• Tidak ada hasil yang ditemukan

Permasalahan Dan Tantangan Pengembangan Air Limbah

i. Identifikasi Permasalahan Air Limbah

Masalah yang dihadapi Kota Sabang dengan membandingkan antara kondisi yang ada dengan sasaran yang ingin dicapai, untuk memenuhi kebutuhan dasar (basic need)

dan kebutuhan pengembangan (development need) yang ditinjau dari aspek teknis, keuangan dan kelembagaan. Selain itu, dilakukan inventarisasi persoalan setiap masalah yang sudah dirumuskan dengan mempertimbangkan tipologi serta parameter-parameter teknis yang ada di kawasan tersebut. Adapun permasalahan dalam pengelolaan air limbah di Kota Sabang diantaranya :adanya aset pengelolaan air

limbah yang dimiliki oleh pemerintah pusat yang tidak jelas wewenang dalam pengelolaannya.

Tabel 6.34

Permasalahan Pengelolaan Air Limbah Yang Dihadapi

No. Aspek Pengelolaan Air Limbah Permasalahan Yang Sudah Tindakan

Dilakukan Yang Akan dilakukan

(1) (2) (3) (4) (5)

A. Kelembagaan :

- Bentuk Organisasi Skpd Belum Ada Sudah Ada

- Tata Laksana (Tupoksi, SOP, dan lain-lain) Belum Ada Belum Ada Sudah Ada - Kualitas dan Kuantitas SDM Belum Ada Belum Ada Sudah Ada B. Perundangan terkait sektor

air limbah (Perda, Pergub, Perwali)

Kota sabang belum memiliki Qanun atau Peraturan Walikota; mengenai pengelolaan air limbah, baik limbah domestik, limbah industri, limbah B3 dan limbah medis

Belum Ada Sudah Ada

C. Pembiayaan :

- Sumber-sumber pembiayaan (APBD Prov/Kab/Kota/Swasta/ Masyarakat)

1. Masih terbatasnya alokasi pendanaan dari Pemerintah; 2. Belum tertariknya sektor

swasta untuk melakukan investasi.

Belum Ada Sudah Ada

- Retribusi Penerapan besaran biaya

retribusi pelayanan pengangkutan lumpur tinja belum dapat dilakukan dengan baik dan hanya mengacu pada besaran biaya yang disepakati antara penerima pelayanan dengan petugas pelayanan. Proses pencairan anggaran sangat birokratis.

Belum Ada Sudah Ada

D. Peran serta Masyarakat dan

Swasta 1. Tingkat kesadaran masyarakat untuk menggunakan jamban rumah tangga maupun jamban

No. Aspek Pengelolaan Air Limbah Permasalahan Yang Sudah Tindakan

Dilakukan Yang Akan dilakukan

(1) (2) (3) (4) (5)

serta kondisi septik tank yang ada di Kota Sabang belum memeliki stadard yang baik; 3. Tingkat kesadaran masyarakat

membangun jamban dan septik tank sendiri tanpa bantuan dari Pemerintah;

4. Belum adanya Penyedia layanan (service provider) pengelolaan air limbah domestik yang berasal dari dunia usaha maupun LSM. 5. Masih rendahnya peran

masyarakat dalam

penanganan dan pengolahan air limbah dengan bukti data yang ada di SKPK dan masyarakat bahwa kepemilikan jamban dan sarana sanitasi lainnya masih terbatas kondisi saat ini ada sekitar 24,6 % masyarakat tidak memiliki Jamban sendiri dirumah serta banyak dijumpai fasilitas umum yang sudah terbangun namun tidak dimanfaatkan; dan

E. Teknis Operasional :

1. Sistem On-Site Sanitation :

- MCK Belum Optimal Belum Optimal Optimal

- Jamban keluarga/cubluk/septiktank Belum Optimal Belum Optimal Optimal - Septiktank Komunal Belum Optimal Belum Optimal Optimal

- PS Sanimas Belum Ada Belum Ada Sudah Ada

- Truk Tinja Belum Optimal Belum Optimal Optimal

- IPLT Belum optimalnya pemanfaatan

IPLT bantuan pemerintah pusat yang sudah terbangun.

Masibanyaknya penduduk di wilayah Pusat Kota maupun dilingkungan Pemukiman Tradisional dan Perdesaan yang

menggunakan sistem

pembuangan air limbah secara individual dengan menggunakan

No. Aspek Pengelolaan Air Limbah Permasalahan Yang Sudah Tindakan

Dilakukan Yang Akan dilakukan

(1) (2) (3) (4) (5)

badan-badan air.

Belum adanya pembangunan IPAL

2. Sistem Off-Site Sanitation :

- Sambungan rumah Belum Ada Belum Ada Sudah Ada

- Sistem jaringan pengumpul Belum Ada Belum Ada Sudah Ada - Sistem sanitasi berbasis masyarakat Belum Ada Belum Ada Sudah Ada

- IPAL Terbatasnya persediaan dari

areal lokasi yang dibutuhkan untuk pembangunan IPAL

Belum Ada Sudah Ada

Permasalahan Pembangunan Sektor Air Limbah di Indonesia, secara umum adalah:

(1) Belum optimalnya penanganan air limbah

(2) Tercemarnya badan air khususnya air baku oleh limbah (3) Belum optimalnya manajemen air limbah:

a. Belum optimalnya perencanaan;

b. belum memadainya penyelenggaraan air limbah.

ii. Tantangan dan Peluang Pengembangan Sektor Air Limbah

Setiap Kab/Kota wajib menguraikan tantangan dan peluang sesuai karakteristik Kab/Kota masing-masing terkait pembangunan sektor air limbah. Tantangan Sektor Air Limbah meliputi tantangan internal dan tantangan eksternal. Tantangan internal berhubungan dengan cakupan pelayanan air limbah, kejadian penyakit karena buruknya pengelolaan air limbah, perlindungan sumber air baku, kualitas

pembuangan tinja secara terbuka di tahun 2014 dan Target MDGs 7c terlayaninya 50% masyarakat yang belum mendapatkan akses air limbah sampai tahun 2015.

Selain itu, Peraturan Menteri PU Nomor 14/PRT/M/2010 Tentang Standar

Pelayanan Minimum menekankan tentang target pelayanan dasar bidang PU

yang menjadi tanggungjawab pemerintah kabupaten/kota. Target pelayanan dasar yang ditetapkan dalam Permen ini yaitu pada Pasal 5 ayat 2, dapat dilihat sebagai bagian dari beban dan tanggungjawab kelembagaan yang menangani bidang ke PU an, khususnya untuk sub bidang Cipta Karya yang dituangkan didalam dokumen RPI2JM yang merupakan tantangan tersendiri bagi pelayanan pengelolaan Air Limbah. Target pelayanan dasar bidang Air Limbah sesuai dengan Peraturan Menteri PU Nomor 14/PRT/M/2010 Tentang Standar Pelayanan Minimum dapat dilihat melalui tabel 6.35.

Tabel 6.35

Standar Pelayanan Minimal Bidang Cipta Karya BerdasarkanPermen PU No.14/PRT/M/2010

Jenis Pelayanan Dasar Standart pelayanan Minimal Indikator Nilai Batas Waktu Pencapaian Keterangan Penyehatan

Lingkungan Permukiman

Air Limbah

Permukiman Tersedianya sistem air limbah setempat yang memadai

0 % 2014 Dinas yang

membidangi PU

Tersedianya sistem air limbah skala komunitas/ kawasa/kota

5 % 2014 Dinas yang

membidangi PU

Peluang dalam pengelolaan air limbah adalah telah diaturnya kewajiban penanggulangan pencemaran terhadap lingkungan dan perlindungan sumber air baku dalam tataran undang-undang sampai dengan peraturan daerah. Peraturan perundangan juga telah mengatur keterpaduan penanganan air limbah dengan pengembangan sistem penyediaan air minum. Peluang yang lain adalah adanya peningkatan kesadaran masyarakat dalam penyelenggaraan air limbah permukiman.

6.4.1.3. Analisis Kebutuhan Air Limbah A. Analisis Kebutuhan

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menganalisis kebutuhan Sistem Air Limbah adalah menguraikan faktor-faktor yang mempengaruhi sistem pengelolaan air limbah kota. Melakukan analisis atas dasar besarnya kebutuhan penanganan air limbah, baik

itu untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat (basic need) maupun kebutuhan

pengembangan kota (development need).

Menguraikan kebutuhan komponen pengelolaan air limbah secara teknis dan non teknis baik sistem setempat individual, komunal maupun terpusat skala kota, serta memperlihatkan arahan struktur pengembangan prasarana kota yang telah disepakati. Analisis yang terkait dengan kebutuhan air limbah adalah analisis sistem pengelolaan air limbah (on site dan off site), analisis jaringan perpipan air limbah untuk sistem terpusat, analisis kualitas dan tingkat pelayanan serta analisis ekonomi. Hasil analisis kebutuhan dituangkan dalam tabel 6.36 berikut ini

Tabel 6.36

Analisis Kebutuhan dan Target Pencapaian Daerah No

. Uraian Eksisting Kondisi Tahun I Tahun II Tahun III Tahun IV Tahun V Kebutuhan

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

A Peraturan terkait sektor air

limbah

- Ketersediaan Peraturan Bidang Air Limbah (Perda, Pergub, Perwali dst) Kota sabang belum memiliki Qanun atau Peraturan Walikota; mengenai pengelolaan air limbah, baik limbah domestik, - - - - -

No

. Uraian Eksisting Kondisi Tahun I Tahun II Tahun III Tahun IV Tahun V Kebutuhan

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

- Bentuk Organisasi SKPD - - - - -

- Ketersediaan tata laksana

(Tupoksi, SOP, dan lain-lain) Pengelolaan limbah B3 mengacu pada PP Nomor 74 Tahun 2001 serta Regulator Bapeldakep Kota Sabang, untuk operator dari Dinkes - - - - -

- Kualitas dan kuantitas SDM Belum Ada - - - - -

C Pembiayaan

- Sumber pembiayaan (APBD Prov/Kab/Kota/Swasta/Masya rakat/dan lain-lain)

Belum Ada - - - - -

- Tarif Retribusi Belum Ada - - - - -

- Realisasi penarikan retribusi

(% terhadap target) Belum Ada - - - - -

D Peran swasta dan masyarakat (sudah ada/belum ada/bentuk kontribusi, dan lain-lain)

Belum Ada - - - - -

E Sistem setempat (on site)

- Ketersediaan dan kondisi

IPLT (ada dengan kondisi baik) - - - - -

- Kapasitas IPLT 15m3/hari - - - - -

- Tingkat cakupan pelayanan

IPLT (...% dari target) - - - - -

- Ketersediaan dan kondisi

truk tinja 14 unit, baik - - - - -

- Biaya O & P Belum Ada - - - - -

- Kualitas efluen IPLT (BOD

dan COD) ...Mg/liter - - - - -

...Mg/liter - - - - -

- Ketersediaan Sistem Pengolahan Air Limbah Skala Kecil/Kawasan/Komunitas

(...unit,

baik/rusak) - - - - -

F Sistem Terpusat (off site)

- Ketersediaan dan kondisi IPAL Tidak ada - - - - -

- Kapasitas IPAL ...m3 - - - - -

No

. Uraian Eksisting Kondisi Tahun I Tahun II Tahun III Tahun IV Tahun V Kebutuhan

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

- Biaya O & P Belum Ada - - - - -

6.4.1.4. Program dan Kriteria Kesiapan Pengembangan Air Limbah

A. Program Pembangunan Prasarana Air Limbah SistemSetempat (on-site) dan

Komunal

Kriteria kegiatan infrastruktur air limbah sistem setempat dan komunal. Kriteria Lokasi

 Kawasan rawan sanitasi (padat, kumuh, dan miskin) di perkotaan yang memungkinkan penerapan kegiatan Sanitasi berbasis masyarakat (Sanimas);

 kawasan rumah sederhana sehat (RSH) yang berminat.

Lingkup Kegiatan:

 Rekruitmen dan pembiayaan Tenaga Fasilitator Lapangan;

 (TFL) untuk kegiatan Sanitasi Berbasis Masyarakat;

 pelatihan TFL secara regional termasuk refreshing/coaching; pengadaan material dan upah kerja untuk pembangunan prasarana air limbah (septic tank komunal, MCK++, IPAL komunal);

 TOT kepada Tim Pelatih Kabupaten untuk dapat melaksanakan pelatihan KSM/

mandor/ tukang dan pemberdayaan masyarakat;

pemulihan atau meningkatkan kinerja pelayanan;

 sosialisasi/diseminasi NSPM pengelolaan Sanitasi Berbasis Masyarakat dan pengelolaan Septic Tank;

 produk materi penyuluhan/promosi kepada masyarakat;

 penyediaan media komunikasi (brosur, pamflet, baliho, iklan layanan masyarakat, pedoman dan lain sebagainya).

Kriteria Kesiapan:

 Sudah memiliki RPI2JM CK dan SSK/Memorandum Program atau sudah

mengirim surat minat untuk mengikuti PPSP;

 tidak terdapat permasalahan dalam penyediaan lahan (lahan sudah dibebaskan);  sudah terdapat dokumen perencanaan yang lengkap, termasuk dokumen lelang

(non Sanitasi Berbasis Masyarakat), termasuk draft dokumen RKM untuk kegiatan Sanitasi Berbasis Masyarakat ;

 sudah ada MoU antara Pengembang dan pemerintah kab./kota (IPAL RSH);

 sudah terdapat institusi yang nantinya menerima dan mengelola prasarana yang

dibangun;

 pemerintah kota bersedia menyediakan alokasi dana untuk biaya operasi dan pemeliharaan.

Skema Kebijakan Pendanaan Pengolahan Air Limbah SistemSetempat

(on-site) dan Komunal

Skema Kebijakan Pendanaan Pengolahan Air Limbah Sistem Setempat (on-site)

Gambar 6-4

Sistem Pengolahan Air Limbah Setempat dan Komunal

Gambar 6-4 menunjukan pembagian peran antara pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten/kota dalam pembangunan infrastruktur pengolahan air limbah sistem setempat (on-site). Peran pemerintah pusat adalah membantu pendanaan fasilitator dan konstruksi PS air limbah skala kawasan, serta membangun IPLT. Pemerintah daerah mempunyai peran dalam penyediaan lahan, penyediaan biaya operasi dan pemeliharaan, serta pemberdayaan masyarakat pasca konstruksi.

Dokumen terkait