GAMBAR 7.10 Grafik Pasang surut
C. Permasalahan Dan Tantangan Pengembangan Drainase
i. Identifikasi Permasalahan Drainase Perkotaan
Paramater dalam menganalisa kebutuhan pengelolaan drainase adalah : faktor-faktor yang mempengaruhi sistem pengelolaan drainase; besarnya kebutuhan penanganan drainase, baik itu untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat (basicneed) maupun kebutuhan pengembangan kota(developmentneed).
Tabel 7.48 Identifikasi Permasalahan Pengelolaan Drainase
No. Aspek Pengembangan Drainase Permasalahan Tindakan
Yang Sudah Dilakukan Yang Akan dilakukan (1)
(2) (3) (4) (5)
A
Kelembagaan :
- Bentuk Organisasi Pengelola Belum ada Diusulkan
- Tata laksana (Tupoksi, SOP, dan lain-lain) Ada - Kualitas dan kuantitas SDM Kurang
Diusulkan pelatihan dan tambah pegawai B
Pembiayaan
- Sumber pembiayaan (APBD Prov/Kab/Kota/Swasta/Masyarakat/dll) APBK/ APBK APBN C
Perundangan (Perda, Pergub, Perwali dst) Belum ada Diusulkan
D
Peran serta masyarakat dan swasta Tidak ada Penyuluhan
Teknis Operasional PS: 1.
Aspek Perecanaan (Master Plan, FS, DED)
Sudah ada Masterplan dan
DED Drainase Sedang diusulkan 2.
A. Saluran
- Primer Baik
- Sekunder Masih kurang Pembangunan baru Pembangunan baru
- Tersier Masih kurang peningkatan peningkatan
B. Turap Masih kurang Pembangunan baru Pembangunan baru C. Bangunan pelengkap (gorong-gorong, pintu air, pompa, talang, dsb) Masih kurang Pembangunan baru Pembangunan baru D. Waduk, Kolam Retensi, Sumur Resapan
Perlu sumur
Secara umum dapat disimpulkan bahwa kondisi sarana drainase di Kabupaten Pidie Jaya adalah:
a. Kecamatan Bandar Baru
- Bercampurnya antara saluran pembawa irigasi dengan saluran drainase - Saluran yang tidak terawat dimana banyak sampah dan tumbuh-tumbuhan - Saluran ada yang sudah terbuat lining dari beton dan masih ada saluran
alam
- Pada bebera saluran dikecamatan ini terdapat endapan
- Terdapat beberapa lokasi genangan yang diakibatkan oleh hujan yaitu di desa Meunasah Ara, baroh Lancok dan Pulo Peup dimana hal ini disebabkan antara lain :
• Daerah genangan relatif rendah (dibawah muka air laut)
• Kapasitas outlet
• Hujan bersamaan dengan air pasang.
• Pendangkalan dan sampah.
- Genangan Pada lokasi ini berketinggian dari 0 – 50 cm dan dengan lama genangan 2–5 jam.
b. Kecamatan Bandar Dua
- Saluran yang tidak terawat dimana banyak sampah dan tumbuh-tumbuhan - Saluran ada yang sudah terbuat lining dari beton dan masih ada saluran
alam
- Pada bebera saluran dikecamatan ini terdapat endapan
- Terdapat beberapa lokasi genangan yang diakibatkan oleh hujan yaitu di desa Gampong Pulo, Ulee Glee dan Keude Ule Glee dimana hal ini disebabkan antara lain :
• Daerah genangan relatif rendah (dibawah muka air laut)
• Kapasitas saluran tidak mencukupi dan banyah hambatan hidrolis.
• Pendangkalan dan sampah.
- berketinggian dari 0–60 cm dan dengan lama genangan 4-8 jam.
- Kawasan yang terendam untuk lokasi merupakan kawasan perdagangan dan juga jalan negera.
c. Kecamatan Jangka Buya
- Saluran yang tidak terawat dimana banyak sampah dan tumbuh-tumbuhan - Saluran ada yang sudah terbuat lining dari beton dan masih ada saluran
alam
- Terdapat beberapa lokasi genangan yang diakibatkan oleh hujan yaitu di desa Jurong Teungoh – Jurong Binje dimana hal ini disebabkan antara lain:
• Daerah genangan relatif rendah (dibawah mukaair laut)
• Kapasitas saluran tidak mencukupi dan banyah hambatan hidrolis.
• Hujan bersamaan dengan air pasang.
• Pendangkalan dan sampah.
• Penyempitan saluran.
- berketinggian dari 0–60 cm dan dengan lama genangan 4 jam. - Kawasan perdagang dan permukiman, Lorong dan jalan raya.
d. Kecamatan Meurah Dua
- Saluran yang tidak terawat dimana banyak sampah dan tumbuh-tumbuhan serat endapan
- Ada beberapa saluran dalam kondisi rusak berat
- Terdapat beberapa saluran pembuang ke sungai Meuredu
- Terdapat beberapa lokasi genangan yang diakibatkan oleh hujan yaitu di desa Jurong Teungoh – Jurong Binje dimana hal ini disebabkan antara lain :
• Daerah genangan relatif rendah
• Tidak ada arah saluran pembuang
• Buangan ke tanah warga
• Kapasitas saluran tidak mencukupi dan banyah hambatan hidrolis.
• Pendangkalan dan sampah.
- Ketinggian genangan dari 0 –150 cm dan dengan lama genangan 4 jam yang penyebebnya adalah Hujan deras dan banjir akibat luapan sungai Kr. Meureudu.
e. Kecamatan Meureudu
- Bercampurnya antra saluran pembawa irigasi dengan saluran drainase - Saluran yang tidak terawat dimana banyak sampah dan tumbuh-tumbuhan - Saluran ada yang sudah terbuat lining dari beton dan masih ada saluran
alam
- Pada bebera saluran dikecamatan ini terdapat endapan
- Terdapat beberapa lokasi dengan yang penyebabnya adalah akibat pasang Air Laut dan Hujan.
f. Kecamatan Panteraja
- Umumnya saluran di lkoasi ini dalam kondisi rusak dan tidak terawatt - Saluran ada yang sudah terbuat lining dari beton dan masih ada saluran
alam
- Pada beberapa saluran dikecamatan ini terdapat endapan - Terdapat beberapa lokasi genangan yang disebabkan oleh
• Kapasitas saluran yang tidak mencukupi
• Daerah yang relative rendah
• Kondisi pasang surut g. Kecamatan Trienggadeng
- Bercampurnya antra saluran pembawa irigasi dengan saluran drainase - Saluran yang tidak terawat dimana banyak sampah dan tumbuh-tumbuhan - Pada bebera saluran dikecamatan ini terdapat endapan
- Terdapat beberapa lokasi dengan yang penyebabnya adalah akibat pasang air laut dan hujan.
h. Kecamatan Ulim
- Saluran yang tidak terawat dimana banyak sampah dan tumbuh-tumbuhan serat endapan
- Ada beberapa saluran dalam kondisi rusak berat
ii. Tantangan Pengembangan Drainase
Tantangan yang dihadapi secara umum di Indonesia adalah mencegah penurunan kualitas lingkungan permukiman diperkotaan, optimalisasi fungsi pelayanan dan efisiensi prasarana dan sarana drainase yang sudah terbangun, peningkatan dan pengembangan sistem yang ada, pembangunan baru secara efektif dan efisien yang menjangkau masyarakat berpenghasilan rendah dan menunjang terwujudnya lingkungan perumahan dan
permukiman yang bersih dan sehat serta meningkatkan ekonomi masyarakat
berpenghasilan rendah.
Tantangan sesuai karakteristik Pemkab. Pidie Jaya terkait pembangunan sektor drainase adalah :
• Cakupan wilayah yang luas
• Banyak dialiri sungai besar yang bermuara di pesisir.
• Belum terintegrasinya sistem drainase di perkotaan
• Pasang air laut dan abrasi
Tantangan lainnya adalah adanya Peraturan Menteri PU Nomor 14/PRT/M/2010 Tentang Standar Pelayanan Minimum menekankan tentang target pelayanan dasar bidang PU yang menjadi tanggungjawab pemerintah kabupaten/kota. Target pelayanan dasar yang ditetapkan dalam Permen ini yaitu pada Pasal 5 ayat 2, dapat dilihat sebagai bagian dari beban dan tanggungjawab kelembagaan yang menangani bidang ke PUan, khususnya untuk sub bidang Cipta Karya yang dituangkan didalam dokumen RPI2-JMCK yang merupakan tantangan tersendiri bagi pelayanan pengelolaan Drainase. Target pelayanan dasar bidang Drainase sesuai dengan Peraturan Menteri PU Nomor 14/PRT/M/2010 tentangStandar Pelayanan Minimumdapat dilihat melalui tabel 7.49.
Tabel 7.49.
Standar Pelayanan Minimal Bidang Cipta Karya berdasarkan Permen PU No.14/PRT/M/2010
Jenis Pelayanan Dasar Standart Pelayanan Minimal Batas Waktu Pencapaian Keterangan Indikator Nilai Penyehatan Lingkungan Permukiman
Drainase Tersedianya system jaringan drainase skala kawasan dan skala kota sehingga tidak terjadi genangan (lebih dari 30 cm, selama 2 jam ) dan tidak lebih dari 2 kali setahun
50 % 2014 Dinas yang
membidangi PU
7.4.3.3. Analisis Kebutuhan Drainase