BAB II TRADISI WI’I NGGAHI PADA PERNIKAHAN MASYARAKAT
C. Permasalahan Yang Muncul Ketika Tidak Melaksanakan
“Raho Sahe” meminta kerbau, minimal dan maksimal 2 ekor.62 Akan tetapi kalau sekarang bisa meminta uang yang lebih ringan, dan itupun tergantung salah satu pihak yang meminta rugi, ketika melanggar tradisi pernikahan Wi’i Nggahi.
Ada beberapa faktor sehingga tradisi pernikahan Wi’i Nggahi ini tidak terlaksana yaitu:
1. Pihak Laki-laki/Perempuan Melarikan Diri
Akibat besar tekanan pemaksaan untuk melaksanakan penikahan Wi’i Nggahi sehingga salah satu pihak melarikan diri untuk menghindari tradisi pernikahan yang disepakati oleh kedua belah pihak keluarga mempelai.
2. Londo Iha / Selarian
Perkawinan “Londo Iha” sering disebut selarian, sebagai jalan keluar dari keadaan bilamana salah satu pihak keluarga tidak menyetujui rencana perkawinan tersebut.63 Faktor dari selarian ini dilakukan seperti sang gadis hamil terlebih dahulu atau sebaliknya pemuda meragukan keberhasilannya bila pinangan dilaksanakan.
62 H. Abubakar (Tokoh Adat), Wawancara, Dusun Pemukiman, Desa Rora, 27 Januari 2021.
63Rahman Fachrir, Pernikahan Di Nusa Tenggara Barat Antara Islam Dan Tradisi, (Mataram: Lembaga Pengkajian-Publikasi Islam Dan Masyarakat IAIN Mataram, hlm. 61.
D. Alasan Masyarakat Rora Mempertahankan Praktek Tradisi Wi’i Nggahi dalam Pernikahan.
Penerapan Wi’i Nggahi sudah terjadi sejak zaman kerajaan Bima, sehingga hajatan besar seperti ini hanya diterapkan begitu saja dan sifatnya tidak tertulis kapan kehadirannya, maka dari itu masyarakat hanya mengikuti warisan tradisi yang dianut oleh masyarakat Desa Rora. Adapun penyebab alasan masyarakat Desa Rora mempertahankan praktek tradisi Wi’i Nggahi dalam pernikahan adalah disebabkan sebagai berikut.64
1. Mempertahankan Adat
Supaya menjaga hubungan kedua belah pihak keluarga agar tetap terjalin sampai kekal, serta meningkatkan nilai gotong royong.
Slogan yang dianut oleh masyarakat Rora “Dari Pada Laon Ta Dou, Tahop Laon Ta Ndai” dari pada pergi ke orang lain, lebih baiknya datang ke kita. Dari uraian kalimat di atas mencerminkan kuatnya adat masyarakat Donggo dengan adanya istilah tradisi Wi’i Nggahi yang masih kental di masyarakat setempat. Tolak ukur kemajuan zaman bukan menjadi salah satu penghambat berlakunya tradisi Wi’i Nggahi, akan tetapi tradisi ini sampai sekarang masih diberlakukan oleh masyarakat sampai saat ini.
64 H. Abdul Majid (Tokoh Adat), Wawancara, Dusun Rora, Desa Rora 14 Februari 2021.
Seperti yang di sampaikan oleh pak Suprtaman selaku tokoh masyarakat di desa Rora.65
Tradisi ake ke waur ntoir kalampa ro karawi ba nami seman weki ma wara ara Rora, tumpu’u ai aka wa’u sampesih ake, tradisi wi’i nggahi ke ntenep berlaku na sampes ake, ba waur hinan cua tau eli ro gahi menan dou ma tuan mulun re, edempa kalampar ra tradisi wi’i nggahi ba waur na’e mena anan rew.Sewalaupun mbotor cara nikah ma modern bune ake, tetapi ntenep berlaku na tradisi wi’i nggahi ake ke.
“Tradisi ini sudah lama di jalankan dan di kerjakan oleh segenap masyarakat yang ada di desa Rora, tradisi wi’i nggahi berawal dari dulu sampai sekarang masih berlaku, karena orang tua dulu sudah sepakat memberikan usulan oleh orang tua dulu, sehingga dijalankan tradisi wi’i nggahi kelak anak-anak mereka tumbuh dewasa, sewalaupun sudah ada beberapa cara nikah yang modern, tetapi tradisi wi’i nggahi masih berlaku sampai saat ini”.
Begitu pula yang di tambahkan oleh Ibu Nining selaku tokoh masyarakat di desa Rora.66
Karawi kai ba dou ntoin tradisi ake mboto faktor na, salah satu na ma mone row ma siwe baip da lao losan ari maim rasa row dana ndai dana Donggo, wa’u ede re deim latih setia hubungan wunga mori wara row wati na peas de, nggana to’in ana siwe row mone ma asli ra’a donggo.
“Kenapa orang-orang dahulu melaksanakan tradisi ini karena banyak faktor, salah satunya agar laki-laki dan perempuan tidak keluar dari masyarakat Donggo lebih khusus minggat dari desa Rora, melatih kesetiaan hubungan semasih hidup kaya maupun hidup miskin, serta supaya melahirkan anak laki-laki maupun perempuan asli darah Donggo”.
65Suprtaman (Tokoh Masyarakat), Wawancara,Dusun Pemukiman, Desa Rora, 15 Februari 2021.
66Nining (Tokoh Masyarakat), Wawancara, Dusun Sori Wau, Desa Rora, 15 Februari 2021.
2. Menjaga Harta Benda
Pernikahan perlu sekiranya dipandang serta mempertahankan harta benda, seperti halnya yang dilakaksanakan oleh tradisi pernikahan masyarakat Rora, bahwa mempertahankan harta benda adalah persoalan yang esensi, baik menjaga harta gono gini maupun menjaga harta bawaan ketika sudah melaksanakan pernikahan, hal ini merupakan kekayaan dalam keluarga sebagai tendensi keperluan untuk menjawab alur kehidupan yang akan datang, agar harta gono gini atau harta bawaan tidak keluar dari wilayah diluar dari daerah Donggo atau daerah lainnya.67
3. Sebagai Bentuk Ketaatan Pada Orang Tua
Mengikuti perintah orang tua merupakan salah satu ajaran dalam agama Islam, oleh karena itu segala sesuatu yang diatur dan pilih oleh orang tua, tidak diragukan lagi itu demi kebaikan diri kita pribadi serta mendesain kenyamanan dalam rumah tangga. Bahwa pada dasarnya orang tua tentu sudah menilai dan menyesuai tabeat/sifat kita, bahwa mereka memilih perempuan atau laki-laki sebagai pendamping hidup kita kelak merupakan pilihan yang terbaik bagi mereka orang tua maupun orang-orang disekeliling kita.68
Hal ini juga di sampikan Pak Harun Rasid selaku juru lamar di Desa Rora yaitu;
67Yasin Ama Si (Totkoh Adat), Wawancara, Dusun Pemukiman, Desa Rora, 15 Februari 2021.
68 H. Arsyad (Tetua Kampung), Wawancara, Dusun Sori Wau, Desa Rora, 16 Februari2021.
Au-au ra kaum ina row ama re sebenarnya di timba ro tio ba ndai di ana, pala waur sih ka ake ba dou ma tua re, harus ngawa ba ndai kai tanda to’a ndai kai ana ra nggana. Kone sumpu awa na dou di ka weir ro karahi dei ka iyo kai ba ndai dei ru’u taho srumbu ndai.69
Apapun yang disuruh oleh ibu dan bapak perlu kirannya kita timbang oleh kita sebagai anak, tetapi kalau sudah tunjuk oleh orang tua, harus kita iyakan sebagai pertanda bakti kepada orang tua.Serta orang yang kita jadikan istri/suami tentu kita patuhi demi kebaikan diri kita sendiri.
4. Kepercayaan pada Sifat-sifat Mistisme
Berbicara masalah tradisi pasti ada kepercayaan rahasia (gheimnissen) mistis, yang di anggap ada dan berlaku di setiap daerah masing-masing, sehingga mempunyai pesan-pesan yang sangat terselubung dalam kekelamaan. Terlepas dari hal ini, slogan yang di konsumsi oleh masyarakat Rora sampai saat ini yaitu, “Dari Pada Laon Ta Dou Tahop Main Ta Ndai” (dari pada pergi ke orang lain, baiknya datang ke kita).
Salah satu kepercayaan terhadap hal-hal mistisisme seperti halnya, “Narojo Ku Ba Ompu Ra Waro Ma Lampa Ulu” (di tegur oleh kakek buyut yang sudah lama meninggal mendahului kita), ini merupakan pesan-pesan mistis yang masih kental di masyarakat Desa Rora sampai saat ini.
69 Harun Rasid (Juru Lamar), Wawancara, Desa Rora, 18 Februari 2021.