• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Permasalahan Ternak Kerbau

Permasalahan yang dihadapi terkait ternak kerbau ialah pembibitan kerbau hanya dilakukan dalam skala kecil. Hal tersebut menyebabkan perhatian masyarakat, ilmuan dan pemerintah terhadap ternak kerbau tidak sebesar terhadap sapi. Bahkan salah satu dari 21 program utama Departemen Pertanian terkait dengan upaya mewujudkan ketahanan pangan hewani asal ternak berbasis

sumberdaya domestik ialah Program Swasembada Daging Sapi Tahun 2014 (PSDS-2014) (DITJENNAK 2010). Hal ini bisa menjadi ancaman bagi ternak kerbau. Penelitian dan upaya pembibitan akan terkonsentrasi ke sapi. Padahal kerbau memeliki prospek sebagai pangan sumber protein hewani.

Aspek penelitian mengenai kesehatan sebagai bagian dari promosi peningkatan populasi kerbau masih jarang dilakukan. Menurut APCHA (2000), tiga pilar penting dalam peningkatan populasi kerbau ialah reproduksi, manajemen dan pakan, dan kontrol penyakit. Oleh karena itu penelitian terkait penyakit juga perlu dilakukan.

2.6 Protozoa

Parasit didefinisikan sebagai organisme yang memanfaatkan nutrisi dari individu lain, secara normal parasit menimbulkan kerusakan bagi tubuh induk semangnya (Ballweber 2001). Namun, parasit tidak akan menyebabkan kematian segera dari induk semangnya. Sejumlah parasit yang menyerang induk semang menyebabkan induk semang tersebut terinfeksi dan menjadi sumber penyebaran parasit. Jumlah tertentu pada parasit akan menyebabkan terjadinya penyakit (Begon et al.2006).

Parasit intraseluler darah disebut juga blood borne disease. Selain berperantara darah, parasit ini berperantara serangga. Peranan serangga seperti caplak dan lalat ialah mentransmisikan parasit ini dari satu induk semang yang terinfeksi ke induk semang lain yang bebas. Oleh karena itu penyakit yang disebabkan oleh parasit intraseluler darah ini juga tergolong sebagai arthropode borne disease.

Subfilum Apicomplexa (Sporozoa) merupakan parasit obligat intraseluler yang menyebabkan penyakit dengan cara menghancurkan sel inang. Kelompok Apicomplexa yang memiliki kepentingan tinggi dalam dunia kesehatan hewan ialah Coccidians dan Hemosporidian (Amstrong et al. 2001). Kelompok Coccidians berkembang di sel epitel usus yang menyebabkan coccidiosis enteritis. Kelompok Hemosporidian berkembang di intraseluler darah dan menyebabkan anemia hemolitik.

2.6.1 Babesia

Filum :Sporozoa (Apicomplexa) Kelas : Sporozoea Subkelas : Coccidia Superordo : Eucoccidea Ordo : Haemosporidia Subordo : Aconoidina Family : Piroplasmidae Genus : Babesia

Babesia spp merupakan parasit apicomplexa yang hidup di intraseluler darah. Agen ini berbentuk apple-seedlike, seperti biji apel (Gambar 2). Agen ini menjadi parasit pada berbagai macam hewan domestik. Hewan yang umumnya terserang ialah ruminansia besar, ruminansia kecil, anjing dan satwa liar. Inang antaranya ialah caplak keras yang tergolong pada famili Ixodidae seperti Rhipicephalus microplus, R. annulataus, R. decoloratus. R. geigyi dan R. evertsi (Bock et al. 2004, Uilenberg 2006). Babesia dapat bertransmisi dari satu generasi caplak ke generasi lainnya, sehingga caplak dari stadium larva, nimfa dan dewasa berpotensi sebagai inang antara.

Babesia melakukan reproduksi secara aseksual dan seksual (Gambar 3). Reproduksi aseksual dilakukan di dalam tubuh induk semangnya di dalam sel darah merah. Sporozoit (fase infektif ke induk semang vertebrata) masuk melalui saliva caplak yang menggigit hewan vertebrata. Sporozoit akan masuk ke dalam sel darah merah melalui penetrasi mekanis. Di dalam sel darah merah sporozoit akan menjadi trophozoit yang mengalami pembelahan biner menjadi dua atau empat individu merozoit. Pembelahan aseksual tersebut menyebabkan desakan mekanis sehingga terjadi ruptur sel darah merah. Merozoit yang keluar bersama dengan rupturnya sel darah merah akan mencari sel darah merah baru dan mempenetrasinya (Homer et al. 2000). Sebagian merozoit mengalami perubahan menjadi fase gametosit. Fase inilah yang akan berperan dalam reproduksi seksual.

Gambar 2 Infeksi Babesiabovis dalam sel darah merah sapi (Kaufmann 1996)

Gambar 3 Siklus Hidup Babesia (Bock et al. 2004).

Reproduksi seksual akan terjadi pada tubuh caplak Ixoididae (Gambar 3). Caplak yang menghisap darah hewan vertebrata yang terinfeksi dengan Babesia, secara tidak sengaja akan menghisap pula sel darah merah yang mengandung fase gametosit. Fase gametosit ini akan menghasilkan mikrogamet dan makrogamet yang akan berfusi menjadi zigot. Fusi mikrogamet dan makrogamet menjadi zigot inilah yang disebut dengan fase seksual (Uilenberg 2006). Beberapa penulis menyebut mikrogamet dan makrogamet sebagai Ray Bodies (Hommer et al. 2000). Namun keduanya memiliki arti yang sama. Zigot selanjutnya berkembang menjadi ookinet atau pada beberapa buku disebut sebagai vermiculus (Uilenberg 2006).

Ookinet akan masuk ke dalam epitel usus dan beberapa organ untuk mencapai hemolimfe. Ookinet pada Babesia berukuran besar seperti B. divergens dan B. canis memiliki kemampuan untuk bereplikasi. Ookinet juga mampu masuk ke dalam ovarium pada caplak betina. Hal ini menyebabkan larva yang dihasilkan akan positif terinfeksi ookinet Babesia. Transmisi infeksi ini disebut dengan transmisi transovarial. Ketika larva berkembang menjadi nymfa atau dewasa, secara otomatis di setiap stadium tersebut caplak mengalami infeksi Babesia. Transmisi infeksi ini yang disebut sebagai transmisi transtadial (Homer et al. 2000).

Ookinet mengalami fase sporogoni ketika masuk ke kelenjar saliva dari caplak atau larva atau nymfa. Parasit akan mengekspansi sel, menyebabkan hipertrofi sel kelenjar saliva dan mengalami perkembangan menjadi sel multinukleat sporoblast. Satu sporoblast yang matang akan menjadi 5 000 sampai dengan 10 000 sporozoit. Sporozoit inilah yang akan masuk ke dalam tubuh hewan vertebrata bersamaan dengan gigitan caplak.

Spesies yang menyerang ruminansia besar seperti sapi dan kerbau yang pernah dilaporkan di anataranya Babesia bigemina, Babesia bovis dan Babesia divergens. Di China juga dilaporkan spesies Babesia orientalis menyerang populasi kerbau air. Babesia ovis, Babesia motasi, dan Babesia crassa dilaporkan pula menyerang ruminansia kecil seperti domba dan kambing. Spesies lain yang dilaporkan di antaranya Babesia canis (pada anjing), Babesia trautmanni, Babesia perroncitoi (pada babi), Babesia felis (kucing), Babesia equi (kuda) (Uilenberg 2006). Spesies yang menyerang hewan liar juga telah berhasil diindetifikasi secara genetik dan merupakan spesies tersendiri di antaranya Babesia leo, Babesia panthera, Babesia cattus, Babesia civettae dan masih banyak beberapa jenis lainnya. Beberapa spesies yang menyerang hewan domestik juga dilaporkan mampu menyerang hewan liar (Penzhorn 2006).

Babesia menjadi terkenal ketika Babesia bigemina menyerang sapi dan menyebabkan piroplasmosis (Texas fever), suatu penyakit yang dicirikan dengan fase akut yang menimbulkan deman hingga 42oC, hemoglobinuria, anemia, ikterus dan splenomegali (Kaufmann 1996). Infeksi Babesia ini menunjukkan manifestasi klinis yang mampu memicu terjadinya kematian ternak. Patogenesis

serangan akut secara umum ialah terjadinya destruksi sel darah merah yang menyebabkan anemia hemolitik, PCV turun hingga 20%, hemoglobinuria, hemoglobinuria, ikterus, splenomegali, hingga kematian dalam beberapa hari (Urquhart et al. 2003).

Gejala klinis infeksi ini sudah jarang ditemukan pada kasus babesiosis. Kini babesiosis yang menyerang hewan sifatnya lebih subklinis, kronis bahkan beberapa menyebutkan sebagai endemically stable. Hampir seluruh individu terserang dalam tingkat parasitemia yang rendah dan minim sekali gejala klinis (Uilenberg 2006). Bahkan ada indikasi bahwa kekebalan pasif ke anak sudah mulai terbentuk. Hal yang pasti ialah Babesia masih menyerang hewan domestik maupun liar, dan memiliki potensi sebagai parasit yang merugikan kesehatan ternak dalam segi produktifitas dan performa.

2.6.2 Theileria

Filum : Sporozoa (Apicomplexa) Kelas : Sporozoea Subkelas : Coccidia Superordo : Eucoccidea Ordo : Haemosporidia Subordo : Aconoidina Famili : Piroplasmidae Genus : Theileria

Genus Theleria merupakan penyebab penyakit Theleriosis. Kasus yang terkenal ialah East Coast fever di Afrika Timur dan Afrika Tengah. Penyakit tersebut menyerang sapi-sapi di Afrika dan menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi (Kaufmann 1996). Salah satu siklus hidup protozoa ini berada dalam sel darah merah dan limfosit (Gambar 4). Penyebarannya dilakukan dengan perantara inang antara Riphicephalus, Haemaphysalis, Amblyomma dan Hyalomma, anggota keluarga Ixodidae (Urquhart et al. 2003).

Siklus hidupnya hampir mirip dengan Babesia yaitu mengalami fase seksual dan aseksual. Sporozoit ditransmisikan dari saliva famili Ixodidae yang menggigit hewan. Namun, tidak seperti pada sporozoit Babesia yang menyerang sel darah merah, pada Theleria sporozoit menyerang limfosit dan berkembang menjadi

Gambar 4 Limfoblast sapi yang mengandung intrasitoplasmik Theileria

makroschizont. Di dalam limfosit makroschizont mengalami proses pembelahan menjadi mikromerozoit yang kemudian dilepaskan dari limfosit. Mikromerozoit inilah yang masuk ke dalam sel darah merah dan akan berperan dalam perkembangan seksual di tubuh caplak seperti perkembangan Babesia (Souslby 1982).

Perkembangan seksual terjadi dalam usus caplak (Gambar 5). Mikromerozoit di dalam usus caplak berdiferensiasi menjadi gamet jantan dan gamet betina yang berfusi menjadi zigot. Zigot akan masuk ke dalam epitel usus menjadi kinete. Kinete masuk ke dalam sel kelenjar saliva dan mengalami perubahan menjadi sporoblast. Satu sporoblast ini akan menghasilkan 30 000 sampai dengan 50 000 sporozoit yang siap menginfeksi mamalia domestik melalui gigitan caplak yang terinfeksi (Urquhart et al. 2003).

Gambar 5 Siklus Hidup Theileria (Kaufmman 1996)

Kinete dari Theleria tidak ditransmisikan ke ovarium caplak dewasa. Oleh karena itu transmisi yang terjadi di tubuh caplak hanya transmisi transtadial. Perbedaan dengan Babesia juga terletak pada tipe infeksinya di sel darah merah. Perbedaan siklus hidup ini menyebabkan patogenesisnya berbeda dengan Babesia. Satu minggu setelah infeksi limfosit akan diproduksi oleh sel limfosit baru. Oleh karena itu kerja kelenjar pertahanan menjadi berat dan terjadi pembengkakan kelenjar pertahanan. Namun, sporozoit yang termakan oleh limfosit harus mengalami pembelahan aseksual. Materi organik dan genetik dari limfosit dimanfaatkan oleh sporozoit . Oleh karena itu terjadi lymfolisis besar-besaran.

Selain itu limfosit yang terinfeksi ini dianggap sebagai benda asing oleh makrofag maka dilakukan mekanisme penghancuran sel. Hal ini terjadi tiga minggu paska infeksi. Produksi sel darah putih juga menurun maka terjadi leukopeni. Efek yang terjadi lebih ke arah imunosupresi. Jarang dilaporkan terjadi anemia hemolitik pada kasus Theileriosis, sebab di sel darah merah Theileria tidak mengalami pembelahan, Theileria akan hidup beberapa waktu hingga sel darah merah mengalami kerusakan dan pergantian sel yang baru atau memang terbawa oleh caplak untuk perkembangan seksual (Kaufmann 1996).

Theileria buffelli, Theileria bicornis merupakan spesies yang dilaporkan menginfeksi kerbau Afrika. Berdasarkan penelitian di kawasan Nyala Afrika Selatan, keduanya menginfeksi 80% lebih populasi di kawasan tersebut. Namun infeksi ini tidak menunjukkan adanya tanda klinis yang signifikan (Pfitzer et al. 2011). Walaupun demikian, dua spesies tersebut tergolong patogen bagi domba di kawasan Asia Timur. Theleria parva merupakan spesies yang patogen bagi sapi domestik. Namun, di Uganda Afrika dilaporkan bahwa Theleria parva menyerang Cape Buffalo (Syncerus caffer) tanpa menunjukkan gejala klinis. Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa kerbau yang terinfeksi Theleria parva secara subklinis bisa menjadi sumber infeksi bagi sapi domestik (Oura et al. 2011). Hal ini menunjukkan bahwa kasus Piroplasmosis kini tidak selamanya menyebabkan gejala klinis hingga kematian. Patogenitasnya bergantung terhadap spesies, umur, imunitas, kondisi stress hewan, dan virulensi agen tersebut (Uilenberg 2006).

2.7 Rickettssiales

Berdasarkan klasifikasi Gieszczkiewicz (1939) dalam Soulsby (1982) ordo Ricketsialles dulu tergolong dalam Protozoa, filum Chiliophora. Sejak tahun 1957, Anaplasma diklasifikasikan dalam dalam filum Proteobacteria, ordo Ricketsiales (Rajput et al. 2005, Rymaszewska & Grenda 2008). Filum Proteobacteria didominasi oleh bakteri Gram negatif. Klasifikasi filum ini berdasarkan homologi dari jumlah sekuens nukleotida dari 16S ribosomal RNA atau berdasarkan hibridisasi dari ribosomal RNA atau DNA dengan 16S dan 23S ribosomal RNA (Bowman 2011).

Organisme dalam ordo Rickettsiales memiliki ukuran 0.3 - 0.5 pm, non motil, pleomorfik, didominasi bakteri Gram negatif dan bereplikasi di dalam sel induk semang (intraseluler obligat) (Quinn et al. 2008). Ordo Rickettsiales umumnya berperantara vektor serangga dalam transmisinya. Selain itu, tropisme agen ini berdasarkan induk semang, jenis sel dan penyebaran wilayah geografis.

Rickettsiales terdiri atas dua famili yaitu Rickettsiacea dan Anaplasmataceae (Quinn & Markey 2003). Famili Rickettsiaceae dikenal sebagai rickettsiae, targetnya di makrofag, leukosit dan sel endotelial. Dinding sel famili Ricketsiaceae mengandung peptidoglikan (Quinn et al. 2008). Anggota famili ini juga mampu dikultur pada sel spesifik atau pada telur fertil. Karekteristik famili Anaplasmataceae berbeda dengan Ricketsiaceae. Anaplasmataceae tidak memiliki dinding sel tetapi memiliki membran sel. Selama ini Anaplasmataceae belum pernah dilaporkan berhasil dikultur secara in vitro. Sel target utama famili ini adalah eritrosit (Quinn et al. 2008).

Genus yang merupakan anggota famili Ricketsiaceae adalah Cowdiria, Ricketsia, Neorickettsia, Elichia, dan Coxiella (Quinn & Markey 2003). Coxiella burnetti merupakan agen patogen penyebab Q fever pada manusia dan sporadik aborsi pada ruminansia. Ehrlichia rumeminantium menyerang ruminansia dan menyebabkan penyakit yang dikenal sebagai hearthwater. Neorickettsia ristiicii dikenal menyebabkan potomac horse fever, sedangkan Rickettsia rickettsii menyerang manusia dan anjing serta menyebabkan Rocky Mountain spotted fever (Quinn et al. 2008).

Anggota Anaplasmatacea di antaranya Aegyptianella, Anaplasma, Eperythozoon, dan Haemobartonella. Serupa dengan famili Ricketsiae, peranan Anaplasmataceae dalam menyebabkan penyakit pada hewan cukup besar. Aegyptianella pullorum memiliki kepentingan dalam penyakit Aegyptianellosis pada unggas. Anaplasma marginale, A. ovis, A. phagocytophila, A. bovis, A. platys juga menyebabkan Anaplasmosis pada hewan domestik, liar bahkan manusia. Eperythozoon menyebabkan Eperythrozoonosis dan Haemobartonella menyebabkan Haemobartonellosis.

Hampir semua anggota dari Rickettsiaceae sangat bergantung terhadap vektor serangga dalam transmisi. Oleh karena itu penyakit-penyakit akibat agen

Rickettsiae disebut sebagai arthropode borne disease. Mikroorganisme ini hidupnya mayoritas di dalam sel hidup induk semang, sehingga disebut Rickettsiaceae tergolong sebagai mikroorganisme intraseluler obligat (Bowman 2011).

2.7.1 Anaplasma

Anaplasma merupakan kelompok bakteri yang menyerang sel darah hewan domestik. Sel darah yang diserang beragam, yaitu eritrosit, monosit, sel granulosit dan trombosit (Foley & Bieberstein 2004). Berdasarkan klasifikasi Gieszczkiewicz (1939) dalam Souslby (1982) Anaplasma masih tergolong dalam protozoa, filum Chiliophora, ordo Ricketsiales famili Ricketsiaceae. Namun, berdasarkan taksonomi terbaru yang terdaftar dalam Genbank, Anaplasma kini merupakan anggota dari filum Proteobakteria, kelas Alphaproteobacteria, ordo Rickettsiales, dan famili Anaplasmataceae (Rymaszewska & Grenda 2008).

Anaplasma merupakan parasit obligat intraseluler, bakteri Gram- negatif dan hidup di dalam sel darah mamalia (Rymaszewska & Grenda 2008). Induk semangnya ialah sapi, kerbau, kambing, domba, anjing, kuda bahkan manusia. Sedangkan yang berperan sebagai inang antara dalam penyebaran bakteri ini ialah caplak dari famili Ixodidae dan Amblyommidae. Tabel 1 akan menjelaskan mengenai jenis Anaplasma.

Tabel 1 Jenis Anaplasma yang ada di dunia

Agen Penyebab Penyakit Inang antara Induk semang

Sel yang diinfeksi

Anaplasma bovis Bovine anaplasmosis

Haemaphysalis sp Rhipichepalus sp Amblyoma sp

Ruminansia domestik,

ruminansia kecil Monosit

Anplasma ovis Ovine anaplasmosis Dermatocentor sp Ruminansia kecil Eritrosit

Anaplasma

marginale Bovine anaplasmosis

Ixodes sp Dermatocentor sp Boophilus microplus Tabanus bovis (Hornok et al. 2008)

Ruminansia domestik Eritrosit

Anaplasma centrale Bovine anaplasmosis Ixodes sp

Dermatocentor sp Ruminansia domestik Eritrosit Anaplasma phagotophilum Granulotic anaplasmosis Ixodes sp Dermatocentor sp Ruminansia kecil, ruminansia domestik, ruminansia liar, anjing, kuda, manusia

Granulosit

Canine cyclic

thrombocytopenia

Riphicepalus

sanguensis Anjing Platelet Sumber: Rymaszewska & Grenda 2008 dengan beberapa penambahan

Seluruh stadium perkembangan caplak memiliki potensi untuk menyebarkan agen Anaplasma. Infeksi pada induk semang terjadi akibat gigitan caplak yang sebelumnya telah menggigit induk semang yang positif Anaplasmosis. Penyebaran akan cepat terjadi pada suatu kawasan yang menejemennya mencampurkan hewan yang positif anaplasmosis dan memiliki infestasi caplak bersamaan dengan hewan sehat lainnya. Anaplasmosis juga diaporkan mampu menyebar melalui kontaminasi silang peralatan pada prosedur dehorning, kastrasi, vasksinasi dan koleksi sampel darah (Kocan et al. 2010).

Theileria, Babesia dan Anaplasma merupakan parasit intraseluler darah yang berperantara caplak. Hal yang membedakan Anaplasma dengan Theileria dan Babesia ialah transmisi juga bisa disebabkan oleh gigitan lalat. Lalat penghisap darah dari famili Tabanidae dilaporkan mampu menjadi inang antara mekanik dari Anaplasma marginale di kawasan Eropa tengah- timur (Hornok et al. 2008).

Infeksi pada mamalia terdiri atas empat stadium yaitu inkubasi, perkembangan, penyembuhan dan karier. Stadium inkubasi berlangsung pada saat awal infeksi ketika Anaplasma menyerang sel darah hingga 1% dari sel darah terinfeksi (Kocan et al. 2010). Lamanya stadium inkubasi bergantung atas jenis Anaplasma yang menyerang dan jumlah Anaplasma. Pada stadium ini hewan tidak menunjukkan gejala klinis. Tanda patologi klinik yang tampak ialah PCV konstan, dan terjadi produksi sel darah merah bersamaan dengan lisisnya sel darah merah akibat perkembangbiakan Anaplasma (Kocan et al. 2010).

Stadium perkembangan akan menunjukkan gejala klinis pada hewan mamalia yang terinfeksi. Temuan patologi klinis yang muncul yaitu menurunnya jumlah sel darah merah, PCV dan hemoglobin serta meningkatnya level parasitemia dan jumlah sel darah merah yang rusak. Ketika anemia semakin parah, hewan bisa mengalami gejala klinis berupa ikterus, kehilangan berat badan, dehidrasi konstipasi dan peningkatan aktifitas respirasi. Infeksi akut ini juga bisa menimbulkan aktifitas yang agresif, aborsi pada hewan bunting hingga kematian akibat hipoksia. Stadium perkembangan dan inkubassi merupakan stadium yang tepat untuk terapi obat dan penyembuhan.

Hewan yang berhasil melewati stadium inkubasi dan perkembangan akan mengalami stadium penyembuhan. paremeter patologi klinis yang tampak yaitu kembalinya nilai parameter darah PCV, jumlah sel darah merah, hemoglobin ke rentang nilai normal. Hewan yang sembuh ini umumnya akan menjadi karier dan bertindak sebagai sumber Anaplasmosis bagi hewan sehat lainnya seumur hidup (Foley & Bieberstein 2004).

2.8 Dampak Infeksi Babesia, Theileria, Anaplasma

Perhitungan kerugian ekonomi setidaknya pernah dilaporkan di Tanzania terkait tick borne disease tiap tahunnya mencapai 364 juta dolar Amerika, termasuk 1.3 juta sapi yang mati. Dari kerugian tersebut setidaknya 68% kerugian disebabkan oleh theileriosis, 13% disebabkan oleh anaplasmosis dan babesiosis dan sisanya oleh penyakit lain (Kivaria 2006). Perhitungan serupa belum pernah dilakukan di Indonesia, kerugian umumnya dikaitkan dengan gejala klinis dan kematian (Uilenberg 2006, Osman & AL- Gaabary 2007, Kocan et al. 2010). Hewan dengan infeksi rendah dan peresisten akan mengalami penurunan nafsu makan yang berdampak pada penurunan produktifitas. Penurunan produktifitas ditandai dengan penurunan berat badan dan performa kerja.

2.9 Penanganan infeksi Babesia, Theileria, Anaplasma

Pengobatan menggunakan sediaan antiprotozoa biasanya dilakukan pada hewan yang menunjukkan gejala klinis akibat infeksi ketiga agen ini. Pengobatan yang tersedia di antaranya tetracycline atau oxytetracycline untuk infeksi Anaplasma dan Theileria (Kaufmann 1996, Akhter et al. 2010). Selain itu infeksi Anaplasma bisa ditangani dengan sediaan parvaquone, cocsidiostat halofuginone (Kaufmann 1996, Akhter et al. 2010). Infeksi Babesia bisa ditangani dengan Diminazene aceturate dan Imidocarb dipropionate (Kaufmann 1996, Akhter et al. 2010). Hewan sembuh dari pengobatan, hewan tidak akan sepenuhnya terbebas dari infeksi. Hewan yang sembuh akan menjadi karier bagi hewan lain .

Pada infeksi yang ringan umumnya penyakit ini bisa sembuh dengan sendirinya. Pengendalian ektoparasit yang merupakan vektor adalah salah satu penanganan infeksi yang tepat (Gubler 1998). Pengendalian ektoparasit lebih

mudah dilakukan di Indonesia, melihat ketersediaan insektisida di pasaran dan sistem berternak bisa dimodifikasi. Himawan (2009) memberikan contoh menejemen yang bisa dimodifikasi contohnya mengubah kebiasaan merumput di pagi hari, dimana larva caplak aktif di rerumputan pagi hari, memandikan kerbau maupun membiasakan kerbau berkubang.

BAB III

BAHAN DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai dengan Juli 2011 di Unit Rehabilitasi dan Reproduksi dan Laboratorium Protozoologi, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.

3.2 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan ialah spuit, jarum sekali pakai ukuran 21-G, gelas objek, mikroskop cahaya, dan kamera digital. Hewan pada percobaan ini ialah 4 ekor kerbau lumpur betina dari kawasan Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Bahan yang digunakan meliputi, minyak imersi, methanol, pewarna Giemsa 10% dan akuades.

3.3 Pengambilan Darah

Pengambilan sampel darah dilakukan dua kali dalam 1 minggu,selama 2 bulan, pada pagi hari pukul 07.00 di kandang URR FKH IPB Darah diambil dari vena jugularis dengan menggunakan spuit berukuran 5 ml dan jarum berukuran 21-G.

3.4 Pembuatan Ulas Darah

Ulas darah tipis disiapkan segera setelah darah diambil dari vena jugularis. Satu tetes darah diletakan di gelas objek, di bagian tepi, kemudian dengan perlahan ujung gelas objek satunya ditempelkan di atas darah tersebut. Darah akan menyebar di antara sudut gelas objek 1 dan 2. Gelas objek 2 selanjutnya didorong dengan membentuk sudut 45o untuk membentuk ulas darah yang tipis. Ulas darah yang telah terbuat dikeringkan selama 1 menit. Setelah kering, ulas darah difiksasi dengan metanol selama 3-5 menit kemudian dikeringkan. Pewarnaan selanjutnya dilakukan dengan cara merendam objek gelas yang berisi ulas darah tersebut dengan Giemsa 10% selama 30 menit. Objek gelas yang telah diwarnai dicuci dengan aquades dan dikeringkan (Mahmmod et al. 2011).

3.5 Pemeriksaan Mikroskopis

Pemeriksaan mikroskopis menggunakan perbesaran lensa 1000X dan dibantu dengan minyak imersi. Jumlah parasit intraseluler darah dihitung untuk setiap 500 butir sel darah merah (Alamzan et al. 2008). Persen parasitemia dihitung dengan rumus

3.6 Analisis Data

Presentase parasitemia untuk setiap agen infeksi yang didapat dianalisis dengan ANOVA dan Duncan menggunakan program SAS/STAT 9.1.3 untuk mengetahui perbedaan infeksi setiap minggunya. Selanjutnya data tersebut dianalisis dan dideskripsikan untuk mengetahui keparahan dan stadium infeksi parasit.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Identifikasi berdasarkan morfologi 4.1.1 Babesia

Parasit darah Babesia ditemukan pada preparat ulas darah (Gambar 6). Parasit ini terletak di intra sel darah merah dan memiliki bentuk yang menyerupai buah pear. Morfologi parasit ini sesuai dengan yang digambarkan dalam literatur yaitu berbentuk seperti buah pear atau biji buah apel, berukuran 1-5 µ m (Homer et al. 2000). Parasit ini bisa ditemukan dalam bentuk sepasang buah pear maupun buah pear tunggal.

Gambar 6 Gambaran mikroskopis Babesia (kiri) hasil penelitian, (kanan) referensi (Kaufmann 1996) dengan perwarnaan Giemsa, perbesaran 1000X.

Pemeriksaan agen ini tidak dapat menunjukkan jenis Babesia yang menyerang kerbau. Namun beberapa jenis Babesia yang dilaporkan mampu menyerang kerbau di antaranya B. bovis, B. bigemina (Singla et al. 2002) dan B. orientalis (He et al. 2011). B. bovis dan B. bigemina dilaporkan secara molekular dan serologis ditemukan pada kerbau air di Thailand (Singla et al. 2002, Terkawi et al. 2011). Di China juga dilaporkan ditemukan agen tersebut dengan spesies B. orientalis (He et al. 2011).

4.1.2Theileria

Theileria ditemukan pada stadium merozoit di dalam sel darah merah.

Dokumen terkait