• Tidak ada hasil yang ditemukan

Permasalahan Pembangunan Daerah

6) Perindustrian dan Perdagangan

2.3. Permasalahan Pembangunan Daerah

Berdasarkan kondisi umum daerah serta pencapaian pembangunan Kabupaten Bangka Barat tahun 2013 dan perkiraan 2014, maka beberapa permasalahan yang terjadi pada tahun 2015 dan akan berlanjut pada tahun 2016 berdasarkan urusan pemerintahan adalah sebagai berikut :

Tabel 2.43

Permasalahan Pembangunan Per Urusan Pemerintahan

URUSAN PERMASALAHAN

Pendidikan Sarana dan prasarana yang belum dipetakan dengan

jumlah siswa (kebutuhan)

Belum optimalnya pelaksanaan pelayanan dasar dibidang pendidikan dasar

Peningkatan kualitas mutu pendidikan

Kesehatan Belum optimalnya pelaksanaan SOP yang sudah ada

dalam penanganan masalah kesehatan

Belum siapnya data untuk pelaksanaan BPJS kesehatan

Optimalisasi pelaksanaan pelayanan dasar kesehatan Lingkungan Hidup Masih tingginya kerusakan kawasan hutan dan APL,

DAS

Ketaatan perusahaan dalam memenuhi kewajiban terkait lingkungan

Pekerjaan Umum Belum optimalnya perencanaan ke PU an

Pembangunan infrastruktur dasar sesuai dengan SPM Membangunan konektivitas infrastruktur dasar dalam kapasitas pendukung percepatan pertumbuhan ekonomi

Penataan Ruang Penataan ruang yang belum sesuai dengan arahan

perencanaan tata ruang (RTRW)

Sinkronisasi RTRW dengan RPJP dan RPJMD

Belum tersedianya dokumen perencanaan teknis / rinci penataan ruang (RDTR, RTBL, tapal batas) Pengendalian, pemanfaatan, dan pengawasan penataan/pemanfaatan ruang

Perencanaan Pembangunan Belum optimalnya penyusunan, pengendalian dan evaluasi perencanaan pembangunan daerah secara koordinatif dan sistematik (terintegrasi dalam SIM)

Perumahan Belum tersedianya perencanaan pelayanan dasar

perumahan

Kepemudaan dan Olahraga Masih rendahnya budaya dan prestasi olahraga Rendahnya partisipasi pemuda dalam berbagai bidang pembangunan

II - 89

URUSAN PERMASALAHAN

Kurangnya dukungan penganggaran

Masih minimnya sarana prasarana olahraga

Penataan Ruang Penataan ruang yang belum sesuai dengan arahan

perencanaan tata ruang (RTRW)

Sinkronisasi RTRW dengan RPJP dan RPJMD

Penanaman Modal Belum optimalnya standarisasi/SOP pelayanan yang

sudah ada

Belum optimalnya pelayanan perizinan satu pintu dan penanaman modal (regulasi, pelimpahan kewenangan, SPM)

Belum tersedianya/minimnya data dan informasi serta perencanaan terkait investasi

Perbaikan regulasi yang mendukung investasi Koperasi dan Usaha Kecil Dan

Menengah Masih rendah kualitas SDM desa dalam pengembangan koperasi

Masih rendahnya pemahaman masyarakat terhadap manfaat koperasi

Kurangnya permodalan UKM Kurang inovasi dalam produk UKM Tidak fokus dan hanya bersifat sambilan Kependudukan dan Catatan

Sipil Belum optimalnya pelaksanaan administrasi / pelayanan kependudukan dan pencatatan sipil Belum optimalnya pemanfaatan SIAK

Ketenagakerjaan Kurangnya aparatur bidang pengawasan

ketenagakerjaan untuk melaksanakan pengawasan di lingkungan Bangka barat

Minimnya data umum perusahaan yang dilaporkan Masih kurangnya peraturan teknis yang mengatur tentang pelayanan bidang hubungan industrial

Kurangnya pemahaman pengusaha dan pekerja tentang aturan normatif ketenagakerjaan

Lemahnya perencanaan pendidikan dan pelatihan informal yang diadakan

Kurangnya koordinasi yang efektif antara daerah, pemerintah provinsi dan pusat terkait dengan penyelenggaran urusan ketenagakerjaan sehingga mengakibatkan kurangnya informasi yang up to date (regulasi teknis yang berlaku)

Ketahanan pangan Belum optimalnya pelaksanaan SPM bidang Ketahanan

Pangan

Secara umum ketersediaan bahan pangan di Bangka Barat sangat mencukupi, namun sebagian besar didapat dari luar daerah sehingga sangat memiliki ketergantungan yang sangat tinggi dari daerah lain. Harga pangan sangat dipengaruhi iklim atau kondisi transportasi laut

Pemberdayaan perempuan dan

II - 90

URUSAN PERMASALAHAN

Keluarga berencana dan

keluarga sejahtera Masih rendahnya standar pelayanan urusan Keluarga berencana dan keluarga sejahtera (belum sesuai SPM)

Perhubungan Lemahnya penerapan SPM bidang perhubungan

Komunikasi dan informatika Belum optimalnya pengelolaan SIM

Belum optimalnya pelaksanaan SPM bidang kominfo

Pertanahan Minimnya data pertanahan karena terkait instansi

vertikal

Tumpang tindih kewenangan urusan pertanahan antara pemerintah daerah dengan instansi vertical Belum optimalnya pemanfaatan izin lokasi yang sudah dikeluarkan

Kesatuan bangsa dan politik

dalam negeri Belum optimalnya pelaksanaan monitoring, evaluasi dan pemantauan terhadap penegakan perda

Belum optimalnya pengembangan wawasan

kebangsaan

Belum terpenuhinya pelayanan dasar Pemeliharaan ketertiban umum, ketentraman masyarakat dan perlindungan masyarakat

Belum tersedianya sarana dan prasarana

penanggulangan bencana Otonomi daerah, pemerintahan

umum, administrasi

keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian, dan persandian

Belum optimalnya penerapan Good Government Belum diterapkannya SOP di semua aspek pelayanan Masih minimnya pelayanan berbasis aplikasi/online Pemberdayaan masyarakat dan

desa Masih kecilnya porsi PADes terhadap APBDes

Kurangnya peran camat dalam pembinaan kepada desa Kelembagaan desa yang belum optimal

Kurang berhasilnya pelaksanaan program desa mandiri Sosial

Kebudayaan masih kurangnya sarana penyelenggaraan seni dan

budaya

belum optimalnya pendataan dan pelestarian benda,situs dan cagar budaya yang ada

Statistik

Kearsipan Belum optimalnya sistem administrasi kearsipan

Perpustakaan Masih rendahnya budaya minat baca masyarakat

Kelautan dan perikanan Penurunan kualitas ekosistem laut

Teknologi penangkapan yang masih rendah Belum optimalnya pengolahan hasil perikanan Belum optimalnya budidaya perikanan

Belum optimalnya pemberdayaan masyarakat pesisir

Pertanian Kondisi infrastruktur perairan masih belum merata

II - 91

URUSAN PERMASALAHAN

Kurang stabilitas harga hasil perkebunan

Ketersediaan daging (sapi) terhadap kebutuhan baru mencapai 11-12% dari kebutuhan

Permasalahan pupuk bersubsidi

Kualitas bibit tanaman pertanian dan perkebunan yang rendah

Kehutanan Kewenangan daerah terkait kehutanan

Energi dan sumber daya

mineral Defisit energi dalam rangka menunjang investasi

Belum adanya pemanfaatan energi terbarukan Belum ada industri hilir timah dan non timah

Pariwisata Belum terpetakan dengan baik jumlah kunjungan

wisata (lokal, nusantara dan manca negara)

Belum terdata dengan baik pemetaan objek wisata yang menjadi unggulan maupun yang masih berupa potensi Tidak adanya kemudahan aksesibilitas menuju objek wisata

Tidak adanya ciri khas/kegiatan pendukung di objek wisata

Industri Industri kecil masih bersifat sambilan

Belum ada teknologi pendukung (teknologi tepat guna) Tata niaga belum jelas

Belum berkembangnya ekonomi kreatif untuk menunjang OVOP

Perdagangan Belum adanya perencanaan pengembangan

perdagangan

Belum adanya gudang penampung bahan makanan pokok

Belum adanya lembaga yang menangani pengaduan dan perlindungan konsumen

Keterbatasan akses informasi jumlah komoditi yang keluar dan masuk wilayah Kab. Bangka Barat

Transmigrasi Kontribusi transmigrasi terhadap akses peningkatan

ekonomi daerah yang belum signifikan menunjukkan hasil

Perdagangan Belum adanya perencanaan pengembangan

perdagangan

Selain permasalahan pembangunan di atas, isu strategis yang sedang berkembang di Kabupaten Bangka Barat pada saat ini turut mempengaruhi tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan di Kabupaten Bangka Barat. Isu strategis di Kabupaten Bangka Barat juga dipengaruhi oleh isu strategis yang terjadi di lingkup provinsi dan pusat.

II - 92

Keterkaitan isu strategis Kabupaten Bangka Barat dengan provinsi dan pusat dapat dilihat pada dibawah ini.

Tabel 2.44

Isu Strategis Nasional, Provinsi dan Kabupaten

ISU STRATEGIS NASIONAL (RPJMN TAHUN 2014-2019)

ISU STRATEGIS PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG (ARAH KEBIJAKAN TAHUN 2016)

ISU STRATEGIS KABUPATEN BANGKA BARAT

(RKPD TAHUN 2016)

1) Pendidikan dan Kesehatan 2) Penanggulangan Kemiskinan dan Implementasi BPJS 3) Ketahanan Pangan 4) Ketahanan Energi 5) Pengembangan Infrastruktur/ Konektivitas 6) Inovasi Teknologi 7) Pemberantasan Korupsi 1) Bidang Ekonomi

- Tingginya angka inflasi - Pertumbuhan ekonomi &

pemerataan kesejahteraan masyarakat.

- Peningkatan Daya Beli Masyarakat.

- Ketahanan Pangan - Ketahanan Energi

- Kelautan dan Kemaritiman - Peningkatan nilai tambah

produksi

- Pengembangan Industri Wisata

- Pasar global dan Asean –

China Free Trade Area

(ACFTA)

2) Bidang Sosial Budaya - Peningkatan kualitas dan

aksesibilitas pendidikan dan kesehatan

- Penanganan pengangguran, ketenagakerjaan dan kemis - Pencegahan dan Penanganan

Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)

- Pelestarian nilai – nilai dan warisan budaya lokal 3) Bidang Sarana Prasarana dan

LH

- Peningkatan kualitas lingkungan hidup - Cakupan dan Kualitas

Pelayanan Infrastruktur Dasar dan Strategis, Moda Transportasi

- Sanitasi dan Kualitas Air Baku

4) Bidang Pemerintahan dan Otda - Reformasi Birokrasi Berbasis

Profesionalisme

- Kerjasama untuk percepatan Pembangunan Berbasis Multipihak

- Keamanan dan ketertiban daerah;

- Pengelolaan Aset Daerah; - Pembangunan di Wilayah

Antar Perbatasan Kabupaten/Kota

1) Optimalisasi pelaksanaan urusan pemerintahan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar 2) Pemantapan pelaksanaan bpjs kesehatan 3) Penekanan pembangunan yang berwawasan lingkungan 4) Membangun infrastruktur dasar / konektivitas terkait percepatan pertumbuhan ekonomi

5) Regulasi daerah yang mendukung percepatan investasi

6) Penguatan sektor usaha kecil yang kompetitif 7) Pelayanan publik yang

profesional sudah menjadi kewajiban

8) Mempersiapkan tenaga kerja yang berdaya saing 9) Menciptakan hubungan

industrial yang kondusif 10) Terjaminnya ketersediaan

kebutuhan pokok

masyarakat dan penciptaan stabilitas harga

11) Penerapan pelaksanaan good government dan reformasi birokrasi 12) Penerapan pelaksanaan

undang-undang desa 13) Mendorong terciptanya

industri pengolahan serta industri hilir hasil

perkebunan lokal 14) Optimalisasi lahan

pertanian

15) Peningkatan pertumbuhan usaha sektor pariwisata

1

BAB III

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH