BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Permasalahan Persalinan
Masalah pertolongan persalinan di daerah pedesaan sangat memprihatinkan, hal ini semakin diperparah apabila selama masa kehamilan seorang ibu juga tidak pernah melakukan pemeriksaan ke pelayanan kesehatan, kalaupun dilakukan pemeriksaan hanya kepada dukun bayi yang tentunya tidak memiliki kemampuan dan fasilitas yang cukup untuk mengetahui dan mendeteksi secara dini apabila terdapat kelainan atau penyakit yang mengiringi kehamilan tersebut (Aryanti, 2002).
Kurangnya pemeriksaan kehamilan pada daerah pedesaan terkait dengan keterbatasan tingkat ekonomi. Keadaan itu cukup memprihatinkan, mengingat seorang ibu harus memeriksakan kehamilannya minimal empat kali selama kehamilan. Data dari profil kesehatan Indonesia menyebutkan bahwa secara nasional sekitar 93 % ibu hamil memperoleh pelayanan antenatal dari tenaga kesehatan profesional selama masa kehamilan. Terdapat 81,5 % ibu hamil yang melakukan paling sedikit empat kali kunjungan pemeriksaan selama masa kehamilan, namun yang melakukan empat kali kunjungan sesuai jadwal yang dianjurkan baru mencapai 65,5 persen. Meski cakupan ANC cukup tinggi, diperlukan perhatian khusus karena penurunan angka kematiaan ibu masih jauh dari target. Salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan adalah kualitas layanan ANC untuk memastikankan diagnosis dini dan perawatan yang tepat, di samping pendekatan kesehatan ibu hamil yang terpadu dan menyeluruh (Bappenas, 2010).
Dalam keadaan kritis di tangan dukun bayi terlatih barulah si ibu dirujuk ke rumah sakit. Dalam keadaan seperti itu, fasilitas lengkap di rumah sakit tidak menjamin menurunkan kesakitan dan kematian ibu. Sementara itu ibu yang mau
melahirkan membutuhkan operasi seringkali harus menunggu waktu, bahkan terkadang operasi untuk menyelamatkan si ibu tidak bisa dilakukan karena tidak mendapat izin keluarga. Kasus-kasus yang dirujuk banyak yang tidak tertolong karena sangat buruk prognosisnya. Pada kasus persalinan normal, bantuan bidan sudah memadai. Pada persalinan yang tidak normal diperlukan keterampilan lebih tinggi semacam operasi yang harus ditangani dokter kebidanan dan kandungan (Darwizar, 2002).
Pada persalinan dibantu bidan biayanya mencapai Rp 300.000. Sementara imbalan jasa bagi dukun bayi terlatih tidak harus berupa uang tunai. Imbalan bisa dalam bentuk beras, ayam, yang nilainya setara dengan tarif bidan, perbedaan tersebut merupakan alternatif bagi masyarakat yang kurang mampu untuk memanfaatkan jasa pelayanan dukun bayi terlatih untuk menolong persalinan (Aryanti, 2002).
Target kelahiran 100 % ditolong oleh tenaga terlatih masih belum terpenuhi, karena berdasarkan Laporan MDG’s tahun 2010 jumlah persalinan yang ditolong tenaga kesehatan (bidan dan dokter) sebesar 79,2%. Belum tercapainya target pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan disebakan permasalahan yang dihadapi bidan desa, yaitu : jumlah bidan desa saat ini hanya sekitar 20.000 dari 80.000 bidan di Indonesia. Adapun jumlah desa yang tercatat saat ini sekitar 76.613. Kekurangan bidan desa mengurangi kemampuan untuk memperoleh pelayanan kesehatan reproduksi (Aryanti, 2002).
Upaya yang dilakukan untuk menurunkan AKI ini dengan memperkuat fungsi bidan desa, termasuk kemitraan dengan tenaga kesehatan swasta dan dukun
bayi serta memperkuat layanan kesehatan berbasis masyarakat antara lain melalui posyandu dan poskesdes, memperkuat sistem rujukan, untuk mengatasi masalah tiga terlambat dan menyelamatkan nyawa ibu ketika terjadi komplikasi melalui perawatan yang memadai tepat pada waktunya. Meningkatkan ketersediaan tenaga kesehatan, baik jumlah, kualitas dan persebarannya (dokter umum, spesialis, bidan, tenaga paramedis) (Bappenas, 2010).
Tahun 2007 kematian ibu akibat perdarahan diperkirakan 6-16% disebabkan oleh praktek aborsi yang tidak aman. Tidak terpenuhinya kebutuhan akan layanan KB menyebabkan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan sehingga memicu pada tindakan aborsi. Di Indonesia, aborsi termasuk tindakan yang ilegal sehingga para ibu yang hamil di luar rencana memilih menggunakan cara aborsi yang tidak aman (SDKI, 2007).
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 ditemukan angka kematian ibu di Indonesia 228 per 100.000 kelahiran hidup. Dengan kecenderungan seperti ini, pencapaian target Millenium Development Goal
(MDG) ) untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) sebesar 225/100.000
kelahiran hidup akan sulit terwujud kecuali akan dilakukan upaya yang lebih intensif untuk mempercepat laju penurunannya. Ada tiga fase terlambat yang berkaitan erat dengan angka kematian ibu hamil dan bersalin, yaitu: (1) terlambat untuk mengambil keputusan mencari pertolongan ke pelayanan kesehatan terdekat atau merujuk dari pelayanan kesehatan ke pelayanan kesehatan lainnya; (2) terlambat untuk sampai atau tiba di pelayanan kesehatan; (3) terlambat menerima asuhan atau sampai di pelayanan kesehatan (SDKI, 2007).
Tahun 2000 kematian ibu akibat pendarahan mencapai 50% dari seluruh kematian ibu hamil tidak perlu terjadi kalau saja aborsi dilakukan dengan aman. Aborsi adalah tindakan penghentian kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Aborsi bisa terjadi secara tidak disengaja, atau yang disebut dengan keguguran, dan bisa pula dilakukan dengan sengaja. Aborsi sebenarnya bisa dilangsungkan secara aman, yaitu jika dilakukan sebelum janin berumur 12 minggu, oleh dokter yang terlatih, tanpa paksaan, serta melalui tahapan konseling. Usia 12 minggu merupakan awal dimana janin mulai menampakkan bentuk sebagai bayi. Kalau aborsi dilakukan secara tidak aman, yang dilakukan oleh tenaga yang tidak terlatih dan tidak mengikuti prosedur kesehatan (Sumaryoto, 2003).
Faktor usia perkawinan muda menjadi penyebab utama tingginya kematian ibu melahirkan di Jawa Barat. Sebanyak 34,2% perempuan Jawa Barat menikah dibawah usia 15 tahun. Kasus kematian ibu melahirkan itu sangat banyak terjadi di wilayah Jawa Barat. Gerakan Sayang Ibu harus segera digalakkan dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat. Masyarakat harus ikut serta membantu program pemerintah jika ingin angka kematian ibu dapat ditekan, keadaan ini makin diperparah lagi dengan banyaknya suami yang tidak menunggui istrinya ketika melahirkan. Sebanyak 68% kasus kematian ibu melahirkan di Jawa Barat ternyata tidak ditunggui suaminya. Saat ini sedang di upayakan usaha cuti bagi para suami yang istrinya sedang melahirkan karena peran suami sangat besar dalam menjaga kesehatan istrinya itu. Suami 'siaga' atau 'siap antar dan jaga' merupakan upaya yang harus terus dikembangkan (Sentika, 2003).
Berdasarkan Sensus Penduduk 2000, jumlah perempuan dan laki-laki sudah berimbang, tetapi kualitas hidup perempuan dalam berbagai bidang masih tertinggal dibanding laki-laki. Rendahnya peranan perempuan itu meliputi bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, hukum, dan sosial budaya, hal itu disebabkan oleh masih terbatasnya kesempatan, peluang dan akses bagi perempuan untuk berperan serta dalam berbagai bidang pembangunan dan masih rendahnya perempuan memperoleh manfaat dari pembangunan. Padahal, rendahnya kualitas perempuan akan mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia Indonesia secara keseluruhan (Aryanti, 2002).