BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4. Permasalahan yang Muncul dalam Pelaksanaan
Pengenaan pajak parkir di kota Surakarta dibatasi pada parkir yang diselenggarakan di luar badan jalan, baik yang dikelola oleh perorangan atau badan hukum. Dalam Pasal 34 ayat (1) Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 4 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah disebutkan bahwa objek pajak parkir adalah penyelenggaraan tempat Parkir di luar badan jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha. Dalam hal ini, tempat parkir perkantoran tidak termasuk ke dalam objek pajak parkir selama hanya digunakan oleh pegawai dan karyawan di kantor yang bersangkutan. Di kota Surakarta terdapat beberapa objek tempat parkir diselenggarakan oleh pihak ketiga yang terlepas dari tempat usaha pokoknya. Dalam kondisi ini, maka pihak ketiga yang menyelenggarakan tempat parkir disebut sebagai wajib pajak parkir, masyarakat yang menggunakan fasilitas parkir disebut sebagai subjek pajak
commit to user
parkir dan nama tempat parkir yang identik dengan nama tempat usaha pokoknya disebut dengan objek pajak parkir. Untuk parkir yang diselenggarakan di badan jalan tidak termasuk dalam objek pajak parkir karena masuk ke ranah retribusi parkir.
Pelaksanaan kewenangan Pemerintah Kota Surakarta terkait pengelolaan perpajakan perparkiran yang dilaksanakan oleh DPPKA memiliki beberapa kendala dalam pelaksanaannya. Kendala ini sedikit banyak mempengaruhi pemasukan keuangan pada kas pemerintah kota Surakarta. Permasalahan yang muncul dalam pemungutan pajak parkir di Surakarta antara lain sebagai berikut:
a. Kelalaian penyelenggara tempat parkir dalam penyelenggaraan
pembukuan. Pembukuan merupakan kewajiban penyelenggara tempat parkir dalam mengelola tempat parkir yang memuat segala laporan dan perkembangan tertulis mengenai objek pajak parkir. Kewajiban pembukuan ini diatur dalam Pasal 71 ayat (1) Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 4 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah. Di dalam pembukuan memuat data mengenai tempat parkir, pemasukan, dan pengeluaran tempat parkir. Kelalaian pembukuan yang dimaksud disini bukan hanya berarti wajib pajak tidak melakukan pembukuan sama sekali, namun termasuk juga pembukuan yang tidak lengkap dan pembukuan fiktif yang tidak didasarkan pada kondisi sebenarnya. Kelalaian pembukuan ini dapat menyebabkan ketidaksesuaian antara jumlah pembayaran pajak dan jumlah yang seharusnya dibayar oleh penyelenggara tempat parkir sebagai wajib pajak parkir. Hal ini merugikan Pemerintah Kota Surakarta dan secara tidak langsung merugikan masyarakat karena mengurangi pemasukan kas daerah. b. Kesalahan penyelenggara tempat parkir sebagai wajib pajak dalam
melakukan pengisian Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD) untuk penyetoran pajak parkir terutang ke DPPKA. Kesalahan ini berupa pengisian SPTPD yang tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya di lapangan. Hal ini dapat terjadi mengingat pajak parkir merupakan jenis
commit to user
pajak dengan sistem menghitung sendiri (self assessment system) atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan pajak dengan sistem Menghitung Pajak Sendiri (MPS). Hal ini sesuai dengan Pasal 56 ayat (2) Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 4 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah. Jadi wajib pajak menghitung sendiri jumlah pajak yang harus disetorkan ke kas daerah. Pajak dengan sistem menghitung sendiri (self assessment system) sangat menuntut kejujuran wajib pajak dalam pengisian formulir SPTPD. Jumlah besarnya penyetoran pajak parkir yang telah ditetapkan dalam Pasal 37 Peraturan Daerah Kota Surakarta Kota Surakarta Nomor 4 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah adalah sebesar 25% dari dasar pengenaan pajak parkir. Dasar pengenaan pajak parkir adalah jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar kepada penyelenggara tempat parkir. Pengisian SPTPD dengan tidak benar atau tidak lengkap diancam dengan ketentuan pidana yang terdapat dalam Pasal 78 Peraturan Daerah Kota Surakarta Kota Surakarta Nomor 4 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah.
c. Kurangnya kepatuhan penyelenggara tempat parkir sebagai wajib pajak parkir dengan tidak melakukan penyetoran pajak parkir secara rutin setiap bulan kepada pemerintah kota Surakarta. Pasal 1 angka 27 menyebutkan bahwa Masa Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) bulan kalender atau jangka waktu lain yang diatur dengan Peraturan Walikota paling lama 3 (tiga) bulan kalender, yang menjadi dasar bagi Wajib Pajak untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak yang terutang. Dalam teknis pelaksanaannya, penyetoran pajak parkir setiap bulan merupakan penyetoran untuk bulan sebelumnya, sebagai contoh penyetoran pada bulan april merupakan penyetoran pajak untuk bulan maret. Namun, dalam prakteknya masih ada saja wajib pajak yang menunggak penyetoran pajak ke DPPKA.
d. Pada acara-acara yang bersifat insidental yang menarik banyak
pengunjung dan mengharuskan untuk mengadakan tempat parkir insidental, maka pendapatan parkir pada tempat parkir insidental masuk
commit to user
penyelenggaraan tempat parkir kena pajak. Besaran pajak parkir yang harus disetorkan kepada DPPKA sama dengan tempat parkir biasa yaitu sebesar 25% dari dasar pengenaan pajak parkir, namun yang membedakan dengan parkir biasa adalah pada penyelenggaraan tempat parkir insidental terdapat tim dari UPTD wilayah yang langsung melakukan pengecekan dan penagihan/eksekusi ke lapangan. Teknis pembayarannya juga tidak menunggu 1 (satu) bulan, namun langsung dibayarkan di tempat ataupun dibayarkan ke DPPKA sehari setelah kegiatan tersebut selesai. Kendala yang muncul dalam pelaksanaan tempat parkir insidental ini adalah tidak adanya laporan mengenai pelaksanaan kegiatan/acara tertentu yang mengharuskan diadakannya parkir insidental, sehingga pemerintah daerah yang diwakili tim UPTD wilayah tidak mengetahui adanya pelaksanaan penyelenggaraan parkir pada kegiatan tersebut. Kendala lain adalah pengelolaan parkir yang diserahkan kepada warga masyarakat ataupun remaja/karang taruna setempat, sehingga penyelenggara kegiatan merasa tidak perlu melakukan pelaporan parkir insidental kepada pemerintah kota Surakarta karena beranggapan banwa keuangan yang masuk dari parkir insidental yang dikelola oleh warga masyarakat ataupun remaja/karang taruna setempat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat. Prinsipnya sama dengan pemanfaatan pajak daerah karena pajak daerah yang terkumpul dari masyarakat juga akan didistribusikan kembali ke masyarakar namun bukan dalam bentuk uang segar, tapi dalam bentuk lain seperti pembangunan sarana prasarana dan pembangunan tempat-tempat publik.
Langkah yang diambil oleh DPPKA untuk menindak penyelenggara tempat parkir yang tidak patuh terhadap peraturan tersebut dilakukan dengan sanksi yang diberikan dalam beberapa tahap. Sanksi yang dikenakan kepada wajib pajak yang tidak patuh berupa klarifikasi dan teguran dengan Surat Peringatan I, Surat Peringatan II dan Surat Peringatan III disertai dengan pendekatan secara persuasif kepada wajib pajak. Apabila Surat Peringatan dan pendekatan persuasif tidak membuahkan hasil, maka sanksi yang diambil
commit to user
berupa yustisi (penegakan Peraturan Daerah) berupa pencabutan ijin parkir. Yustisi dilaksanakan oleh Tim Penegak Peraturan Daerah yang didampingi dan dibantu oleh Satuan Polisi Pamong Praja. Namun, cara ini menjadi jalan terakhir yang ditempuh oleh DPPKA. Selama masih bisa diusahakan jalan lain maka DPPKA akan menempuh jalan tersebut sebelum melakukan Yustisi.
Pemerintah Kota Surakarta tidak bersifat kaku dalam penegakan Peraturan Daerahnya, selama masih bisa diselesaikan dengan musyawarah maka Pemerintah Kota Surakarta, atau dalam hal ini DPPKA akan menempuh jalan tersebut. Sangat memungkinkan DPPKA tidak sampai mengeluarkan Surat Peringatan I, Surat Peringatan II dan Surat Peringatan III atau Yustisi kepada wajib pajak yang tidak patuh.
B.Pembahasan
1. Kewenangan Pemerintah Kota Surakarta Terkait Penyelenggaraan Perpajakan Perparkiran Dalam Rangka Desentralisasi Fiskal
Pembagian kewenangan merupakan kewenangan pemerintah pusat. Pembagian ini meliputi pembagian urusan-urusan pemerintahan dan keuangan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah, baik daerah provinsi maupun daerah kabupaten/ kota. Pembagian ini sesuai dengan Pasal 11 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang menyatakan bahwa Penyelenggaraan urusan pemerintahan dibagi berdasarkan kriteria eksternalitas, akuntabilitas, dan efisiensi dengan memperhatikan keserasian hubungan antar susunan pemerintahan. Penyelenggaraan urusan pemerintahan tersebut merupakan pelaksanaan hubungan kewenangan antara Pemerintah dan pemerintahan daerah provinsi, kabupaten dan kota atau antar pemerintahan daerah yang saling terkait, tergantung, dan sinergis sebagai satu sistem pemerintahan.
Pasal 13 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menyebutkan mengenai urusan wajib yang menjadi
commit to user
kewenangan pemerintahan daerah provinsi merupakan urusan dalam skala provinsi yang meliputi:
a. perencanaan dan pengendalian pembangunan;
b. perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang;
c. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat;
d. penyediaan sarana dan prasarana umum;
e. penanganan bidang kesehatan;
f. penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial; g. penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/kota;
h. pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota;
i. fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil, dan menengah termasuk lintas kabupaten/kota;
j. pengendalian lingkungan hidup;
k. pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/kota; l. pelayanan kependudukan, dan catatan sipil;
m. pelayanan administrasi umum pemerintahan;
n. pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas
kabupaten/kota;
o. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan
oleh kabupaten/kota;
p. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan
perundang-undangan.
Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah untuk kabupaten/ kota merupakan urusan yang berskala kabupaten/ kota diatur dalam Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. kewenangan yang dimaksud meliputi antara lain sebagai berikut:
a. perencanaan dan pengendalian pembangunan;
b. perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang;
c. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat;
commit to user
e. penanganan bidang kesehatan;
f. penyelenggaraan pendidikan;
g. penanggulangan masalah sosial;
h. pelayanan bidang ketenagakerjaan;
i. fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah;
j. pengendalian lingkungan hidup;
k. pelayanan pertanahan;
l. pelayanan kependudukan, dan catatan sipil;
m. pelayanan administrasi umum pemerintahan;
n. pelayanan administrasi penanaman modal;
o. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya;
p. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan
perundang-undangan.
Merujuk pada ketentuan Pasal 13 ayat (1) dan Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang telah disebutkan diatas terlihat bahwa telah terdapat pembagian kewenangan dan urusan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/ kota. Pembagian kewenangan dan urusan ini dimaksudkan agar tidak terjadi sentralisasi atau pemusatan pemerintahan pada pemerintah pusat. Kewenangan-kewenangan yang telah disebutkan dalam Undang-Undang baik kewenangan pemerintah maupun kewenangan pemerintah daerah dilaksanakan secara sinergis, saling bekerja sama sebagai satu kesatuan sistem pemerintahan yang utuh. Pembagian kewenangan ini mendorong pemerintah daerah untuk semakin mandiri dalam menjalankan fungsi pemerintahan dan mengelola potensi-potensi yang ada di daerah masing-masing. Salah satu bentuk kemandirian pemerintah terdapat dalam kewenangan pengelolaan sumber-sumber pendapatan daerah. Dalam Pasal 157 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah disebutkan mengenai sumber pendapatan daerah yang terdiri atas:
commit to user
a. pendapatan asli daerah yang selanjutnya disebut PAD, yaitu: 1) hasil pajak daerah;
2) hasil retribusi daerah;
3) hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan;
4) lain-lain PAD yang sah;
b. dana perimbangan;
c. lain-lain pendapatan daerah yang sah.
Pajak daerah yang sebagai bagian dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan salah satu bentuk penyerahan kewenangan oleh pemerintah kepada pemerintah daerah untuk mengelola sumber-sumber pajak daerah yang potensial secara mandiri sebagai bentuk desentralisasi fiskal. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sedangkan fiskal adalah segala urusan perpajakan dalam ruang lingkup penerimaan keuangan negara. Sehingga desentralisasi fiskal dapat diartikan sebagai kewenangan pemerintah daerah untuk mengatur dan mengelola sumber-sumber pendapatan daerah secara mandiri.
Pemerintah daerah diberikan kewenangan untuk memungut dan mengelola sumber pemasukan keuangan daerah berupa pajak daerah. Tidak semua pajak dapat dipungut dan dikelola oleh pemerintah daerah karena pajak-pajak yang dapat dipungut oleh pemerintah daerah telah ditentukan dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Daerah hanya memungut pajak selain pajak yang telah ditentukan Undang-Undang sebagai pajak dipungut oleh pemerintah pusat.
Pasal 2 ayat (1), (2), dan (3) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menyebutkan bahwa jenis pajak yang dapat dipungut oleh pemerintah daerah adalah sebagai berikut:
a. Jenis pajak provinsi terdiri atas:
1) Pajak Kendaraan Bermotor;
commit to user
3) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;
4) Pajak Air Permukaan;
5) Pajak Rokok.
b. Jenis pajak kabupaten/kota terdiri atas:
1) Pajak Hotel;
2) Pajak Restoran;
3) Pajak Hiburan;
4) Pajak Reklame;
5) Pajak Penerangan Jalan;
6) Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan;
7) Pajak Parkir;
8) Pajak Air Tanah;
9) Pajak Sarang Burung Walet;
10) Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan;
11) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.
Pemerintah daerah dilarang memungut pajak selain jenis pajak sebagaimana telah disebutkan diatas. Khusus untuk daerah yang setingkat dengan daerah provinsi, tetapi tidak terbagi dalam daerah kabupaten/kota otonom, jenis pajak yang dapat dipungut merupakan gabungan dari pajak untuk daerah provinsi dan pajak untuk daerah kabupaten/ kota. Tidak semua jenis pajak daerah yang disebutkan dalam Pasal 2 ayat (1), (2), dan (3) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah diatas harus dipungut oleh pemerintah daerah. Jenis pajak daerah tersebut bersifat pilihan, jenis pajak daerah yang dipungut oleh pemerintah daerah ditentukan sendiri disesuaikan dengan potensi pajak yang bersangkutan.
Pemerintah daerah yang melakukan pungutan terhadap jenis-jenis pajak sebagaimana telah disebutkan dalam Pasal 2 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah harus menyusun Peraturan Daerah tentang pajak daerah maupun retribusi daerah untuk dijadikan sebagai dasar hukum pengelolaan pajak daerah.
commit to user
Pemerintah kota Surakarta telah melakukan penyusunan peraturan daerah tentang pajak daerah yang diwujudkan dalam Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 4 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah. Peraturan daerah ini yang menjadi dasar pengelolaan perpajakan di kota Surakarta. Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 4 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah mengatur semua jenis pajak daerah yang dipungut oleh Pemerintah kota Surakarta. Jenis-jenis pajak daerah yang diatur dalam Pasal 2 Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 4 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah terdiri atas:
a. Pajak Hotel; b. Pajak Restoran;
c. Pajak Hiburan;
d. Pajak Reklame;
e. Pajak Penerangan Jalan; f. Pajak Parkir;
g. Pajak Air Tanah; dan
h. Pajak Sarang Burung Walet.
Kewenangan pemerintah kota Surakarta dalam melakukan
pengelolaan perpajakan daerah dilaksanakan oleh Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) kota Surakarta. DPPKA merupakan salah satu dinas daerah yang berada di bawah sekretariat daerah. Dinas ini dipimpin oleh kepala dinas yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada walikota melalui sekretaris daerah. DPPKA mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendapatan, pengelolaan keuangan dan aset daerah. DPPKA kota Surakarta dibentuk berdasarkan pada Pasal 35 Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 6 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kota Surakarta.
DPPKA sebagai dinas resmi yang berwenang mengelola keuangan daerah salah satunya mengelola sumber pendapatan daerah dari sektor pajak daerah. Dengan kata lain, kewenangan pengelolaan perpajakan pemerintah kota Surakarta dilaksanakan oleh DPPKA. Pemerintah kota Surakarta melalui
commit to user
DPPKA melaksanakan pengaturan, sosialisasi, perhitungan, pemungutan, peneguran, dan penindakan atas pelanggaran perpajakan oleh wajib pajak.
Salah satu jenis sektor pajak daerah yang dikelola oleh pemerintah kota Surakarta adalah sektor perpajakan perparkiran. Pengaturan mengenai pajak parkir ini terdapat dalam Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 4 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah. Sesuai dengan Pasal 1 angka 19 Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 4 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah, yang dimaksud dengan Pajak Parkir adalah pajak atas penyelenggaraan tempat parkir di luar badan jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor. Kewenangan pengelolaan pajak daerah berupa pajak parkir merupakan salah satu bentuk pelaksanaan desentralisasi fiskal sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Sehingga dapat dikatakan bahwa pengelolaan pajak parkir oleh Pemerintah Kota Surakarta merupakan kewenangan pemerintah pusat yang diberikan kepada Kota Surakarta sebagai daerah otonom untuk mengelola sumber pendapatan keuangan daerah berupa pajak parkir secara mandiri.
Kewenangan pemerintah kota Surakarta dalam penyelenggaraan dan pengelolaan perpajakan perparkiran diatur dalam Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 4 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah. Identifikasi kewenangan pemerintah kota Surakarta terkait pengelolaan pajak parkir tersebut dapat diketahui dari penjabaran sebagai berikut.
a. Kewenangan melakukan pemungutan pajak parkir
Ketentuan dalam Pasal 1 angka 30 Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 4 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah menyebutkan bahwa Pemungutan pajak adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari penghimpunan data objek dan subjek pajak, penentuan besarnya pajak yang terutang sampai kegiatan penagihan pajak kepada Wajib Pajak serta pengawasan penyetorannya. Ketentuan dalam pasal ini memberikan
commit to user
kewenangan kepada pemerintah kota Surakarta untuk menyusun regulasi untuk mengatur pemungutan pajak daerah khusunya pajak parkir.
Kewenangan pemungutan pajak parkir pemerintah kota Surakarta dimulai dengan kewenangan untuk melakukan pengumpulan data penyelenggaraan tempat parkir yang dapat dikategorikan sebagai objek dan subjek pajak parkir yang tersebar di seluruh wilayan kota Surakarta. Kewenangan penghimpunan data objek dan subjek pajak dilaksanakan oleh DPPKA. Kewenangan ini melibatkan UPTD parkir wilayah yang bertugas melaksanakan sebagian kegiatan teknis operasional dan/ atau kegiatan teknis penunjang yang mempunyai wilayah kerja satu atau beberapa daerah kota. Kegiatan teknis operasional yang dilaksanakan UPTD merupakan tugas untuk melaksanakan kegiatan teknis yang secara langsung berhubungan dengan pelayanan masyarakat sedangkan teknis penunjang adalah untuk melaksanakan kegiatan untuk mendukung pelaksanaan tugas dari DPPKA.
Kewenangan selanjutnya adalah kewenangan penentuan besarnya pajak yang terutang. Kewenangan ini dituangkan dalam ketentuan pasal Pasal 37 Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 4 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah yang menyebutkan bahwa Tarif Pajak Parkir ditetapkan sebesar 25% (dua puluh lima persen). Besar pajak yang terutang merupakan hasil perhitungan dari tarif pajak parkir dikalikan dengan dasar pengenaan pajak parkir.
Kewenangan lain dalam rangka pemungutan pajak parkir adalah kegiatan penagihan pajak parkir. Kewenangan ini dilaksanakan oleh Bidang Penagihan DPPKA. Ketentuan dalam Pasal 56 ayat (2) Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 4 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah menyebutkan pajak parkir sebagai salah satu pajak yang harus dibayar sendiri oleh wajib pajak. Merujuk pada ketentuan ini, maka DPPKA memfasilitasi wajib pajak parkir untuk melakukan penyetoran pajak kepada pemerintah kota Surakarta. DPPKA juga menentukan prosedur penyetoran pajak parkir yang harus dilaksanakan oleh wajib pajak.
commit to user
Kewenangan yang juga penting dalam rangkaian pemungutan pajak parkir adalah kewenangan melakukan pengawasan penyetoran pajak parkir. Dalam kewenangan ini dilaksanakan oleh DPPKA dengan memberikan peringatan kepada wajib pajak yang terlambat atau bahkan tidak memenuhi kewajibannya untuk melakukan penyetoran pajak. Peringatan ini dapat berupa teguran langsung maupun teguran secara tertulis dengan Surat Peringatan (SP). Ketika wajib pajak tidak mengindahkan peringatan yang diberikan oleh DPPKA, maka DPPKA akan mengeluarkan Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB) dimana didalamya terdapat jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administratif, dan jumlah pajak yang masih harus dibayar. Saksi yustisi atau penegakan peraturan daerah berupa pencabutan izin pengelolaan parkir dapat diterapkan apabila wajib pajak tetap tidak mengindahkan peringatan yang dikeluarkan oleh DPPKA.
b. Kewenangan menetapkan besaran tarif pajak parkir
Kewenangan penetapan besaran tarif diberikan oleh Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah kepada Pemerintah Daerah. Kewenangan yang diperoleh dari undang-undang tersebut dituangkan oleh pemerintah kota Surakarta dalam peraturan daerah tentang pajak daerah sebagai dasar pengaturan penetapan besaran tarif pajak parkir. Pasal 65 ayat (1) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah kepada Pemerintah Daerah menetapkan batas maksimal tarif pajak parkir yaitu sebesar 30% (tiga puluh persen).
Besaran tarif pajak parkir kota Surakarta diatur dalam Pasal 37 Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 4 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah yang menyebutkan bahwa tarif pajak parkir ditetapkan sebesar 25% (dua puluh lima persen). Besaran pokok Pajak Parkir yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan pajak.
commit to user
Dasar pengenaan pajak yaitu jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar kepada penyelenggara tempat parkir.
Dasar pertimbangan pemerintah kota Surakarta menetapkan tarif pajak parkir sebesar 25% adalah hasil evaluasi pendapatan pajak parkir dari tahun-tahun sebelumnya. Evaluasi ini dilakukan dengan membandingkan antara target pencapaian dan realisasi lapangan setiap tahun. Selisih kenaikan antara target pencapaian dengan realisasi lapangan yang kecil menimbulkan kesulitan bagi pemerintah kota Surakarta untuk menetapkan tarif pajak parkir yang lebih besar. Penaikan jumlah besaran tarif pajak parkir akan berpengaruh pada turunnya selisih antara target pencapaian dengan hasil realisasi.
Pertimbangan lain penetapan besaraan tarif pajak parkir sebesar 25% adalah pertimbangan kemampuan bayar wajib pajak parkir. Dengan menetapkan tarif pajak parkir kecil dari batas maksimal yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah diharapkan masyarakat wajib pajak parkir di kota Surakarta tidak terlalu terbebani untuk membayar pajak. Beban pajak