ANATOMI RELASI ILMU DAN KAPITAL
C. Permasalahan Kuasa dalam Ilmu dan Kapital
Beberapa penelitian mutakhir, seperti terangkum dalam buku
Social Science and Power in Indonesia, menunjukkan bahwa sosok 178 Kaiser Jamil & G Prabhavathy Das, “Stem Cells…”, hlm. 182.
kuasa (power), tentu dalam pengertiannya yang lentur, saat ini tidak lagi identik dengan kuasa negara (state power).179 Para ilmuwan
sosial telah menggeser mitos klasik Hobbesian, juga dari kepercayaan ilmuwan sosial semasa Orde Baru, bahwa segala persoalan yang dihadapi saat ini bermuara pada problem struktur negara. Ada sosok kuasa yang lain yang juga memiliki struktur dan relasi kuasa yang kokoh serta menjadi mitos kuasa baru di luar kuasa negara. Di antara kuasa-kuasa itu antara lain adalah kuasa kapitalisme dan kuasa ilmu- teknologi modern — tak dapat dilewatkan juga kuasa agama dan kuasa demokrasi, kendatipun dua sosok kuasa terakhir ini tidak akan menjadi pembahasan utama penelitian ini. Sosok-sosok kuasa tersebut memiliki struktur relasi kuasa yang jauh lebih rumit — karena mampu “melampaui” — dari kuasa negara. Dalam struktur yang lebih luas, kedua kuasa inilah sesungguhnya yang paling dominan di antara kuasa-kuasa yang lain, utamanya dalam proses rekonstruksi rekayasa sosial dunia modern saat ini. Memang bukan perkara mudah memberi justiikasi mana yang lebih dominan dari kedua kuasa tersebut. Setiap jawaban yang diberikan tentunya akan selalu bersifat relatif; akan selalu menyisakan persoalan-persoalan yang mengundang perbebatan baru. Untuk memadatkan pembahasan soal ini, penulis akan memulai dengan melihat bagaimana gejala relasi kuasa ilmu dan kapital setidaknya melalui dua lapis kegiatan penelitian ilmiah.
Lapis pertama adalah soal “orientasi penelitian” yang merupakan basis sekaligus arah, tujuan, dan peruntukkan dari segala kegiatan ilmiah. Seperti dapat dibaca dalam hikayat sejarahnya, lahirnya ilmu-ilmu modern berawal dari dorongan kepentingan-kepentingan tertentu. Mengikuti pandangan Habermas, seperti dikutip oleh Kleden, setidaknya terdapat tiga jenis kepentingan yang bisa disebut di sini. Pertama adalah kepentingan teknis yang telah mendorong kelahiran kelompok ilmu-ilmu empiris-positif dengan tujuan untuk menunjang proses produksi; kedua adalah kepentingan praktis yang 179 Lihat kajian komprehensif tentang relasi ilmu sosial dan kekuasaan di Indonesia dalam Vedi R. Hadiz & Daniel Dhakidae (eds.), 2005, Social Science and Power in Indonesia, Singapore: Institute of Southeast Asian Studies.
telah melahirkan kelompok ilmu-ilmu humaniora dengan tujuan untuk menunjang komunikasi dan dorongan untuk hidup secara benar; dan ketiga adalah kepentingan politis yang telah mendorong lahirnya ilmu-ilmu sosial kritis dengan tujuan menunjang proses emansipasi.180
Apabila ilmu dibaca berdasarkan atas tiga jenis kepentingan tersebut, maka wajar apabila kegiatan ilmiah berjalan di atas kepentingan. Bahkan, seperti terbaca dalam riwayat sejarahnya, suatu kepentingan selalu inheren dalam kegiatan-kegiatan ilmiah.
Betapapun ilmu dan kepentingan tidak dapat dipisahkan, perlu ditelusuri lebih jauh, kepentingan macam apa sesungguhnya yang berlaku dan mewarnai di balik ketiga kepentingan tersebut. Untuk dapat mengetahui meta-kepentingan dari tiga jenis kepentingan itu, maka perlu dibaca dari sudut pandang orientasi penelitiannya. Berdasarkan pandangan Habermas, cara memahami orientasi penger- tian cukup mudah. Apabila orientasinya kembali kepada penger- tian dasar dari kegiatan theoria, yakni memenuhi cita-cita etis ilmu pengetahuan, menciptakan kebajikan dan kemashlahatan, maka orientasi ilmu yang berlaku bersifat positif. Namun, apabila orien- tasinya justru berkebalikan dengan pengertian dasar dari kegiatan
theoria, maka orientasi ilmu bersifat negatif. Dengan demikian, untuk memahami mana yang lebih dominan antara ilmu dan kapital, pertimbangan yang sama dapat dilakukan. Apabila orientasi kegiatan ilmiah bersandar pada theoria dalam arti sesungguhnya, maka kuasa ilmu atas kapital secara positif lebih dominan. Akan tetapi, apabila orientasi dari kegiatan ilmiah adalah hal-hal yang bersifat kapitalistis, maka orientasi ilmu tentulah bersifat negatif, karena orientasi ilmu telah tunduk kepada semata-mata kepentingan kapital. Patutlah kiranya ditambahkan bahwa selain ketiga jenis kepentingan seperti diutarakan Habermas di atas, ternyata masih ada satu jenis kepentingan lagi yang juga berlaku di balik pengembangan ilmu, yakni kepentingan kapitalistis; yang telah melahirkan kelompok ilmu yang memenuhi
180 Ignas Kleden, 1987, Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan, Jakarta: Penerbit LP3ES, hlm. xvi- xvii.
kebutuhan kapitalistis. Celakanya, apabila kuasa kapital atas ilmu lebih dominan, maka kemungkinan ilmu melanggar cita-cita etis ilmu pengetahuan theoria, juga semakin terbuka lebar. Jelaslah bahwa untuk mengetahui relasi kuasa ilmu dan kapital, menggunakan sudut pandang “orientasi penelitian” saja tidak akan cukup; perlu sudut pandang lapis kedua yakni “proses penelitian”.
Maksud dari “proses penelitian” di sini adalah hal-hal teknis metodologis yang harus dilakukan oleh ilmuwan dalam kegiatan- kegiatan ilmiahnya, apakah sesuai dengan koridor metodologi ilmiah atau sebaliknya, terjadi reduksi-reduksi metodologis sehingga proses dan hasil penelitian menjadi manipulatif dan disalahgunakan. Ilmu dikatakan terpercaya apabila memiliki tingkat objektivitas yang akurat; dengan standar metodis yang sama dapat diuji oleh ilmuwan berbeda dan menghasilkan hasil penelitian yang sama. Validitas ilmiah dapat diukur dari pemenuhan terhadap sikap-sikap ilmiah yang secara detail tercermin dalam standar metodologi ilmiah, sebagaimana telah disepakati oleh komunitas ilmuwan. Maka, untuk mengetahui sosok yang dominan di antara ilmu dan kapital, cukuplah diukur dari sejauh mana komitmen seorang ilmuwan memenuhi standar metodologi dan sikap-sikap ilmiah tersebut. Apabila proses penelitian dilakukan sesuai standar ilmiah, biarpun penelitian tersebut didanai oleh industri kapitalisme besar, maka kuasa ilmu atas kapital bersifat positif. Sebaliknya, apabila proses penelitian dikerjakan tanpa memenuhi standar ilmiah dan cenderung mengikuti “kesimpulan ilmiah” sesuai pesanan pemilik kapital, maka dapat dikatakan penelitian tersebut “cacat ilmiah” dan itu artinya kuasa ilmu atas kapital bersifat negatif.
Dengan demikian, kesimpulannya jelas, bahwa ilmu penge- tahuan dan kepentingan adalah dua hal yang selalu inheren dan sulit dipisahkan. Setiap usaha mengembangkan ilmu pengetahuan akan selalu diikuti oleh jenis-jenis kepentingan tertentu, baik berupa kepentingan teknis, praktis, politis, dan kapitalistis. Kapital adalah perihal penting dan berguna sebagai pelengkap pengembangan ke- ilmuan. Akan tetapi, ketika ilmu telah dimanipulasi sedemikian
rupa sehingga ilmu justru tunduk semata-mata kepada kepentingan kapital, maka produk ilmu semacam ini patut dipertanyakan. Pada konteks inilah kapital telah mewujud menjadi kapitalisme. Artinya, posisi kapital telah menjadi pusat segalanya; dan posisi ilmu tak lebih dari sekadar instrumentasi dari berbagai kepentingan yang bersifat kapitalistis. Persis, analogi yang sama berlaku pada ilmu dan ilmuisme atau objektif dan objektivisme. Jadi, segala hal yang mengandung unsur – isme, unsur kuasa ideologis, mesti diselidiki secara mendalam, sebab tujuan – isme tidak ada lain kecuali semata-mata memenuhi cita- cita ideologisnya. Adapun suatu ideologi, jika ia benar-benar ideologi, hanya akan memiliki dua kemungkinan saja. Apabila ideologi tersebut konsisten, terbuka menerima kritik, dan selalu melakukan autokritik, maka ia adalah ideologi positif. Namun, apabila ideologi tersebut tidak terbuka terhadap kritik dan abai mengupayakan autokritik, maka ideologi tersebut akan terjatuh pada ideologi fasis. Dengan demikian, ketika di sini penulis menyebut – isme, maka tentulah tidak begitu saja dipahami secara tunggal; ia haruslah dimaknai ke dalam dua wajah: sebagai ideologi terbuka ataukah sebagai ideologi tertutup. Bagaimana mengetahui apakah ia terbuka atau tertutup, katakanlah untuk konteks ilmu dan kapital, tentulah perlu ditelusuri dari setidaknya kedua lapis orientasi dan proses penelitian itu berlangsung, yang seperti telah diungkapkan relasi kuasa keduanya berwajah ganda: positif dan negatif.
83