• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kondisi Lokasi Penelitian Lapangan

4.1.3 Permasalahan usaha budidaya rumput laut d

Belum tertatanya penggunaan lahan oleh masyarakat, dimana masih terjadi tumpang tindih penggunaan lahan antara pembudidaya, nelayan penangkap dan pengguna jasa transportasi laut. Hal ini sering memunculkan permasalahan seperti kerusakan fasilitas sarana budidaya oleh pengguna jasa transportasi laut (katintin dan speed boat). Selain itu akibat belum adanya penataan kawasan sesuai peruntukannya, sering penangkap ikan melakukan penangkapan pada lokasi

budidaya rumput laut bahkan kadang dengan meggunakan bom dan potasium, akibatnya rumput laut disekitarnya menjadi rusak.

(b) Aspek teknis, panen dan pascapanen

Penguasaan terhadap teknologi budidaya oleh pembudidaya masih terbatas hanya pada metode budidaya sedangkan aspek lain seperti pemeliharaan dan teknik budidaya yaitu pemakaian bibit dan waktu panen yang belum efektif, penggunaan bibit yang sangat heterogen baik itu berat bibit maupun bagian thalus, sedangkan pemanenan dalam waktu yang sama. Semuanya ini belum dipandang sebagai bagian yang penting dari teknologi budidaya rumput laut. Permasalahan yang muncul adalah rendahnya kapasitas produksi rumput laut. Penguasaan terhadap teknologi panen dan pascapanen juga masih rendah. Panen dan pascapanen dilakukan seadanya saja, belum memperhatikan cara-cara panen dan pascapanen yang benar.

(c) Hama dan penyakit

Hama yang biasa menyerang rumput laut adalah ikan beronang, penyu dan lain-lain. Selain itu yang menjadi salah satu kendala terhadap perkembangan usaha budidaya rumput laut di Dusun Wael adalah adanya penyakit ice-ice. Akibat dari penyakit ice-ice, dapat membuat kerusakan rata-rata 70-75% rumput laut yang ada di Dusun Wael. Biasanya penyakit ice-ice ini muncul pada musim pancaroba baik pada saat pancaroba pertama pada Maret sampai Mei, maupun pancaroba kedua pada September sampai Nopember.

4.2 Faktor Lingkungan Perairan (a) Suhu permukaan laut

Pengaruh suhu terhadap sifat fisiologi organisme perairan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi fotosintesis disamping cahaya dan konsentrasi fosfat (Odum 1971). Perbedaan suhu terjadi karena adanya perbedaan energi matahari yang diterima oleh perairan. Suhu akan naik dengan meningkatnya energi matahari yang masuk ke dalam perairan. Hal ini dapat meningkatkan kecepatan fotosintesis sampai pada radiasi tertentu. Hasil pengukuran suhu permukaan laut di lokasi penelitian berkisar antara 28-30oC. Sulistijo (1994) menyatakan kisaran

suhu perairan yang baik untuk rumput laut Eucheuma adalah 27–30 oC. Kisaran suhu yang baik untuk pertumbuhan Eucheuma cottonii adalah 24-31oC (Sugiarto 1984 diacu dalam Eidman 1991). Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa kondisi suhu perairan di Dusun Wael Desa Piru Kabupaten Seram bagian barat Provinsi Maluku, sesuai untuk pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii.

(b) Kecepatan arus

Rumput laut merupakan organisme yang memperoleh makanan melalui aliran air yang melewatinya. Gerakan air yang cukup akan membawa nutrien yang cukup pula dan sekaligus mencuci kotoran yang menempel pada thalus. Besarnya kecepatan arus yang ideal antara 15-50 cm/det (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya 2005). Kecepatan arus selama penelitian berkisar antara 22-48 cm/det. Pergerakan air mempengaruhi bobot, bentuk thalus dan produksi bahan-bahan hidrokoloid Eucheuma (Doty 1987). Dengan demikian maka kecepatan arus selama penelitian cukup baik untuk pertumbuhan Eucheuma cottonii. Arus dan ombak yang berkekuatan besar dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman seperti patah, atau terlepas dari tali pengikat atau substratnya. Selain itu penyerapan unsur hara kurang optimal karena belum sempat diserap oleh rumput laut telah dibawa kembali oleh arus. Arus dan ombak yang besar di perairan pantai juga menyebabkan perairan menjadi keruh sehingga mengganggu proses fotosintesis tanaman. Kecepatan arus yang lambat dapat menyebabkan kotoran yang menempel pada thalus tidak seluruhnya dapat dibersihkan, dan pasokan unsur hara semakin terhambat karena pergerakan air yang kurang optimal.

(c) Salinitas

Eucheuma cottoniiadalah rumput laut yang bersifat stenohaline, yaitu tidak tahan terhadap fluktuasi salinitas yang tinggi. Salinitas yang baik berkisar antara 30-37 ppt (Kadi dan Atmaja 1988). Penurunan salinitas akibat masuknya air tawar dari sungai dapat menyebabkan pertumbuhan rumput lautEucheumasp. menurun. Salinitas hasil pengukuran di lokasi penelitian berkisar antara 33-35 ppt. Berdasarkan hal ini, maka perairan Dusun Wael Desa Piru Kabupaten Seram bagian barat Propinsi Maluku sesuai untuk pembudidayaan rumput laut

Eucheuma cottonii. Pertumbuhan rumput laut maksimum apabila salinitas di perairan tempat budidaya cukup tinggi. Menurut Parker (1974) pertumbuhan alga Eucheuma cottonii optimum pada salinitas diatas 34 ppt. Hasil penelitian Iksan (2005) melaporkan bahwa kadar karaginan maksimum pada minggu keempat budidaya, dimana terjadi peningkatan salinitas sampai pada 35 ppt.

(d) pH

pH merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan alga laut, sama halnya dengan faktor-faktor lainnya. Kisaran pH perairan selama penelitian berkisar antara 7,5-8,0. Nilai pH perairan selama penelitian cukup baik untuk budidayaEucheuma cottonii. Aslan (1998) menyatakan bahwa kisaran pH untuk kehidupan organisme laut adalah 6,5-8,5. Chapman dan Chapman (1980) menyatakan bahwa hampir seluruh alga menyukai kisaran pH 6,8–9,6, sehingga pH bukanlah masalah dalam pertumbuhannya. Hasil penelitian Zatnika dan Angkasa (1994) melaporkan bahwa derajat keasaman (pH) yang baik bagi pertumbuhan rumput laut jenis Eucheuma adalah antara 7-9 dengan kisaran optimum 7,3-8,2.

(e) Kecerahan

Cahaya matahari merupakan sumber energi dalam proses fotosintesis. Dalam proses fotosintesis terjadi pembentukan bahan organik yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan yang normal. Kecerahan perairan berhubungan erat dengan penetrasi cahaya matahari. Kecerahan perairan yang ideal adalah lebih dari 1 m. Air yang keruh, biasanya mengandung lumpur dan dapat menghalangi tembusnya cahaya matahari di dalam air sehingga proses fotosintesis menjadi terganggu. Disamping itu kotoran dapat menutupi permukaan thalus dan menyebabkan thalus tersebut menjadi busuk atau patah. Secara keseluruhan kondisi ini akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan rumput laut. Hasil pengukuran kecerahan pada lokasi penelitian berkisar antara 2,50-5,25 m. Dapat disimpulkan bahwa kecerahan pada lokasi penelitian masih memungkinkan untuk pertumbuhan rumput lautEucheuma cottonii.

(f) Kedalaman perairan

Kedalaman perairan yang baik untuk budidaya rumput laut Eucheuma cottonii adalah 0,3-0,6 m pada waktu surut terendah untuk lokasi yang berarus kencang dan untuk metode lepas dasar, 2-15 m untuk metode rakit apung, metode rawai (longline) dan sistem jalur. Kondisi ini untuk menghindari rumput laut mengalami kekeringan dan mengoptimalkan perolehan sinar matahari. Kedalaman perairan di lokasi penelitian lapangan berkisar antara 7,65 m (pada saat surut) sampai 9,72 m (pada saat pasang). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kedalaman perairan di lokasi penelitian sangat cocok untuk diterapkan metodelonglineuntuk budidayaEuchema cottonii.

(g) Substrat dasar perairan

Perairan yang mempunyai dasar pecahan-pecahan karang dan pasir kasar, dipandang baik untuk budidaya Eucheuma cottonii. Kondisi dasar perairan yang demikian merupakan petunjuk adanya gerakan air yang baik. Jenis dasar perairan dapat dijadikan indikator gerakan air laut. Kondisi dasar perairan di lokasi penelitian merupakan perairan yang berlumpur pasir dan karang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kondisi dasar perairan di tempat penelitan, cocok untuk budidaya dengan sistem longline. Lokasi ini tidak cocok untuk budidaya dengan metode lepas dasar, mengingat kecerahan perairan maksimum hanya sampai pada kedalaman 5,25 m, sementara itu kedalaman maksimum perairan 9,72 m. Jadi apabila budidaya dengan metode lepas dasar diterapkan pada lokasi ini, pertumbuhan rumput laut akan terganggu sebagai akibat terhambatnya cahaya matahari sampai ke dasar perairan.

4.3 Laju Pertumbuhan HarianEucheuma cottonii

Laju pertumbuhan harian Eucheuma cottonii yang dihasilkan pada penelitian ini berkisar antara 3,45-5,82%. Laju pertumbuhan yang dianggap menguntungkan adalah diatas 3% pertambahan berat basah per hari (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya 2005). Laju pertumbuhan harian terendah dan tertinggi masing-masing diperoleh dari kombinasi perlakuan bagian thalus pangkal, berat bibit 150 g, umur panen 40 hari, dan kombinasi perlakuan bagian thalus ujung, berat bibit 50 g dan umur panen 50 hari. Bagian thalus, berat bibit,

dan umur panen memberikan pengaruh yang nyata (p<0,05) terhadap laju pertumbuhan harian rumput lautEucheuma cottonii. Laju pertumbuhan harian Eucheuma cottonii pada berbagai bagian thalus, berat bibit dan umur panen dapat dilihat pada Gambar 8.

5.06 4.34 5.45 5.80 5.82 4.75 4.49 4.16 3.89 4.13 4.19 3.95 0 1 2 3 4 5 6 7 40 45 50 55

Umur panen (hari)

L a ju p e rt u m b u h a n (% )

Berat bibit 50 g Berat bibit 100 g Berat bibit 150 g

(a) Thalus ujung

4.94 5.56 5.47 5.20 4.59 4.28 3.74 4.10 3.76 3.96 3.87 3.45 0 1 2 3 4 5 6 7 40 45 50 55

Umur panen (hari)

L a ju p e rt u m b u h a n (% )

Berat bibit 50 g Berat bibit 100 g Berat bibit 150 g

(b) Thalus pangkal

Gambar 8. Laju pertumbuhan harianEucheuma cottoniipada berbagai bagian thalus, berat bibit, dan umur panen.

Rata-rata laju pertumbuhan harian Eucheuma cottonii pada bagian thalus ujung dan pangkal menunjukkan peningkatan sampai umur panen 50 hari, kemudian mengalami penurunan pada umur panen 55 hari. Laju pertumbuhan harian tertinggi terjadi pada umur panen 50 hari, untuk semua berat bibit yang berasal dari bagian thalus ujung maupun bagian thalus pangkal. Laju pertumbuhan harian Eucheuma cottonii tertinggi diperoleh pada umur panen 50 hari yaitu 5,82%, 4,75%, dan 4,13% masing-masing berasal dari berat bibit awal 50, 100, dan 150 g, untuk bagian thalus ujung dan 5,56%, 4,59%, dan 3,96%

masing-masing berasal dari berat bibit awal 50, 100, dan 150 g, untuk bagian thalus pangkal.

Laju pertumbuhan harian Eucheuma cottonii pada perlakuan bagian thalus ujung lebih tinggi dibandingkan dengan bagian thalus pangkal. Hal ini disebabkan oleh bagian thalus ujung mengalami pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan bagian thalus pangkal. Bagian paling ujung rumput laut menunjukkan laju fotosintesis yang paling besar dibandingkan bagian lain yang semakin jauh jaraknya dari ujung (Glenn dan Doty 1981). Hasil penelitian Sulistijo dan Atmadja (1977) melaporkan bahwa bibit bagian ujung merupakan bibit yang tumbuh lebih cepat dibandingkan bagian lainnya, bibit yang lebih muda tampak memberikan gambaran yang terbaik untuk dijadikan bibit.

Berat bibit awal 50 g mengalami pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan berat bibit 100 dan 150 g. Semakin kecil berat bibit awal, persaingan untuk mendapatkan dan menggunakan unsur hara yang berasal dari perairan di sekitarnya semakin kecil, sehingga pertumbuhannya semakin cepat. Dengan semakin banyaknya unsur hara yang dikonsumsi oleh rumput laut maka laju pertumbuhannya semakin cepat. Sulistijo dan Atmadja (1977) mengatakan bahwa bibit awal yang lebih sedikit memberikan pertumbuhan yang lebih cepat.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa laju pertumbuhan harian Eucheuma cottoniiyang di budidayakan di Dusun Wael menunjukkan peningkatan laju pertumbuhan sampai pada umur panen 50 hari, kemudian mengalami penurunan pada umur panen 55 hari. Rumput laut dipanen setelah mencapai puncak pertumbuhan. Yunizal et al. (2000) melaporkan bahwa rumput laut dipanen setelah tingkat pertumbuhannya mencapai puncak, yaitu beratnya mencapai ± 600 g/rumpun. Lama pemeliharaan tergantung dari lokasi, jenis rumput laut, serta metode penanaman

Dokumen terkait