Bagian ini ditulis oleh Muthohar, BA, Litkayasa Puslitbang Kehidupan Keagamaan yang meneliti di wilayah
J. Permasalahan dan Solusi Manajemen pelayanan haji
Permasalahan
Penyelenggaraan haji baik di Departemen Agama Pusat maupun di Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi DKI Jakarta secara umum berjalan relatif sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Namun demikian masih dijumpai beberapa permasalahan dan fak-tor-faktor penghambat dalam penyelenggaraan haji tersebut.
Khusus Provinsi DKI Jakarta, secara umum manajemen pelayanan haji realtif berjalan lancar, dikarenakan kegiatan ini
merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahun dan didukung oleh alokasi dana yang cukup memadai dari Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Departemen Agama. Selain itu letak wilayah yang sangat dekat dengan pengambil kebijakan di Pusat.
Dalam kaitannya dengan biaya penyelenggaraan haji, masih terdapat kegiatan yang secara riil dilakukan namun anggaran dana-nya belum ditetapkan, sehingga pengalokasian dana yang diperun-tukkan bagi kegiatan tersebut justru mengurangi anggaran dari ke-giatan lain yang sudah ditetapkan. Begitu juga dengan dana tabung-an haji belum dapat didayagunaktabung-an dengtabung-an sebaik-baiknya, ditam-bah lagi dengan biaya administrasi bank yang dianggap terlalu ting-gi.
Terkait dengan masalah pendaftaran haji dan paspor haji, masih banyak kesalahan entry data jamaah oleh pihak bank, khu-susnya tentang alamat, umur, dan status belum haji. Terdapat juga laporan adanya calon jamaah dari suatu provinsi mendaftarkan dirinya pada provinsi lain. Kebijakan penentuan kuota provinsi de-ngan rasio 1:1000 penduduk beragama Islam mengakibatkan ba-nyak calon jamaah haji DKI Jakarta yang membatalkan dan pindah ke provinsi lain. Keterlambatan pengiriman paspor haji dari daerah ke pusat dan adanya kesalahan pengisian paspor, penempelan foto, dan penempelan stiker menunjukkan masih kurangnya pelayanan mengenai paspor haji.
Dalam pelayanan haji tentang Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat), unit yang terkait dengan masalah siskohat tersebut terlihat masih kurang dapat sepenuhnya melayani seluruh kegiatan perhajian. Belum tersedianya menu siskohat yang menginformasikan kapan kepastian calon jamaah haji berangkat dan batas nomor porsi yang dapat melunasi pada tahun berjalan. Hal tersebut disebabkan sumber daya manusia yang masih lemah/kurang secara kualitas maupun kuantitas dalam pengelolaan sistem tersebut.
Penyuluhan dan sosialisasi haji masih belum dapat terserap dengan baik oleh masyarakat dan calon jamaah haji. Pembinaan terhadap calon jamaah haji masih kurang efektif ditambah lagi
de-ngan sarana Media Center Haji (MCH) yang juga masih belum ber-fungsi dengan baik. Begitu juga dengan pengadaan dan pengiriman buku bagi calon jamaah haji ke daerah-daerah masih sering terlam-bat sehingga pengetahuan calon jamaah haji tidak maksimal.
Sedangkan yang menjadi masalah tentang petugas haji adalah masih terdapat petugas haji yang kurang mengetahui tupoksi dan kurang berdedikasi serta tanggung jawab yang sangat rendah. Beban kerja yang berat dan daur waktunya 24 jam sehari tidak sesuai dengan honor yang diterima baik oleh petugas haji kloter, non kloter maupun PPIH embarkasi.
Di Kandepag-kandepag pada prinsipnya seluruh komponen berkenaan dengan perhajian sudah cukup memadai, hanya yang di-rasakan kurang pada perencanaan program yang bukan merupakan kegiatan rutin yang sudah berjalan berulang-ulang setiap tahun te-tapi program yang terencana dari seksi ini tidak ada dengan alasan tidak mendapatkan alokasi dana dari DIPA pada kandepag itu sen-diri.
Solusi Masalah
Penentuan porsi provinsi secara proporsional jika mungkin penen-tuan yang berhak diambil dari prosentase jumlah jamaah yang akan diberangkatkan dari jumlah penabung secara nasional, hasil pro-sentase tersebut dijadikan standar jumlah haji provinsi sehingga se-tiap provinsi mempunyai jamaah waiting list.
Perlu dilakukan penyempurnaan prosedur entry data bagi calon jamaah dan menetapkan sanksi bagi bank yang melakukan ke-salahan entry. Mengkaji penetapan sanksi bagi calon jamaah dari suatu provinsi yang mendaftar di provinsi lain. Tidak menambah kuota haji dan tetap memberlakukan waiting list bagi calon yang te-lah berhaji. Diberikannya kewenangan bagi gubernur untuk dapat membagi kuota provinsi.
SDM siskohat agar menyediakan menu di data base siskohat tentang batas nomor porsi yang dapat melunasi pada tahun berjalan. Upaya pengembangan siskohat melalui pengembangan aplikasi dan penambahan infra struktur juga perlu dilakukan baik di
tanah air maupun di Arab Saudi. Pembinaan tenaga teknis siskohat di daerah sangat perlu ditingkatkan untuk menambah kualitas ke-mampuan yang sudah ada.
Dalam pembinaan dan penyuluhan bagi calon jamaah haji perlu dilakukan penyempurnaan modul dan metode penyuluhan serta sosialisasi haji, terutama bagi KUA dan Penyuluh Agama. Me-nerbitkan regulasi untuk menunjang peran serta KUA dan Penyuluh Agama dalam pembinaan jamaah. Menata kelola dengan baik Media Center Haji (MCH).
Untuk petugas haji, penetapan petugas kloter sebaiknya dilakukan lebih dini agar mereka dapat berintegrasi dengan jamaah sejak di daerah. Rekruitmen petugas haji secara obyektif dan transparan agar diperoleh petugas yang profesional, dedikatif, dan bertanggung jawab. Mempertimbangkan penyesuaian honor bagi petugas haji kloter dan non kloter serta PPIH embarkasi.
Agar Kepala KUA lebih optimal dalam melaksanakan sosialisasi peraturan perhajian, pembimbingan manasik haji bagi calon jamaah haji dan pembinaan pasca haji, maka perlu dibuat regulasi tentang tugas KUA dimaksud, bila memungkinkan disediakan anggaran dan sarana dan prasarana yang memadai. K. Kesimpulan
Penyelenggaraan ibadah haji merupakan tugas nasional dan menjadi tanggung jawab pemerintah di bawah koordinasi Menteri Agama sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 17 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji. Implementa-sinya bertujuan untuk memberikan pembinaan, pelayanan dan per-lindungan yang sebaik-baiknya melalui sistem dan manajemen pe-nyelenggaraan yang baik agar pelaksanaan ibadah haji dapat berja-lan dengan aman, tertib, berja-lancar dan nyaman sesuai dengan tuntunan agama serta jamaah haji dapat melaksanakan ibadah secara mandiri sehingga diperoleh haji mabrur.
Dalam rangka tindak lanjut Undang-Undang No. 17 Tahun 1999 telah ditetapkan ketentuan pelaksanaannya dalam bentuk Ke-putusan Menteri Agama RI No. 371 Tahun 2002 tentang
Penyeleng-garaan Ibadah Haji dan Umrah dan dijabarkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelengga-raan Haji tentang Petunjuk Pelaksanaan PenyelenggaPenyelengga-raan Ibadah Haji dan Umrah dilengkapi dengan berbagai keputusan teknis lain-nya yang setiap tahun dilakukan penyempurnaan sesuai tuntutan peningkatan pelayanan guna tercapainya kemudahan dalam penye-lenggaraan ibadah haji.
Manajemen pelayanan haji di Kanwil Departemen Agama dan Kandepag-kandepag Kota Provinsi DKI Jakarta berjalan lancar dikarenakan kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahun dan didukung oleh alokasi dana yang cukup memadai dari Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) Ditjen Penyeleng-garaan Haji dan Umrah Departemen Agama. Selain itu letak wilayah yang sangat dekat dengan pengambil kebijakan di Pusat.
Penetapan petugas haji baik yang dilakukan di Kanwil Departemen Agama DKI Jakarta untuk petugas Kloter, maupun untuk petugas non-kloter yang ditetapkan oleh Dirjen Penyelenggaraan haji dan Umrah Departemen Agama Pusat cukup transparan.
Pembinaan pasca haji masih belum seluruhnya berjalan secara teratur, baik yang dilakukan oleh Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan maupun oleh Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umrah pada Kandepag-kandepag di Provinsi DKI Jakarta. Walau demikian ada inisiatif dari masing-masing rombongan membentuk kelompok-kelompok tersendiri dalam pembinaan kepada calon-calon haji khususnya kelompok-kelompok yang tergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH).
Peran KUA dalam mensosilisasikan kebijakan pemerintah tentang haji, belumlah sebagaimana yang diinginkan oleh pemerin-tah, hal ini disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut: pertama, peran ini masih bersifat insidental disebabkan tidak didukung oleh dana dan tenaga di KUA; kedua, masalah haji belum merupakan tu-gas pokok dan fungsi yang diemban oleh KUA, sebagaimana masa-lah Nikah, Talak dan Rujuk, yang memang merupakan tugas dan fungsi KUA; ketiga, masyarakat masih lebih percaya kepada KBIH atau kelompok-kelompok pengajian tertentu dalam hal pengurusan
masalah haji, terbukti dengan besarnya jumlah jamaah yang meng-ikuti KBIH dibanding dengan jamaah mandiri.
L. Rekomendasi
Departemen Agama Pusat dapat mengakomodir penentuan porsi provinsi secara proporsional dengan cara penentuan yang berhak diambil dari prosentase jumlah jamaah yang akan diberangkatkan dari jumlah penabung secara nasional, hasil prosentase tersebut di-jadikan standar jumlah haji provinsi sehingga setiap provinsi mem-punyai jamaah waiting list.
Perlu dilakukan peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam penyempurnaan prosedur entry data bagi calon jamaah, te-naga teknis siskohat di daerah, elemen KUA dan penyuluh untuk pembinaan calon jamaah haji, petugas haji kloter dan non kloter serta PPIH embarkasi yang profesional, dedikatif, dan bertanggung jawab.
Agar dikembangkan aplikasi dan penambahan infra struktur baik di tanah air maupun di Arab Saudi, seperti dalam penyediaan menu di data base siskohat tentang batas nomor porsi yang dapat melunasi pada tahun berjalan.
Lebih mengoptimalkan peran Kepala KUA dalam melaksanakan sosialisasi peraturan perhajian, pembimbingan manasik haji bagi calon jamaah haji dan pembinaan pasca haji, dengan membuat regulasi tentang tugas KUA dimaksud dan didukung oleh anggaran dan sarana dan prasarana yang memadai.
DAFTAR PUSTAKA
Bahan Evaluasi Penyelenggaraan Haji Kandepag Kota Jakarta Pusat tahun 2006.
Laporan Operasional Penyelenggaraan Ibadah Haji Provinsi DKI Jakarta Tahun 1427H/ 2006 M.
Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Haji dan Umrah Provinsi DKI Jakarta, Kanwil Depag DKI Jakarta, Tahun 2007.
Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Haji Tahun 1423 H/2003 M,
Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji, Tahun 2002.
Pola Pembinaan Jamaah Haji, Direktorat Jenderal Bimbingan
Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji, 2003.
Pedoman Penyelesaian Dokumen Haji Tahun 2006, Direktorat
Pelayanan Haji, Tahun 2006.
Pandangan Masyarakat terhadap Layanan Ibadah Haji oleh Pemerintah, Puslitbang Kehidupan Beragama, Balitbang
Agama dan Diklat Keagamaan, Jakarta, 2003.
Pelayanan Haji di Indonesia dan Arab Saudi, Puslitbang Kehidupan
Beragama, 2004.
Team Peneliti Puslitbang Kehidupan Keagamaan, Persepsi Calon
Jamaah Haji Terhadap Kualitas Pembimbingan KBIH dan NON KBIH di Indonesia dan Arab Saudi, Puslitbang
Kehidupan Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama, 2007.
Team Peneliti Puslitbang Kehidupan Beragama, Ketergantungan
Calon Jamaah Haji terhadap KBIH, Puslitbang Kehidupan
Beragama, 1998.
Petunjuk Teknis Penyiapan Petugas Haji Indonesia di Arab Saudi Tahun 1427 H/2006 M, Direktorat Jenderal Bimbingan
masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji.
Petunjuk Teknis Penyiapan Petugas Haji Indonesia di Arab Saudi Tahun 1427 H/2006 M, Direktorat Jenderal Bimbingan