• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Program Pemerintah Pusat (Dana Alokasi Khusus/DAK)

5.1 Permasalahan dan Solusi

Secara umum seluruh bila dikaitkan dengan sasaran yang diharapkan maka masih terdapat beberapa permasalahan diantaranya :

No Masalah Solusi

Jumlah kenaikan rumah layak huni dan permukiman layak huni masih sangat kecil.

Menambah jumlah rehabilitasi RTLH dan penanganan kawasan kumuh agar dilaksanakan berkelanjutan pada setiap tahun

Rendahnya tingkat partisipasi (swadaya) masyarakat dalam perbaikan rumah tidak layak huni.

Pendampingan dalam upaya pembinaan masyarakat sehingga swadaya masyarakat untuk perbaikan rumah tidak layak huni dan

penanganan kumuh dapat tergali. Keterbatasan dana untuk pengembangan

(mengandalkan pendanaan dari pemerintah/Pemerintah Daerah untuk merehabilitasi rumah tidak layak huni).

Adanya peningkatan anggaran untuk pembangunan/merehabilitasi rumah tidak layak huni dengan mengajukan sumber dari APBD, APBN maupun Swasta

Dokumen / persyaratan administrasi yang tidak lengkap

No Masalah Solusi Adanya perbedaan antara siteplan dengan

data lapangan

Revisi siteplan sesuai yang seharusnya

Pengembang perumahan yang sudah tidak aktif / tidak ada atau tidak mampu/bangkut

Koordinasi dengan asosiasi pengembangan

Luasnya wilayah perumahan sehingga perlu waktu dan tenaga yang memadai

Adanya peningkatan jumlah personil / Sumber Daya Manusia (SDM) dalam rangka pelaksanaan serah terima PSU. Belum adanya aturan atau kebijakan yang

membolehkan Pemerintah Daerah

mengambil alih lahan asset PSU terhadap perumahan yang ditinggal oleh pengembang atau PSU yang kondisinya rusak.

Membuat SOP serahterima PSU dan disosialisasikan

Keterbatasan dana untuk pelaksanaan dan pengembangan lebih lanjut.

Adanya peningkatan anggaran untuk pengembangan dan pelaksanaan kegiatan serah terima PSU dengan mengajukan sumber dari APBD, APBN maupun Swasta

Kurangnya akses masyarakat

berpenghasilan rendah terhadap ruang / lahan / rumah yang layak dan terjangkau (sewa atau milik)

Memfasilitasi pembangunan perumahan swadaya

Keterbatasan dalam menyediaan infrastruktur dasar wilayah

Meningkatkan anggaranpemerintah daerah dalam infrastruktur dasar wilayah

Kurangnya partisipasi dan pemahaman masyarakat

Melibatkan masyarakat melalui proses partisipatif mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga proses

pengawasan.

Masih minim penanganan kawasan kumuh Menangani permukiman kumuh yang komprehensif dan terpadu dengan rencana kota.

Jumlah kenaikan infrastruktur pedesaan masih sangat kecil.

Menambah jumlah wilayah

No Masalah Solusi Rendahnya tingkat partisipasi (swadaya)

masyarakat dalam pembangunan infrastruktur pedesaan.

Melakukan pendampingan dan pembinaan kepada masyarakat sehingga dapat menggali partisipasi masyarakat dalam mendukung

pembangunan infrastruktur pedesaan Keterbatasan dana untuk pengembangan

(mengandalkan pendanaan dari pemerintah pusat / pemerintah daerah untuk

pembangunan infrastruktur pedesaan)

Adanya penambahan anggaran dalam pembangunan infrastruktur pedesaan baik dari APBD maupun APBN.

Jumlah pendataan dokumen masih terbatas di 13 desa

Masih adanya desa/kecamatan yang belum menpunyai perencanaan CAP RPP

Belum adanya implementasi dari hasil dokumen

Keterbatasan anggaran dalam

implementasikan hasil kajian CAP RPP Belum tersusunnya RDTRK dan pengaturan

zonasi yang merujuk pada peta zonasi (Zoning Map) khusus kawasan strategis

Penyusunan RDTRK untuk Kawasan – Kawasan Strategis di wilayah Kab. Bandung

Belum lengkapnya penyusunan perencanaan dan standarisasi pengembangan kawasan – kawasan strategis

Penyusunan lebih lanjut perencanaan dan standarisasi pengembangan kawasan – kawasan strategis

Masih banyak pemukiman penduduk yang belum terjangkau jaringan perpipaan air bersih karena wilayah pelayanan sangat luas, tersebar dan berbukit-bukit

Dilakukan pemilahan pada sistem penyediaan air bersih yang akan digunakan, diantaranya dengan system perpipaan secara gravitasi atau

pemompaan ataupun dibangun sumur dalam atau sumur dangkal

Terbatasnya sumber air baku yang layak kualitas dan kuantitas

Dilakukan pengambilan mata air dari desa lain dan untuk desa yang tidak memiliki mata air dibangun sumur dalam atau sumur dangkal

Belum optimalnya pemanfaatan dari jaringan yang telah terbangun oleh para pengelola air bersih desa

Mengoptimalkan pemanfaatan sumber air baku potensial bagi masyarakat pedesaan yang memiliki keinginan untuk mengelola dengan baik

No Masalah Solusi Terbatasnya dana investasi untuk

pengembangan SPAM, dimana saat ini sebagian besar masih mengandalkan dana APBD

Adanya peningkatan anggaran untuk pembangunan sarana air bersih baik yang bersumber dari APBD, APBN maupun swasta

Masih minimnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan air bersih pedesaan

Perlunya sosialisasi dan pembinaan kepada pengelola dan masyarakat untuk meningkatkan partisipasi dalam pengelolaan air bersih pedesaan Tidak adanya payung hukum/legalitas

pengelola air bersih di tingkat kabupaten untuk penentuan tarif

Perlu adanya payung hukum/legalitas terkait pengelolaan air bersih pedesaan

Belum adanya mekanisme pelaporan perkembangan pengelolaan air bersih pedesaan

Perlu adanya pembaharuan data base setiap tahunnya terkait pengelolaan air bersih pedesaan

Kemampuan pengelola masih sangat rendah Penambahan jumlah personil untuk pendampingan

Pelaporan dan pengarsipan belum ada yang baku

Optimalisasi peran asosiasi

Pelaksanaan Peraturan daerah dan Peraturan Bupati mengenai pengelolaan limbah yang masih belum efektif, sehingga belum optimalnya sosialisasi dan peningkatan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan air limbah domestik

Perlu dilakukannya secara terus menerus sosialisasi Peraturan Daerah dan

Peraturan Bupati mengenai pengelolaan air limbah domestik kepada masyarakat dan penegakan hukumnya

Aspek kelembagaan, peleburan Dinas Kebersihan menjadi salah satu bidang di bawah Dinas Perumahan, Penataan Ruang dan Kebersihan mengakibatkan adanya perubahan (penyempitan) tupoksi, wewenang serta beban kerja pengelolaan air limbah dan persampahan. Sedangkan untuk sektor drainase permukiman, saat ini belum ada kejelasan menganai OPD dengan tupoksi khusus pengelolaan drainase permukiman.

Perlu dibentuknya lembaga khusus pengelola air limbah domestik

(Pembentukan UPTD Air Limbah) dan pemberdayaan komunitas perumahan untuk pengelolaan sanitasi

No Masalah Solusi Dalam sektor layanan pengelolaan, kurangnya

ketersediaan infrastuktur pendukung pengelolaan sanitasi mengakibatkan masih rendahnya cakupan air limbah domestik

Revisi dan evaluasi tupoksi di aspek kelembagaan

Dalam sektor partisipasi masyarakat, kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sanitasi berkelanjutan cenderung masih rendah

Meningkatkan pembangunan sarana sanitasi bagi masyarakat dengan teknologi yang tepat guna

Dalam sektor partisipasi sektor swasta, saat ini belum ada kerjasama secara khusus antara pemerintah daerah dengan dunia usaha dalam hal pengelolaan sanitasi

Mendorong pembiayaan alternatif pengelolaan sanitasi melalui Program percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP)

Dalam rangka penanganan aset milik Pemkab Bandung khususnya aset tanah sebagai dokumen yang sah wajib memiliki sertifikat yang diterbitkan dari Kantor BPN. Berdasarkan data yang telah dimiliki oleh Bagian

Pengelolaan Aset, tanah milik Pemkab Bandung yang belum disertifikatkan cukup banyak. Permasalahan yang dihadapi bagian Pengelolaan Aset yaitu masih kesulitan dalam pemenuhan persyaratan yang diminta BPN sebagai syarat dapat diterbitkannya sertifikat. Penerbitan sertifikat belum dilakukan

terkendala dengan tidak adanya asal-usul data kepemilikan serta konferatif Kantor

Pertanahan/BPN Kabupaten Bandung.

Bagian Pengelolaan Aset pada tahun 2017 (Bidang Aset Badan Keuangan Daerah) akan melanjutkan kegiatan melengkapi persyaratan administrasi bagi aset tanah yang belum selesai di tahun 2016 dengan cara menelusuri kronologis asal usul kepemilikan tanah dan juga akan melakukan koordinasi baik dengan pejabat setempat pada tanah yang mempengaruhi asal -usulnya maupun kantor BPN dan meminta kemudahan dalam persyaratan khususnya bagi tanah yang sudah lama dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten Bandung

Kurangnya pemahaman terkait dengan hukum pertanahan sehingga realisasi fasilitasi

penetapan lokasi tahun berkenaan belum mencapai target yang sesuai dengan yang diharapkan

Melakukan bimtek terkait hukum

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait