PEMBERDAYAAN LONGWE
2. Permasalahan di dalam sasaran program (anggota KBUW)
a. Kurangnya tanggung jawab anggota dalam pengembalian cicilan dan iuran anggota KBUW.
b. Adanya anggapan dari sebagian anggota bahwa dana tersebut merupakan dana hibah.
c. Pengambilan keputusan dalam pengggunaan pinjaman modal usaha, pembayaran cicilan dan iuran keanggotaan di tangan suami karena pada umumnya suami yang menjalankan usaha.
d. Pinjaman koperasi digunakan untuk kebutuhan konsumtif .
e. Pinjaman modal usaha terbatas sehingga usaha yang dijalankan belum menunjukkan perkembangan bagi perbaikan ekonomi keluarga.
f. Wanita kurang aktif dalam mengikuti kegiatan KBUW.
Permasalahan-permasalahan tersebut kemudian didiskusikan dengan peserta FGD untuk mendapat tanggapan dan upaya atau strategi pemecahan masalah dengan potensi-potensi yang ada. Permasalahan-permasalahan dan alternatif pemecahan masalah yang dibahas dalam FGD disajikan dalam Tabel. 14 .
Tabel. 14. Permasalahan/Kelemahan dan Alternatif Pemecahan Masalah Berdasarkan Hasil FGD di Kel. Cipageran Tahun 2006
No. Aspek Permasalahan/kelemahan Faktor Penyebab Alternatif Pemecahan Masalah Berdasarkan FGD
1. 2. 3. 4. 5.
1. Aspek organisasi KBUW
a. Struktur Kepengurusan KBUW tidak komplit (sekretaris mengundurkan diri dan badan pengawas belum terbentuk).
Kurangnya komunikasi antar pengurus dan pengetahuan tentang koperasi yang terbatas
a. Diadakan rapat dengan dihadiri oleh seluruh anggota untuk pembentukan kepengurusan KBUW yang baru.
b. Meminta bantuan tokoh masyarakat atau penanggung jawab program.
b. Kurangnya sosialisasi prosedur peminjaman kepada masyarakat, artinya pengurus KBUW belum memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang prosedur pinjaman modal usaha
a. Waktu yang terbatas karena KBUW harus segera terbentuk dan program harus segera berjalan.
b. Pengetahuan Pengurus
tentang prosedur
peminjaman terbatas
a. Diadakan sosialisasi berkelanjutan sehingga masyarakat mengetahui prosedur peminjaman.
b. Diadakan pelatihan bagi pengurus untuk meningkatkan pengetahuan dalam mengelola KBUW.
c. Pengetahuan Pengurus tentang koperasi terbatas.
Kurangnya pelatihan bagi Pengurus KBUW.
a. Diadakan pelatihan bagi pengurus mengenai prosedur peminjaman.
b. Memberikan kesempatan kepada pengurus untuk mengambil keputusan dalam mengelola KBUW
8
Lanjutan
1. 2. 3. 4. 5.
d. Kurangnya koordinasi maupun pembinaan antara penanggung jawab program, pihak kelurahan dan pengurus KBUW .
a. Kurangnya monitoring dari penanggung jawab program dan aparat kelurahan
b. Kurangnya komunikasi
a. Diadakan monitoring secara rutin untuk mengetahui perkembangan KBUW b. Diadakan pertemuan rutin antar
penanggung jawab program, pihak kelurahan dan pengurus KBUW.
e. Pinjaman modal usaha terbatas karena modal yang dipinjamkan harus menunggu anggota yang membayar cicilan maupun iuran keanggotaan
Kurangnya tanggung jawab anggota dalam membayar cicilan/iuran
a. Meningkatkan kesadaran anggota akan hak dan kewajiban sebagai anggota koperasi
b. Mengadakan jejaring dengan pihak luar untuk penambahan modal KBUW
2. Aspek sasaran program
(anggota KBUW)
a Kurangnya tanggung jawab anggota dalam pengembalian cicilan dan iuran anggota KBUW.
a. Masyarakat kurang mengetahui prosedur peminjaman, pengembalian cicilan dan iuran anggota. b. Mentalitas yang rendah
a. Memberikan sosialiasi secara berkelanjutan tentang prosedur peminjaman, pengembalian cicilan dan iuran anggota.
b. Meningkatkan pemahaman bahwa dana tersebut merupakan dana bergulir
b. Adanya anggapan dari sebagian anggota bahwa dana tersebut merupakan dana hibah.
Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang tujuan pinjaman dari KBUW
Memberikan sosialisasi bahwa dana KBUW merupakan dana bergulir yang harus dirasakan manfaatnya bagi semua anggota masyarakat dan bukan merupakan dana hibah.
8
Lanjutan
1. 2. 3. 4. 5.
c. Pengambilan keputusan dalam pengggunaan pinjaman modal usaha, pembayaran cicilan dan iuran keanggotaan di tangan suami karena pada umumnya suami yang menjalankan usaha.
a. Budaya patriarki yang kuat
b. Usaha yang menjalankan adalah suami
a. Perlu pemahaman bahwa dalam pengambilan keputusan merupakan keputusan bersama antara suami dan istri.
b. Perlu pemahaman meskipun yang menjalankan usaha suami tetapi istri turut serta dalam meminjam modal usaha.
d. Pinjaman koperasi
digunakan untuk
kebutuhan konsumtif.
a. Pemahaman yang terbatas tentang maksud pinjaman koperasi.
b. Tingkat ekonomi yang rendah
Peningkatkan sosialisasi tentang tujuan pinjaman modal usaha dari KBUW
e. Pinjaman modal usaha terbatas sehingga usaha yang dijalankan belum berkembang.
Kurangnya tanggung jawab anggota dalam membayar cicilan/iuran
Memberikan pemahaman bahwa pinjaman yang diberikan digunakan seoptimal mungkin untuk usaha dan harus dirasakan manfaatnya oleh semua anggota masyarakat
f. Wanita kurang aktif dalam kegiatan KBUW
Peran reproduktif yang banyak dilakukan wanita
a. Memberikan pemahaman bahwa program tersebut merupakan program untuk pemberdayaan wanita
b. Meminta bantuan kepada tokoh masyarakat/agama untuk mengajak wanita terlibat dalam kegiatan KBUW
8
Dalam proses pelaksanaan FGD, supaya peserta FGD mengerti tentang permasalahan/kelemahan kegiatan KBUW, maka penulis mengunakan alat bantu dengan menggunakan analisa pohon masalah, yang mengelompokkan permasalahan kedalam tiga bagian, yaitu masalah inti, akar masalah dan dampak dari masalah tersebut dan juga penyajian dalam bentuk tabel-tabel, yaitu tabel Potensi dan Permasalahan/Kelemahan. Selain itu karena analisis yang digunakan adalah Analisis Harvard dan Pemberdayaan Longwe dengan menggunakan lima dimensi yaitu kesejahteraan, akses, kesadaran kritis, partisipasi dan kontrol, maka dalam proses pelaksanaan FGD perlu disampaikan bahwa faktor yang menyebabkan terjadinya permasalahan di dalam KBUW, yaitu wanita hanya meminjamkan nama untuk mendapatkan pinjaman modal usaha, tidak terlibat pengambilan keputusan dalam penggunaan pinjaman modal usaha dan pembayaran cicilan/iuran keanggotaan, peran reproduktif yang banyak dilakukan wanita pun mempengaruhi keterlibatan wanita dalam kegitan KBUW, sehingga wanita belum menjalankan perannya dalam kegiatan KBUW dan belum menyadari bahwa program tersebut merupakan program khusus untuk pemberdayaan dirinya sendiri. Pemaparan tersebut dimaksudkan supaya peserta FGD menyadari bahwa permasalahan yang timbul dalam KBUW tidak hanya disebabkan oleh faktor-faktor, seperti kurangnya tanggung jawab anggota dalam pengembalian pinjaman, usaha anggota belum berkembang, pinjaman digunakan untuk kebutuhan konsumtif, tidak adanya pembinaan lanjutan dan pengetahuan pengurus yang terbatas dalam mengelola KBUW. Hasil analisa pohon masalah secara lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 5 .
Berdasarkan hasil FGD pada hari Sabtu tanggal 12 Agustus 2006, maka strategi pemecahan masalah berdasarkan permasalahan- permasalahan yang ada dikelompokkan kedalam dua bagian yaitu :