur;

f. meningkatnya jumlah instansi pemerintah yang memperoleh opini WTP–BPK.

Program Penguatan Sistem Pengawasan, dilaksanakan enam kegiatan:

19

a. pembangunan unit kerja untuk memperoleh predikat menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK)/Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM);

b. pelaksanaan pengendalian gratifikasi; c. pelaksanaan whistleblowing system;

d. pelaksanaan pemantauan benturan kepentingan; e. pembangunan SPIP di lingkungan unit kerja; f. penanganan pengaduan masyarakat.

3. Program Penguatan Akuntabilitas Kinerja.

Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan system manajemen kinerja organisasi dan hasil yang diharapkan melalui program ini adalah:

a. meningkatnya kualitas penerapan sistem akuntabilitas keuangan dan kinerja yang terintegrasi;

b. meningkatnya kualitas penerapan sistem pengadaan barang dan jasa yang adil, transparan, dan professional;

c. meningkatnya penerapan sistem manajemen kinerja nasional;

d. meningkatnya akuntabilitas aparatur.

Program Penguatan Akuntabilitas Kinerja, dilaksanakan dengan satu kegiatan yaitu pembangunan/pengembangan teknologi

informasi dalam manajemen kinerja. 4. Program Penguatan Kelembagaan.

Program ini bertujuan untuk membentuk organisasi pemerintahan yang tepat stuktur, efektif, efisien dan berkinerja tinggi dan hasil yang diharapkan melalui program ini adalah:

a. meningkatnya kualitas pelaksanaan agenda reformasi birokrasi nasional;

b. meningkatnya ketepatan ukuran, ketepatan fungsi dan sinergisme/kesinergisan kelembagaan Kementerian/lembaga pemerintah non kementerian/lembaga non struktural; c. menurunnya tumpang tindih tugas dan fungsi antar

Kementerian/Lembaga dan antar Kementerian/Lembaga dengan Pemerintah daerah;

20

d. meningkatnya kejelasan pembagian kewenangan antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota;

e. meningkatnya sinergisme kelembagaan antara instansi pemerintah pusat dan daerah;

f. meningkatnya sinergisme dan penguatan kelembagaan pada masing-masing bidang pembangunan;

g. meningkatnya kinerja aparatur.

Program Penguatan Kelembagaan, dilaksanakan dengan satu kegiatan yaitu evaluasi dan restrukturisasi kelembagaan di lingkungan Polri.

5. Program Penguatan Tatalaksana.

Program ini bertujuan untuk membentuk proses manajemen birokrasi yang sederhana, transparan, efektif dan efisien berbasis TIK dan hasil yang diharapkan melalui program ini adalah:

a. meningkatnya penerapan sistem, proses dan prosedur kerja yang jelas, efektif, efisien, cepat, terukur sederhana, transparan, partisipatif, dan berbasis e-Government;

b. meningkatnya kualitas tata hubungan antara pemerintah pusat dan daerah;

c. meningkatnya penerapan keterbukaan informasi publik; d. meningkatnya penerapan sistem pengadaan barang dan

jasa secara elektronik;

e. meningkatnya penerapan manajemen kearsipan yang handal;

f. meningkatnya kualitas pelayanan.

Program Penguatan Tatalaksana, dilaksanakan dengan empat kegiatan:

a. Perluasan penerapan e-government yang terintegrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan;

b. Penerapan efisiensi penyelenggaraan Pemerintah; c. Implementasi Undang-Undang Keterbukaan Infomasi; d. Penerapan sistem kearsipan yang handal.

21

6. Program Penguatan Sistem Manajemen Sumber Daya Manusia Program ini bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme aparatur sipil negara dan hasil yang diharapkan melalui program ini adalah:

a. meningkatnya kemampuan unit yang mengelola SDM ASN untuk mewujudkan SDM aparatur yang kompeten dan kompetitif;

b. meningkatnya kepatuhan instansi untuk penerapan manajemen SDM aparatur yang berbasis merit;

c. meningkatnya jumlah instansi yang mampu menerapkan manajemen kinerja individu untuk mengidentifikasi dan meningkatkan kompetensi SDM aparatur;

d. meningkatnya jumlah instansi untuk membentuk talent pool (kelompok suksesi) untuk pengembangan karier pegawai di lingkungannya;

e. meningkatnya jumlah instansi yang mampu mewujudkan

sistem informasi manajemen SDM yang terintegrasi di lingkungannya;

f. meningkatnya penerapan sistem pengembangan kepemimpinan untuk perubahan;

g. meningkatnya pengendalian penerapan sistem merit dalam Manajamen SDM aparatur;

h. meningkatnya profesionalisme aparatur.

Program Penguatan Sistem Manajemen Sumber Daya Manusia, dilaksanakan dengan 14 kegiatan:

a. perbaikan berkelanjutan sistem perencanaan kebutuhan personel Polri;

b. perumusan dan penetapan kebijakan sistem rekruitmen dan seleksi secara transparan dan berbasis kompetensi;

c. perumusan dan penetapan kebijakan sistem promosi secara terbuka;

d. perumusan dan penetapan kebijakan pemanfaatan assessment center;

e. perumusan dan penetapan kebijakan penilaian kinerja personel Polri;

f. perumusan dan penetapan kebijakan reward and punishment berbasis kinerja;

g. pembangunan/pengembangan sistem informasi personel Polri;

22

h. perumusan dan penetapan kebijakan sistem pengkaderan personel Polri;

i. perumusan dan penetapan kebijakan pemanfaatan/ pengembangan data base profil kompetensi calon dan pejabat tinggi Polri;

j. perumusan dan penetapan kebijakan pengendalian kualitas pendidikan dan pelatihan;

k. penerapan sistem promosi secara terbuka, kompetitif dan berbasis kompetensi didukung oleh makin efektifnya pengawasan;

l. menyusun dan menetapkan pola karier;

m. pengukuran gap competency (kesenjangan kompetensi) antara pemangku jabatan dan syarat kompetensi jabatan; n. penguatan sistem dan kualitas pendidikan dan pelatihan

untuk mendukung kinerja.

7. Program Penguatan Peraturan Perundang-Undangan.

Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kebijakan publik berbasis kebutuhan publik dan hasil yang diharapkan melalui program ini adalah:

a. meningkatnya keterlibatan publik dalam proses perumusan kebijakan;

b. meningkatnya kualitas regulasi yang melindungi, berpihak pada publik, harmonis, tidak tumpang tindih dan mendorong iklim kondusif bagi publik.

Program Penguatan Peraturan Perundang-Undangan, dilaksanakan dengan tiga kegiatan:

a. evaluasi secara berkala berbagai peraturan perundang-undangan yang sedang diberlakukan;

b. menyempurnakan/mengubah berbagai peraturan perundang-undangan yang dipandang tidak relevan lagi, tumpang tindih atau disharmonis dengan peraturan perundang-undangan lain;

c. melakukan deregulasi untuk memangkas peraturan perundang-undangan yang dipandang menghambat pelayanan.

23

8. Program Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik.

Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik secara terus menerus dan hasil yang diharapkan melalui program ini adalah:

a. meningkatnya sistem monitoring dan evaluasi terhadap kinerja pelayanan publik;

b. meningkatnya kualitas pelayanan publik sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat;

c. meningkatnya profesionalisme aparatur.

Program Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik, dilaksanakan dengan empat kegiatan:

a. penerapan pelayanan satu atap;

b. percepatan pelayanan menjadi maksimal 15 hari;

c. deregulasi dalam rangka mempercepat proses pelayanan; d. pembangunan/pengembangan penggunaan teknologi

informasi dalam pelayanan;

9. Program Monitoring dan Evaluasi

Program ini bertujuan untuk menjamin agar pelaksanaan Reformasi Birokrasi dijalankan sesuai dengan ketentuan dan rencana aksi yang ditetapkan. Hasil yang ingin dicapai melalui program ini adalah memberikan peringatan dini tentang resiko kegagalan pencapaian target yang ditetapkan.

Program Monitoring dan Evaluasi, dilaksanakan dengan dua kegiatan:

a. monitoring;

b. evaluasi (tahunan dan menyeluruh pada semester kedua Tahun 2019);

Dari masing-masing program tersebut, dalam rencana aksinya ditetapkan program quick wins yang merupakan agenda prioritas dalam pelaksanaan Reformasi Birokrasi Polri Gelombang III Tahun 2016-2019, guna memberikan dampak positif jangka pendek yang dapat dirasakan oleh publik/masyarakat sekaligus sebagai outcome dari langkah-langkah Reformasi Birokrasi Polri dan bermanfaat dalam mendapatkan momentum yang positif dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat, yaitu:

24

1. Program Revolusi Mental Aparatur, dengan Quick Wins Sebagai Penggerak Revolusi Mental dan Pelopor Tertib Sosial di Ruang Publik;

2. Program Penguatan Sistem Pengawasan, dengan Quick Wins Penetapan Zona Integritas menuju WBK tingkat Mabes Polri, Polda dan Polres;

3. Program Penguatan Akuntabilitas Kinerja, dengan Quick Wins Peningkatan Nilai AKIP;

4. Program Penguatan Kelembagaan, dengan Quick Wins:

a. Restrukturisasi Organisasi Polri tingkat Mabes, Polda dan Polres yang Efektif, Efesien dan Akuntabel;

b. mengintensifkan sinergitas Polisional dengan Kementerian Lembaga;

5. Program Penguatan Tata Laksana, dengan Quick Wins Penerapan e-government yang terintergrasi dalam System Informasi

Manajemen Teknologi Polri (Simtekpol), e-document dan e-office. 6. Program Penguatan Sistem Manajemen Sumber Daya Manusia,

dengan Quick Wins Pemberlakuan promosi jabatan terbuka di lingkungan Polri (Polres, Polda dan Mabes Polri);

7. Program Penguatan Peraturan Perundang-undangan, dengan Quick Wins Revisi Perkap Nomor 26 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Kepolisian.

8. Program Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik, dengan Quick Wins:

a. Bidang Lantas:

Mewujudkan Zona bebas percaloan layanan SIM di Satpas Polda Metrojaya, Polresta Bandung, Polresta Semarang, Polresta Medan, Polresta Surabaya, Polresta Makasar, Polresta Palembang, Polresta Pontianak, Polres Banyumnas dan Polres Cimahi;

b. Bidang Intelkam:

Mewujudkan Zona bebas percaloan layanan SKCK di 32

Dokumen terkait